
Sepuluh menit yang lalu, Riki baru menyelesaikan rapatnya dan sekarang pria itu terlihat melamun di dalam ruangannya seorang diri.
Pria itu sedang memikirkan kejadian semalam, dimana Nayla mengalami mimpi buruk. Jujur saja dia sedang menyalahkan dirinya sendiri atas segala hal yang sudah menimpa gadis itu.
Tok... tok... tok...
Riki terkesiap setelah mendengar suara ketukan dari pintu ruangannya. Seketika dia tersadar dari lamunannya itu.
"Masuk!" ucapnya dengan nada datarnya.
Tidak lama setelah Riki berucap seperti itu, pintu coklat itupun terbuka.
Pria itu mengerutkan dahinya heran ketika melihat sosok Jojo yang masuk ke dalam dan berjalan kearahnya dengan raut wajah seperti biasa, selalu judes. Riki penasaran dengan tujuan gadis itu kesini. Ini adalah pertama kalinya dia kesini.
Namun rasa penasarannya itu terbayar, ketika melihat sebuah rantang biru tergantung di tangan kirinya, pasti yang memintanya kesini adalah Nayla.
"Kenapa kamu yang anter?"
"Nayla lagi sibuk." ketusnya sembari meletakkan rantang itu di atas meja kerja Riki.
"Kalau begitu saya permisi." pamitnya lalu berbalik hendak pergi, namun Riki mencegatnya.
"Jangan pergi dulu!"
Riki sengaja menahan gadis itu, karena dia ingin memastikan sesuatu darinya.
Sementara Jojo tampak bingung dengan Riki yang tiba-tiba menahannya, biasanya pria sombong itu tidak betah berlama-lama dengannya, begitupun sebaliknya.
"Ada apa?" Jojo kembali berbalik menatap Riki.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan?" Raut wajah Riki tampak serius.
"Apa?"
"Kita bicara disana." Riki menunjuk sofa di depannya lalu bangkit dari duduknya.
"Disini saja." ketus gadis itu enggan untuk beranjak ke sofa.
Riki menghela nafas jengah, "aku tidak sedang bercanda. Aku ingin bertanya serius." Riki pun beranjak menuju sofa singel.
Jojo terkesiap ketika melihat raut wajah Riki yang sangat serius. Ini adalah pertama kalinya dia melihat raut wajah Riki seperti itu, apa mungkin dia beneran serius. Tapi apa yang ingin dia tanyakan.
Jojo pun ikut beranjak dan duduk di sofa depan Riki.
"Kamu ingin bertanya tentang apa?" Cetus Jojo ketika baru saja duduk.
"Sejauh mana kamu mengenal Nayla?"
Manik hitam Riki menatap jauh ke dalam manik coklat gadis itu.
Jojo membenarkan posisi kacamatanya terlebih dulu, sebelum menjawab pertanyaan Riki.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? apa kamu meragukannya lagi. Dan-
"Bukan itu." Sergah Riki cepat.
"Lalu apa?"
"Kamu adalah sahabatnya dan kamu pasti tau sedikit tentang kehidupannya di masa lalu?"
"Kenapa kamu tidak bertanya langsung padanya?" ucap Jojo acuh.
"Menurutmu, apa dia mau menceritakan semuanya?" Riki mengangkat sebelah alisnya.
Jojo menghela nafas membenarkan asumsi Riki, Nayla adalah tipe orang yang tidak akan menceritakan kesedihannya pada orang lain, terlebih lagi pada pria di depannya ini.
"Yang mana yang ingin kamu ketahui... apa kamu penasaran dengan kehidupan dia yang nampak selalu ceria namun nyatanya dia adalah gadis yang sangat menyedihkan, iya?"
Leher Riki tercekat mendengar perkataan Jojo. Riki memang pria yang terlihat dingin dan juga misterius, tapi tidak banyak yang mengetahui jika pria itu memiliki hati yang lembut dan ketika dia mendengar pernyataan Jojo yang menyatakan jika Nayla gadis ceria namun menyedihkan adalah hal yang membuat hatinya terenyuh.
__ADS_1
Riki mengakui jika gadis itu memang memiliki kepribadian yang cerah dan selalu ceria, tapi siapa sangka dibalik keceriaannya itu tersimpan kesedihan yang mendalam, terlebih saat Riki menyaksikan sendiri bagaimana tersiksanya Nayla ketika mengalami mimpi buruk.
