
Sementara itu di Arga yang baru saja siuman, merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sesaat dia merasa heran kenapa dia tidur di lantai, 'aduh! Kepalaku sakit sekali rasanya, dan ini ... kenapa aku bisa tidur di lantai ya? Apa yang sudah terjadi padaku?"
Sambil memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit, Arga berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padanya dan setelah berhasil mengingat, dia langsung menepuk dahinya yang langsung dielusnya karena merasa sakit.
'Ah, iya. Aku ingat sekarang, kakiku tadi terkait satu sama lain saat akan berjalan lalu kepalaku menghantam lemari buku dan menghantam tembok sebelum aku tidak sadarkan diri." Arga menggumam sambil terus mengelus-elus dahinya.
Setelah beberapa saat terduduk di lantai untuk menghilangkan sakit kepala akibat menghantam lemari buku dan tembok, Arga melihat jam tangan yang selalu setia melingkar di pergelangan tangan kirinya, dan seketika kedua mata Arga membola sempurna ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan belas lewat lima belas menit.
'Astaga, sudah jam segini! Lama juga aku pingsan. Aku harus pulang sekarang, atau aku harus mendengarkan suara Rasti yang cukup mengganggu itu mengomel tiada henti.' Arga memutuskan pulang.
Sesampai di lobby kantornya, Arga bertemu dengan salah seorang sekuriti kantor yang sedang patroli mengecek ada tidaknya staf yang sedang lembur. Karena masih merasa sedikit sakit kepala, Arga meminta tolong sekuriti itu untuk mengambilkan mobilnya di parkiran.
"Pak, saya boleh minta tolong sebentar." Arga menghentikan langkah sekuriti kantor untuk meminta bantuannya.
"Bisa, Pak Arga. Apa yang bisa saya bantu ya, Pak?" tanya Eman, sekuriti kantor Arga.
"Tolong ambilkan mobil saya di parkiran ya, Pak. Saya merasa agak sedikit pusing ini." Sambil menyerahkan kunci mobilnya, Arga duduk di kursi resepsionis.
"Baik, Pak." Pak Eman bergegas menuju ke parkiran untuk mengambilkan mobil Arga.
Setengah jam kemudian, Pak Eman sudah kembali ke lobby kantor dan menyerahkan kembali kunci mobil milik Arga. Arga yang merasa berterima kasih atas pertolongan Pak Eman lalu menyodorkan sebuah amplop coklat kecil, "terima kasih sudah menolong saya, Pak. Ini ada sedikit rejeki untuk keluarga Pak Eman di rumah. Saya permisi pulang dulu ya," pamit Arga setelah menyerahkan amplop itu kepada Pak Eman sambil menepuk bahu lelaki paruh baya itu dan langsung menuju mobilnya tanpa menunggu perkataan Pak Eman lebih lanjut.
Sepeninggal Arga, Pak Eman membuka amplop pemberian Arga dan matanya membelalak sempurna melihat lembaran-lembaran merah yang berada di dalamnya, "alhamdulillah Yaa Allah, Engkau sungguh sebaik-baiknya penolong, kebetulan saat ini kami memang sedang memerlukan biaya untuk mengobati ibu mertua yang sedang sakit, saat ini juga Engkau mengirimkan Pak Arga untuk menjadi perantara bagi pertolongan-Mu." Lelaki paruh baya yang sudah cukup lama berkerja sebagai sekuriti di kantor Arga itu langsung sujud syukur, tidak lupa dirinya mendoakan Arga supaya selalu dilindungi oleh-Nya.
***
Sementara itu Rasti yang sudah sampai di rumah lebih dulu daripada Arga langsung membersihkan badan dan mempersiapkan makan malam untuk suaminya.
Sambil mempersiapkan makan malam, Rasti mengingat kembali kejadian yang baru saja dilaluinya di rumah Mbah Kromo.
***
Setelah semua persiapan untuk nikah jin sudah siap, Rasti dipersilahkan masuk ke dalam kamar khusus itu. Begitu berada di dalam kamar, Rasti tercengang melihat kondisi dalam kamar itu ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang dia bayangkan sebelumnya.
Rasti membayangkan kamar itu penuh dengan sesajen, aroma-aroma anyir darah dan barang-barang ritual yang mengerikan lainnya, tetapi ternyata semua itu tidak ada di sini, yang ada hanyalah sebuah spring bed besar yang dilapisi kain sutra putih dan ditaburi dengan bunga mawar, kamboja, kantil dan kenanga.
