Santet Pengantin

Santet Pengantin
Part 5


__ADS_3

Sisi lain Kota Jakarta


Di dalam sebuah Pub tampak seorang gadis cantik bertubuh mungil sedang duduk seorang diri menikmati kepulan asap yang lolos dari bibir seksinya.


Dalam diamnya, gadis 22 tahun itu teringat kembali pada sebuah lembaran kenangan yang sampai sekarang masih sangat terasa menyakitkan untuknya.


"Perempuan itu melabrakku, Kak. Dia menyebutku sebagai perempuan murahan, perempuan itu juga menyuruh seseorang untuk menyakiti dan memaksaku untuk meninggalkan Mas Tyo, padahal di antara kami nggak ada apa-apa," keluh Sasti, anak bungsu keluarga Hendrawan.


"Aku takut papa dan Adi marah. Adi pasti ninggalin aku kalau tahu aku udah nggak perawan lagi gara-gara lelaki suruhan perempuan itu, Kak. Rasanya aku nggak sanggup bila harus hidup menanggung malu, Kak. Lebih baik aku mati." Sasti, adik perempuan kesayangannya itu mulai terisak karena takut.


Semua kenangan menyakitkan tentang Sasti kembali terngiang di telinga dan ingatannya. Rasti merasa geram bila mengingat semuanya, dia merasa gagal melindungi adik satu-satunya itu.


'Aaarrggh! Bangsat! Sialan! Kakak akan membalaskan sakit hatimu sama mereka, Dek! Kakak janji, Kakak nggak akan lepasin mereka sebelum mereka merasakan penderitaan seumur hidup yang akan membuat mereka menyesal karena telah mencelakaimu!' desis Rasti geram.


Rasti menyeringai jahat sembari mengusap kasar air mata di sudut kedua matanya. Dia sudah memantapkan hati untuk membalas semua perbuatan yang telah dilakukan oleh perempuan jahanam itu terhadap adiknya.


Seperti seorang psikopat profesional, dia sudah menyusun begitu banyak rencana di dalam otak dan semuanya sudah dia awali dengan mendekati kemudian menjadikan anak gadis perempuan itu sebagai sahabat terdekatnya.


"Kamu tenang aja, Dek. Kakak sudah menyusun berbagai rencana untuk menghancurkan perempuan itu dan keluarganya. Mereka semua pasti akan membayarnya!" Rasti menahan amarah yang sudah mulai menggelegak di dalam dadanya sehingga tanpa dia sadari, kedua tangannya menggebrak meja di depannya.


Brak!


Rasti menggebrak meja dengan cukup keras, untung saja suasana di dalam Pub saat itu sedang ramai, hingar-bingar musik yang dimainkan oleh band bintang tamu cukup mampu meredam suara keras yang Rasti ciptakan, sehingga tidak ada seorang pun yang mendengarnya.


"****!" maki Rasti perlahan.


Dengan perasaan geram, Rasti mengambil ponselnya kemudian membuka galeri foto dan mengamati foto seorang perempuan ayu berusia 43 tahun tengah merangkul seorang gadis muda sebaya dengannya.


"Kamu dan anak gadismu ini akan segera merasakan akibat perbuatanmu dulu! Kau sudah membuat adikku gila, maka aku pun akan membuat anak gadismu yang cantik ini masuk ke pusat rehabilitasi jiwa juga ... dan kau .... kau pun akan kubuat menderita seperti mamaku!" Rasti menunjuk foto perempuan itu dengan jari telunjuknya.


Hatinya sudah dipenuhi rasa marah, benci dan juga dendam. Ingatannya kembali lagi ke dua tahun silam tepatnya satu bulan setelah peristiwa bunuh diri adiknya.


Kejadian mengejutkan itu dia ketahui dari seorang office boy yang ditemuinya ketika Rasti mencoba mencari tahu tentang keseharian adiknya ketika masih bekerja sebagai sekretaris pribadi di PT. Andara Steel Mining.


Office boy itu menyampaikan bahwa dia secara tidak sengaja mencuri dengar saat perempuan itu sedang melakukan sebuah panggilan suara dengan seorang laki-laki yang disewanya untuk melakukan sesuatu terhadap Sasti.


"Akhirnya aku menemukan siapa penyebab utama penderitaan Sasti meski pun aku harus mengeluarkan biaya demi mendapat informasi tersebut, dan aku sangatlah beruntung karena perempuan itu bahkan tidak menaruh curiga terhadapku hingga saat ini. Itu akan memudahkan jalanku untuk membalas dendam kepada mereka," gumam Rasti.


