Santet Pengantin

Santet Pengantin
Part 23


__ADS_3

Masa sekarang


Hari ini adalah hari ke empat puluh, Kania melakukan puasa putih, puasa yang tidak pernah ada dalam ajaran Islam, karena puasa putih atau mutih ini hanya dikenal dikalangan penganut kejawen dan praktisi supranatural yang sedang mendalami ilmu hitam, dan orang yang melakukan puasa putih ini tidak diperbolehkan melakukan ibadah apalagi mengingat Tuhan, karena bila pelaku puasa putih melanggar syarat itu maka tubuhnya seketika akan merasa sakit luar biasa, tulang-tulangnya terasa seperti remuk.


Meskipun selama tiga sembilan hari puasa, Kania hanya mengkonsumsi nasi putih dan air putih saja, tetapi Kania merasa semakin bugar dan selama itu pula dia merasakan tubuhnya seperti mendapatkan kekuatan yang luar biasa dan kepekaannya terhadap mereka yang tak kasat mata pun semakin meningkat.


Dan, di hari ini tepatnya malam ini adalah puncak dari puasa yang dilakukannya, sebab akan ada ritual akbar antara dirinya dan Raden Mahesa, Kania merasa sedikit tegang dengan ritual yang dia lakukan nanti malam.


'Malam ini, malam ini adalah puncak dari segala yang telah kulakukan selama ini. Setelah malam ini, aku akan mendapatkan apa pun yang aku mau, siapa pun yang aku kehendaki pasti akan menurut dan bertekuk lutut padaku.' Kania berangan-angan, saat mengingat perjanjiannya dengan Raden Mahesa empat puluh hari lalu sebelum dia bersedia menjalankan ritual puasa putih ini.


'Aku yakin, setelah puncak ritual ini, pesona yang kumiliki akan semakin bersinar, tidak akan ada lagi penolakkan untuk diriku dan tidak akan ada lagi Kania yang lemah, Kania yang hanya bisa diam ketika disakiti. Andra sudah berada dalam genggamanku sekarang, tinggal Arga. Aku harus lebih kuat lagi kalau mau membalas Arga, dan kau ... Rasti ... meski pun sakit hatiku ada sedikit yang terbalaskan, tetapi aku tidak akan pernah memaafkan dan mengampuni dirimu, tidak masalah bagiku bila kita harus membusuk bersama di neraka,' imbuhnya sambil membayangkan wajah-wajah orang yang telah tega menusuknya dari belakang setelah semua yang dia lakukan untuk mereka.


Tidak berapa lama, angin tiba-tiba saja berhembus dengan derasnya di dalam kamar Kania yang selalu tertutup rapat itu, membuat tirai-tirai di kamarnya dan lampu-lampu gantung yang ada di kamarnya bergoyang-goyang tanpa ada satu sosok pun yang menyentuhnya.


Selang beberapa detik kemudian terdengar suara lolongan anjing bersahut-sahutan bergantian dengan suara burung gagak. Lampu-lampu di kamar Kania mendadak padam dengan sendirinya setelah sempat berkedip-kedip sebentar mati sebentar menyala selama beberapa menit, semakin menambah gelap suasana malam yang gelap tanpa cahaya bulan menemani.


Kania memejamkan matanya, menikmati suasana mencekam yang sudah mulai menjadi teman akrabnya beberapa waktu belakangan. Pun ketika hawa dingin mulai terasa merobek daging hingga ke tulang sumsum, bercampur dengan aroma anyir darah dan wangi bunga kantil dan kenanga. Kania tersenyum, mengetahui siapa yang datang.


'Raden Mahesa, Kirana, akhirnya kalian datang juga. Setelah beberapa waktu aku tidak berjumpa dengan kalian, kuucapkan selamat datang kepada kalian,' batin Kania, menyambut kedatangan Mahesa dan Kirana.


"Kania. Raden Mahesa dan aku datang menjengukmu malam ini, kami harap kau sudah siap untuk melakukan ritual puncak di malam terakhir puasamu. Aku, datang ke sini hanya untuk mengantarkan Raden Mahesa menemuimu. Silahkan, Raden." Kirana memegang kedua belah bahu Kania dengan kedua tangannya yang pucat pasi dan dingin sambil berbisik di telinga Kania sehingga menyebabkan bulu kuduk Kania meremang sekujur tubuh.


