
Kediaman Mbah Kromo.
Seusai menerima panggilan suara dari Rasti, Mbah Kromo bergegas menyiapkan berbagai perlengkapan yang akan dipakai untuk melaksanakan ritual guna mengulur waktu kepulangan Arga ke rumah nanti sore.
Dupa yang telah habis diganti dengan yang baru, dan mulai dinyalakan membuat wangi asapnya menguar ke seluruh ruangan. Selarik demi selarik mantra dirapal di bibir hitamnya yang tebal. Membuat suasana yang tadinya biasa berubah menjadi tegang dan mencekam meski pun saat itu masih siang hari.
Angin deras dan dingin mulai menerpa ke dalam ruangan kecil yang dipakai lelaki tua itu untuk ritual berdukun, membuat benda-benda yang ada di dalam sana bergoyang. Hawa panas dan dingin bercampur menjadi satu, aroma telur busuk memaksa masuk ke dalam indera penciuman. Dan dalam sekejap mata sosok yang dipanggil pun muncul, mendatangi tuannya.
"Ada apa Mbah memanggil saya? Tugas apa yang harus saya lakukan kali ini?" tanya sosok berwarna putih tinggi, bermata hitam pekat, berselimut kain kafan dengan ikatan tali di kepala, badan dan kakinya itu.
"Kamu lihat baik-baik foto laki-laki ini. Tugasmu kali ini adalah kamu harus bisa membuat laki-laki ini terlambat pulang ke rumahnya nanti sore, apa pun caranya. Mengerti?" titah Mbah Kromo memberikan perintah kepada sosok tinggi putih berselimut kain kafan itu.
"Mengerti, Mbah. Saya pergi dulu." Sosok putih berselimut kain kafan itu undur diri dari hadapan Mbah Kromo dan mulai mencari keberadaan lelaki yang ada dalam foto milik tuannya.
Mbah Kromo menyeringai melihat sosok suruhannya itu begitu menurut kepadanya, 'ternyata tidak sia-sia aku menjual jiwamu kepada raja pocong, Marni. Setelah apa yang kau perbuat padaku, sekarang kaulah yang harus tunduk kepadaku dan menjadi budakku, abdi setia raja pocong,' batinnya.
Untuk sesaat Mbah Kromo teringat kepada sesosok wanita yang dulu pernah sangat dicintainya dengan sepenuh jiwa dan raga miliknya, Mbah Kromo bahkan dengan rela menukar nyawa kedua orang tuanya yang tidak menyukai wanita itu demi mendapat cinta wanita itu, seperti yang disyaratkan oleh Marni kepada Kromo muda.
"Aku mau menikah denganmu, Kang tapi ada syaratnya." Sambil menatap manik Kromo, Marni mengajukan syarat untuk bukti keseriusan Kromo kepadanya.
"Katakan, syarat apa yang harus kupenuhi, Marni. Aku akan berusaha memenuhinya, asalkan setelah itu aku bisa menikah denganmu," timpal Kromo bersemangat.
"Bun*uh kedua orang tuamu yang tidak pernah menyetujui hubungan kita, Kang. Aku tidak mau menikah denganmu kalau mereka berdua masih hidup. Sekarang saja mereka sudah jahat kepadaku, bagaimana nanti setelah aku menjadi istrimu. Bisa-bisa aku diusir oleh mereka, Kang." Marni terus menebarkan jerat kepada Kromo muda.
Sejenak Kromo muda tampak terkejut dan ragu dengan syarat yang diajukan Marni. Dia tampak keberatan dengan persyaratan dari Marni karena bagi Kromo kedua orang tuanya adalah hal yang berharga dalam hidupnya, tetapi cintanya kepada Marni pun luar biasa sehingga dia mempunyai tekad untuk mengorbankan apa saja miliknya demi memiliki Marni seutuhnya.
Marni yang melihat keraguan Kromo, kembali menebarkan racun mematikan berupa rayuan dan impian indah jika Kromo bersedia mengikuti persyaratan darinya, berkat bujuk rayu manis Marni dan campur tangan iblis di dalamnya, Kromo akhirnya menyetujui persyaratan itu.
