
Di lain tempat di kota Jakarta, Arga tengah kesal dengan dirinya karena sejak malam tadi dia terus saja mengingat Kania, wanita yang sudah diceraikannya sejak beberapa tahun silam.
Arga merasa geram karena bayang-bayang Kania seakan tak mau lepas begitu saja dari ingatannya, "aaarrgh! Kania! Kenapa mau harus hadir lagi dalam ingatanku! Kenapa!"
Arga terus menjambaki rambutnya bahkan terkadang dia memukuli kepalanya demi menghilangkan bayang-bayang Kania. Namun, semakin keras Arga berusaha, maka terasa sulit baginya untuk melupakan Kania.
"Kaniaaaa!" teriak Arga frustasi karena saat ini bukan hanya bayangan wajah Kania saja yang muncul dalam benaknya, wangi aroma tubuh perempuan itu pun sudah merangsek masuk ke dalam otaknya, seolah ingin membius jiwa Arga agar terus mengingat Kania.
Dalam keadaan sudah setengah gila, Arga tiba-tiba teringat kenangan manis disaat dirinya menikahi Kania.
***
Lima tahun silam
"Mi, Pi, Arga gugup nih. Gimana nanti kalau Arga nggak lancar baca ikrar akadnya, bisa malu Arga, Mi, Pi." Arga merengek kepada kedua orang tuanya.
"Ya ampun, Arga! Kamu jangan kaya anak kecil, ah! Makanya latihan mumpung masih ada waktu! Lagipula nanti juga pasti dikasih contekkan kok, jadi nggak usah heboh gitu deh!" sentak mami Arga yang sudah mulai kesal dengan sikap manja Arga yang tidak berkesudahan.
"Ya, Mi. Maaf," balas Arga lemas karena mendapatkan bentakan dari Risa.
Arga kemudian mengambil ponselnya dan membuka galeri foto-fotonya. Setelah Arga menemukan apa yang dia cari, segera dibacanya tulisan yang ada di dalam foto itu dengan mulut komat kamit seperti sedang membaca mantra.
Indra Hartawan yang merasa aneh dengan tingkah ajaib anaknya itu segera datang menghampiri dan memukul bahunya dari belakang, "oey, jagoan papi! Lagi ngapain? Baca mantra ya, Ga kok mulutnya komat-kamit melulu dari tadi, udah kaya ikan mas kurang air, nih. Hahaha," seloroh Indra.
"Alamak! Papi ini mengagetkan Arga saja! Tuh 'kan, jadi lupa tadi Arga udah ngapalin sampai mana! Aaahh, kacau deh. Papi sih," sungut Arga kesal karena hafalan musnah begitu saja hanya karena tepukan yang dia dapatkan dari sang papi tercinta.
Risa dan Indra saling menatap satu sama lain dan tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah anak sulungnya itu. Mereka tidak mengira bahwa Arga benar-benar menghafalkan lafaz akad nikah itu.
"Hahaha! Hahaha! Hahaha! Aduh, Pi. Perut mami sakit gara-gara Arga, udah! Mami nggak kuat lagi ketawa. Hahaha," Tawa Risa tidak berhenti-berhenti.
"Papi juga sama, Mi. Perut papi sampai kram rasanya. Udah dong, Ga. Berhenti!" Kata papi Arga, meminta anaknya untuk berhenti bertingkah konyol.
Arga kesal karena ditertawakan oleh kedua orang tuanya akhirnya hanya diam dan berdoa semoga nanti waktu pembacaan akad nikah semuanya berjalan lancar. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, itu artinya mereka harus segera berangkat menuju rumah Kania untuk melakukan akad nikah di sana yang akan dilaksanakan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.
Kurang lebih setelah menempuh satu jam perjalanan, mereka sampai di rumah Kania. Hati Arga berdebar sangat kencang sekali, hingga membuat wajahnya tampak sedikit memerah. Irvan, ayah Kania menyambut kedatangan mereka dan menyuruh mereka untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan akad nikah.
"Assalamualaikum, Pak Irvan. Maaf, kami agak terlambat, jalanan sudah agak macet. Padahal kami sudah berusaha pagi-pagi sekali berangkat ke sini," tutur Indra, papi Arga.