"Kania! Terima kasih untuk kesetiaanmu kepadaku, selama melakukan puasa putih beberapa hari ini. Sejauh ini kau sudah berhasil membuktikan dan menyakinkanku, bahwa kau memang pantas menjadi abdi setiaku selamanya." Raden Mahesa tersenyum memandang Kania yang terlihat semakin bersinar, membuatnya tidak dapat menahan keinginan terbesarnya untuk segera menjadikan Kania sebagai ratunya, ratu yang akan mewarisi tahta kerajaan gaib miliknya.


Kania tersenyum mendengar perkataan Raden Mahesa dan Kirana, perlahan dia membuka matanya dan melihat kedua sosok itu sudah berdiri di hadapannya, Kirana yang setia dengan gaun berwarna merah darahnya yang panjang dan sebelah wajah yang selalu ditutupi dengan rambut masainya yang tak kalah panjang, serta tangan pucat pasi dengan kuku-kukunya yang runcing, dan Raden Mahesa, raja lelembut yang tampan dan gagah, yang selalu memakai baju kebesaran raja-raja kuno dengan mahkota raja dan rambut panjang sebahu yang selalu tergerai.


Kania menatap Kirana lama, diam-diam Kania memuji kehebatan Raden Mahesa yang sudah berhasil menundukkan Kirana sehingga mau menjadi abdinya yang setia, 'Kirana, maafkan aku selama beberapa waktu ini tidak pernah memberimu tumbal, tapi setelah ini aku akan menebusnya.'


"Tidak usah, Kania. Kau tidak perlu lagi menebus tumbal-tumbal itu, setelah aku menjadi abdi Raden Mahesa, aku tidak pernah lagi kekurangan. Walau pun kau tidak memberiku tumbal dalam jangka waktu yang lumayan lama. Sekarang, aku mau pergi dulu, Kania. Raden, aku pergi dulu." Kirana mengundurkan diri dari kamar Kania menuju ke sebuah tempat yang selama beberapa bulan ini menjadi tujuannya mencari mangsa.


Setelah kepergian Kirana, perlahan-lahan Raden Mahesa berjalan mengelilingi Kania, dihidunya bau harum tubuh perempuan itu, bau harum bunga kantil menambah besar keinginannya untuk segera menjadikan perempuan itu sebagai ratunya.


Aura gelap Kania yang semakin bersinar pun menambah kuat hasrat raja para lelembut ini untuk memperkuat tahtanya. Dia yakin, dengan adanya Kania sebagai pendampingnya, kerajaan gaib miliknya akan semakin kuat dan dengan bantuannya nanti, tidak akan ada yang bisa lepas dari jerat pesona Kania.

__ADS_1


"Malam ini adalah malam ke empat puluh, malam terakhir kau melakukan puasa putih 'kan? Seperti janjiku dulu, bahwa di malam ke empat puluh aku akan memakai ragamu untuk menyempurnakan ajian pengasihan jaran goyang dan semar mesem milikmu, apa kau sudah siap?" Raden Mahesa mengajukan pertanyaan kepada Kania mengenai kesiapannya.


"Aku siap Raden, sangat siap! Bahkan jika aku harus melakukan pernikahan gaib denganmu pun aku siap! Aku bersedia melakukan apa pun demi membalaskan sakit hatiku kepada mereka! Katakanlah, Raden! Katakan apa yang harus kulakukan agar aku bisa menyempurnakan ajian yang sudah kumiliki itu!" Kania gegas menjawab pertanyaan Raden Mahesa dengan tegas dan mantab.


Mendengar jawaban mantab Kania, mata Mahesa berbinar senang, rasanya Mahesa ingin membawa Kania ke kerajaannya saat itu juga untuk melaksanakan pernikahan gaib seperti yang sudah direncanakannya, tetapi Mahesa tidak ingin semua rencana yang telah disusunnya hancur berantakan sehingga dia berusaha terlihat biasa-biasa saja di depan Kania.