"Kenapa, Kang? Akang pasti nggak mau menuruti permintaan Marni 'kan? Ya sudah, kita putus aja. Biar Marni menikah dengan orang lain saja, banyak yang mau menikahi aku, bukan cuma Akang seorang. Marni sih nggak apa-apa menikah dengan lelaki lain, tapi Akang pasti menyesal karena nggak bisa memiliki Marni. Memangnya Akang nggak mau menikmati tubuh indah Marni setiap hari?" Marni begitu gencar menyebar racunnya untuk menjerat Kromo.
"Baik. Aku akan memenuhi persyaratanmu\, malam ini juga akan kubu*nuh kedua orang tuaku. Kamu akan melihat bukti cintaku kepadamu." Kromo memantabkan tekatnya demi menikahi wanita idaman hatinya dan terjadilah apa yang diinginkan oleh wanita itu. Kromo berhasil membun*uh kedua orang tuanya tetapi nasib apes menimpa dirinya saat hendak membuang jasad kedua orang tuanya itu Kromo tertangkap basah oleh seseorang yang ternyata adalah suruhan Marni dan harus mendekam di penjara selama beberapa tahun.
Sekali lagi demi mendapatkan wanitanya, Kromo rela menjalani hukuman itu dengan harapan bisa menikahi Marni setelah dia keluar dari penjara nanti.
Namun, apa yang terjadi? Setelah Kromo muda menjalani hukumannya, ternyata wanita itu, Marni meninggalkan dirinya dan menikah dengan pria lain. Tidak hanya itu saja, Marni bahkan menghinanya habis-habisan dan menyebutnya sebagai pembun*uh berdarah dingin sehingga membuat dirinya menjadi bulan-bulanan penduduk desa dan akhirnya terusir dari sana.
"Bre*ngsek kamu, Marni. Kau tipu aku sedemikian rupa, kau buat aku durhaka pada kedua orang tuaku dan aku harus mendekam di penjara karena ulahmu! Mulai saat ini tiada lagi cintaku padamu, yang ada hanya dendamku kepadamu! Tunggu pembalasan dariku! Kau harus mati! Mati!" Kromo berteriak mengangkat sumpah untuk membalas dendam atas kebusukkan yang dilakukan Marni kepada dirinya.
Hal itu membuatnya menaruh dendam kesumat kepada Marni, hingga membuat dirinya melangkahkan kaki menuju ke sebuah tempat, tepatnya di lereng tertinggi Gunung Kawi. Di sana selama enam puluh hari berturut-turut Kromo muda melakukan puasa putih dan bersemedi setiap malam, dan pada hari terakhir semedinya Kromo muda berhasil mengikat perjanjian dengan Buto Ijo, salah satu penunggu di sana.
Dengan bantuan Buto Ijo, Kromo berhasil menjadi orang paling berkuasa di kampung tempat tinggalnya bahkan dia berhasil membalas dendamnya kepada Marni dengan cara menyerahkan jiwa perempuan itu kepada Buto Ijo sebagai tumbal.
***
Sementara itu di kantor Arga, tampak satu sosok berwarna putih tinggi berselimut kafan sedang berdiri mengawasi Arga dari tempat yang tidak terlalu jauh. Pocong tersebut sedang berusaha mencari celah untuk membuat Arga celaka supaya pria itu terlambat pulang.
Sementara Arga yang tidak mengetahui bahwa dirinya menjadi target, merasa biasa-biasa saja. Namun, beberapa kali Arga tampak mengusap tengkuknya karena merasa merinding dan seperti ada yang sedang mengawasi dirinya. Arga berusaha mencari orang yang dirasa mengawasinya, tetapi orang yang dicarinya itu sama sekali tidak ada.
__ADS_1
'Aku kok merinding ya, kaya ada yang lagi ngawasin. Tapi dari tadi nggak ada siapa-siapa di sini, orang lalu lalang juga nggak ada. Duh ... kenapa jadi ngerasa horor gini sih?' Arga mengusap-usap tengkuknya sambil menatap horor ke sekitarnya, lalu berusaha keras untuk mengalihkan kembali perhatiannya ke pekerjaan yang sedang diselesaikannya.
Menjelang pergantian waktu dari siang ke sore, Rasti melakukan panggilan video ke ponsel suaminya. Beberapa kali panggilan videonya dibiarkan begitu saja oleh Arga, membuat Rasti merasa khawatir karena takut akan perkataan Mbah Kromo tadi.
