
Bugh! Bugh! Bugh!
Andra jatuh tersungkur ke lantai setelah ada yang mendadak mendang perutnya berkali-kali, dan memukuli wajah serta badannya tanpa perlawanan.
"Dasar bajingan! Apa yang elu lakuin pada Kania! Berani-beraninya elu perkosa bini gue, hah! Cari mati, elu ya!" Hardik seseorang yang ternyata adalah Arga.
"Argh ... tung ... gu dulu, elu bo ... leh pukul gue sesuka elu, ta ... pi elu tanya bi ... ni elu. Dia nge ... rasa ter ... paksa nggak waktu nge ... lakuin itu sama gue, karena waktu ... itu dia yang ngajakin gue ... ke kamar Rasti," ringis Andra menahan sakit di wajah dan badannya.
"Kania! Sayang! Bilang sama aku, kalau apa yang dibilang bajingan itu semua nggak ada yang bener! Kamu diperkosa dia 'kan, Sayang? Sayang, Kania jawab aku! Kenapa kamu diam aja, Sayang!" bentak Arga mulai frustasi.
Kania tidak dapat menjawab satu pun pertanyaan Arga selain suara isak tangis yang lolos dari bibirnya. Kania bingung bagaimana cara menjelaskan hal yang sebernarnya kepada Arga.
"Ayolah, Kania Sayang! Jawab aku, jawab pertanyaanku, Sayang. Dia memperkosamu 'kan, Kania?" Nada suara Arga sedikit melemah.
"Sayang, maafkan aku. Aku bingung sekali bagaimana cara mengatakannya padamu, tapi aku akan menceritakan yang sebenar-benarnya terjadi. Jadi tadi setelah selesai membantu mama Rahayu beres-beres sisa pengajian memang ngobrol bertiga, lalu Rasti memberi kami minuman masing-masing satu gelas, tapi setelah meminum minuman itu tubuhku merasa panas dan berkeringat, kepalaku menjadi berat dan seperti ada desakan yang aneh di sana," lirih Kania.
"Aku sudah berusaha mati-matian untuk menghilangkan semua rasa itu, tapi tidak bisa, rasa itu semakin kuat. Dan saat aku menyadari semuanya ... aku sudah berada di dalam kamar Rasti dengan dia, aku betul betul nggak ngerti kenapa aku bisa merasa seperti itu setelah minum sirup yang diberi Rasti, Sayang. Atau jangan-jangan ...." Kania menghentikan ucapannya dan berpaling kepada Rasti.
Kania menatap manik indah Rasti dengan tajam, dia ingin mencari sebuah bukti di sana, bukti tentang kejahatan Rasti, bukti tentang kecurangan Rasti kepadanya dan Andra.
"Jangan-jangan minuman kami berdua tadi kamu beri obat perangsang! Ngaku kamu, Rasti! Karena nggak akan mungkin segelas sirup biasa, akan membuat orang yang meminumnya merasakan hal yang kami rasakan tadi, ya 'kan? Ngaku kamu!" sentak Kania kesal.
Rasti yang memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang hanya mengedikkan bahu tanda tidak mengerti dengan perkataan Kania.
"Gue nggak ngerti apa yang elu omongin, Kania. Yang jelas, tuduhan elu itu semua nggak bener. Kalau memang bener, gue masukkin obat perangsang ke dalam sirup itu pasti gue juga akan merasakan hal yang sama dengan kalian, tapi nyatanya apa? Gue sama sekali nggak ngerasain apa yang elu bilang tadi. Tega banget elu fitnah gue, setelah perbuatan kotor yang elu lakuin di rumah gue, hikhik," Rasti mengusap ujung matanya yang mulai berair.
__ADS_1
Kania membeku, mendengar ucapan Rasti karena dia memang tidak mempunyai bukti bahwa Rasti telah memasukkan sesuatu ke dalam sirup yang tadi dia minum, tetapi ... tunggu dulu ... masih ada Andra yang bisa membantuku membuktikan bahwa kami tidak berzina, bahwa semua ini hanyalah jebakan.