"Pernikahan gaib? Apa dirimu benar-benar yakin mau melakukan itu? Apa kau mau mempunyai seorang suami lelembut atau makhluk halus seperti aku? Apa kau tidak takut, Kania?" Mahesa mencecar Kania dengan berbagai pertanyaan hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa Kania juga menginginkan melakukan pernikahan gaib dengan dirinya.


"Takut? Raden menanyakan apa aku tidak takut? Raden salah kalau menanyakan hal itu kepadaku sekarang. Kalau aku takut, aku tidak akan mungkin berteman dengan Kirana, tidak akan mungkin akan meminta bantuan kepada Nyai Lakeswari yang akhirnya mempertemukan kita. Mungkin dulu aku masih punya rasa takut, tapi saat ini aku sudah lupa bagaimana rasa takut itu, dan untuk pernikahan gaib yang sempat kusebut tadi, tentu saja aku yakin dan siap bila harus melakukan itu demi terbalasnya sakit hati ini." Kania kembali mengulang jawabannya dengan tegas, dia sudah yakin dengan keputusannya apa pun resikonya.


Perlahan jemari Mahesa terulur memegang kulit lembut Kania lalu ditangkupnya paras jelita perempuan itu. Sambil tersenyum penuh kelembutan, Mahesa memandang manik indah di depannya, manik yang penuh kebencian, sakit hati dan dendam kesumat kepada orang-orang yang telah menyakiti dirinya di masa silam.


Mahesa meniup wajah perempuan jelita itu dengan lembut kemudian diciumnya kening Kania yang seketika saja lunglai dalam pelukannya. Mahesa tersenyum penuh arti memandang tubuh perempuan yang begitu diinginkannya menjadi ratunya. Dengan penuh perasaan, raja lelembut yang gagah perkasa itu meletakkan tubuh Kania di atas ranjangnya dan diselimutinya, lalu Mahesa kembali ke alamnya untuk menemui Kania yang sudah menunggunya di sana.


"Apa yang kau amati, Ratuku? Ini istanaku, istanamu juga nanti setelah kau menjadi istriku, menjadi permaisuriku, ratuku," ucap Mahesa melihat Kania yang kebingungan.


"Ini semua akan jadi istanaku? Jangan bercanda, Raden. Mana mungkin aku bisa memiliki ini semua?" Kania tidak percaya pada ucapan Mahesa.


Mahesa tersenyum melihat kepolosan Kania, sungguh tipe manusia yang mudah diperdaya.


Kania pun menuruti perintah Mahesa, dia begitu menikmati cumbuan Mahesa, untuk sejenak dia merasakan ada sesuatu yang menari-nari di wajahnya, rasanya begitu lembut, basah dan hangat, meninggalkan sensasi geli luar biasa.


Dengan perlahan sesuatu itu bergerak ke arah lehernya yang putih. Di sana, sesuatu itu memberi banyak tanda merah sebagai arti kepemilikkan dirinya atas Kania, setelah merasa puas bermain di leher Kania, dia bergerak ke dada Kania dan bermain cukup lama di sana, memberi sensasi geli, menimbulkan suatu keinginan yang telah lama sengaja dipendam oleh Kania.


"Raden ... Mahesa  ... Mahesa ...." Kania mulai meracau karena gairah yang mulai terbakar, nafasnya mulai tersengal-sengal menahan perasaan yang meledak-ledak oleh cumbuan Mahesa.


"Tentu, Kania ratuku. Aku akan memenuhi keinginanmu malam ini, dan akan menjadikan dirimu sebagai permaisuri di kerajaan ini. Sekarang nikmatilah permainan kita, aku akan membahagiakanmu malam ini, akan kubuat kau terbang ke awang-awang sehingga kau tidak akan bisa melepaskan diriku ini," ucap Mahesa sambil terus memegang tubuh Kania.


