Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 34


__ADS_3

Setelah hari itu, hari dimana Riki mengetahui penderitaan Nayla. Pria itu seketika berubah menjadi lebih over protektif pada Nayla.


Riki sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan melindungi saudarinya itu sekaligus membahagiakannya.


Terbukti, setiap hari di jam istirahat Riki selalu membolos bekerja untuk ke studio Nayla. Jika gadis itu sedang kosong, dia akan mengajaknya untuk sekadar jalan-jalan dan jika Nayla ada pemotretan di luar ataupun di studio, Riki selalu ada untuk menemani dan menunggu Nayla hingga pekerjaannya selesai, setelah itu mereka akan jalan-jalan lagi.


Sudah seminggu sejak hari itu, mereka terlihat bersenang-senang menikmati waktu mereka, dan mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih bukan saudara.


Jujur saja, Riki merasa nyaman berada di dekat Nayla. Gadis itu tidak manja dan merepotkan seperti wanita pada umumnya, dia melakukan sendiri yang bisa dilakukannya tanpa bantuan orang lain dan Riki merasa jika dirinya yang terlindungi oleh gadis tangguh itu.


Begitupun dengan hari ini, setelah hampir seharian mereka jalan-jalan dan berakhir menonton film di bioskop hingga malam hari, kini mereka tengah berjalan keluar dari gedung bioskop tersebut.


Nayla terlihat antusias setelah menonton film hollywood bergenre thriller, gadis itu sangat menyukainya, terlebih ketika tokoh di dalam film tersebut sangat kuat dan tangguh.


Sementara Riki yang berjalan di sisi kanan Nayla, hanya bisa menatap heran gadis yang sangat senang itu.


"Apa filemnya sebagus itu, sampai kamu seperti ini." protes Riki.


Nayla hanya menunjukkan ekspresinya sebagai jawaban atas pertanyaan Riki. Gadis itu langsung berdiri di depan Riki lalu menghadap padanya dengan mengacungkan jempol sambil tersenyum sangat lebar hingga menampilkan gummy smilenya.


Riki yang melihat Nayla seperti itu pun tersenyum gemas, pasalnya dengan tersenyum seperti itu, Nayla terlihat sangat manis dan imut.


"Sangat bagus. Aku sangat suka dengan karakter wanitanya, dia kuat, tegas, dan pemberani." Nayla berbicara sambil berjalan mundur sementara Riki berjalan maju mengikuti gadis itu, dia hanya tersenyum melihat wajah Nayla yang sangat berseri-seri.


"Harusnya wanita itu lemah lembut." protes Riki lagi.


Nayla menggeleng menolak asumsi Riki, "Tabiat seorang wanita pada dasarnya memanglah lemah lembut, karena itu merupakan keistimewaan yang tuhan ciptakan untuknya. Tapi, banyak yang salah menduga, jika perempuan lemah lembut itu adalah wanita yang lemah, dan itu adalah kelemahan, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Lemah lembut itu, bukan kelemahan tapi kekuatan.


"Lemah lembut itu ketentuan sementara kuat, tegas, dan sifat pemberani itu adalah pilihan." jelas Nayla kembali tersenyum lalu berbalik dan kembali melangkah maju.


Riki yang mendengar penuturan gadis itu semakin menajamkan tatapan intens pada gadis yang tengaj berjalan di depannya. Menurutnya Nayla adalah wanita yang sangat berbeda, dia cerdas dan dewasa.


"Aku anter kamu pulang sekarang." Riki lalu meraih tangan Nayla dan menggandengnya.


Nayla sempat tersentak dengan gerakan Riki yang tiba-tiba menggandeng tangannya, tapi gadis itu tidak mau ambil pusing menurutnya itu adalah hal yang wajar dilakukan saudara.


Mereka berjalan beriringan untuk keluar dari gedung tersebut menuju parkiran.


"Tunggu!" Nayla menghentikan langkahnya tepat di depan gedung.


"Kenapa?" Riki bingung.


Nayla tidak menjawab, gadis itu langsung saja berlari kearah mesin capit yang ada di depan gedung.


Nayla langsung kegirangan seperti anak kecil ketika melihat boneka dari dalam mesin tersebut adalah boneka pikachu, boneka kesukaannya.


Riki yang melihat tingkah Nayla yang seperti itupun, menghela nafas dan langsung menghilangkan asumsinya yang mengatakan jika gadis itu dewasa, pada kenyataannya dia hanyalah bocah.


"Ki, aku mau itu." Nayla menunjuk boneka yang ada di dalam kotak itu dengan antusias.


"Kenapa benda ini, ada disini?" cetus Riki saat berjalan mendekati Nayla.

__ADS_1


"Aku nggak tau...," Nayla menatap Riki dengan wajah memelas, "intinya aku mau."


Riki menghela nafas berat, "kamu mau berapa?" ucapnya percaya diri lalu melangkah mendekati tombol mesin itu.


Nayla memicingkan matanya pada Riki, "kamu bisa?"


Riki menyeringai, "kecil ini, mah." Pria itu menjentikkan kuku jarinya meremehkan.


"Ya udah, ambilin sekarang."