Rasti merasa tegang membayangkan kalau dirinya akan bersetubuh dengan sesosok iblis yang nantinya akan melindungi calon-calon anaknya dari gangguan-gangguan astral. Rasti membayangkan sosok iblis yang mengerikan dengan gigi dan kuku tajam yang akan merobek dagingnya.
'Dasar bodoh! Kenapa tadi aku setuju saja dengan syarat konyol dari Mbah Kromo! Kalau sudah seperti ini, bagaimana aku bisa lari. Rasti ... Rasti kenapa jadi bodoh seperti ini sih! Sudah tahu pilihannya yang satu iblis yang satu tua, nggak ada cakep-cakepnya kok ya mau. Hii.' Rasti bergidik membayangkan sebentar lagi tubuhnya akan dijamah oleh makhluk-makhluk Tuhan yang nggak cakep sama sekali.
Rasti yang masih merasa tegang karena membayangkan persetubuhan tidak lazim yang akan dilakukannya sebentar lagi, tidak menyadari bahwa sedari tadi lampu di kamar itu berkedip silih berganti, sebentar mati sebentar nyala menandakan sosok tidak kasat mata itu telah hadir.
__ADS_1
"Rasti." Terdengar suara bariton sesosok laki-laki memanggil namanya dengan lemah lembut.
Rasti terpaku tidak berani bergerak sama sekali mendengar namanya di panggil, dia merasa malaikat kematiannya sudah tiba. Rasti memejamkan mata tidak berani melihat atau hanya sekedar melirik pemilik suara bariton yang lemah lembut itu.
"Rasti." Terdengar panggilan kedua dari lelaki itu, dan suaranya terdengar lebih dekat dengannya dibandingkan dengan yang pertama tadi.
Rasti merasa semakin tegang, nafasnya menjadi sangat sesak. Hawa dingin yang seolah merobek kulit hingga ke tulangnya itu tidak lagi terasa olehnya. Dan, Rasti pun melonjak dari tempat tidurnya saat suara itu terdengar menempel dengan telinganya ditambah dengan adanya dua buah tangan yang membelai wajahnya.
"Rasti, buka matamu. Jangan takut, aku datang untuk melindungimu bukan untuk melukaimu." Suara lelaki itu lembut merayu Rasti untuk membuka matanya, kemudian mengecup kedua kelopak mata Rasti dengan lembut.
Rasti yang terkejut dengan perlakuan yang sangat lembut melebihi perlakuan Arga kepadanya itu langsung membuka kedua matanya dan dirinya langsung terpukau dengan pemandangan yang begitu indah di depannya.
Dia melihat dirinya tidak lagi berada di dalam kamar Mbah Kromo melainkan di sebuah ruangan di istana, dirinya terlihat memakai selembar kain tenun emas yang keindahannya belum pernah dilihatnya guna menutupi tubuhnya yang sudah polos sejak tadi. Selain itu di sebelah kirinya dia melihat ada sesosok lelaki gagah perkasa, berwajah tampan, behidung mancung dan beralis tebal yang sedang mengawasinya, lelaki itu memakai selembar kain tenun emas yang tak kalah indah dengan yang sedang dipakainya.
'Aku ada di mana ini? Apa ini kerajaan iblis yang dimaksud Mbah Kromo tadi, dan ... hei! Siapa laki-laki tampan dan gagah yang berada di sebelah kiriku ini ya? Apakah dia si jelmaan iblis itu? Kalau cakep gini sih ... nggak bakalan nolak aku, biarpun dia itu jelmaan iblis,' batin Rasti.
Perlahan lelaki itu mengusap wajah Rasti, sementara bibirnya perlahan menyentuh bibir Rasti, semakin lama semakin intens dan jauh sehingga membuat Rasti dan lelaki jelmaan iblis itu melakukan hubungan terlarang yang tidak masuk akal itu.
Usai melakukan hubungan terlarang itu, Rasti berniat menanyakan siapa lelaki itu, tetapi belum sempat pertanyaan tersebut terucap, lelaki sudah menghilang dari pandangan matanya, hanya tertinggal suaranya saja yang masih bisa terdengar, "aku Ganendra, jelmaan iblis yang akan selalu membantumu. Mulai saat ini aku adalah suami gaibmu, Rasti, aku bersedia berbagi dengan suami manusiamu tapi kau tidak akan memiliki hasrat selain kepada diriku. Apa kau terima itu?" tanya suara sosok jelmaan iblis yang ternyata bernama Ganendra itu.
