
Menjelang tengah malam, Kania terbangun dari tidurnya, perutnya terasa sangat lapar. Kania turun dari kamarnya menuju ke dapur, di sana dia membuka kulkas dan melihat ada sop buntut dan daging empal goreng kesukaannya. Diambilnya kedua makanan itu dan dipanaskannya di dalam microwave.
Usai membersihkan semua bekasnya makan, Kania kembali lagi ke kamar. Di dalam kamar, dia kembali mengerjakan ritual yang beberapa hari ini mulai ditekuni olehnya. Bau dupa kembali menguar di dalam kamar itu berbaur dengan wangi bunga kantil.
Matanya terus menatap ke arah boneka jerami yang masih ditempeli foto Rasti. Senyum smirk Kania kembali terbit di bibir seksinya, untuk sementara dia merasa sangat puas dengan hasil yang dia dapat pagi tadi ... kematian anak Arga dan Rasti yang koma pasca operasi.
'Untuk sementara, aku bebaskan kamu Rasti, karena jalan deritamu masih sangat panjang. Belum saatnya kamu mengalami puncak penderitaan, tunggu saat itu tiba,' batin Kania.
Bibir Kania mulai menguntai mantra, kali ini dia ingin mengganggu Rasti dalam tidur panjangnya agar perempuan ular itu cepat bangun dan kembali menjadi bulan-bulanannya, sebab Kania ingin bermain-main lebih dulu dengan musuhnya sebelum akhirnya memangsanya dengan bisa yang mematikan.
Tiba-tiba angin dingin berhembus di dalam kamar Kania yang tertutup rapat, membuat tirai kamar dan hiasan yang bergantung di dinding kamarnya bergoyang-goyang tanpa ada yang menyentuh. Nyala api di lilin yang dinyalakan Kania pun meliuk-liuk seakan hendak padam, cermin besar di dinding kamarnya mulai berderak dan ...
Kriet!
Pintu kamar Kania terbuka sendiri, tidak terlihat siapa yang telah membukanya. Kemudian pintu itu menutup kembali dengan sendirinya tanpa ada satu sosok pun yang terlihat keluar atau pun masuk. Kembali tercium aroma amis yang mulai bersahabat dengan hidungnya.
'Ada apa kau memanggilku, Kania? Apa kau memerlukan bantuanku? Katakan saja apa maumu,' ucap sebuah suara parau yang mulai akrab di gendang telinganya.
"Iya, aku memanggilmu. Aku ingin kamu ganggu perempuan ini di alam bawah sadarnya agar dia cepat terbangun dan kita mendapatkan musuh yang seimbang, tidak seperti sekarang. Soal hadiah untukmu, hisap saja darah perempuan itu atau ambil apa pun yang kau temui di rumah sakit," ucap Kania pada sosok tak kasat mata itu.
'Baik, akan aku turuti kemauanmu, aku akan memasuki alam bawah sadarnya dan membuatnya bangun,' bisik sosok itu lalu menghilang.
Usai melakukan ritual malam itu, Kania memutuskan untuk kembali bergelung dengan selimut kesayangannya di atas ranjang. Sambil menunggu pagi datang, Kania melamun kembali mengingat semua kejadian lima tahun silam, saat dirinya, ayah dan ibunya masih tinggal bersama.
Lima tahun silam
Kania masih bergidik ngeri saat mengingat perkataan kakeknya tentang kesialan yang akan datang menimpa hingga tujuh turunan bila ada cicak jatuh tepat di atas kepala. Kania ketakutan membayangkan berbagai kesialan yang akan menimpa diri dan semua keturunannya kelak.
'Bener nggak sih yang pernah kakek bilang dulu kalau ada kepala kejatuhan cicak itu berarti sial sampai tujuh turunan. Apa aku juga bakalan dapet sial gara-gara kepalaku kejatuhan cicak tadi? Kalau iya, kesialan macam apa yang akan kudapatkan? Hiiii ... ngeri ...,' batin Kania sambil mengusap kedua lengannya yang mulai meremang.