Riki pun mulai mengambil kartu dan menggeseknya untuk menukar poin, lalu fokus menggerakkan capit itu.


Pada percobaan pertama hingga ketiga, Riki gagal dan membuat mereka menghela nafas kesan.


Lalu keduanya kembali fokus dan antusias ketika capit itu berhasil mengangkat boneka pikachu yang di inginkan oleh Nayla.


Nayla paling bersemangat, bahkan dia sampai bertepuk tangan dan lompat-lompat kegirangan saat boneka itu hampir jatuh di lubang, namun mereka kembali kecewa ketika benda itu jatuh setelah hampir berhasil.


"Katanya bisa?" Nayla mulai menggerutu.


"Aku bisa sebenarnya, hanya saja kamu terlalu heboh, makanya konsentrasi aku hilang dan gagal." Riki menyalahkan Nayla.


"Terus aku harus gimana?" Nayla semakin kesal.


"Diam dan lihat saja." Riki kembali fokus menggerakkan mesin capit.


"Ya udah, aku diam." ketus Nayla lalu melipat tangan di dadanya menatap aktivitas Riki dalam diam.


"Ahhh...."


"Sial...."


Hampir tiga puluh menit mereka menghabiskan waktu di depan permainan itu dan selama itu juga hanya suara putus asa Riki yang terdengar, karena dia tak kunjung berhasil.


Sudah berkali-kali Riki menggesek kartu dan puluhan koin juga sudah habis, namun masih tetap saja gagal. Karena kegagalan yang beruntun itulah, membuat Nayla yang masih berdiri dan masih diam di sisi Riki pun sudah sangat jenuh dan kesal.


"Aku udah diam dari tadi, tapi hasilnya sama saja." protes Nayla, "kita pulang sekarang."


"Tunggu Nay, sedikit lagi aku berhasil." Riki masih fokus menggerakkan mesin capit.


"Terserah." Nayla pun melangkahkan kakinya meninggalkan Riki.


Riki tidak mendengar ucapan Nayla, pria ini sangat ambisius dan sangat fokus untuk mendapatkan boneka itu.


Hingga dia tidak menyadari kepergian Nayla dan setelah beberapa menit kepergian Nayla akhirnya dia berhasil mendapatkan boneka pikachu itu.


Riki yang kegirangan pun buru-buru mengambil boneka itu.


"Aku berhasil, Nay." Riki mengarahkan boneka itu pada Nayla.


Namun, raut wajah Riki berubah bingung, ketika menoleh dan tidak melihat sosok Nayla berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Kemana dia?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Riki menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok gadis itu, namun tidak ada petunjuk. Akhirnya pria itu memutuskan untuk menuju ke parkiran, mungkin saja Nayla sudan lebih dulu ke mobil dan menunggunya disana, karena dia sudah lelah melihatnya bermain dengan benda bodoh ini.


:)


Fokus Riki yang tengah menyetir teralihakan oleh Nayla yang sedang memainkan boneka pikachunya.


"Kenapa sih, kamu suka banget sama benda kuning itu?" Tanya Riki penasaran.


"Entahlah...." Nayla menoleh menatap Riki, "mungkin karena dia kuat."


"Menurut aku, pikachu bukanlah karakter terkuat diserial pokemon itu." jawab Riki.


"Tapi dia sangat menggemaskan." Nayla kembali memelintir telinga pikachunya.


"Dia kecil dan lemah." cetus Riki lagi.


"Dan itulah kelebihannya, meskipun tubuhnya kecil, tapi itu menjadikan dia lucu dan imut. Dan lagi, dia terlihat selalu ceria dengan warna tubuhnya yang cerah, sehingga sisinya yang lemah tersembunyi."


Mendengar penuturan Nayla, membuat Riki langsung menoleh dan menatap tajam gadis yang masih sibuk bermain dengan benda kuning miliknya. Apa begini cara Nayla untuk menyembunyikan kesedihan dan kelemahannya, selalu berpenampilan cerah agar tampak ceria.


Riki kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan fokus menyetir.


:)


"Nggak masuk dulu, Ki?" Nayla berucap setelah turun dari mobil Riki yang berhenti di depan gerbang rumah.


Riki menggeleng, "udah malam, Nay."


Nayla berkerut heran, "kamu berucap seolah rumah ini bukan rumah kamu sendiri."


"Bukan gitu... besok pagi kan aku kesini lagi," cetus Riki. "Kamu nggak lupa, kan?"


"Lupa apa?" Nayla bingung.


"Besok pagi, kan kita mau jalan-jalan ke pantai."


Nayla menepuk jidatnya, karena benar-benar lupa.


"Ya udah, besok pagi siap-siap lebih awal, terus masak yang banyak. ok?" cetus Riki.


"Ok." Nayla menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya lalu menunjukkannya pada Riki.


"Kalau gitu, aku pulang yah, Nay... selamat malam."


"Malam...."


"Mimpi yang indah." Riki tersenyum lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan Nayla.


Nayla hanya melambaikan tangannya kearah mobil Riki, hingga mobil hitam itu menghilang dari pandangan Nayla. Setelahnya gadis itupun masuk ke dalam rumah yang sudah nampak remang-remang.

__ADS_1


...Happy Reading ❤...


__ADS_2