
Aldi melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Riki.
Tempat yang dituju pertama kali oleh pria itu adalah kamar, tapi dia tidak melihat sosok Riki berbaring di tempat tidurnya.
Aldi pun kembali mencari pria itu di ruang kerja, tapi sosoknya juga tidak ada disana dan menemukan pria itu di ruang makan.
Riki terlihat sedang duduk di meja makan dengan cairan infus diletakkan di depannya.
Aldi melangkah mendekati Riki, namun dahinya berkerut heran ketika melihat kondisi lantai yang sangat kotor bekas tumpahan bubur dari dalam mangkok.
Dari sini Aldi dapat menyimpulkan, mungkin karena inilah Nayla menjadi sedih.
“Apa yang terjadi disini, Rik?” tanya Aldi berbasa basi.
“Dari mana saja kamu? Kenapa kamu ninggalin aku dan menyuruh gadis itu untuk datang?”
Pandangan tajam Riki lurus ke depan tanpa menoleh pada Aldi.
Aldi pun menarik kursi di samping Riki, “tadi aku ada urusan sebentar di luar, jadi aku minta tolong agar dia nemenin kamu sebentar dan membuatkan kamu makanan, biar kamu cepat sembuh… tadi awalnya dia menolak permintaan aku…,"
Riki tertawa kecut, “lalu kamu memohon, agar dia mengasihani aku.” Potong Riki.
“Aku nggak memohon, dia datang atas kemauannya sendiri… dan lagi pula kamu memang pantas untuk dikasihani.” Nada bicara Aldi mulai datar.
Riki menyeringai sakit mendengar penuturan Aldi, “Apa kamu juga mengasihani aku?” pertanyaan Riki mulai sensitif.
“Aku sahabat kamu, kamu sudah mengenal bagaimana aku…,” Aldi mengalah, karena jika dia meladeni sahabatnya yang sedang sensitif ini bisa panjang urusannya.
__ADS_1
Aldi pun bangkit untuk mengambil sepiring bubur untuk Riki, karena dia sangat yakin jika gadis itu memasak tidak hanya semangkuk dan benar saja, masih ada bubur di dalam panci di atas kompor.
“Apa yang kamu lakukan?” Riki menoleh menatap apa yang sedang dilakukan oleh Aldi, “Aku tidak akan pernah memakan makanan dari orang yang mengasihani aku.” Sambungnya lagi.
“Dia tidak pernah mengasihani kamu, Ki. Dia tulus… sampai kapan kamu akan buta seperti ini… kenapa kamu selalu menilai Nayla dari kesalahannya, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengenal dia lebih jauh lagi…,” Aldi mulai geram, pria itu sangat mengenal bagaimana sifat Riki, pria itu sangat keras kepala dan sangat gengsian.
“Tau apa kamu tentang kesalahannya, ha? Kenapa kamu selalu membela dia? Sebenarnya kamu ini sahabat aku atau bukan? Kenapa kamu selalu membela dia?” Riki juga mulai geram.
“Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Ki. Aku sahabat kamu, selamanya akan begitu. Kenapa kamu juga mempermasalahkan masalah sepele seperti itu. aku tidak membela Nayla, aku sama sekali tidak pernah berada di pihak dia… aku cuma perduli sama kamu, Ki…,”
Riki menyeringai lagi, “Perduli kamu bilang? Kalau kamu perduli, berhenti berurusan dengan Nayla.” Riki menatap tajam Aldi.
Aldi semakin frustasi dengan tingkah Riki, sebenarnya ada apa dengan pria ini, kenapa dia membohongi dirinya sendiri.
Padahal Aldi sangat tahu, jika pria ini sangat membutuhkan dan merasa bersalah dengan Nayla, hanya saja gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf lebih dulu.
Aldi bisa mengetahui itu semua dari cara Riki menyebut nama gadis itu. Riki tidak pernah menyebut nama Nayla, dan sekarang dia sudah sudah menyebut nama Nayla.