"Ndra, gue minta tolong sama elu, ceritakan yang sebenarnya sama suami gue, Ndra tentang apa yang elu rasakan setelah elu minum sirup yang diberikan Rasti ke elu. Tolong gue, Ndra," pinta Kania mengiba.
"Gue memang merasakan ada janggal dengan tubuh gue setelah minum sirup itu, tapi nggak seperti yang elu rasain, dan soal kejadian itu ... bukan gue yang ajak elu ke kamar Rasti, tapi elu yang ajak gue ke sana. Elu yang merayu gue, Kania," tegas Andra kepada Kania.
Arga yang merasa frustasi dengan cerita mereka bertiga pun berpaling kepada Rasti untuk menanyakan apakah Rasti memiliki bukti akurat yang akan membuktikan siapa yang telah berkata tidak benar.
Rasti tampak berpikir sejenak, dan akhirnya dia mengatakan bahwa di kamarnya ada sebuah kamera cctv yang pasti merekam semua kejadian tadi.
Arga pun meminta Rasti untuk mengirim video rekaman cctv itu melalui pesan chat di aplikasi hijau kepadanya. Rasti menuruti permintaan Arga untuk mengirimkan video rekaman itu kepada Arga, dan dari hasil itu terungkap bahwa Kanialah yang memulai merayu dan melolosi pakaiannya sendiri di depan Andra.
Arga sangat terpukul dengan apa yang dia lihat, pandangannya nanar ke arah Kania, "Kamu ... sudah berdusta padaku, Kania. Aku nggak nyangka kamu bisa serendah itu, kamu murahan, Kania! Apakah selama ini nggak cukup aku saja yang memuaskan nafsumu sampai kamu semurah itu pada laki-laki lain. Aku menyesal menikahi kamu, mulai saat ini juga kita ... CERAI!" pungkas Arga.
"Tapi, Sayang itu semua nggak bener, itu semua rekayasa. Aku nggak semurah itu mengobral tubuhku pada semua orang. Hanya kamu, Sayang! Hanya kamu! Demi Allah!" raung Kania putus asa.
Arga pun beranjak meninggalkan rumah Rasti tanpa melihat sedikit pun lagi ke arah Kania, hatinya sangat terluka dengan apa yang dilihatnya tadi, dia memutuskan untuk bermalam di hotel, dan akan ke pengadilan agama keesokkan paginya untuk mengurus perceraiannya dengan Kania. Dengan setengah limbung, dia masuk ke dalam Ferrari F60 America miliknya dan segera melajukannya secepat mungkin.
"Elu lihat sendiri 'kan Kania, suamimu aja nggak mau maafin kamu, apalagi aku. Jadi sekarang pergi kamu dari rumahku!" usir Rasti sambil berteriak lalu beranjak masuk ke dalam rumahnya.
Kania yang merasa kecewa dengan semua yang terjadi itu pun melangkah pulang dengan lunglai, baginya kini hidupnya tidak lagi berguna setelah Arga mengucapkan kata-kata itu. Dalam kesedihannya, Kania melajukan BMW i8 miliknya perlahan menuju ke rumahnya. Dia ingin mencoba meminta maaf dan membujuk kembali suaminya agar mau memaafkan dirinya.
Sementara itu di dalam rumah Rasti, Andra dan Rasti tengah membicarakan kejadian tadi, "Ras, lu gila juga ternyata ya. Lu kasih apa minuman gue dan Kania sampai kita berdua bisa kaya gitu, jangan-jangan bener kata Kania, lu ngasih obat perangsang di minuman kita. Sarap lu!" bentak Andra emosi, "terus itu lakik, dari mana dia tahu gue lagi berduaan sama bininya di dalam kamar sama bininya? Elu yang kasih tahu ya?" imbuh Andra penuh dengan rasa ingin tahu.
