Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 25


__ADS_3

Pagi hari, ketika Nayla yang sudah bersiap untuk pergi bekerja, berjalan menuruni anak tangga.


Namun, Tiba-tiba saja sang bunda menghalangi langkahnya tepat saat dirinya sudah berada di ruang makan, hendak menuju garasi.


“Ada apa bun?” dahi Nayla berkerut heran.


“Nih….” Bunda menyodorkan rantang bekal pada Nayla.


Nayla tampak bingung, “Hari ini aku lagi nggak pengen bawa bekal bun. Soalnya pemotretan aku di luar dan aku akan makan di luar.


“Lokasinya dimana?” tanya bunda lagi.


“Kemang.”


“Bagus.” Bunda pun menyerahkan rantang itu pada Nayla dengan paksa.


Nayla yang bingung pun dengan terpaksa menerima rantang itu, “apanya yang bagus, bun?”


“Rantang ini bukan untuk kamu. Tapi untuk Riki…," Kata bunda, "karena arah kemang dan apartemen Riki sama, jadi sekalian, kamu antar makanan ini ke Riki, yah.”


“Tapi bun, nanti aku bisa telat…,” tolak Nayla, pasalnya dia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi.


“Sayang, ini cuma sebentar. Kamu nggak akan telat." bantah bunda lagi, "memangnya kamu nggak kasihan sama saudara kamu? dia kan sedang sakit.”


Dahi Nayla berkerut heran, “Bunda tau Riki sakit, dari siapa?”


“Dari Aldi...," jawab bunda, "semalam dia menelfon dan memberi tahu bunda kalau Riki sedang sakit. Aldi juga bilang, kalau anak bunda itu belum makan dan tidak mau makan."


"bunda sangat khawatir, Nay. Tapi bunda juga belum bisa menjenguk dia. Kamu tau kan, kalau Rina juga sedang sakit, dan anak itu sangat rewel kalau sakit seperti ini.” Ucap bunda terlihat memohon.


Raut wajah Nayla tampak ragu, hatinya sangat menolak untuk datang ke tempat Riki dan bertemu pria itu, sudah cukup dia kesal dan menangis kemarin, karena ulah Riki.


Tapi, dia juga tidak bisa menolak permintaan bundanya.


“Ayolah nak. Cuma sebentar aja, kamu tinggal masuk ke dalam dan menyiapkan makanan ini untuk Riki, setelah itu kamu bisa langsung pergi,” tutur bunda lagi.


“Kamu itu nggak boleh pilih kasih sama saudar kamu sendiri. Kamu merawat Rina dengan baik, harusnya kepada Riki juga begitu… terlebih lagi kalian kan anak kembar bunda…,” sambungnya lagi dengan raut wajah memelas.


Nayla menghela nafas berat, “iya, aku akan mampir sebentar untuk memberikan dia makanan ini.”


“Gitu dong, ini baru anak bunda. Sebagai saudara kita harus saling peduli.” Bunda memberi nasehat lagi.

__ADS_1


“Iya bun.” Nayla meraih tangan bundanya dan mencium punggung tangannya, “Aku pergi, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam warahmatullaah. Hati-hati di jalan sayang.” Bunda menatap punggung Nayla yang berjalan ke garasi.


“Iya bun.” Nayla pun menghilang dari balik pintu garasi.


>>>>>


Riki terlihat termenung di ruang makan seorang diri, sambil memegang botol air minum.


Wajah tampannya terlihat sangat sedih begitupun dengan hati dan pikirannya.


Pria itu sedang memikirkan kesalahannya sendiri. Yah pria itu menyesali perbuatannya, selama ini pada Nayla.


Seperti yang dikatakan Aldi kemarin, jika dia hanya menyalahkan Nayla atas penderitaan yang selama ini dia rasakan.


Pria itu tidak pernah bermaksud menyalahkan Nayla, dia hanya kecewa dengan gadis itu, karena ketika dia menderita tekanan batin oleh ayahnya. Dia sangat membutuhkan seorang teman dan itu adalah Nayla.


Tapi dia tidak menyangka, jika kekecewaannya itu berakhir menyakiti perasaan Nayla yang sama sekali tidak tau apa-apa tentang masalahnya.


Riki juga membenarkan perkataan Aldi, jika sebenarnya dia membutuhkan gadis itu. Yah dia memang selalu membutuhkan Nayla, sangat membutuhkannya sudah sejak dulu, hanya saja hati nuraninya dibutakan oleh keegoisannya sendiri.


Pria itu merutuki dirinya sendiri, karena baru menyadari kesalahannya sekarang.