"sampai kapan kamu akan bersikap seolah-olah kamu bisa melakukan semuanya sendiri, seolah-olah kamu tidak butuh gadis itu…," geram Aldi lagi, "kalian itu sudah di takdirkan untuk hidup saling melengkapi, Rik. Tapi dengan sikap angkuhmu itu, menolak semuanya. Sebenarnya apa maumu, ha? menunggu gadis itu bersimpuh di bawah kaki kamu...,"
“AKU BILANG, BERHENTI MEMBELA GADIS ITU!!!” Riki berteriak marah dengan memukul meja dengan tangannya yang terpasang infus.
Aldi mengacak rambutnya frustasi dengan pria itu, deru nafasnya semakin memburu, karena kesal.
"Aku tau, selama ini kamu menderita karena ulah orang tua kamu, kamu seperti ini karena ulah mereka...,"
Riki tersentak mendengar ucapan Aldi dan menatap pria itu dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"... tapi bukan berarti semua penderitaan yang kamu alami selama ini, kamu lampiaskan pada Nayla. Apa kamu tau? Dia sangat terluka Rik… dia tidak tahu apa-apa tentang penderitaan yang selama ini kamu alami. Dia dengan tulus selalu bersikap baik sama kamu, tapi tetap saja kamu buta akan hal itu…,” tandas Aldi.
Seketika tubuh Riki melemas ketika mendengar ucapan Aldi, pria itu bungkam seribu bahasa. Di dalam kepalanya saat ini di penuhi berbagai pertanyaan, tentang dari mana Aldi bisa mengetahui semua hal itu, dari mana pria itu tau tentang permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Nayla.
Kenapa pria itu bisa mengambil kesimpulan jika dirinya melampiaskan kekesalan dan kebenciannya pada Nayla.
Riki semakin ragu dengan dirinya sendiri, apa dia benar-benar melampiaskannya kepada Nayla.
Apakah kebenciannya selama ini kepada kedua orang tuanya dia lampiaskan kepada gadis itu?
Sementara Riki masih bergelut dengan pikirannya sendiri, Aldi pun sama, dia sendiri juga bingung kenapa dia bisa mengambil kesimpulan sampai kesana. Mungkin itu hasil dari pengamatannya selama ini.
Tapi sepertinya kesimpulannya itu tidak salah, buktinya Riki sekarang diam dengan raut wajah frustasinya.
“Ayo kita kembali ke kamar…,” Aldi menarik tubuh lemah Riki menuju ke kamar, karena pria itu khawatir pada sahabatnya yang terlihat sangat lemah, dan lagi darah sudah naik dari selang infus akibat benturan keras tadi.
Riki masih bergeming, meskipun kini dia sudah berbaring di tempat tidurnya. Sementara Aldi kembali membenahi selang infus Riki dan memindahkannya di tempat lain.
Aldi menatap sendu sahabatnya itu, walaupun sahabatnya itu sangat keras tapi sebenarnya dia adalah pria yang lembut dan juga baik.
“Kamu istirahatlah…,” Aldi pun beranjak keluar dari kamar Riki.
“Apa, aku sudah sangat jahat?” lirih Riki.
Aldi menghentikan langkahnya dan menoleh pada Riki, “Kamu tidak jahat. Hanya saja kamu tidak bisa jujur dengan diri kamu sendiri...."
Raut wajah Riki berubah bingung ketika mendengar ucapan Aldi, "Aku harus jujur tentang apa?"
__ADS_1
"Jangan tanya aku, tanyakan pada hati kecil kamu, tentang apa yang kamu bohongi selama ini," jawab Aldi, "Istirahatlah, pikirkan kesehatan kamu dulu baru masalah kamu." Aldi pun meninggalkan Riki menuju ruang keluarga untuk tidur disana.
-tbc-