Beruntung Kania tidak menyadari bahwa selama berdua dengannya ternyata Raden Mahesa memperlihatkan wujud aslinya yang cukup mengerikan, wajahnya penuh dengan bekas luka-luka bakar yang sudah bernanah, mata kirinya melotot seperti ingin lepas dari wadahnya, rambut merah masai dengan botak di beberapa tempat, dengan gigi runcing tajam dan cuping telinga tak kalah tajam. Namun, diantara semua itu yang paling menjijikkan adalah bagian tubuh Raden Mahesa yang serupa belatung raksasa dan tidak henti-hentinya menjatuhkan puluhan belatung di badan Kania, bahkan mungkin ratusan jumlahnya ketika miliknya itu menyembur di dalam inti perempuan berparas jelita yang kini sudah menjadi ratunya.


Kania yang telah lama menyendiri sejak diceraikan oleh Arga dua tahun lalu merasa sangat bahagia dengan sikap Mahesa. Untuk beberapa lama, mereka bertukar keringat menikmati kebersamaan mereka yang penuh dengan kegilaan yang tidak pernah diimpikan sama sekali oleh Kania. Kegilaan demi kegilaan itu baru berhenti saat terdengar suara ayam jago berkokok.


"Kania, bukalah matamu, Ratuku sayang," pinta Mahesa supaya Kania membuka matanya.

__ADS_1


Perlahan Kania membuka matanya dan mendapati Mahesa yang masih berada di atasnya tengah menatapnya dengan penuh kelembutan dan rasa cinta.


"Bagaimana, Ratuku. Apa kamu merasa senang dengan rasa yang kuberikan tadi?" tanya Mahesa dengan mata yang tak lepas memandang Kania.


"Senang, Rajaku. Sangat senang, Rajaku, aku tidak pernah merasakan kenikmatan dan kegilaan seperti ini sebelumnya." Kania menjawab dengan malu-malu.


Raden Mahesa tersenyum puas dengan jawaban Kania, sekarang Kania sudah menjadi miliknya seutuhnya, dan Mahesa berjanji akan selalu melindungi Kania dari siapa pun yang bermaksud menyakiti atau mencelakai Kania.


Mahesa bahkan rela mengorbankan nyawa demi melindungi dan menjaga ratunya, ratu yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


"Aku senang mendengar kamu menikmati semua yang kuberikan. Mulai sekarang kau adalah ratuku, kita telah terikat dalam tali pernikahan gaib, Sayang. Apa pun yang kau minta akan kukabulkan, aku akan selalu menjaga dan melindungimu dari siapa pun yang akan mencelakaimu. Dan soal ajian jaran goyang dan semar mesem yang kau miliki itu, sekarang khasiat keduanya lebih ampuh dan lebih susah dikenali apalagi disembuhkan. Balaslah semua dendammu, Ratuku, aku akan selalu membantumu," jelas Mahesa panjang lebar kepada Kania.


Kania yang merasa terharu dengan segala perhatian dan kasih sayang Mahesa pada dirinya, serta merta memeluk Mahesa dan membisikkan sesuatu, 'terima kasih, Wahai suamiku Raden Mahesa. Aku pasti akan membalas rasa sakit ini kepada mereka. Terima kasih karena telah memberikan ajian pengasihan yang luar biasa kepadaku, aku berjanji akan memakainya dengan benar." Kania menatap Raden Mahesa dan memeluknya erat.


"Sekarang sudah hampir subuh. Sudah waktunya kamu pulang, Ratuku. Aku akan menemuimu kembali nanti malam, tapi kamu jangan khawatir, aku akan selalu ada disisimu. Sekarang pejamkanlah kembali matamu, Ratuku." Mahesa memerintahkan Kania memejamkan matanya dan kembali meniup wajahnya dan mencium keningnya.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Ash-shalaatu khairum minan-nauum (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)


Bertepatan dengan berkumandangnya azan Subuh, Kania membuka matanya. Dia merasa sangat bahagia dengan kejadian yang baru saja dialaminya, baginya itu adalah pengalaman luar biasa yang tidak akan dilupakannya.

__ADS_1


'Mahesa ... Raden Mahesa ....' gumam Kania sebelum akhirnya dia melanjutkan kembali tidurnya barang sejenak, sebelum melanjutkan merancang strategi baru untuk menjerat musuh-musuhnya.


***


__ADS_2