Kania sangat gelisah memikirkan hal itu hingga tidak dapat tidur semalaman. Sehingga keesokkan paginya ketika dia turun ke ruang makan untuk sarapan, ayah dan ibunya langsung meributkan penampilannya yang hari itu terlihat tidak seperti hari-hari biasanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Gadis ayah. Ada apa ini? Kenapa wajah gadis kesayangan ayah hari ini begitu kusut? Kamu ada masalah dengan kerjaan barumu? Dengan persiapan wisudamu? Atau dengan persiapan pernikahanmu? Coba cerita sama ayah dan ibu," tanya ayah Kania penasaran.
"Wa'alaikumsalam, Ayah, Ibu. Kania nggak ada masalah apa-apa di kantor baru, untuk persiapan wisuda juga udah beres tinggal tunggu hari wisudanya aja, persiapan nikah juga masih bisa ditangani, Yah," jelas Kania
"Lhah, terus apa yang bikin wajah anak kesayangan ibu dan ayah ini jadi sekusut ini. Macam tak tidur saja semalaman kau." Ganti ibu Kania mencecarnya.
Kania menghela nafas panjang, ada rasa ragu untuk menceritakan kekhawatirannya kepada kedua orang tuanya, selain tidak ingin menambah beban pikiran ayah dan ibunya, Kania juga takut ditertawakan karena mempercayai hal-hal tidak masuk akal seperti itu.
Namun, desakan kedua orang tuanya yang terus memintanya bercerita, membuatnya mengalah dan menceritakan semuanya, mulai dari kepalanya yang dijatuhi cicak dan tentang perkataan almarhum kakeknya tentang kesialan yang akan diterimanya.
"Jadi gini, Yah, Bu, malam tadi selesai salat tahajud waktu Kania mau tidur ada sebuah kejadian. Kepala Kania dijatuhi cicak, reflek cicak itu Kania buang dan Kania mandi lagi gara-gara itu, tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya itu, Ayah dan Ibu inget nggak almarhum kakek pernah bilang apa soal kepala yang kejatuhan cicak?" tanya Kania kepada ayah dan ibunya.
Ayah dan ibu Kania saling pandang lalu bersama-sama menggelengkan kepala, tanda mereka berdua tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Kania.
Kania menghela nafas sebelum kembali meneruskan ceritanya, "dulu ... almarhum kakek pernah bilang pada Kania bila kepala kita kejatuhan cicak, maka kita akan mengalami kesialan selama tujuh turunan, Yah, Bu. Kania takut itu terjadi, Kania nggak sanggup membayangkan bagaimana bila itu benar-benar terjadi," lirih Kania sambil menatap manik kedua orang tuanya dengan takut-takut.
Irvan dan Citra saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya tawa mereka berdua meledak dengan kerasnya, "hahaha! Hahaha! Hahaha! Ya Allah, Kania. Jadi itu yang bikin kamu ketakutan sampai nggak tidur semalaman sehingga menciptakan mata panda ini. Hahaha! Hahaha!" canda ayah Kania sambil terus tertawa terbahak-bahak.
Mendengar ledekan ayah dan ibunya, Kania memberengutkan wajahnya, dia merasa sangat malu karena sudah begitu naif. Semua yang dikatakan ibunya itu memang benar dan dia tahu itu, tetapi entah kenapa seketika hatinya merasakan adanya suatu keganjilan saat kepalanya dijatuhi cicak tadi malam.
Citra dan Irvan yang melihat perubahan wajah Kania, serempak mendatangi Kania dan memeluknya. Dengan menahan tawa, Irvan dan Citra mengatakan itu semua hanya mitos yang tidak perlu dipikirkan dan dirisaukan, apalagi sampai membuatnya tidak tidur semalaman.
"Kania, Sayang. Apa yang disampaikan oleh almarhum kakekmu tidak semuanya benar, apa pun yang pernah kamu dengar harus kamu saring betul-betul apalagi soal mitos seperti ini. Tidak perlu kamu pikirkan, terlebih lagi sampai membuatmu tidak tidur semalaman. Ayah dan ibu minta, kamu jangan memikirkan hal-hal negatif seperti itu ya, agar hal itu tidak menjadi kenyataan. Ingat, kamu punya Allah," ingat Irvan dan Citra.
