Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 28


__ADS_3

Nayla yang masih berkendara, tiba-tiba merasa sangat bodoh setelah kembali teringat sudah mengancam seorang pria yang membuatnya terjatuh tadi.


Dan yang membuatnya merasa bodoh adalah, gadis itu mengancam pria itu, namun tidak meminta tanda pengenalnya sebagai pegangan, agar Nayla bisa kembali bertemu dan meminta pertanggung jawaban darinya.


Tapi, apa yang terjadi sekarang. Dia baru pertama kali bertemu dengan pria itu dan bisa dipastikan jika dia tidak akan bisa bertemu lagi dengannya, mengingat pria tadi sepertinya sangat sulit untuk dijumpai lagi.


Raut wajah Nayla tampak frustasi meratapi dirinya sendiri, entah dirinya bodoh atau memang polos. Sekarang siapa yang rugi, tentu saja dirinya. terlebih lagi dia mengalami luka lecet di bagian lengan kanannya.


Namun keteledorannya ini terjadi bukan karena dia sengaja, tapi karena dirinya sedang terburu-buru. Dia khawatir, jika dia terus menerus meladeni pria itu, dia bisa terlambat untuk tiba di lokasi lomba Rina. Intinya dia tidaklah salah, hanya saja dia lengah, sehingga membuat kesalahan.


Gadis itu terus bergelut dengan pikirannya sendiri, sampai kini gadis itu sudah tiba di lokasi. Setelah memarkirkan motornya, dia pun langsung berlari masuk ke dalam mall.


Namun tiba-tiba lagi, tubuhnya kembali terjatuh ketika kembali menabrak seorang pria, yang juga tengah berlari.


BRUKK…


“Awww…,” pekiknya saat merasakan perih di lukanya ketika menyentuh dinginnya lantai.


“Maaf, saya nggak sengaja...,” pria yang menabrak Nayla pun mengulurkan tangannya untuk membantu Nayla berdiri.


“Sial banget sih.” Gerutu Nayla, lalu menoleh pada pria yang menabraknya.


“Kak Nayla.”


“Yogi.”


Nayla dan pria itu berseru bersamaan dengan wajah tercengang mereka.


“Kak Nayla ngga pa-pa?” pria yang bernama Yogi itupun langsung membantu Nayla berdiri.


“Iya ngak pa-pa.” gadis itu pun bangkit dengan bantuan pria tinggi yang tampan.


Setelah Nayla berdiri, pria itu pun memeriksa Nayla dengan membolak-balikkan tubuh gadis itu.


“Tangan kak Nayla kenapa?” tanya Yogi ketika melihat lengan Nayla yang lecet.


“Nggak pa-pa,” kata Nayla, “eh, kamu kesini ngapain dan sama siapa?” Nayla mengalihkan pembicaraan.


“Mmmm..” mata pria itu tampak berkeliling dengan raut wajah bingungnya.


“Ahh, aku tau.” Cetus Nayla, “Pasti kamu kesini mau nonton Yoga lomba kan?”


Bola mata pria itu membulat sempurnya ketika mendengar ucapan Nayla.


“hehe, Iya…,” jawabnya cepat, “Aku duluan yah, kak… dadah.” Pria itu pun langsung berlari meninggalkan Nayla.


Melihat Yogi yang langsung pergi tiba-tiba membuat Nayla bingung. Lalu detik berikutnya, diapun ikut berlari setelah mengingat lomba Rina.


Setelah tiba di lokasi Nayla menerobos kerumunan untuk menyaksikan lomba dari dekat, karena postur tubuhnya yang ramping, akhirnya dia berhasil berada di posisi paling depan.

__ADS_1


Dan dia bersyukur, karena ternyata dia tidak terlambat, gadis itu tepat waktu dan saat ini MC baru memanggil team Rina untuk naik ke atas panggung.


Nayla bersorak paling kencang setelah menyaksikan penampilan Rina yang berlangsung selama beberapa menit dan gadis itu terlihat menoleh dan tersenyum kepada Nayla.


Setelah menyaksikan lomba lebih dari satu jam, tibalah pengumuman pemenang, Nayla sangat gugup setelah semua peserta lomba naik ke atas panggung dan menunggu hasil pemenangnya. Dan hasil akhirnya adalah Rina berada di posisi tiga.


Nayla yang menyaksikan dari bawah panggung pun mendapati raut wajah Rina terlihat tidak puas dan sedih dan setelah semua peserta kembali turun dari panggung, Nayla dengan susah payah pun keluar lagu dari kerumunan untuk menuju ke belakang panggung mencari Rina.


Namun ketika gadis itu tiba di belakang panggung, yang dia temui pertama kali adalah Yogi, pria yang menabraknya tadi.