"Semuanya." jawab Riki menatap nanar Jojo.
"Nayla tidak pernah merasakan kebahagiaan selama hidupnya, kecuali saat bersama keluarga kamu."
"Apa maksud kamu? papahnya sangat menyayanginya dan pasti membahagiakannya." Riki berucap heran.
"Tidak pernah sekalipun... malah sebaliknya."
Riki kembali tercengang, "Apa maksud kamu?"
Jojo menghela nafas ringan seketika raut wajahnya berubah sendu, saat ingin menceritakan bagaimana kisah hidup sahabatnya yang selalu membuatnya bangga sekaligus simpatik.
Pasalnya, saat pertama kali Jojo mengenal Nayla, dia adalah gadis yang tangguh dan kuat menurut Jojo. Karena pertemuan pertama Jojo dan Nayla adalah ketika Nayla menyelamatkan Jojo dari pembulian.
Jojo yang selalu berpenampilan culun dan pendiam selalu menjadi bahan pembulian oleh sekelompok geng yang terdiri dari 5 wanita dan Nayla melawan serta mengalahkan mereka, seorang diri dengan tangan kosong.
Tapi setelah mengetahui sedikit rentetan penderitaan yang didapatkannya dari orang tua satu-satunya, membuat hati Jojo teriris sakit. Bagaimana cara Nayla mempertahankan senyuman cerahnya hingga detik ini.
Air mata Jojo pun lolos begitu saja ketika mengingat cerita hidup Nayla. Jika dengan cerita saja dia bisa sepilu ini, bagaimana lagi ketika dia menyaksikan penderitaan Nayla secara langsung.
Sementara Riki yang melihat Jojo yang sangat sedih pun semakin bingung sekaligus penasaran.
"Kenapa kamu diam?" tanya Riki, "Apa ini ada hubungannya dengan mimpi buruk Nayla?"
Jojo termangu mendengar pertanyaan Riki. "Kamu melihat Nayla bermimpi buruk?" Jojo mengusap air matanya.
Riki mengangguk.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Jojo.
Riki terlihat resah, "Dia menangis kesakitan, berteriak memohon dan meminta maaf."
Air mata Jojo mengalir lagi, "ternyata dia masih mengalami mimpi itu."
"Nayla menangis karena selalu mendapat pukulan dan siksaan dari papahnya." Bibir Jojo bergetar.
"Dia berteriak memohon karena papahnya mencoba untuk membunuh pembantu yang selalu merawat dan melindunginya..." Suaranya semakin lirih.
"Dan...." Jojo pun kembali terisak.
"Dan apa? Dan apa, Jo?" Riki terlihat menuntut dengan raut wajah yang juga sudah berkaca-kaca.
"Dan... dia meminta maaf, karena...." leher Jojo tercekat. "... dia minta maaf karena sudah terlahir sebagai anak yang membunuh ibunya."
Seketika Riki syok mendengar hal itu, tanpa sadar mulutnya menganga karena tidak habis fikir dengan apa yang sudah Nayla rasakan.
Dia juga tidak menyangka jika Papah Romi bisa setega itu melakukan hal kejam pada Nayla, yang Riki ketahui, jika Papah Romi sangatlah baik dan lembut padanya dan juga sangat menyayangi Nayla, itulah yang Riki simpulkan ketika dia melihat langsung interaksi antara Nayla dan Papah Romi. Namun, siapa yang menyangka hidup Nayla bisa setragis ini.
Sementara Jojo yang sudah menenangkan dirinya pun kembali menatap Riki.
"Jadi, aku mohon sama kamu, agar kamu bisa berbuat baik sama dia. Dia sudah cukup menderita selama ini, tapi dia dengan sifat lembutnya selalu bersikap baik sama kamu dan dia selalu berharap, kamu juga bisa baik sama dia... karena hanya keluarga kamulah keluarganya yang sebenarnya, tempatnya mendapat kasih sayang dan perlindungan...." Tandas Jojo lalu beranjak dari ruangan Riki.
Riki masih termenung dengan rasa kasihan bercampur rasa bersalah. Dia menyesali masa lalunya, kenapa ketika dirinya sedang menunggu Nayla di Bandara, dia tidak membeli tiket untuk menyusul dan menjemput gadis itu. Kenapa?
Dada Riki semakin sesak, pelupuk matanya sudah dipenuhi genangan air mata dan detik berikutnya pria itu pun menangis. Dia menjadi pria yang lemah dan juga cengeng saat ini.