"Ya, Ganendra. Aku menerimanya, aku menerima dirimu sebagai suami gaibku. Tapi bagaimana dengan Mbah Kromo yang juga menginginkan diriku setelah ini?" Rasti menanyakan persyaratan selanjutnya pada Ganendra, suami jelmaan iblisnya.
Setelah mendengar ucapan Ganendra, suami gaibnya, Rasti segera memakai kembali bajunya dan bergegas pulang ke rumahnya sebelum Arga, suaminya yang berwujud manusia kembali ke rumah.
***
Tanpa sadar Rasti tersenyum mengingat pengalaman liarnya yang pertama dengan Ganendra, dia merasa senang karena Arga akan dengan mudah dikuasainya kembali.
Sementara itu, Arga yang baru saja sampai merasa heran karena pintu rumahnya tidak terkunci sementara Rasti sama sekali tidak menjawab panggilannya, langsung menuju ke dapur dan melihat istrinya sedang asyik menyiapkan makan malam sambil ... tersenyum seorang diri.
Arga yang merasa aneh dengan kelakuan istrinya yang tidak biasa itu, langsung saja menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang, Rasti yang terkejut karena ada yang memeluknya langsung berteriak sambil memukul-mukul tangan orang yang sudah berani memeluk dirinya.
"Hei! Siapa kamu! Lepaskan aku! Lepas atau aku berteriak lebih keras lagi! Lepas! To ...." Teriakan Rasti terputus di tengah jalan saat mendengar suara Arga.
"Aduh! Sakit, Yang! Kenapa aku dipukuli, ini Arga, Sayang." Arga pura-pura mengaduh kesakitan karena tangannya dipukuli Rasti.
Rasti yang terkejut mendengar suara Arga, suaminya langsung menghentikan pukulan-pukulannya dan langsung membalikkan badannya, begitu melihat Arga yang sudah kembali bersikap manis kepadanya, Rasti spontan memeluk Arga dan meminta maaf karena sudah memukuli tangannya karena mengira Arga adalah orang yang hendak berbuat jahat kepadanya.
"Ah, Mas. Maaf ya, aku memukuli tangan Mas Arga. Habis kukira Mas Arga itu orang jahat, sih, jadi spontan aku pukul tangan orang itu." Rasti tersenyum malu karena telah salah sangka terhadap Arga.
"Iya, nggak apa-apa, Sayang. Kamu lain kali jangan ceroboh ya, Yang, masa pintu depan kamu biarkan tidak terkunci dan kamu juga kenapa tadi senyum-senyum sendiri? Inget sama mantan, ya?" Arga menggoda istrinya yang langsung cemberut dan melotot.
__ADS_1
Arga memang paling senang menggoda Rasti, istrinya karena wajahnya pasti akan langsung cemberut dan melotot sehingga manik bulatnya semakin menggemaskan, dan kalau sudah seperti itu, biasanya Arga langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajah Rasti dan menciumi kedua kelopak mata Rasti hingga Rasti tertawa karena geli dengan tingkah Arga.
***
Di saat yang bersamaan, di sudut lain kota Jakarta.
Senja itu Kania tampak gembira menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai bersama Andra. Mereka berdua saling melemparkan lelucon dan terbahak-bahak berdua saat merasa lelucon yang mereka lemparkan itu terdengar aneh atau tidak lucu sama sekali.
Andra sedang menatap Kania dengan rasa kagum, ketika tiba-tiba manik wanita cantik berambut hitam panjang itu menatap dua matanya dengan lekat dan tajam, seakan ingin menyelidiki apa yang ada dalam pikirannya saat ini sehingga membuatnya gagap ketika perempuan bertubuh mungil itu menanyainya, "Mas Andra, nggak bosen lihatin aku terus dari tadi. Ada apa, Mas? Awas, jangan lama-lama! Nanti kalau Mas Andra kepincut sama aku bisa panjang urusannya!" Kania pura-pura mengingatkan Andra tetapi matanya mengirimkan sinyal menggoda lelaki itu.
"E ... eh ... i ... iya, nggak ada apa-apa kok. Aku cuma merasa senang melihat dirimu tertawa lepas seperti ini, seperti tidak ada beban. Semoga memang seperti itu ya," harap Andra sambil tersenyum manis semanis gula aren.
Mendengar perkataan Andra, wajah Kania yang semula tersenyum, selalu terlihat bahagia, dengan sorot mata yang ceria, sontak berubah drastis. Wajah ayu itu berubah sendu, mendung hitam tampak menggayuti wajahnya.