Setelah beberapa kali panggilan videonya diabaikan, tiba-tiba panggilan video yang entah ke berapa kalinya dijawab oleh Arga, di sana tampak beberapa tumpukan berkas yang sedang dikerjakan Arga menunjukkan bahwa Arga baik-baik saja, bahkan tampak Arga sedang melahap makan siang yang baru sempat dipesannya karena banyaknya pekerjaan yang menunggu persetujuan dari dirinya.
[Mas, lagi apa?] tanya Rasti mengawali percakapan dengan Arga.
[Ya, seperti yang kamu lihat. Aku sedang makan siang sekarang, pekerjaanku lagi banyak banget jadi baru sempet makan.] Arga menunjukkan tempat makan siangnya dari sebuah restoran makanan Jepang.
[Syukurlah Mas, kalau kamu baik-baik saja. Maaf ya, Mas tadi pagi aku marah-marah.] Rasti menghembuskan nafas lega melihat suaminya baik-baik saja.
[Ya, aku juga minta maaf ya, Sayang. Ohya, kamu sudah makan belum? Kalau belum, makan dulu sana, aku mau nyelesaiin pekerjaanku lagi nih biar nanti aku bisa pulang cepet.] Arga berusaha mengakhiri panggilan video dari Rasti dengan alasan melanjutkan perkerjaannya yang belum selesai.
[Aku sudah makan, Mas. Eh, Mas Arga kalau belum selesai kerjaannya nggak apa-apa selesain dulu aja, lembur sampai malam juga nggak apa-apa kok. Aku kasih ijin.] ucap Rasti buru-buru menolak keinginan suaminya untuk pulang cepat.
[Kamu kenapa sih, kok jadi aneh gitu? Aku pengen pulang cepet malah kamu larang, ada apa memangnya? Ada yang mau kamu lakuin di belakangku?] Arga mencecar Rastu dengan banyak pertanyaan, membuat Rasti kesulitan menjawab.
[Eh, e ... enggak gitu maksudnya kalau Mas Arga masih banyak kerjaan yang harus segera diselesaikan ya udah nggak apa-apa diselesaikan aja dulu semuanya. Dan kalaupun sampai Mas Arga harus lembur karena belum selesai ya nggak masalah buat aku. Gitu lo, Mas.] Rasti gelagapan menjawab cecaran pertanyaan dari Arga.
[Hmm, gitu ya. Tapi rasa-rasanya maksud kamu nggak kaya gitu deh, ya sudahlah aku lagi males berdebat. Udah dulu ya, Sayang. Aku mau lanjut kerja lagi. Love you.] Arga mengakhiri panggilan video Rasti tanpa memberi kesempatan istrinya menjawab.
Rasti yang sudah bersiap memberikan senyuman terbaiknya untuk Arga terpaksa harus menelannya kembali bersama rasa kecewanya, tetapi Rasti berusaha tidak mengambil hati sikap suaminya, mengingat sebentar lagi usaha menaklukkan kembali hati suaminya akan berhasil.
Rasti pun segera bersiap menuju ke rumah Mbah Kromo, dia sudah tidak sabar untuk melakukan ritual yang akan meluluhkan hati suaminya, laki-laki yang sebenarnya tidak pernah dicintainya sungguh-sungguh selain sebagai sarana membalas dendam kepada Kania.
***
Dengan sedikit bergegas, Arga menuju ke toilet khusus yang ada di ruangan pribadi miliknya itu, tetapi nahas tidak dapat ditolak. Karena terburu-buru, Arga jadi tidak memperhatikan langkah kakinya lagi, dan ...
Dug! Brak!
Kaki Arga terkait satu sama lain, sehingga membuatnya oleng dan kepalanya lebih dulu menghantam lemari buku yang ada di depannya. Tumbukan itu cukup keras rupanya, sehingga mampu menjatuhkan beberapa buah buku yang lumayan tebal. Seketika itu juga badan Arga kehilangan keseimbangannya dan kembali kepalanya menghantam tembok dan langsung membuatnya pingsan.
Melihat Arga sudah tidak berdaya, sosok Pocong Marni yang tadi disuruh oleh Mbah Kromo mencelakakan Arga, menampakkan wujudnya di belakang Arga yang sudah terbujur pingsan. Pocong Marni kelihatan begitu senang karena sudah berhasil menjalankan perintah tuannya walau pun lelaki itu tidak sampai mati.
