Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 20


__ADS_3

Nayla berjalan melewati ruang keluarga namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika mendengar suara ponselnya. Nayla pun mengalihkan langkahnya menuju sofa dimana ponselnya berada, namun belum sempat gadis itu meraih ponselnya. Benda pipih itu sudah berhenti berdering.


“Aldi…,” Nayla bergumam setelah melihat siapa yang menelfonnya.


Karena penasaran, akhirnya Nayla kembali menghubungi kontak Aldi dan menempelkannya di telinga.


“Halo, Di…,”


“Halo, Nay.”


“Ada apa?”


“Riki sakit Nay…”


Raut wajah Nayla berubah cemas, ketika mendengar ucapan Aldi, namun detik berikutnya raut wajahnya kembali seperti semula.


“Lalu?”


“Dia sendirian di apartemennya… aku sedang ada urusan di luar, jadi aku tidak bisa menemani dia…,”


“Aku mohon sama kamu Nay, tolong temani dia… dia butuh kamu… dua hari ini dia belum makan apa-apa, makanya dia drop seperti sekarang.”


Nayla menelan salivahnya dengan susah payah ketika mendengar penuturan Aldi lagi, hatinya sangat sakit, mendengar jika Riki sedang drop. Tapi dia sudah komitmen untuk tidak lagi perduli dengan Riki. Pria itu yang mengingkan hal ini, dia tidak butuh Nayla. Baginya Nayla hanyalah orang asing.


“Aku nggak bisa, Di. Kamu minta tolong pada orang lain saja.” Ketusnya lalu memutuskan sambungan telefon.

__ADS_1


Nayla mengusap air matanya yang sempat menetes lalu melemparkan lagi ponselnya ke sofa.


Gadis itu kembali berjalan menuju dapur, namun saat dia berada di ruang makan. Gadis itu langsung berlari menuju ke garasi.


Hati dan akalnya bertolak belakang, meskipun otaknya dengan keras menolak untuk perduli pada Riki, tapi hati lembutnya menolak itu semua, dia tidak sejahat itu membiarkan anggota keluarganya kesakitan, terlebih lagi itu adalah Riki.


Nayla melajukan skuter kuningnya dengan kencang menembus dinginnya angin malam, dia sudah tidak perduli jika setelah ini dia akan masuk angin ataupun flu. Yang dia pikirkan hanyalah Riki.


Setelah menghabiskan tiga puluh menit berkendara, kini gadis itu tiba di gedung apartemen dimana Riki tinggal. Gadis itu langsung berlari menuju lift, di dalam lift Nayla terlihat mendekap tubuhnya sendiri karena kedinginan, pasalnya gadis itu hanya mengenakan kaos berlengan pendek.


Setelah menekan tombol per tombol, Nayla pun masuk ke dalam aparteman yang terlihat misterius karena pencahayaan yang sangat minim. Langkah Nayla langsung tertuju pada kamar utama milik Riki.


Wajah Nayla berubah sendu, ketika masuk ke dalam kamar itu dan melihat Riki terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya. Wajah pria itu terlihat pucat pasi.


“Maafin aku Ki… maafin aku.” Lirih Nayla dengan wajah tertunduk.


“Aku yang minta maaf Nay…,” racau Riki.


Nayla mengangkat wajahnya ketika mendengar Riki berbicara, namun ternyata pria itu hanya meracau.


“Aku minta maaf… aku tahu, aku sangat egois. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana kondisi kamu selama ini.” Riki meracau lagi.


Air mata Nayla semakin deras kali mendengar ucapan Riki, “aku maafin kamu, Ki… Kamu cepat sembuh, yah.”


Nayla mengusap air matanya, lalu melepaskan pegangan tangannya pada tangan Riki. Namun tiba-tiba saja pria itu menggenggam tangan Nayla sangat kuat.

__ADS_1


“Jangan pergi, Nay… jangan tinggalin aku.” Racau Riki lagi.


“Aku nggak pergi kok, Ki. Aku disini… aku hanya ingin ke dapur untuk membuat sesuatu yang enak untuk kamu.” Jawab Nayla lagi.


Nayla merasa dirinya sudah tidak waras berbicara dengan orang yang tengah tertidur, tapi dia merasa jika Riki mendengar setiap apa yang diucapkannya, karena perlahan-lahan pria itu melonggarkan genggaman tangannya pada Nayla.


Nayla pun bangkit lalu membenahi selimut Riki, menutupi tubuh pria itu hingga dadanya lalu berjalan meninggalkan kamar Riki menuju ruang dapur.


Nayla menghabiskan tiga puluh menit untuk di dapur, kini bubur yang di buat gadis itu sudah jadi. Gadis itu lalu memindahkan sebagian bubur itu ke dalam sebuah mangkuk untuk didinginkan agar Riki bisa memakannya.


Setelah itu gadis itu lalu membersihkan area memasaknya dan berjalan menuju westafel untuk mencuci peralatan kotor bekas memasaknya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Suara berat itu menginterupsi Nayla sehingga gadis itu menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke sumber suara.


Nayla tersenyum ketika melihat Riki yang berdiri di ambang dapur sambil memegang cairan infusnya. Gadis itu kemudian mendekati Riki.


“Kamu sudah bangun, aku sedang membuat bubur untuk kamu….” Nayla mencoba meraih tangan Riki.


“Aku bantu ka… Ahhh.” Nayla mendesis sakit ketika pria itu menepis tangannya dengan kuat.


“Kenapa kamu datang kesini lagi, ha? Bukannya kemarin kamu akan bersikap seperti orang asing, lalu kenapa kamu datang kesini lagi… tidak tau malu.


-tbc-

__ADS_1


__ADS_2