Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 30


__ADS_3

“Nay, aku haus!”


Nayla yang masih sibuk memasak hidangan terakhirnya pun menoleh pada Aldi, yang berjalan melewati ruang makan dan masuk ke dalam dapur, dengan sigap gadis itu mengecilkan api kompor lalu mendekati pria itu.


“Maaf, aku lupa nyiapin minum buat kamu.” Raut wajah Nayla terlihat menyesal.


“Kamu mau minum apa?” Gadis itu bertanya sambil menuntun Aldi ke ruang makan.


Raut wajah Aldi nampak bingung dengan tingkah Nayla, yang malah mengajaknya keluar dari dapur.


“Air biasa aja, Nay.” Aldi nampak bingung.


“Oh, ya udah, kamu duduk disini aja.” Nayla menarik kursi di meja makan, lalu menyuruh Aldi duduk disitu.


Meskipun bingung, pria itu tetap menurut dan duduk.


“Kamu tunggu disini, biar aku yang ambilin.” Nayla pun kembali masuk ke dapur untuk mengambil segelas air untuk Aldi.


Selang beberapa detik, gadis itu pun kembali kepada Aldi dan meletakkan gelas yang berisi air minum di depan pria itu.


“Tangan kamu kenapa, Nay?” Aldi memegang tangan Nayla yang lecet.


“Ahhh.” Nayla menarik tangannya dari Aldi, “nggak pa-pa, cuma luka kecil.”


“Kecil apanya? Itu udah bengkak loh, Nay… kenapa bisa seperti itu? kamu jatuh?” tanya Aldi dengan raut wajah cemas.


Nayla mengangguk, “iya tadi aku jatuh dari motor.”


“Kok bisa?”


“Tadi, waktu aku dalam perjalanan ke tempat lomba Rina, tiba-tiba ada mobil yang melanggar lampu merah. Mobil itu berbelok dan menyenggol motor aku, akhirnya seperti ini.” Jelas Nayla.


“Apa pemilik mobil itu, tanggung jawab?”


Nayla merapatkan bibirnya lalu menggeleng pelan.


“Kurang ajar banget sih.” Aldi mulai kesal, “pemilik mobil itu, pria atau wanita?”


“Pria.” Jawab Nayla.


Aldi menyeringai kesal, “pecundang sekali dia.”


“Jangan marah, Di.” Nayla menyentuh pundak Aldi yang terlihat gusar.


“Siapa yang nggak marah coba. Dia udah bikin kamu seperti ini, dan dia tidak bertanggung jawab. Dasar pengecut!” cibir Aldi lagi.


Raut wajah Nayla semakin bingung, antara menjelaskan atau tidak pada Aldi. Tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya dan juga pria itu. Pria itu bukannya tidak mau bertanggung jawab, tapi itu karena dia yang langsung pergi begitu saja, tanpa meminta pertanggung jawaban.


“Aldi…,” Nayla tampak ragu, “sebenarnya ini salah aku, aku yang langsung pergi begitu saja tanpa meminta pertanggung jawaban. Tadi pria itu, sempat turun dan bantuin aku.”

__ADS_1


Mata Aldi terbuka lebar, ketika mendengar ucapan Nayla, “Tapi, dia ngasih kamu tanda pengenal, kan?”


Nayla menggeleng.


“Nomor ponsel?”


Nayla menggeleng lagi.


Aldi menghela nafas jengah, “kamu tau ciri-ciri pria itu.”


“Dia tinggi, berjas hitam dan berkacamata hitam… terus...,” Nayla tampak berfikir lalu detik berikutnya gadis itu kembali menggeleng, “aku lupa.”


“Mobilnya warna apa?”


“Mmm.” Nayla kembali berfikir, “mungkin hitam… atau putih yah?”


Aldi kembali menghela nafas jengah dan frustasi, “bagaimana kita bisa menemukan orang itu, jika penjelasan kamu seperti ini, Nay. Jika kamu melapor ke polisi pun percuma, kamu pasti di tuduh mengarang dan disuruh pulang.”


“Maaf…,” ucap Nayla merasa frustasi, karena sifat pelupanya itu, “aku beneran nggak kepikiran tadi, tapi ya udahlah lupain aja… lagi pula, itu sudah berlalu dan aku juga baik-baik saja.”


“Baik-baik gimana, ini tangan kamu lecet banget dan sebentar lagi infeksi. Kan bahaya.” raut wajah Aldi semakin cemas, “tunggu disini!” Aldi pun beranjak dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Nayla yang masih bingun dengan apa yang akan dilakukan oleh Aldi.