"Wa'alaikumsalam, Pak Indra. Ah, iya tidak apa-apa, kita masih ada sedikit waktu untuk bersantai sebelum akad nikah dimulai, toh penghulunya juga belum datang. Oh ya, Pak Indra, Bu Risa, Arga dan yang lainnya, ayo mari kita sarapan dulu sama-sama," ajak Irvan kepada keluarga besar Arga.
Bersamaan dengan selesainya mereka sarapan, penghulu yang akan menikahkan Arga dan Kania pun datang dan mereka segera bersiap melaksanakan ijab kabul antara Arga dan Irvan, ayah Kania.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan kawinkan, Arga Hartawan bin Indra Hartawan dengan anak saya Kania Andarini Prasetyo binti Irvan Prasetyo, dengan mas kawin seperangkat alat salat lengkap, sebuah mushaf Al-Qur'an, satu set perhiasan dan uang tunai lima ratus sembilan puluh sembilan j rupiah dibayar tunai," ucap Irvan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kania Andarini Prasetyo binti Irvan Prasetyo dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," jawab Arga dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?" Pak penghulu menanyakan sah tidaknya pembacaan lafaz akad nikah tadi kepada para saksi.
Untuk sejenak suasana menjadi tegang, karena para saksi belum memberikan jawaban.
"Sah," jawab para saksi nikah bergantian.
"Alhamdulillah," ucap semua yang ada di sana serempak.
Kania yang mengikuti prosesi di dalam kamarnya bersama dengan ibu dan Rasti, sahabatnya merasa lega karena Arga berhasil menyelesaikan akad nikah dalam satu tarikan nafas.
Namun, tanpa disadari oleh siapa pun yang berada dalam kamar tersebut, diantara wajah-wajah bahagia itu ada satu wajah yang menyimpan angkara dan dendam membara.
'Kania, kamu boleh tertawa sekarang. Tapi nanti, aku akan membuatmu hancur begitu juga dengan keluargamu. Mereka semua akan hancur,' batin Rasti penuh kebencian.
"Pengantin wanita, silahkan. Bisa dibawa keluar sekarang." Terdengar suara pak penghulu memanggil Kania untuk ikut bergabung bersama mereka.
Mendengar suara penghulu memanggil, Citra dan Rasti mengajak Kania untuk menemui penghulu dan Arga di depan. Wajah Kania tampak semakin mempesona dengan semburat merah di pipinya, tampak semakin memancarkan aura kebahagiaan dari hatinya.
"Waduh, Mas Arga sampai lupa berkedip melihat Mbak Kania, sabar Mas ini masih terlalu pagi. Masih banyak waktu untuk kalian berduaan nanti," seloroh pembawa acara, yang langsung disambut dengan tawa para undangan sukses membuat wajah Arga dan Kania semakin memerah karena malu.
Setelah Arga dan Kania duduk berdampingan, pak penghulu yang juga merupakan seorang da'i ternama mulai memberikan wejangan-wejangan mengenai kehidupan berumah tangga yang sesuai dengan tuntunan agama Islam.
Seusai penghulu memberikan wejangan dan pembacaan sighat taklik, Kania pun meraih mas kawinnya yang berupa mushaf Al-Qur'an, dibukanya secara acak dan dia mulai membacanya, membuat Arga makin terpesona pada Kania.
'MasyaaAllah, tidak salah aku memilihmu Kania. Kamu memang bidadari,' gumam Arga.
Kurang lebih empat puluh lima menit kemudian Arga dan Kania berganti pakaian, Kania memakai ball gown berwarna biru tosca, warna favorit Kania. Dalam balutan ball gown biru tosca itu Kania tampak begitu cantik, auranya bersinar sangat terang membuat siapa pun yang melihat jatuh hati.
Namun, tidak dengan Rasti, semakin lama semakin bertambah dalam dendam dan kebenciannya terhadap Kania dan Citra. Keinginan untuk menghancurkan Kania dan memiliki Arga semakin kuat dirasakannya.
'Citra! Kania Prasetyo! Aku tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia. Arga, kau harus jadi milikku bagaimana pun caranya,' bisik Rasti sambil mengepalkan kedua tangannya erat.
Selama tiga tahun lamanya, Kania dan Arga menjadi pasangan paling bahagia dan romantis yang pernah ada, kemana-mana selalu berdua, bila berjalan mereka selalu bergandengan tangan, tidak ada kata lain yang keluar dari mulut mereka selain saling memuji dan memuja satu sama lain meski dalam tiga tahun itu belum ada tanda-tanda hadirnya seorang anak dalam pernikahan mereka.
