
"Aku tau, Ki... Nggak mudah bagi kamu untuk bisa menerima aku seperti dulu lagi, tapi aku mohon... Jangan jauhi aku, aku ingin dekat seperti dulu lagi dengan kamu. Setidaknya sebagai teman."
Yuki menatap Riki penuh harap, sementara Riki masih bergeming.
Pria itu tidak tau harus bersikap bagaimana? Jujur saja dalam benaknya masih dipenuhi keraguan. Mereka pernah menjalin hubungan yang berakhir mengecewakan Riki, haruskah dia menerima gadis itu lagi dalam hidupnya walau hanya sebatas teman. Tapi bagaimana jika jika Riki jatuh lagi ke dalam lubang yang sama.
Riki memang bersikap dingin pada Yuki, tapi tak bisa dia pungkiri, jika hatinya masih menaruh sedikit rasa itu. Yuki adalah gadis yang pernah ada saat dirinya terpuruk saat dirinya terluka. Tapi akhirnya Yuki pun menyakitinya. Apa sekarang gadis itu sudah berubah? Sorot matanya memancarkan ketulusan.
Riki bingung. Pria itu tidak bisa membuat keputusan sekarang, Riki ingin memaafkan dan mencoba menerima gadis ini lagi tapi dia juga takut terluka.
"Maaf, Yu... Aku harus pergi sekarang." Riki bangkit dari duduknya membuat Yuki tercengang.
"Saat pulang nanti... Hati-hati di jalan." Riki pun beranjak menuju bibir pantai meninggalkan Yuki.
Gadis itu masih menatap sosok Riki yang semakin menjauhi menyusiri bibir pantai. Perlahan sudut bibirnya tertarik membentuk senyum manis, tidak sia-sia usahanya untuk mendekati Nayla demi bisa berbaikan dengan Riki. Buktinya sekarang pria itu sedikit hangat padanya. Yuki sangat mengenal pria itu, pria itu akan luluh ketika kau menunjukkan belas kasih padanya karena dia adalah pria yang berhati lembut.
Yuki pun beranjak dari saung itu, melangkah dengan elegan meninggalkan area pantai, sekarang perasaannya sudah sedikit lega. Kini Riki terlihat bimbang, Yuki semakin yakin jika dirinya masih memiliki peluang untuk kembali bersama dengan pria itu meskipun dia harus lebih bersabar lagi.
:)
Hampir sepuluh menit Riki berjalan untuk mencari sosok Nayla, namun belum ada tanda-tanda gadis itu ketemu. Kemana perginya gadis itu?
Riki kembali menggerutu lalu melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Riki harus segera menemukan Nayla, karena masih ada tempat yang harus Riki tunjukkan pada Nayla, dan Riki yakin pasti gadis itu akan sangat senang, setelah melihat pemandangan di tempat itu sangatlah indah.
Pria itu semakin jauh melangkah ke depan dan tidak butuh waktu lama, kini sosok yang dicarinya sudah terlihat di depannya. Nayla terlihat sedang memotret berbagai objek pemandangan. Namun, dahi Riki terlihat mengerut, ketika ada sosok lain bersama Nayla. Siapa pria itu? Kenapa dia mengikuti Nayla hingga membuat gadis itu terlihat kesal? Tapi tunggu, kenapa Riki merasa mengenal pria itu, tapi siapa?
Riki pun beranjak mendekati Nayla, namun ketika jaraknya semakin dekat, pria yang bersama Nayla pun pergi ke arah yang berlawanan membuat Riki tak bisa melihat dengan jelas wajah pria berparas bule tersebut.
"Nay!"
Riki berteriak membuat gadis itu menoleh padanya. Nayla terlihat tersenyum lalu berjalan mendekati Riki.
"Riki...." seru Nayla.
"Kamu ngapain sih disini? Aku dari tadi nyariin kamu." cetus Riki.
"Aku lagi jalan-jalan sambil mengabadikan momen." Nayla mengarahkan kameranya pada Riki.
"Ya udah, kalau begitu kita pergi sekarang." Riki pun menarik Nayla menjauh dari bibir pantai.
"Sekarang?" Nayla bingung, "bukannya kita pulangnya malam yah? kita kan mau lihat senja, Ki." celoteh Nayla di belakang Riki.
"Kita memang mau lihat senja, tapi bukan disini." tandas Riki tanpa menoleh pada Nayla yang masih bingung.
Riki terus saja menarik tangan Nayla menuju parkiran mobilnya. Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil itu pun melesat menuju ke pulau lima. Disana mereka akan menyaksikan indahnya sunset yang sangat indah.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kini mobil Riki memasuki area pelabuhan Karangantu hingga tiba di pantai gopek. Lalu menit berikutnya mereka kini sudah berada di bibir pantai untuk naik ke atas kapal yang sudah di sewa Riki menuju pantai lima.
Nayla yang sudah mengetahui kemana tujuan mereka, hanya tersenyum tanpa henti. Sudah sangat lama Nayla ingin melakukan perjalanan ke sebuah pulau, dan pulau pilihan Riki adalah kategori yang masuk dalam listnya untuk melakukan traveling.
Saking antusiasnya gadis itu, setelah naik ke atas kapal dia langsung mengambil duduk di bagian kapal paling depan lalu kembali mengarahkan lensa kameranya pada hamparan laut biru yang terbentang indah. Nayla bahkan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri, yang terpenting dia mendapatkan momen yang sangat menakjubkan.
"Nay, kamu bisa jatuh nanti... sekarang kamu turun dari atas situ." Riki mengulurkan tangannya dari bawah.
Nayla yang baru menyadari posisinya yang ternyata memang bahaya pun meraih uluran tangan Riki lalu turun.