"Apa yang terjadi, Rik?"
Aldi yang baru saja masuk ke dalam ruangan Riki merasa heran ketika melihat sahabatnya menangis.
Aldi tidak pernah melihat Riki menangis sepilu ini, apa yang Jojo katakan pada Riki hingga membuat atasannya seperti ini?
Bukan tanpa alasan Aldi berasumsi seperti itu, pasalnya tadi dia sempat bertemu dengan Jojo saat dilift tadi, dan wajah gadis itu terlihat sembab, matanya juga basah bekas air mata.
"Apa yang terjadi, Rik?" Aldi bertanya sekali lagi, namun pria itu hanya diam lalu beranjak dari kursinya menuju toilet.
:)
__ADS_1
Nayla terlihat bersiap untuk tidur setelah melakukan sedikit ritual di kamar mandi dan mematikan lampu utama kamarnya, sekarang kamar itu hanya diterangi oleh lampu tidur dengan pencahayaan yang redup.
Gadis itupun beranjak menuju kasurnya lalu berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Namun, belum sempat dia memejamkan matanya tiba-tiba saja,
Drrttttt....
Ponselnya yang ada di atas nakas pun bergetar.
Tangannya pun terulur untuk meraih benda pipih itu dan melihat sebuah pesan chat dari Riki.
Nayla berkerut heran setelah membaca pesan itu, kenapa Riki datang larut malam begini? apa dia akan menginap lagi? tapi kan, orang tuanya sudah kembali. Tapi tidak ada salahnya sih, dia datang, ini kan rumahnya juga.
Gadis itupun menyingkap selimutnya, lalu berjalan ke lantai bawah untuk membukakan Riki pintu, karena memang pembantu dan supir masih cuti.
"Nay...."
Tubuh Nayla terhuyung ke belakang saat dia baru saja membuka pintu utama dan Riki langsung memeluknya.
Riki memeluk Nayla sangat erat dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Nayla.
"Ada apa, Ki?" Nayla bertanya heran, "apa ada masalah?" sambungnya lagi.
Riki hanya menggelengkan kepalanya pelan dalam pelukan Nayla. Pria itu tidak ingin melepaskan pelukannya, saat ini dia masih diliputi rasa bersalah dan sedih dan kembali terisak.
Nayla yang mendengar isakan Riki pun semakin bingung, dengan susah payah gadis itu mendorong tubuh Riki agar terlepas dari pelukannya.
Nayla tercengang melihat wajah sembab pria itu dan refleks gadis itu mengusap air mata sisa dipipi Riki.
"Kamu ada masalah apa, Ki... kenapa kamu nangis?"
Riki tak menjawab pertanyaan gadis yang terlihat cemas di depannya ini, dia hanya menatap wajah Nayla dengan intens. Riki kembali teringat saat pertama kali Nayla kembali ke rumah ini, badannya sangat kurus seperti tak terawat dan wajahnya pucat pasi, dan sekarang sudah berbeda.
"Ki... Riki!" Nayla kembali berseru sambil memukul lengan Riki yang sedang melamun.
"Ayo masuk." Nayla menuntun Riki ke dalam rumah dan duduk di ruang makan.
Nayla pun mengambil segelas air untuk Riki, sementara pria itu masih fokus menatap Nayla.
"Di minum, Ki." Nayla meletakkan segelas air di depan Riki.
Riki tersenyum pada Nayla, "makasih."
Nayla mengangguk.
"Kamu kenapa nangis, Ki?" Nayla kembali bertanya setelah Riki menyelesaikan minumnya.
"Aku nggak nangis." alasannya.
"Lalu?"
"Aku hanya meneteskan air mata."
Nayla menghela nafas jengah, "aku lagi serius, Ki. Jangan bercanda deh."
"Siapa juga yang bercanda... tadi mata aku kelilipan dan rasanya perih, makanya aku langsung meluk kamu tadi." bohongnya.
"Yakin?" Nayla memicingkan matanya.
"Iya...," jawabnya, "Eh, Nay... buatin makanan dong, laper nih." Riki mengusap perutnya.
Nayla kembali menghela nafas, "tujuan kamu kesini, cuma untuk makan kan?"
"thats right." Riki mengacungkan jempolnya.
"Ya udah, aku bikin nasi goreng dulu." Nayla pun beranjak menuju dapur.
...Happy Reading ❤...
__ADS_1