Melihat Kania hanya diam mendengarkan, Irvan menambahkan lagi, "ayah dan ibu sayang Kania, kami tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Kania, betul 'kan, Bu?" Irvan meminta dukungan dari istrinya untuk meyakinkan Kania agar tidak ketakutan berlebihan lagi.
"Benar, kata ayah. Ayah dan ibu tidak akan tinggal diam, bila ada seseorang atau sesuatu akan mencelakaimu, Nak. Kami akan selalu menjagamu semampu kami dan ingatlah selalu pada Allah yang tidak pernah berhenti menjagamu terlebih saat ayah dan ibu tidak ada," ucap Citra, "nah, sekarang ayo kita hilangkan mata panda ini mumpung masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum kamu berangkat kerja," Citra mengajak Kania untuk menyegarkan penampilannya lebih dulu sebelum bekerja.
Citra lalu mengambil satu buah mentimun dan dua buah sendok bersih beserta satu mangkok es batu. Sambil mengiris buah mentimun tadi menjadi dua irisan tipis, dia merendam dua buah sendok tadi ke dalam mangkok es batu kemudian dia menyuruh Kania menempelkan kedua iris mentimun tadi di matanya selama sepuluh menit.
Setelah sepuluh menit, Citra menyuruh Kania untuk mengganti dua iris mentimun itu dengan menempelkan dua buah sendok dingin di kedua matanya selama sepuluh menit. Usai melakukan terapi itu, Citra menyuruh Kania untuk memakai make up seperti biasanya, "sungguh luar biasa! Dua mata pandaku hilang seketika!" decak Kania kagum.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Nggak salah pilihan ibu dulu menjadi seorang MUA (make-up artist) internasional, tangan ibu memang hebat," puji Kania sambil mencium pipi ibunya.
Citra tertawa bahagia melihat Kania, anak gadisnya sudah kembali ceria, "sama-sama, Sayang. Sudah kamu cepetan make-up sana, waktu sudah hampir habis."
Dengan tergesa, Kania menyapukan make-up tipis dan natural ke wajahnya yang memang sudah cantik itu. Tidak sampai sepuluh menit, Kania sudah siap berangkat ke kantor.
"Bu, Kania berangkat ke kantor dulu. Terima kasih untuk semuanya, Bu. I love you. Assalamualaikum," pamit Kania kepada ibunya sambil mencium tangan kemudian mencium kedua pipi wanita cantik itu.
"Fii amanillah. Jangan ngebut! Jaga salat dan jangan lupa untuk makan nanti siang! Wa'alaikumsalam," ucap Citra setengah berteriak mengingatkan Kania yang berlari begitu saja setelah menciumnya tadi.
Tidak lama setelahnya terdengar suara mobil distarter, melaju membelah aspal meninggalkan rumah.
Citra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak perempuannya, "ck, sudah mau nikah tapi kelakuan masih kaya anak kecil aja. Dasar, Kania."
"Siapa yang kaya anak kecil, Sayang?" tanya Irvan tiba-tiba sambil memeluk dari belakang, membuat Citra terkejut.
"Astaghfirullahaldzim, Ayah! Bikin kaget! Ayah masih di rumah?" seru Citra yang tidak menyangka suaminya masih belum berangkat bekerja.
Irvan mengangguk sambil tersenyum melihat istrinya yang menurutnya semakin hari semakin cantik saja. Tiba-tiba timbul keinginannya untuk menggoda istrinya, "ibu cantik pengen bikin anak kecil lagi?" goda Irvan sambil menaik turunkan kedua alis tebalnya.
Citra tersipu malu mendengar rayuan suaminya, wajahnya sudah memerah bagai buah tomat. Sambil mencubit pinggang pria gagah dan tampan walau pun sudah berusia empat puluh lima tahun itu, "ssttt! Malu!" ujarnya.
"Tapi mau 'kan?" balas Irvan, mereka lalu bergandengan tangan mesra menuju ke kamar tidur dan melanjutkan kemesraan mereka.
***
Masa sekarang
Dalam lamunannya, tak terasa air mata Kania menetes dari mata indahnya, semua kenangan manis itu terasa menyesakkan dada, terlebih lagi saat dia mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama lelaki yang dicintai dan mencintainya saat itu, Arga.
Penasaran dengan lanjutan kisah mereka?
__ADS_1
***