Namun, tidak disangka-sangka rumah tangga mereka yang terlihat begitu tenang tanpa riak harus mengalami badai yang luar biasa dahsyat, hal itu dimulai ketika Rasti meminta Kania untuk menemaninya wawancara dengan narasumbernya itu.
[Kania, elu sibuk nggak hari ini?] tulis Rasti dalam chatnya.
__ADS_1
[Enggak tuh, kebetulan hari ini aku lagi cuti. Kenapa, Ras?] Kania berbalik tanya kepada Rasti.
[Anterin gue dong, gue harus wawancara seorang pengusaha sekaligus politisi muda nih. Kameramen gue nggak bisa bareng sama gue, mau ya.] pinta Rasti kepada Kania.
[Ya udah, gue temenin. Lagian siapa sih yang mau elu wawancara? Sampai segitu takutnya?] tanya Kania penasaran.
[Udah, nanti juga elu tahu sendiri. Lima menit lagi gue ke rumah elu ya.] tutup Rasti dalam chat terakhirnya.
[Oke.] pungkas Kania mengiyakan.
Lima menit kemudian Rasti benar-benar datang ke rumah Kania. Tanpa menunggu lebih lama, Rasti segera mengajak Kania pergi dengan alasan takut kejebak macet.
"Kania, langsung berangkat yuk. Gue takut kejebak macet nih, bisa hancur reputasi gue kalau sampai telat di meeting point sama itu narasumber gue," ajak Rasti langsung memaksa Kania untuk berangkat.
"Iya, sabar kenapa? Gue pakai sepatu dulu," ucap Kania sambil memakai sepatu wedge berwarna coklat tua senada dengan blazer yang saat itu dipakainya.
Usai memakai wedgenya, Kania segera menyusul Rasti yang sudah menunggu di dalam mobilnya. Begitu Kania selesai memakai sabuk pengamannya, Rasti pun segera memacu Porsche Macan 2.0nya.
Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di tempat pertemuan mereka disusul dengan kameramen andalan Rasti. Tidak menunggu lama sosok yang ditunggu Rasti pun datang.
"Akhirnya datang juga, untung kita nggak telat," ucap Rasti lega.
"Jadi dia, Ras, orang yang mau elu temuin? Yang bikin elu narik-narik gue dan bikin elu ngebut segitu kencengnya?" tanya Kania.
Seorang lelaki berwajah tampan, berhidung mancung, berdada bidang dengan tinggi 189 cm itu segera memeluk dan mencium pipi Rasti. Wawancara dengan lelaki itu berjalan selama kurang lebih empat puluh lima menit.
Usai wawancara, kameramen Rasti segera pamit kembali ke kantor untuk mengedit hasil wawancara mereka, sementara Rasti, Kania dan lelaki itu masih berada di cafe tempat pertemuan mereka.
Andra yang merasa asing dengan wajah Kania pun menanyakan kepada Rasti siapa wanita cantik yang bersamanya itu.
"Elu nggak mau kenalin gue sama temen elu yang cantik ini, Ras? tanya Andra sambil menatap wajah cantik Kania.
"Eh iya, lupa. Kania, ini Andra. Andra, Kania. Jadi gini, sebenernya Andra ini temen atau lebih tepatnya sahabat gue dari kecil. Gue diberi tugas sama bos gue buat wawancara dia, dan alasan gue ngajakin elu itu karena siapa tahu nanti diantara kalian ada suatu chemistry dan kalian berjodoh untuk bisnis atau apa pun itu," dalih Rasti.
"Oh oke, alasan yang masuk akal, cukup bisa dimaafkan," balas Kania sambil menjabat tangan Andra.
Singkat cerita perkenalan mereka berlanjut dengan hubungan pertemanan yang cukup baik bahkan Andra tidak segan melakukan flirting kepada Kania meski pun dia tahu wanita cantik itu sudah bersuami bahkan seringkali menghindari berduaan dengan dirinya saja dan mengenalkan suaminya kepada Andra dengan tujuan menghindari rayuan Andra.
Semuanya berjalan baik, hingga bencana itu terjadi di part selanjutnya, dan kemudian menghancurkan segalanya.
***
__ADS_1