Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 36


__ADS_3

"Nay, kita udah sampai."


Riki mengelus pipi Nayla dengan lembut untuk membangunkan gadis itu yang sudah tertidur hampir tiga jam.


Nayla mengeliat ketika merasakan sentuhan lembut yang sejak tadi menyentuh kulit pipinya.


"Kita udah sampai yah? sekarang udah jam berapa?"


Nayla yang masih dalam kondisi setengah sadar melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya lalu didetik berikutnya gadis itu terperangah ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


"Kita udah sampai sejak tadi, yah?" Nayla menoleh pada Riki.


"Baru aja." cetus Riki dan lagi-lagi membuat Nayla tercengang.


"Kita dimana, Ki? kenapa perjalanan kita bisa sampai tiga jam?" Mata Nayla berkeliling untuk melihat penampakan lokasi itu dan tempat itu terlihat asing baginya. Pemandangan disini tidak sama dengan Ancol, itu artinya tujuan Riki bukan ke pantai Ancol.


"Ini dimana, Ki." Nayla kembali mengedarkan pandangannya ketika Riki membuka pintu mobil lalu diapun turun dari mobil tersebut.


"Kita sekarang lagi di Anyer... pantai florida." Jawab Riki lalu menutup pintu mobilnya lagi.


"Kamu serius?" Nayla bertanya dengan raut wajah yang berbinar.


Riki mengangguk.


Detik berikutnya Nayla langsung berlari menuju bibir pantai, dia terlihat sangat antusias. Sudah lama sekali Nayla ingin ke pantai ini, tapi karena dia tidak memiliki waktu yang luang akhirnya rencana indahnya tak pernah sekalipun terwujud. Dan hari ini, rasanya bagaikan mimpi di siang hari.


Nayla terlihat berjalan-jalan di bibir pantai, dia terlihat menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajahnya, dan suara deru ombak yang tenang seolah-olah menyambut kedatangannya. Beruntungnya cuaca siang ini tidak begitu panas dan pengunjung tidak begitu ramai, di sekitar pantai hanya terlihat beberapa saja keluarga yang sedang asik bermain di dalam air dan di bibir pantai.


Nayla merentangkan tangannya menghadap ke laut lalu menghirup nafas dalam-dalam, dia merasakan aroma laut yang sangat khas, m yang sudah lama sangat dirindukannya.


"Nay...," Seru Riki menghampiri Nayla.


Nayla menoleh menatap Riki yang berhenti di jarak lima meter darinya.


"Aku mau menelfon dulu... kalau kamu capek, kamu bisa istirahat disana." Riki menunjuk saung yang berada di posisi tengah.


"Iya...," jawab Nayla.


Lalu Rikipun meninggalkan gadis itu seorang diri. Setelah kepergian Riki, Nayla segera melepas sepatunya untuk merasakan air laut menyentuh kakinya. Gadis itu kembali menyusuri pantai dengan bertelanjang kaki.


Setelah dirasa cukup dan lelah, akhirnya Nayla menuju saung yang Riki tunjuk tadi.


"Oh, ya ampun, aku sampai lupa."


Nayla menepuk pelan jidatnya, lalu mengeluarkan ponselnya. Nayla terlihat mencari sesuatu di ponselnya lalu mengetik sesuatu untuk di kirim pada seseorang.


Setelah urusannya selesai dengan benda pipih itu, gadis itu kembali lagi mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang sedang asyik bersenda gurau di saung samping kirinya. Gadis itu tersenyum tipis melihat keharmonisan mereka.

__ADS_1


Lalu Nayla kembali menoleh ke kanan, di sana terlihat keluarga yang sepertinya sedang merayakan ulang tahun, terdengar dari suara mereka yang menyanyikan lagu ulang tahun. Karena tertarik, Nayla kembali meraih ponselnya untuk memotret kebahagiaan keluarga itu, gadis itu kembali tersenyum haru setelah melihat seorang wanita paruh baya meniup lilin yang berbentuk angka 4 dan 6. Seketika pikiran Nayla teringat pada sosok ibunya, jika saja ibunya itu masih hidup mungkin dia masih bisa merayakan ulang tahun ibunya juga. Tapi sayang, ibunya sudah meninggal.


Nayla menghela nafas berat demi menetralkan perasaannya yang sedih, gadis itu kembali beranjak menuju bibir pantai untuk meredakan pikiran kalutnya.


Setelah menghabiskan beberapa menit berbicara dengan asistennya di telefon, Riki kembali menuju pantai dan melihat Nayla masih berdiri di tepi pantai. Pria tampan itu pun mendekati Nayla.


Dahi Riki berkerut heran, ketika melihat wajah Nayla menunduk sedih sambil kakinya menendang-nendang air.


"Kamu kenapa, Nay?" Tanya Riki membuat Nayla langsung mengangkat wajahnya menatap pria di sampingnya.