Pria itu terlihat bercengkerama dengan rekan satu teamnya dan dia juga terlihat susah payah membawa hadiah yang dia dapatkan dari hasil lomba tadi, karena dia berada di posisi satu.


“Selamat atas kecurangannya.” Cetus Nayla yang membuat pria itu menoleh bingung.


“Kak Nayla.” Pria itu langsung menarik Nayla agar menjauh dari timnya dancenya.


“Kenapa kamu, bawa aku kesini? Takut ketahuan identitasnya?” ketus Nayla, “sejak kapan Yoga jadi Yogi.”


“Bisa diam nggak sih, kak?” raut wajah pria itu berubah panik.


“Terus kenapa kamu gantiin posisi Yoga?” tanya Nayla lagi.


“Itu karena Yoga lagi sakit, makanya aku gantiin.” Ucap Yogi beralasan.


Nayla berkerut heran, “Yoga dimana sekarang?”


“Di rumah.”


Yogi mengangguk.


“Apa aunty Mita tau, kamu melakukan hal ini?"


Yogi menggeleng.


“Aunty sama uncle bisa marah, kalau tau kelakuan kamu..." ucap Nayla, "kamu tau, ini tidak baik, kan?”


“Iya aku tau, tapi mau gimana lagi. Masa aku biarin Yoga kalah.”


“Yah daripada kamu buat Yoga menang, dalam kecurangan…,” kesal Nayla, “aku tau kalian memang kembar, tapi kalian tidak boleh memanfaatkan wajah kembar kalian itu dengan menipu orang lain.”


Yogi terdiam.


“Nayla.”


Nayla menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah Rina.


Nayla tersenyum, “Rina…” gadis itupun meninggalkan Yogi dan mendekati Rina.


Pria itu pun mengambil kesempatan untuk kabur dari Nayla.

__ADS_1


“Selamat, kamu sangat hebat.” Nayla mengacungkan jempolnya lalu memeluk Rina.


Tapi gadis itu hanya bergeming, tidak membalas pelukan Nayla.


“Kenapa? Kok kelihatannya nggak seneng gitu.” Nayla mengusap pipi Rina dengan lembut.


“Aku gagal.” Lirih Rina.


“Mana ada, orang yang gagal menerima hadiah.”


“Aku tidak di posisi satu.”


“Heyyy, kamu fikir hanya posisi satu yang membanggakan? kamu salah... posisi tiga juga sudah sangat hebat, tau...," kata Nayla, "kamu itu harusnya bersyukur, bisa dapat juara. Coba kamu lihat, dari sekian ribu peserta, kamu berhasil lolos dari audisi dan Dari puluhan peserta yang lomba, kamu bisa terpilih masuk final dan bisa dapat juara tiga…,” Nayla mengelus pundak Rina.


“coba kamu fikirkan, puluhan peserta yang gagal itu menginginkan posisi kamu... tapi kamu malah tidak mensyukurinya." tandas Nayla.


Rina menunduk malu, setelah mendengar nasehat Nayla. Gadis itu benar, jika dirinya tidak pandai bersyukur.


“Penampilan kamu sudah sangat luar biasa tadi… aku suka.” Nayla memuji lagi.


“Benarkah?” Rina mengangkat wajahnya senang.


Nayla mengangguk dan tersenyum, membuat Rina merasa puas dengan kerja kerasnya dan ikut tersenyum.


“Kaki kamu gimana?” Nayla menunduk menatap kaki Rina.


Nayla sempat khawatir saat Rina tampil tadi, dia terlihat kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.


“Nggak pa-pa kok, tadi memang sempat sakit. Tapi sekarang udah agak mendingan.”


“Ya sudah, sekarang kita makan... pasti kamu lapar, kan?"


Rina mengangguk.


"Ok, karena kamu sudah dapat juara, aku akan traktir kamu makan setelah kita kita pulang, biar kamu bisa istirahat.”


Rina mengangguk lagi, lalu hendak menggandeng lengan Nayla yang lecet. Tapi dengan sigap gadis itu langsung menjauhkan lengannya itu.


“Begini saja.” Nayla merangkul pundak Rina.


Mereka pun berjalan beriringan untuk menuju restoran yang ada di dalam mall tersebut.


Raut wajah Rina terlihat sangat berseri, dia merasa bersyukur telah memiliki saudara seperti Nayla, meskipun hanya saudara angkat. Tapi rasanya melebihi saudara kandung.


-tbc-


Author's Note π_π:


...Jangan lupa dukungannya guyss... like dan coment. biar authornya semakin semangat untuk menulis. terima kasih....

__ADS_1


...hari ini up nya cuma satu BAB dulu, soalnya ada kesibukan di real life....


...happy reading ❤...


__ADS_2