"Kalau mau motret dari sini aja! Nggak usah naik ke atas sana. Gimana kalau kapalnya goyang lalu kamu hilang keseimbangan kamu pasti akan terjatuh...," Riki mengomel karena khawatir.
"Maaf Ki... hehe." cetusnya dengan kekehan lucunya.
Akhirnya gadis itu menuruti perkataan Riki, dan mulai mengambil gambar lagi dari bagian tengah kapal. Gadis itu sesekali mengarahkan lensa kameranya pada penumpang kapal yang lain, yang juga terlihat menikmati pemandangan laut.
Dalam perjalanan menuju pulau lima, yang Nayla lakukan hanya memotret sementara Riki yang tengah berdiri tak jauh dari Nayla pun hanya berfokus menatap gadis itu, yang terlihat sangat cantik ketika dia sedang serius memotret terlebih ketika rambut panjangnya yang di kuncir kuda itu beterbangan akibat hembusan angin laut.
Nayla yang sedang memeriksa hasil fotonya merasa terganggu karena anak rambut di sekitar wajahnya beterbangan hingga mengacaukan konsentrasinya, Riki kembali tersenyum tipis ketika melihat Nayla menggerutu seperti itu, dia sangat manis.
Perlahan Riki mendekati gadis yang sedang kesal itu lalu perlahan tangannya terulur menyelipkan anak rambut itu ke telinga Nayla.
Nayla tersentak dengan perlakuan Riki yang sangat tiba-tiba itu, membuatnya merasa sangat canggung.
Nayla berkerut heran, "maksud kamu?"
"Dari tadi kamu terlihat sangat kesal karena rambut kamu yang terbang kesana kemari, makanya aku bantuin kamu." jelas Riki membuat Nayla tertawa kecil.
"Kok kamu tau sih? kalau aku bakalan motong rambut aku setelah dari sini?"
"Kamu lupa, ikatan batin kita kan cukup kuat."
Mereka pun kembali tertawa.
Selama kurang lebih dua puluh lima menit melakukan perjalanan laut, kini mereka tiba di pulau tersebut.
Sesaat setelah mereka turun dari kapal Nayla kembali melanjutkan aktivitas potret memotretnya sementara Riki beranjak menuju ke sebuah penginapan yang sudah di pesannya beberapa waktu yang lalu untuk meletakkan beberapa barang bawaannya dan juga barang Nayla.
Riki berencana akan menginap di pulau ini selama satu malam, karena mereka akan menyaksikan sunset dan juga ingin menikmati angin malam pantai demi mewujudkan keinginan Nayla.
Pria itu sangat memperhatikan setiap detail apa yang membuat saudara kecilnya itu selalu bahagia.
Setelah meletakkan barang-barangnya, Riki kembali beranjak meninggalkan penginapan itu.
Riki berjalan mencari sosok Nayla dan langkahnya terhenti ketika menemukan gadis itu tengah duduk di bibir pantai dengan tatapan yang tertuju pada ayah dan anak perempuan yang sedang berenang bersama. Entah apa yang membuat gadis itu, begitu tertarik melihat mereka. Padahal mereka hanya berenang sambil bersenda gurau.
__ADS_1
"Kamu mau berenang juga?" Riki mengambil duduk di samping Nayla.
Nayla tertawa lucu mendengar ucapan Riki.
"Kenapa? ada yang lucu?" Riki heran.
"Ada... kamu ngajakin aku berenang, sementara aku nggak tau berenang."
"Serius?" Riki tercengang.
Nayla mengangguk.
"Fenomena yang sangat langka... kamu menyukai laut, tapi kamu nggak tau berenang." cerca Riki.
"Apa hubungannya?"
"Jelas berhubunganlah, Nay... Laut itu air, berenang itu di air... kalau kamu ke laut terus kamu hanyut kamu akan mati karena nggak bisa berenang di air."
Nayla semakin berkerut heran, tidak paham dengan perkataan Riki.
"Udah ahh, aku capek." Nayla pun beranjak lalu kembali berjalan menyusui bibir pantai.
"Katanya capek, kok malah lanjut jalan." Riki juga beranjak mengikuti Nayla.
"Aku itu capek bukan karena jalan, tapi karena dengerin ocehan kamu." cerca Nayla.
"Biarin aja, dari pada aku diamin kamu seperti dulu." cetus Riki.
Nayla memukul lengan Riki pelan, "Dasar! coba aja, aku akan buang kamu ke tengah laut."
"Emangnya, Berani?"
"Hehe... Nggak." cetus Nayla membuat keduanya tertawa pelan.
Mereka pun kembali mengelilingi tempat itu, sesekali perhatian mereka tertuju pada beberapa pengunjung yang terlihat sibuk dan bersenang-senang dengan keluarganya hingga senja pun tiba.
Nayla menatap penuh takjub fenomena alam yang terjadi di sore ini, matahari yang perlahan turun memancarkan cahaya yang sangat indah, pantulan langit yang berwarna jingga bersatu dengan birunya air laut hingga menjadi lukisan yang cantik melengkapi sore hari yang tenang itu.
Setelah beberapa menit berlalu, kini matahari sudah menghilang ke dasar laut, seolah-olah air laut itu menelan matahari hingga ke dasarnya.
"Senja memberi pelajaran, bahwa apapun yang terjadi hari ini pasti akan berakhir indah."
Nayla bergumam pelan setelah hari sudah gelap, perlahan diapun beranjak dari duduknya menuju ke penginapan. Sementara Riki yang mendengar ucapan Nayla barusan terdengar sarat akan kesedihan diapun menatap punggung gadis itu dengan sendu.
...Happy Reading ❤...
__ADS_1