
Masa Sekarang
Rahayu begitu asyik melamun hingga tidak menyadari bahwa Kirana, gadis cantik bergaun merah yang mengaku sebagai teman kerja Rasti itu sudah menghilang dari hadapannya.
Rahayu masih asyik mengenang Sasti ketika tiba-tiba dia merasakan hawa aneh di tempatnya berada. Bulu kuduknya meremang, begitu pula dengan bulu-bulu halus di tangannya. Dia tidak mengetahui bahwa Kirana, gadis bergaun merah yang tadi tengah berbicara dengan dirinya itu ternyata sudah berada di dalam ruang ICU dengan wujud aslinya.
'Aneh! Kok tiba-tiba aku merinding begini, ya? Apa ada hantu ya di sini, sekarang? Tapi nggak mungkin ah, masa hantu siang-siang gini nongolnya,' batin Rahayu sambil mengusap tengkuk dan juga tangannya bergantian.
Lidah Kirana yang panjang dan bercabang itu melubangi kantong darah yang dipakai untuk mentranfusi Rasti, sedikit demi sedikit darah dalam kantong transfusi itu berpindah ke dalam perut wanita hantu itu.
Setelah puas menghisap hampir habis isi kantong darah itu, perlahan lidah Kirana itu masuk melalui lubang telinga kiri Rasti dan melalui itu dirinya masuk ke dalam alam bawah sadar Rasti dalam wujud seorang nenek tua.
"Rasti!" panggil nenek tua perwujudan Kirana itu.
Rasti yang merasa namanya dipanggil, menghentikan langkahnya dan menengok ke arah pemanggilnya yang ternyata ada seorang nenek tua.
"Ya, Nek. Ada yang bisa Rasti bantu?" tanya Rasti.
"Tidak, tidak ada. Nenek hanya ingin bicara sebentar denganmu. Duduklah di sini, Nak, nenek hanya ingin tahu kenapa kau berada di sini sendirian?" tanya nenek tua itu dengan suara seraknya.
Rasti menjelaskan bahwa dia mencari suaminya yang meninggalkannya seorang diri, dan sekarang suaminya itu entah ke mana. Nenek tua itu mengatakan bahwa ia akan menolong Rasti untuk menemukan suaminya, dengan syarat janin yang ada di perutnya itu diberikan kepadanya.
Rasti menimbang dengan ragu, di satu sisi dia menginginkan bayi itu sebagai pengikat seumur hidup antara dia dan suaminya, tetapi di sisi lain dia tidak rela bila nanti suaminya tergoda perempuan lain terlebih lagi bila tergoda kembali oleh Kania.
Nenek tua perwujudan Kirana yang sudah mengetahui maksud hati Rasti pun terus menyakinkannya agar mau menukar janin dalam perutnya dengan jalan pulang ke dunia.
"Sudahlah, Nak, tidak usah dipikirkan lagi. Tukarkan saja hidup anakmu itu dengan jalan pulang menuju suamimu, agar kau bisa bertemu kembali dengannya atau barangkali kau sudah merelakan bila suami tampanmu itu tergoda oleh perempuan lain lalu pergi meninggalkanmu?"
Nenek tua jelmaan Kirana terus merayu Rasti, "tidak mengapa, kau kehilangan anakmu sekali ini saja demi jalan pulang ke suamimu, toh kamu masih bisa hamil lagi. Ya 'kan?"
Rasti yang sudah tergoda rayuan nenek tua itu pun akhirnya menganggukkan kepala, dan nenek tua itu pun tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut Rasti.
"Terima kasih untuk hadiahmu, Manis," ucapnya kemudian sambil menggendong seorang bayi mungil laki-laki dan saat akan pergi, nenek itu mengulurkan telunjuknya untuk memberi tahu arah jalan pulang kepada Rasti.
"Di sana. Kamu lurus saja, ikuti cahaya itu. Jalan pulangmu ada di sana," ucap nenek itu sembari tertawa memperlihatkan gigi-gigi runcingnya.
Rasti memandang jalan yang ditunjuk oleh nenek tua itu, dan kembali memalingkan wajahnya untuk mengucapkan terima kasih saat dilihatnya nenek tua itu sudah hilang dari pandangan matanya.