Sementara itu di sebuah ruang kerja dalam restoran masakan jepang siap saji, tampak seorang wanita cantik sedang memeriksa laporan keuangan mingguan yang tadi diserahkan stafnya untuk ditandatangani.


Walau pun usianya bisa dibilang tidak lagi muda, tetapi untuk urusan penampilan dia jagonya karena dia adalah seorang model internasional sebelum menikah dengan Irvan Prasetyo, seorang pengusaha pertambangan baja yang tidak hanya tampan dan terkenal, tetapi juga seorang pengusaha yang dermawan dan rendah hati.


Untuk sesaat, perempuan bernama Citra itu mengingat pernikahannya dengan Irvan yang sudah dijalaninya selama 24 tahun, mulai dari perkenalan mereka yang tidak sengaja terjadi di bandara Internasional Jepang, pernikahan dan kelahiran putri semata wayang yang luar biasa, hingga sebuah kejadian yang tidak akan dilupakan olehnya di mana hampir saja suaminya berselingkuh dengan sekretaris pribadinya.


"Sasti, apa yang menjadi tujuanmu sebenarnya? Walau pun aku tidak tahu siapa orang tuamu, tapi aku tahu kamu anak orang kaya dan kamu juga gadis yang cerdas dan merupakan salah satu lulusan terbaik Harvard. Tapi kenapa kamu memilih bekerja sebagai seorang sekretaris di kantor suamiku? Ada apa sebenarnya?" telisik Citra dalam hatinya.


Perempuan 40 tahun itu memang tidak pernah mengetahui dan tidak mengenal baik siapa Sasti yang sebenarnya, yang dia tahu hanyalah orang tua Sasti adalah orang kaya dan gadis itu sangat cerdas karena merupakan salah satu lulusan terbaik Harvard University.


Citra tidak tahu bahwa Sasti dan Rasti Hendrawan adalah dua putri kembar Roy Hendrawan, salah seorang pengusaha batu bara dan berlian ternama yang berasal dari pulau seberang lautan, dan yang paling dia ketahui dari info yang dia terima adalah gadis berkulit putih bermata lebar yang cantik itu tengah di dekati dan digandrungi secara diam-diam oleh suaminya.

__ADS_1


'Sasti, jangan pernah kau bermimpi untuk merebut suamiku, karena aku tidak akan pernah sekali saja membiarkan itu terjadi. Aku akan bermurah hati padamu dengan memberikan sebuah peringatan ringan saja agar kau menjauhi suamiku yang tercinta,' gumam perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir mendekati separuh abad itu.


Oleh karena itulah, pada saat itu pula Citra langsung memutuskan untuk menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki hal tersebut.


Detektif swasta itu diberinya tugas untuk menjauhkan Sasti dari suaminya dengan syarat tanpa melukai siapa pun.


[Halo, Pak Doni. Saya punya tugas yang harus bapak kerjakan sekarang!]


Perintah perempuan itu kepada Doni, detektif swasta yang dia sewa.


[Siap, Bu! Tugas apa yang harus saya kerjakan?]


Tanya Doni pada perempuan yang menyewanya.


[Saya minta tolong Pak Doni jauhkan perempuan muda di dalam foto ini dari suami saya.]


Ucap perempuan setengah baya itu sambil membuka-buka ponselnya,


mencari foto gadis muda yang dia maksud.


[Kalau dia mau uang, beri berapa pun yang dia mau, asal dia menjauh dari suami dan keluarga saya selamanya!]


Selanjutnya perempuan itu mengirimkan sebuah foto melalui aplikasi hijau kepada Doni, detektif swasta berusia 38 tahun berjenggot tipis yang sudah sangat sering dimintai bantuan oleh keluarganya setiap kali keluarga itu memerlukan informasi penting mengenai hal-hal yang bersifat rahasia.


[Baik, Bu! Siap, laksanakan!]


[Bagus! Ingat! Kerjakan dengan rapi dan bersih! Jangan melukai siapa pun! Tarif Pak Doni akan segera saya transfer begitu semuanya beres.]


[Satu lagi! Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui hal ini! Bila hal ini sampai bocor, saya pastikan karir Pak Doni pun akan berakhir saat itu juga!]


Ucap perempuan itu sebelum akhirnya dia menutup ponselnya,


[Baik, Bu. Saya akan lakukan perintah Ibu! Saya jamin, rahasia Ibu aman bersama saya. Selamat siang.]


Janji Doni kepada perempuan itu sebelum menutup telepon, mengakhiri percakapan dengan klien pentingnya itu.


Perempuan itu pun mematikan ponselnya dan dengan senyum sinis terpampang di bibir.


Perempuan itu memandang foto Sasti sambil bergumam, 'menjauhlah sejauh mungkin dari suamiku, maka kau akan selamat ... setidaknya untuk saat ini.'