Ting… tong… ting… tong…


Riki terkesiap dan tersadar dari pikirannya, ketika mendengar suara bel apartemennya berbunyi.


Raut wajahnya terlihat bingung, tentang siapa yang datang bertamu pagi-pagi ke rumahnya, pasalnya yang selalu datang ke rumahnya hanyalah Aldi. Tapi mana pernah sahabatnya itu menekan bel.


Namun belum sempat pria itu menemukan jawabannya, tiba-tiba saja pria itu berkerut heran, ketika melihat seorang gadis berjalan masuk dan mendekat ke arahnya, gadis itu adalah Nayla.


Meskipun raut wajah Riki terlihat bingung, tapi perasaannya sangat bahagia melihat gadis itu datang ke tempatnya. Itu artinya gadis itu tidak sepenuhnya marah padanya dan Aldi benar, jika gadis itu adalah gadis yang baik hati.


Riki terus menatap Nayla, yang terlihat mengacuhkannya. Bahkan gadis cantik berparas kalem itu tidak pernah menatapnya seolah tidak melihat keberadaannya di ruangan itu.


Kini gadis itu terlihat sibuk, memindahkan isi dari rantang yang dibawanya ke piring dan mangkuk.


Setelah itu, dia lalu menghidangkannya di depan Riki. Gadis itu terlihat menyelidiki hasil dari pekerjaannya dan setelah merasa tugasnya sudah selesai, dia pun beranjak hendak meninggalkan Riki lagi.


Riki semakin berkerut heran, gadis itu benar-benar tidak menganggap dirinya ada.

__ADS_1


“Nay…,” serunya ketika Nayla sudah hampir keluar dari ruang makan itu.


Langkah Nayla terhenti, namun tak berbalik menatap Riki, “kamu tenang saja, makanan itu bukan aku yang buat, tapi bunda. Jadi kamu bisa menikmatinya, tanpa khawatir… permisi.” Nayla berucap dengan nada yang datar lalu kembali melangkahkan kakinya.


“Maafkan aku Nay.”


Nayla kembali berhenti, raut wajahnya terlihat heran setelah mendengar ucapan Riki barusan.


“Aku harap, kamu mengucapkan kalimat itu dalam kondisi sadar," ucap Nayla datar.


Riki berkerut heran, “Apa maksud kamu Nay? Aku dalam kondisi sadar, ketika mengucapkannya... Jadi aku mohon maafkan aku….” suara Riki terdengar memohon.


Nayla masih bergeming dengan nafas yang menderu serta rongga dada yang berdegup sakit, mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Dia sangat berharap, kali ini pria itu benar-benar tulus mengucapkan kata-kata itu.


“Aku memang egois, Nay.” Riki berjalan pelan mendekati gadis yang tengah memunggunginya.


“Maafkan semua kesalahan aku, Nay...," Nada suara Riki semakin lirih nyaris tak terdengar.


"Aku memang sangat egois. Aku selalu menyalahkan kamu dan menyakiti kamu.”


Nayla terkejut ketika Riki berdiri tepat di depannya dengan raut wajah yang sangat sendu.


“Maafkan aku Nay, aku pria yang angkuh dan sangat keras kepala… aku selalu mengatakan kamu itu bukan keluarga aku, tapi hati dan ucapan aku selalu bertolak belakang. aku membutuhkan kamu selalu berada di sisi aku… maafkan aku Nay.”


Tubuh Riki tiba-tiba lemas, air matanya mulai berjatuhan sangat deras. Raut wajahnya terlihat sangay menyesal.


Sementara Nayla yang memiliki hati yang lembut pun semakin tidak tega, melihat Riki yang terlihat sangat memohon dan menyesal.


Gadis itupun mengusap air mata Riki dengan lembut lalu memeluk pria itu.


“Jangan nangis, Ki… aku maafin kamu… aku juga minta maaf, karena aku bukan sahabat dan saudara yang baik, sampai kamu menderita selama ini…." Nayla mengelus punggung Riki dengan lembut.


Riki semakin mempererat pelukannya, “Kamu nggak salah Nay, aku yang egois… maafkan aku…."


“Iya aku memaafkan kamu, Rik. Sekarang berhenti menangis.”


Riki membenamkan wajahnya di ceruk leher Nayla dan semakin menangis dalam pelukan gadis itu.


Momen yang terjadi saat ini terlihat sama seperti waktu mereka kecil dulu. Ketika Riki sedang sedih dan menangis, Nayla yang selalu ada di sisinya, gadis itu akan memeluk pria itu dengan hangat dan menenangkannya.


-tbc-

__ADS_1


__ADS_2