"Nggak pa-pa kok, Ki." jawab Nayla.


Riki menatap Nayla penuh selidik, "Kamu nggak suka tempat ini? atau kamu sakit?"


"Nggak kok, Ki... aku nggak pa-pa, aku sehat dan aku sangat suka tempat ini. suer." Nayla mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya pada Riki.


"Ya udah, sekarang kita ke saung, disini panas." Riki menarik tangan Nayla menuju saung yang sudah di sewanya.


"Riki...."


Mereka yang baru saja duduk, serentak menoleh ke sumber suara. Riki tercengang setelah melihat siapa yang datang, itu adalah Yuki.


"Kamu ngapain disini?" Riki terlihat tidak suka dengan kedatangan Yuki.


"Aku lagi ada proyek di sekitar sini, Ki... karena lagi istirahat, makanya aku kesini dan nggak sengaja ketemu sama kamu." jawab Yuki.


"Aku boleh ngomong sesuatu nggak Ki. mumpung kita ketemu disini." ucap Yuki lagi.


Riki hanya diam, seolah tidak mendengar apa yang gadis itu katakan.


"Boleh kok, kamu duduk disini." Nayla bangkit dari duduknya lalu menarik Yuki duduk di tempatnya.


"Kamu apaan sih, Nay." Protes Riki bingung.


"Nggak pa-pa, Ki. Dia itu mau ngomong sesuatu sama kamu, jangan dicuekin. Siapa tau aja penting." cetus Nayla lagi.


"Nggak penting!" Riki bangkit dari duduknya tapi langsung di dorong oleh Nayla hingga pria itu kembali duduk di tempatnya.


"Kamu nggak boleh gitu, Ki." ucap Nayla, "Kamu dengerin dulu, dia mau ngomong apa."


Riki diam saja tanda menurut.


"Ya udah, kalau begitu, aku ke mobil ambil kamera aku. by...."


Gadis itu langsung berlari meninggalkan Riki yang tercengang melihat kepergiannya.


"Lima menit." cetus Riki.

__ADS_1


"Hah?" Yuki bingung.


"Aku kasih kamu waktu lima menit untuk mengatakan apa yang mau kamu katakan." tandas Riki.


Yuki menghela napas pelan lalu membenarkan posisi duduknya menghadap Riki, raut wajahnya berubah serius menatap pria di depannya itu.


:)


Setelah mengambil kameranya di dalam mobil, kini gadis itu tampak bingung akan kemana. Dia tidak mungkin kembali lagi ke tempat semula, dia akan mengganggu Yuki yang sedang berbicara dengan Riki.


Mata Nayla kembali berkeliling, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menuju kearah utara sementara Riki dan Yuki berada di tengah.


Nayla terlihat berjalan di bibir pantai sambil sesekali memotret pemandangan alam. Saking asiknya, dia sama sekali tidak memperhatikan sekitarnya.


"Pokemon."


Nayla menghentikan aktivitas memotretnya ketika seorang pria berucap di sampingnya.


"Ternyata saya tidak salah, hampir saja saya malu sendiri." cetus pria tinggi itu.


Nayla semakin mengerutkan dahinya heran, siapa pria ini? kenapa dia memanggil Nayla dengan pokemon? apakah mereka pernah bertemu?


Sekali lagi otak Nayla bekerja keras untuk menebak identitas pria itu. Tapi nihil, data pria itu tak tersimpan dengan baik di memori otaknya.


"Anda mengenal saya?" tanya Nayla pada akhirnya.


"What?" Pria itu tampak bingung karena Nayla tak mengenalnya, "survei membuktikan, jika seribu wanita yang bertemu denganku pertama kali, sangat sulit melupakan saya. Tapi Anda?"


"Maaf, ini bukan new family seratus, jadi nggak ada istilah survei." Cetus Nayla.


Pria itu terkekeh pelan mendengar candaan tak bergairah Nayla. Pria itu kembali menyelidiki Nayla, dengan melihat sisi kiri dan kanan tubuhnya.


"Apa waktu itu kepala kamu juga terbentur?" Tanya pria itu lagi.


"Apa maksud, Anda... kepala saya tidak pernah terbentur." jawab Nayla.


"Itu artinya kamu sedang berpura-pura melupakan saya."


Nayla semakin bingung, "Saya benar-benar tidak mengenal anda."


"Kalau begitu, perkenalkan." Pria itu menyodorkan tangannya pada Nayla dan dengan polosnya Nayla meraih tangan besar itu.


"Denis," ucap Pria itu, "orang yang waktu itu secara tidak sengaja menyenggol motor Anda."


Nayla tercengang mendengar pernyataan pria itu, akhirnya dia bisa bertemu dengan orang yang pernah diancamnya.


...Happy Reading ❤...

__ADS_1


__ADS_2