***


Drrt! Drrt! Drrt! Drrt!


Getaran ponsel yang bergesekan dengan permukaan meja terasa mengganggu. Membuat siapa pun yang merasakan ingin segera menyudahinya.


"Eh! Apa ini! Bunyi apa ini!" seru Rasti.


Tergagap Rasti tersadar dari lamunannya ketika merasakan ponselnya kembali bergetar untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Dilihatnya siapa yang meneleponnya dan seringaian kembali menghiasi bibirnya saat melihat nama Kania tertera dengan jelas di layar ponselnya.


[Halo, Kania. Tumben, elu telepon gue malam-malam kaya gini. Biasanya elu udah jadi putri tidur jam segini? Ada apa?]


Tanya Rasti dengan sedikit berteriak karena suara bising di Pub tempatnya berada sekarang.


[Assalamualaikum. Salam dulu dong Ras, jangan langsung tembak gitu, macam ******* aja lu!]


Protes Kania ketika mendengar Rasti menjawab teleponnya tanpa salam.


[Iya nih, Ras gue nggak bisa tidur. Tiba-tiba aja gue punya feeling nggak enak soal ayah dan ibu, mana mereka nggak bisa di telepon lagi dari tadi sore.]


Keluh Kania sedih karena mengingat kedua orang tuanya yang masih tetap tidak bisa dihubungi sejak sore tadi.


[Ish! Iya-iya. Wa'alaikumsalam, ribet amat lu, Kania! Udah elu nggak usah khawatir, mungkin ayah sama ibu elu emang lagi ribet sama urusan bisnis mereka, Kania.]


Urai Rasti sambil memutar bola matanya, malas.


[Elu doain aja, semoga mereka baik-baik aja, sehat, selamat sampai pulang lagi ke Jakarta. Ingat, jangan punya pikiran macam-macam kalau elu nggak mau itu semua bakal kejadian sama ayah dan ibu elu!]


Sambil berteriak Rasti menjawab telepon Kania.


Merasa terganggu dengan teriakan Rasti, Kania pun menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga dan mengusap telinganya yang sedikit sakit akibat teriakan Rasti yang dirasanya terlalu keras di telinga.


[Iya gue tahu, Ras. Ya udah deh kalau gitu, gue mau coba telepon ayah ibu gue lagi. Makasih banyak, Ras. Eh, elu jangan terlalu malam pulangnya dan jangan mabuk ya. Assalamualaikum.]


Kata Kania sebelum mematikan ponsel dan mencoba menelepon ayah dan ibunya kembali.


[Iya, Bawel! Wa'alaikumsalam.]


Sambil memasang tampang geram, Rasti mematikan ponselnya. Rasti tampak sangat tidak senang dengan teguran Kania.


"Elu boleh anggap gue sahabat sekarang, tapi tak lama lagi ... gue akan jadi musuh yang sangat nyata untuk elu dan keluarga lu, Kania!" tukas Rasti berbicara dengan dirinya sendiri.


Namun kemarahannya berangsur hilang, ketika dilihatnya sesosok laki-laki muda yang sangat dia kenal memasuki Pub dan mulai mencari keberadaan dirinya.


"Gue kira elu nggak bakalan datang, tapi ternyata gue salah duga. Nggak pernah gue sangka ternyata elu memang bener-bener peduli sama gue. Elu memang sahabat terbaik yang gue miliki dari dulu sampai nanti akhir hayat gue," batin Rasti senang.


Rasti merasa senang dengan kedatangan laki-laki muda itu, sebab dengan datangnya pemuda itu menemui dirinya, itu berarti langkahnya untuk memulai balas dendam kepada perempuan itu semakin dekat satu langkah.


Meski pun mereka sudah sangat lama tidak bertemu, Rasti sangat yakin jika pemuda itu bersedia membantunya.


"Welcome my partner in crime! Selamat datang sekutuku! Mulai saat ini, kita akan berbagi dosa, berbagi kejahatan untuk membalas kejahatan!" seru Rasti dengan wajah sumringah, tak dipedulikannya beberapa orang yang berada di sekitarnya menatap dengan tatapan aneh ke arahnya.


Bahkan ada beberapa dari mereka yang berbisik-bisik di belakangnya sambil menyilangkan jari telunjuk ke arah dahi mereka masing-masing sambil terkadang menunjuk ke arah Rasti dan perlahan-lahan menjauhi gadis cantik berambut ikal itu karena menganggap Rasti adalah gadis gila.


Namun, Rasti tak peduli gunjingan orang, yang dia pedulikan hanya dendamnya yang sebentar lagi akan terwujud.


***

__ADS_1


__ADS_2