'Bagus! Aku berhasil menjalankan perintah tuanku untuk mencelakakan lelaki ini. Meski pun dia masih hidup, biarlah tidak mengapa daripada aku gagal total. Lebih baik, sekarang aku balik dan laporan pada tuan dulu.' batin Pocong Marni dalam hati.
Dengan sekejap mata, Pocong Marni pun segera kembali ke rumah Mbah Kromo untuk melaporkan hasil kerjanya. Mbah Kromo mengangguk-angguk mendengar laporan Pocong Marni, dia meras cukup puas dengan hasil kerja anak buahnya walau pun belum sepenuhnya sempurna.
Bertepatan dengan usainya laporan dari Pocong Marni, di pintu depan rumah Mbah Kromo terdengar seperti ada orang yang mengetok. Dan benar saja, persis seperti dugaannya, Rasti sudah berada di depan pintu rumahnya. Terburu-buru Mbah Kromo menyuruh Pocong Marni untuk pergi dari situ.
"Masuk!" Mbah Kromo berteriak menyuruh Rasti masuk ke dalam rumahnya.
Mendengar suara Mbah Kromo, Rasti pun bergegas masuk karena dia masih selalu merasa merinding setiap kali datang ke rumah itu, padahal dia sudah termasuk sering mendatangi rumah Mbah Kromo.
"Ada apa?" Tanpa basa-basi, Mbah Kromo langsung menanyakan maksud kedatangan Rasti ke rumahnya, "tunggu dulu aku tahu! Kamu pasti ingin menanyakan penyebab suamimu berubah 'kan?" Tebak Mbah Kromo.
__ADS_1
"Benar, Mbah. Saya memang ingin sekali menanyakan itu," Rasti menjawab dengan sumringah.
"Ya sudah, sini duduk dulu kamu. Mbah akan beritahu kamu, kenapa suamimu berubah." Mbah Kromo menyuruh Rasti untuk mengambil tempat di sebelahnya, sebelum menunjukkan dalang yang telah berhasil mempengaruhi Arga.
Rasti menuruti permintaan Mbah Kromo, dan segera mengambil tempat di sebelah Mbah Kromo yang langsung membuka rahasia kenapa Arga berubah semenjak anak dalam kandungannya itu meninggal.
"Jadi begini, sebenarnya dalam tubuh janin anakmu itu sudah kutanam sebuah jimat pengasihan yang akan mengikat kalian bertiga, tetapi dengan matinya anakmu itu berarti jimat pengasihan itu juga hilang, sehingga rasa cinta suamimu kepada dirimu juga berkurang, terlebih lagi kau sudah melanggar pantangan dariku." Mbah Kromo menjelaskan panjang lebar.
Rasti yang tidak mengira bahwa kejadian yang sebenarnya seperti itu hanya bisa terdiam, dalam hatinya ada penyesalan kenapa waktu itu dia mengijinkan nenek tua itu mengambil anaknya hanya untuk ditukar dengan sebuah jalan pulang.
Akan tetapi ada satu hal yang sedikit membuat Rasti sebal pada Mbah Kromo saat lelaki tua itu mengatakan anaknya mati. Rasti baru mau protes kepada Mbah Kromo soal itu, saat lelaki itu mendahului dirinya berbicara.
"Apa! Mau protes waktu kubilang anakmu mati? Wajar saja kalau kubilang anakmu mati karena dia memang bukan manusia. Dia itu cuma sebatang pohon pisang yang dibungkus dengan kain kafan dan dikubur, kamu tahu kenapa! Sejak kamu membuat perjanjian dengan iblis untuk permainanmu ini, maka sejak itulah nyawa keturunanmu sebagai ganti keinginanmu yang terwujud. Paham kamu! Semua kenikmatan yang kau dapatkan dari iblis pasti ada harga yang sepadan," ucap Mbah Kromo kepada Rasti saat mengungkap kebenaran tentang kematian anaknya.
"Lalu, apa saya bisa mendapatkan kembali jimat pengasihan itu, Mbah?" Rasti rupanya sudah gelap mata untuk mendapatkan kembali Arga, tidak peduli bagaimana cara yang diambilnya.
"Bisa, syaratnya gampang. Kamu harus hamil dan punya anak, karena jimat pengasihan itu hanya bisa masuk ke dalam tubuh anakmu melalui percampuran darah kalian berdua. Tapi kamu juga harus ingat, bahwa kamu juga punya perjanjian dengan iblis yang siap mengambil anak dalam rahimmu. Hahaha." Mbah Kromo tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa sulitnya Rasti untuk mendapatkan jimat itu.