"Lu nggak perlu tahu apa yang gue campur ke minuman lu berdua, yang penting awal dari rencana gue sudah berjalan mulus, tinggal langkah selanjutnya sampai Kania dan keluarganya benar-benar hancur. Oya, gimana rasanya tadi, enak ya bisa rasain bini orang," sarkas Rasti.
__ADS_1
"Gila lu! Gue heran sama lu, Ras. Lu kan dendam sama emaknya Kania nih? Kenapa nggak emaknya aja yang lu jadiin sasaran? kenapa anaknya juga? Kasian tahlu!" tanya Andra memprotes Rasti.
Rasti tidak menjawab pertanyaan Andra, dia tersenyum sendiri mengingat betapa Arga sangat membenci Kania sekarang, bahkan sudah mengucapkan kata cerai. Bahkan ternyata, usahanya membeli nomor kartu perdana baru dan menelepon Arga tidak sia-sia, karena Arga langsung datang ke rumahnya tepat seperti perkiraannya.
Ya, Rasti sudah merencanakan itu semua. Mulai dengan memakai mantra sihir yang didapatnya dari Mbah Kromo, obat-obat perangsang dari Zen, lilin aprodisiak, cctv untuk merekam aksi Kania dan Andra, dan nomor perdana yang dia beli, pintu kamar yang tidak ditutupnya setelah membawa Arga masuk ke dalam rumah hingga waktu kedatangan Arga yang sudah dihitungnya bahwa Arga akan sampai di rumahnya pas saat dia masuk ke dalam kamar, berpura-pura memergoki Andra dan Kania.
Rasti berharap semoga Arga melanjutkan perceraiannya dengan Kania hingga tuntas di pengadilan.
***
Masa Sekarang
Tidak terasa, dua tahun sudah Arga dan Kania telah resmi berpisah. Selama itu pula, Arga telah berhasil melupakan Kania, menghilangkan bayangan Kania dari ingatannya terlebih setelah dirinya menikah dengan Rasti satu setengah tahun lalu. Akan tetapi, entah kenapa setelah peristiwa anaknya lahir dalam keadaan meninggal itu perasaan Arga terhadap istrinya itu tidak lagi menggebu-gebu seperti saat pertama bertemu setelah perceraiannya dengan Kania. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya, tetapi Arga tidak tahu apa itu.
Malah sebaliknya, kini ingatannya kepada Kania, mantan istrinya menjadi semakin nyata, semakin kuat dan hal itu membuat Arga sangat tertekan seperti saat ini.
"KANIAAAAAA!" Arga berteriak sekencang-kencangnya, untung ruangannya itu dilapisi peredam suara, kalau tidak ... entah berapa stafnya akan berdatangan menghampirinya ke ruang kerjanya sekarang.
Arga merasa dirinya sudah seperti orang gila sekarang, setiap detik dimana pun dia berada, ingatannya tidak pernah lepas dari sosok Kania, hanya Kania.
Tidak hanya ingatannya saja yang kini terpaku pada Kania, hatinya pun sekarang selalu saja merasa merindu pada sosok perempuan berparas ayu itu, hidungnya seakan ingin terus menghidu harum wangi tubuh perempuan bertubuh mungil itu. Sekarang semua yang ada pada sosok perempuan itu bagai candu bagi Arga, candu yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.
'Kania ... kenapa aku harus mengingatmu kembali? Kenapa aku harus merindu pada dirimu? Mengenang semua tentangmu kini seolah menjadi candu untukku. Kania ... apakah aku harus kembali menemui dirimu hanya untuk memenuhi dahagaku atas dirimu, setelah semua luka yang kau berikan kepadaku dua tahun lalu,' resah hati Arga.
Merasa tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain hanya mengingat dan merindu pada sosok Kania, Arga pun memutuskan untuk pergi mencari keberadaan sosok yang kini selalu membayanginya.
__ADS_1
Akankah Kania bertemu dengan Arga? Lalu bagaimana sikap Kania? Akankah Rasti berhasil menaklukkan Arga kembali?
***