Andra yang melihat perubahan mendadak pada Kania, merasa heran dan bersalah karena dia termasuk salah satu orang yang ikut menyakiti Kania dan membuat hidup wanita itu jadi menderita seperti saat ini. Walau pun Kania tidak pernah bercerita sedikit pun kepada Andra mengenai derita yang dialaminya beserta keluarganya, tetapi Andra sangat tahu bagaimana Kania dan keluarganya hidup menderita pasca perceraian yang diinginkan Arga.
"Kania ... aku minta maaf ya, gara-gara kejadian masa lalu yang kita alami berdua, hidup kalian menjadi seperti ini. Andai pada waktu itu aku berani melawan Rasti, kamu pasti tidak akan menjadi seperti ini, Kania." Suara Andra terdengar bergetar menahan pilu di dadanya. Rasa sesak yang selama ini dipendamnya, berhasil dikeluarkannya.
"Ah, sudahlah, Mas. Toh semuanya sudah terjadi, nggak mungkin bisa kembali lagi. Apalagi Mas Arga dan Rasti juga sekarang sudah menikah, nggak akan mungkin 'kan aku menusuk temanku sendiri, meski pun dulu dia melakukan itu untuk merebut suamiku dan membalas dendam kepada keluargaku yang telah tanpa sengaja membuat luka pada keluarganya." Kania menimpali pernyataan maaf Andra atas perbuatannya di masa lalu terhadap dirinya sambil menundukkan wajahnya yang dibuat terlihat sesedih mungkin, padahal jauh di dalam lubuk hatinya Kania tertawa senang karena Andra telah memakan salah satu umpannya.
Andra merasa semakin bersalah setelah mendengar semua penjelasan Kania yang terdengar begitu tulus, ikhlas, tiada rasa dendam menerima semua ketentuan sang pencipta untuk hidupnya dan keluarganya.
Andra tidak menyadari sama sekali bahwa itu semua hanyalah sandiwara Kania untuk menjerat dan menghancurkan dirinya.
"Sudahlah, Mas, nggak usah diingat-ingat dan dikenang lagi semua peristiwa buruk yang sudah terjadi. Toh, aku juga sudah bisa melepaskan Mas Arga, fokusku saat ini hanyalah untuk mencari uang sebanyak mungkin guna membiayai pengobatan ayahku yang sedang terkena stroke setelah kejadian itu." Kania mengakhiri percakapan mereka dan beranjak menuju bibir pantai, di sana Kania tiba-tiba saja berteriak dengan sangat nyaring sehingga membuat Andra yang baru saja akan berdiri merasa sangat terkejut dan langsung berlari ke arah Kania, yang ternyata sudah menangis tersedu-sedu.
"AAAAAAAAA!" Nyaring terdengar teriakan Kania mengagetkan Andra yang baru saja akan berdiri.
"KANIA! KANIA! KAMU KENAPA KANIA!" Andra balas berteriak sekuat tenaga sambil berlari menghampiri Kania, dan Andra di buat semakin terkejut ketika sampai di sana dilihatnya Kania tengah menangis tersedu-sedu.
Andra tidak tahu harus bagaimana, karena berbicara dengan Kania pada saat seperti ini tidak akan ada gunanya. Kania pasti tidak akan mau mendengarkan sepatah kata pun apalagi bila kata-kata itu hanya untuk menasehatinya saja.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, perlahan Andra lebih mendekati Kania dan dengan hati-hati direngkuhnya bahu wanita berhidung mancung itu lalu kepala Kania direbahkan di dadanya.
'Menangislah Kania! Menangislah! Luapkan semua emosimu! Keluarkan semua beban yang kau pendam! Aku berjanji kepadamu, akan menebus semua kesalahanku! Akan kubuat kau bahagia!' gumam Andra lebih mirip bisikkan.
Meski suara Andra nyaris tidak dapat di dengar, tetapi telinga Kania masih dapat mendengar suara selembut dan selirih apa pun dengan sangat jelas.
Seringaian tampak begitu jelas terlukis di bibir Kania, meski pun saat itu air matanya mengalir begitu deras dan tanpa disadari oleh Andra, di belakang punggungnya, Kania mengacungkan jari tengah tangan kirinya sebagai tanda bahwa semuanya hanyalah tipuan semata dan Kania sudah sangat siap melakukan trik berikutnya untuk menghancurkan semua yang pernah menyakiti diri dan keluarganya.
***
__ADS_1