Rasti mengusap-usap perlahan perutnya. Kempes! Perut itu sudah kosong sekarang! Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang hamil! Sambil berjalan, Rasti memikirkan apa alasan yang akan dikatakan kepada Arga tentang calon anak mereka saat bertemu nanti.
Rasti tidak sadar bahwa itu sebenarnya hanyalah tipu daya si iblis Kirana yang sesungguhnya telah mengambil anaknya tanpa dia sadari ketika proses operasi ceasar kemarin.
'Apa yang nanti sebaiknya kukatakan pada Mas Arga tentang anak ini ya? Jelas nggak mungkin kalau aku bilang sudah menukar anak ini dengan jalan pulangku 'kan? Atau sebaiknya aku pura-pura keguguran saja? Ah ya, itu jauh lebih baik dan meyakinkan,' batin Rasti.
Perlahan tetapi pasti, Rasti semakin lama semakin mendekati akhir jalan yang ditunjukkan oleh nenek tua tadi ketika Rasti mendengar samar suara orang mengaji di dekatnya dan tiba-tiba ... Rasti seperti merasakan dirinya ditarik dan dilemparkan begitu saja ke suatu tempat yang tidak dia kenal.
Gelap!
Kesan pertama yang ditangkap oleh Rasti. Dia mengerjapkan matanya berusaha menangkap cahaya sekecil dan sesamar apa pun dengan retina matanya. Tiba-tiba matanya terasa sangat sakit oleh sorotan cahaya yang sangat dekat, otomatis dia menutup matanya rapat-rapat dan kembali mencoba membukanya perlahan-lahan.
"Gelap! Di mana ini? Mas! Mas Arga! Mas Arga di mana?" Rasti memanggil Arga, suaminya.
"Tenang, Bu. Bu Rasti tolong Ibu tenang sebentar saja, suami Ibu ada di sebelah kanan Ibu," Terdengar suara bariton khas seorang lelaki menjawab pertanyaannya
__ADS_1
"Sekarang coba Ibu buka mata Ibu pelan-pelan, supaya mata Ibu tidak terkejut saat terkena sinar matahari atau sinar lampu." lanjut lelaki yang ternyata adalah seorang dokter itu.
Rasti menuruti perintah dokter membuka matanya kembali, perlahan manik Rasti mulai terbiasa dengan cahaya yang masuk, dia mulai bisa melihat beberapa obyek dengan jelas.
"Mama, Mas Arga, Mami, kalian semua ada di kamarku? Tapi ... hei! Ini bukan kamarku! Aku di mana ini, Mas!" tanya Rasti begitu mengenali bahwa itu bukan kamarnya.
"Di rumah sakit, Sayang. Kamu baru saja sadar dari koma selama lima hari, pasca operasi ceasar," jelas Arga.
"Ceasar? Berarti anak kita sudah lahir, Mas? Dia selamat, nggak? Laki-laki atau perempuan?" Rasti mencecar Arga dengan pertanyaan tentang anaknya.
Arga kebingungan menjawab pertanyaan Rasti, bukannya dia tidak mau menjawab tetapi dia tidak tahu bagaimana cara untuk menyampaikan berita kehilangan itu tanpa menyakiti perasaan istrinya.
"Anak kamu sudah lahir, Rasti. Dia laki-laki, tapi dia sekarang sudah bahagia bersama Allah di sana. Dia menunggu kalian di pintu surga. Dia meninggal sebelum dilahirkan, karena pendarahan hebat yang kamu alami waktu itu." Akhirnya Rahayu yang memberi tahu Rasti tentang anaknya.
Dan di luar dugaan, reaksi Rasti mendengar berita itu hanyalah menitikkan air matanya sebentar dan meminta maaf, tidak ada reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh Rasti.
Rasti merasa lega karena anak itu ternyata sudah meninggal sebelum lahir ke dunia, sehingga dia tidak perlu bingung mencari-cari alasan untuk menjelaskan kepada suaminya kenapa janin itu sudah tidak ada lagi di dalam perutnya.