Setelah pria itu benar-benar menghilang dari ruangan itu, Nayla pun kembali masuk ke dalam dapur, untuk melanjutkan proses memasaknya.


Selang beberapa menit, gadis yang sudah selesai dengan hidangan pertamanya itu tersentak ketika mendengar langkah kaki Aldi yang kembali masuk ke dalam dapur.


“Sini.” Aldi langsung menarik tangan Nayla menuju westafel.


Aldi mulai menyalakan keran air lalu mengarahkan luka Nayla di bawah air mengalir itu dan membersihkan luka gadis itu dengan pelan.


Sesekali Nayla merintih, karena merasakan perih pada lukanya.


“Tahan sedikit yah? Ini memang sakit, karena luka kamu sudah kering. Untung belum infeksi.” Aldi menatap Nayla dengan tatapan khawatir.


Setelah membersihkan luka Nayla dengan air, Aldi lalu membuka kotak p3k yang selalu dia bawa di mobilnya.


“Jadi, kamu keluar untuk mengambil ini?” Nayla menunjuk kotak itu.


“Mmmm.” Aldi hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya dari luka Nayla.


“Kan disini juga ada... Ssstt… aahhh.” ucapan Nayla terputus karena kembali meringis sakit, ketika Aldi mengoleskan salep pada lukanya.


“Maaf.” Cetus Aldi menatap Nayla khawatir, "aku akan lebih pelan-pelan lagi."


Nayla kembali mengangguk.


Setelah melewati waktu beberapa menit sekarang Aldi sudah membalut luka Nayla dengan perban.


“Sudah selesai.” Aldi pun mengangkat pandangannya pada Nayla, begitupun dengan Nayla.

__ADS_1


Nayla tersenyum kecil, “Makasih.”


Selama beberapa detik Aldi masih menatap Nayla dengan intens, “sama-sama.” ucap pria itu dengan tersenyum manis.


Perlahan senyuman Nayla berubah menjadi senyuman kaku, pasalnya pria di depannya ini masih terus menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


“Ehkeeemmm….”


Deheman keras itu berhasil menyadarkan mereka, Aldi langsung menyusun peralatannya ke dalam kotak p3k nya, sementara Nayla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Riki…,” seru Nayla ketika melihat Riki berdiri diambang pintu dapur bersama Rina.


“Tangan kak Nayla, kenapa?”


Rina langsung mendekati Nayla dengan raut wajah yang cemas, melihat tangan Nayla yang di perban.


“Nggak pa-pa kok, Rin—


“Tangannya lecet akibat jatuh dari motor…,” cetus Aldi, “selama dua hari ke depan, luka kamu nggak boleh terkena air dulu. Ok?”


Nayla mengangguk.


“Kenapa kamu bisa jatuh dari motor?” tanya Riki penasaran.


“Ka—


“Itu karena motornya di senggol mobil, ketika dalam perjalanan menuju lokasi lomba Rina.” Cetus Aldi lagi.


Nayla melipat bibirnya khawatir. Nayla tidak ingin memberi tahu kedua saudaranya tentang masalah ini, karena dia tidak ingin mereka khawatir. Tapi Aldi dengan mudahnya memberi tahu mereka yang sebenarnya.


“Maafin aku,” ucap Rina lirih dan menundukkan wajahnya karena merasa bersalah, karena dia merasa Nayla seperti ini, karena dirinya.


“Nggak kok, ini bukan salah kamu. Ini karena aku yang kurang hati-hati.” Nayla mengelus pundak Rina dan tersenyum.


"Ya sudah, kita makan sekarang! makanannya sudah masak. Aku siapin dulu.” sambung Nayla lagi, lalu beranjak menuju pantry, mengambil makanan yang sudah di masaknya tadi, untuk dihidangkan di meja makan.


“Biar aku bantu.” Rina pun mengikuti Nayla dan turut membantu.


Sementara Aldi dan Riki sudah berjalan ke meja makan lebih dulu dan mengambil duduk disana.


“Aku fikir kamu sudah pulang?” tanya Riki.


“Nayla melarang aku untuk pulang, sebelum aku makan malam bersama kalian.” Jelas Aldi.


“Alasan.” Ketus Riki.


“Kalau nggak percaya, bisa langsung ditanyakan pada yang bersangkutan.” Aldi menatap Nayla yang berjalan kearah mereka.


Riki hanya diam dengan raut wajah datarnya menatap Nayla dan Aldi bergantian.

__ADS_1


-tbc-


__ADS_2