Setelah mendengar penjelasan Mbah Kromo, Rasti merasa sangat frustasi. Bagaimana mungkin dia bisa melahirkan seorang anak dengan selamat, bila setiap kali hamil dia harus kehilangan anaknya sebelum anak itu lahir.
"Memang nggak ada jalan lain, Mbah, agar saya bisa melahirkan seorang anak dengan selamat?" tanya Rasti penasaran.
"Ada, tapi Mbah nggak tahu apa kamu mau melakukannya setelah tahu syaratnya?" sindir Mbah Kromo kepada Rasti.
Tanpa pikir panjang, Rasti langsung saja mengiyakan perkataan Mbah Kromo, "mau, Mbah. Saya mau melakukannya, apa pun itu."
Mbah Kromo menampakkan smirk dengan wajah menghina kepada Rasti. Baginya perempuan di depannya ini selain sudah menjadi budak setan juga sudah tidak lagi memiliki harga diri.
"Yakin? Kamu mau?" Mbah Kromo kembali bertanya kepada Rasti untuk meyakinkan perempuan itu pada keputusannya.
"Yakin, Mbah. Seratus persen yakin!" Rasti menjawab dengan tegas.
Rasti sudah tidak peduli harus melakukan cara sesesat apa hanya demi mengikat Arga supaya tidak kembali kepada Kania.
"Baiklah kalau kamu benar-benar yakin. Syaratnya mudah dan enak sekali, kamu cukup memuaskanku dan iblis penguasa jimat pengasihan itu supaya dia bisa melindungi anakmu dari iblis lain yang sudah mengikat perjanjian lebih dulu denganmu. Bagaimana? Sanggup? Atau kamu mau mundur?" Sambil memasang wajah mengejek, Mbah Kromo memberitahukan syaratnya.
Awalnya Rasti merasa sedikit terkejut dengan persyaratan tersebut, dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya harus bercinta dengan kedua makhluk yang disebutkan oleh Mbah Kromo tadi.
Dia bergidik membayangkan dirinya disentuh jelmaan iblis dan lelaki tua di sebelahnya itu. Akan tetapi, dia sudah terlanjur menyanggupi melakukan semua persyaratan yang diberikan. Maka, dengan berat hati Rasti mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, Mbah kalau memang hanya itu saja jalan keluarnya. Saya setuju dengan persyaratan yang Mbah Kromo berikan, asal saya bisa mengikat suami saya supaya tidak tergoda dengan perempuan lain selain saya seumur hidupnya, apalagi tergoda dengan mantan istrinya!" tandas Rasti mantap dengan mata memerah menahan amarah setiap kali mengingat hubungan Kania dan Arga dulu.
Mbah Kromo yang melihat anggukan Rasti, tertawa senang. Di dalam otak tuanya yang mesum sudah terbayang bahwa sebentar lagi dia akan dengan mudahnya menikmati tubuh polos menggoda milik seorang perempuan muda yang sangat bodoh dan murahan, yang bahkan hanya dengan membayangkan tubuh polos perempuan muda itu saja sudah mampu membuat satu anggota tubuh bawah Mbah Kromo menegang dengan sangat sempurna sert menuntut untuk segera melakukan penyatuan terlarang dan melakukan sebuah pelepasan yang memabukkan.
Mbah Kromo yang sudah tidak sabar menanti hal itu terwujud berulang kali melirik tubuh sintal Rasti sambil meneguk ludah berkali-kali menahan hasrat yang mulai tak terbendung, apalagi sudah sangat lama dirinya tidak pernah lagi menyentuh tubuh seorang manusia berwujud perempuan sejak dia melakukan perjanjian nikah jin dan harus terikat dengan satu sosok iblis betina yang menjadi istri setianya, yang selalu membantu dirinya mendapatkan apa pun yang dia inginkan sejak dulu hingga sekarang.
"Baiklah kalau begitu, persiapkan dirimu sekarang, kita akan mulai saat ini juga." Mbah Kromo memerintahkan Rasti untuk bersiap, sementara dirinya sendiri bangkit menyalakan beberapa lilin aprodisiak dan membawanya ke sebuah kamar yang memang dikhususkan untuk dirinya setiap melakukan ritual nikah jin.
__ADS_1
***