"Jadi bagaimana, dokter. Kapan anak saya bisa pulang?" Rahayu bertanya kepada dokter yang memeriksa Rasti, kapan Rasti diperbolehkan pulang.
"Kita lihat perkembangannya dulu ya, Bu. Kalau terus membaik, insyaaAllah besok atau lusa sudah bisa pulang," jelas dokter.
Risa dan Rahayu saling menatap satu sama lain, mereka bahagia karena kondisi Rasti sudah tidak mengkhawatirkan lagi, sementara Arga memeluk mesra istrinya.
***
Sementara itu di kediaman Kania, tampak seorang gadis tengah bersiap pergi bekerja kembali. Hari ini dia menjadwalkan untuk singgah ke restoran milik mamanya untuk melakukan kunjungan mendadak terkait laporan adanya penurunan kinerja pada beberapa kru restoran.
Dengan memakai atasan tunik berwarna hijau daun, celana palazzo hitam, stiletto hijau lumut dan kelly bag selaras dengan warna stiletto, Kania berangkat ke pabrik baja yang sekarang berada di bawah pengawasannya sepenuhnya.
Namun sebelum pergi, Kania menelepon sekretaris pribadinya, untukĀ memberitahu bahwa dia akan ke luar pabrik dan tidak akan kembali lagi.
[Selamat siang, Bu Kania. Ada yang bisa saya bantu.] sapa Sita, sekretaris pribadi yang sudah bekerja dari sembilan tahun lalu, sejak ayahnya masih memimpin di perusahaan ini.
[Selamat siang, Mbak Sita. Saya cuma mau kasih tahu saja bahwa saya mau ke luar pabrik karena ada urusan lain yang harus segera saya selesaikan, dan satu lagi, saya akan langsung pulang jadi tidak kembali lagi ke pabrik.] terang Kania.
[Baik, Bu. Untuk hari ini jadwal meeting dengan klien dan staf manajerial sudah selesai semua, dokumen-dokumen penting yang kemarin Ibu minta sudah saya taruh di atas meja Ibu untuk ditandatangi, selain itu tidak ada lagi, Bu.]
Sita menginformasikan kepada Kania mengenai jadwal pekerjaan Kania hari ini.
[Oke! Dokumen-dokumen itu sudah saya tandatangani, jadi sudah bisa kamu ambil. Kalau begitu saya jalan dulu.] terang Kania kepada Sita melalui panggilan suara.
[Baik! Terima kasih, Bu. Selamat siang.] ucap Sita sebelum menutup gagang teleponnya.
[Siang!] balas Kania cukup singkat.
Setelah menyelesaikan agenda meeting dengan klien-kliennya dan menandatangani beberapa dokumen penting yang harus segera ditandatangani serta mengadakan evaluasi kinerja manajerialnya, Kania pun melajukan Lamborghini Reventon miliknya dengan kecepatan sedang menuju salah satu mall terkenal di Jakarta di mana restoran makanan Jepang milik ibunya berada.
Sesampainya di mall, ketika baru saja akan melangkahkan kakinya memasuki kawasan mall tersebut. Kania ditabrak oleh seorang lelaki, rupanya lelaki itu begitu tergesa-gesa sehingga tidak melihat Kania yang berada tepat di depannya.
Bruk!
Suara Kania jatuh terduduk ditabrak oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Aduh!" seru Kania kesakitan.
Mendengar suara mengaduh, sontak lelaki itu menghentikan langkah dan menengok ke belakang. Lelaki itu sangat terkejut saat mengetahui siapa yang telah dia tabrak.
"Ka ... Kania?" tegur lelaki itu yang lantas menghampiri Kania untuk menolongnya.
"Mas ... Andra?" tebak Kania, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Andra di sini.
"Iya, aku Andra. Kamu masih ingat sama aku rupanya. Bagaimana kabarmu, Kania?" tanya Andra sembari mengulurkan tangan untuk menolong Kania berdiri.
Kania menerima uluran tangan Andra dan lebih memilih untuk membersihkan celana palazzonya yang kotor setelah terjatuh tadi. Sekilas diliriknya hak kiri stilettonya patah dan tanpa ragu, Kania mematahkan hak sebelah kanan stiletto miliknya.
"Beres, sekarang nggak bakal malu-maluin," ucap Kania santai lalu membuang hak sepatu stilettonya yang sudah patah.
Andra yang merasa tidak enak hati karena sudah mengakibatkan hak stiletto Kania patah itu meminta Kania untuk ikut dengan dirinya.
"Kania, maaf ya karena aku, hak sepatumu patah. Sebagai permintaan maaf, kuminta kamu mengikutiku ke dalam sekarang ya," pinta Andra.
"Nggak apa-apa, Mas. Kualitas stilettoku yang memang kurang bagus, maklum aku cuma bisa beli yang KW dan sebagai tanda aku menerima permintaan maafmu, baik aku ikut Mas Andra ke dalam,"jawab Kania.
Mereka berdua pun berjalan menyusuri gerai-gerai yang ada di dalam mall tersebut satu persatu dana tepat di lantai empat mall, Andra mengajak Kania masuk ke dalam sebuah gerai sepatu ternama.
Kania yang pura-pura tidak tahu maksud Andra hanya mengikutinya dari samping Andra sambil sesekali matanya melirik-lirik berbagai koleksi sepatu terbaru yang ada di gerai sepatu tersebut.
Andra yang mengamati gerak-gerik Kania dari tadi pun menyuruh Kania memilih dan mencoba sepatu-sepatu dan sandal yang diinginkannya.
"Kamu pilih dan coba saja model-model sepatu dan sandal yang kamu suka, Kania," suruh Andra.
"Serius, Mas? Nggak usahlah, sepatu dan sandal di sini mahal-mahal semua, mana sanggup aku membayarnya nanti," tolak Kania sopan.
"Nggak usah mikirin itu, kamu ambil aja mana yang kamu suka, yang kamu mau. Nanti aku yang bayar, sebagai ganti sepatu yang rusak gara-gara kamu jatuh tadi." Setengah memaksa Andra menyuruh Kania untuk mengambil beberapa pasang sandal dan sepatu kesukaannya.
Kania yang memang ingin membalas sakit hatinya kepada semua orang yang telah menyakitinya itu pun menuruti perintah Andra, segera dengan lincahnya tangannya memilih dan mencoba beberapa pasang sandal dan sepatu yang memang dia incar.
"Ini, Mas aku pilih ini saja. Kasian Mas Andra kalau aku beli banyak-banyak, nanti uang Mas Andra habis," tolak Kania halus sambil memasang perangkap untuk Andra.
"Nggak kok, nggak apa-apa. Ambil aja sebanyak kamu mau. Apa ini sudah semua yang kamu suka dan kamu mau, Kania? Kalau masih kurang, pilih aja lagi," Andra rupanya sudah termakan perangkap Kania.
"Belum sih, masih ada tiga pasang lagi yang aku pengen. Beneran nggak apa-apa, Mas kalau aku ambil banyak?" sambung Kania.
Andra menganggukkan kepalanya tegas-tegas menjawab pertanyaan Kania, dan Kania pun segera mengambil ke tiga pasang sepatu itu dan menyerahkan kepada pramuniaga gerai untuk dijadikan satu dengan semua pilihan pertamanya tadi.
Andra pun segera ke kasir untuk membayar semua sepatu dan sandal pilihan Kania, dan menyerahkan kartu hitam miliknya kepada petugas kasir untuk di gesek sesuai nominal yang dimaksud.
Kania yang melihat kartu hitam American Express milik Andra itu pun langsung mengatur siasat untuk menghancurkan Andra seperti yang dulu pernah dilakukan Andra kepada dirinya.
'The Black Card dari American Express ya? Hmm, aku akan menghancurkanmu melalui itu. Tunggu pembalasan cantikku padamu, Andra sayang.'
Pembalasan dendam seperti apa yang direncanakan Kania untuk Andra?
Apakah akan berhasil, atau sebaliknya?
Lalu bagaimana dengan Rasti, apakah dia akan bersekutu dengan Kirana?
__ADS_1
***