Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 32


__ADS_3

Nayla tiba di studionya saat waktu sudah siang. Gadis itu memang sengaja datang terlambat, karena hari ini dia tidak memiliki jadwal pemotretan dan lagipula dia juga harus merapikan rumahnya terlebih dahulu.


Nayla berjalan masuk ke dalam studionya dengan menenteng rantang bersusun berwarna biru pastel. Sebenarnya, niat awal gadis ini adalah mengantarkan benda yang berisi makanan itu ke kantor Riki, tapi karena asistennya menelfon dan memintanya untuk segera ke studio, akhirnya rencananya pun batal.


"Kenapa kamu minta aku, untuk datang buru-buru?"


Nayla bertanya pada Jojo, ketika mereka bertemu di set studio.


"Ada klien yang nungguin kamu dari tadi." cetus Jojo yang masih sibuk dengan pekerjaannya dan tidak menoleh pada Nayla.


"Klien?" Nayla bingung.


"Iya?"


"Masalah klien, kan harusnya ke Sandi bukan ke aku." Nayla berkerut heran.


Jojo menghentikan aktivitasnya lalu mendekati Nayla, "Di Sandi udah selesai. Sekarang dia nungguin kamu, dia pengen banget ketemu sama kamu dan katanya kalian saling kenal."


Nayla menyipitkan matanya, "Saling kenal?"


Jojo menghela nafas frustrasi, "nggak usah banyak tanya deh, Nay. Kamu naik aja ke ruangan kamu. Temui dia, tanya apa keperluannya sehingga dia nungguin kamu dan meminta bertemu... Udah buruan temui dia, dia udah nunggu dari tadi, kamu nggak mau kan, kejadiannya seperti kemarin terulang lagi?" Jojo mengingatkan.


Nayla terkesiap mendengar ucapan Jojo, dia kembali bergidik mengingat amukan kliennya kemarin.


"Ya udah, nih." Nayla menyerahkan rantang itu pada asistennya.


"Ini apa?" Jojo bingung.


"Itu makanan, tolong kamu antar ke kantor Riki." Dengan cepat Nayla pun melangkahkan kakinya menuju ruangannya di lantai dua.


Jojo masih bingung, "Kenapa harus aku, Nay?" tanyanya setengah berteriak.


"Karena kamu adalah orang yang paling baik dan suka menolong." Nayla memuji sahabatnya lalu menghilang dari balik pintu ruangannya.


"Aku sudah berubah," balas Jojo dengan raut wajah frustasinya.


Kenapa harus dia yang pergi, dia tidak ingin ke kantor Riki, pasti disana dia akan bertemu dengan Aldi.


Ingin sekali rasanya dia membuang benda yang berada dalam dekapannya itu masuk ke dalam tempat sampah, dan mengatakan pada Nayla, jika dia sudah mengantarnya.


Namun entah kenapa, dia sangat berat untuk meakukannya. Apa karena ini adalah permintaan sahabatnya, yang sudah sangat baik dan berjasa pada hidupnya.


Akhirnya dengan langkah berat diapun berjalan keluar studio lalu mengendarai motornya menuju kantor Riki.


:)


Nayla yang masih berdiri di depan pintu, mengerutkan dahi heran ketika melihat seorang wanita yang berada di dalam ruangannya tengah berjalan-jalan sambil memperhatikan setiap sudut yang ada di dalam ruang kerjanya.


Nayla tampak tidak asing dengan wajah wanita yang belum menyadari kedatangannya itu, tapi dia juga sedikit bingung, tentang dimana dia pernah melihatnya.


"Maaf...."


Nayla berseru membuat wanita berperawakan mungil itu menoleh padanya.

__ADS_1


"Hai...," wanita itu tersenyum ramah saat melihat Nayla lalu berjalan mendekatinya.


Nayla semakin mengerutkan dahinya ketika wanita itu sudah berdiri tepat di depannya dan masih tersenyum. Otaknya bekerja keras mengingat siapa wanita itu, apa mungkin dia klien lamanya atau teman lamanya? Nayla takut salah tebak hingga membuat wanita itu kecewa. Pasalnya Nayla sangat sulit mengingat wajah orang yang tidak begitu sering dijumpainya.


"Kenapa kamu diam?" tanya gadis itu.


Tubuh Nayla terkesiap, "Ahhh,, ayo silahkan duduk."


Nayla pun menggiring gadis itu, kearah kursi dan mempersilahkannya untuk duduk lalu diapun berjalan mengitari meja dan duduk di kursi kerjanya.


"Wah, aku nggak nyangka, ternyata kamu sangat berprestasi dan hasil foto kamu juga sangat estetik." wanita itu kembali berseru memuji hasil karya sambil melihat beberapa penghargaan yang berada di ruang kerja Nayla.


Nayla berdehem canggung, pasalnya dia benar-benar tidak mengenali gadis ini, tapi kenapa sikapnya seolah-olah mereka sudah saling mengenal satu sama lain, tapi Nayla tetap berusaha santai dan ramah karena dia adalah kliennya.


"Terima kasih... ini bukanlah suatu prestasi yang harus di bangga-banggakan." ucap Nayla merendah.


"Jangan merendah." ucap gadis itu.


Nayla hanya tersenyum kikuk mendengar ucapannya, jujur saja Nayla tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Meskipun Nayla adalah gadis yang ramah, tapi tetap saja dia akan merasa canggung dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya.


"Sepertinya kamu tidak mengenaliku."


"Mmm?" Nayla terperangah mendengar pernyataannya.


Gadis itu tersenyum, "pasti kamu tidak nyaman?... perkenalkan, namaku Yuki." Yuki mengulurkan tangannya dan Nayla menyambut dalaman itu.


"Nayla...," jawabnya.


"Kamu ingat, gadis yang berdiri di depan apartemen Riki malam itu?..."


"Itu aku." cetus Yuki.


"Ahhhh,, aku ingat sekarang." Nayla berseru setelah mengingatnya, "Maaf yah, malam itu aku tidak mempersilahkan kamu untuk masuk... pasti waktu itu, kamu sudah lama menunggu Riki?"


"Tiga jam."


Nayla terbelalak, "tiga jam?"


Yuki mengangguk.


"Kamu pasti capek banget, nungguin Riki sambil berdiri." Nayla bersimpati.


"Nggak pa-pa kok Nay, aku pantas mendapatkannya."


Nayla kembali berkerut heran, "Maksud kamu?"


Yuki menghela nafas dengan raut wajahnya yang tiba-tiba terlihat sedih, "Riki benci banget sama aku, Nay. Dia tidak ingin aku mengganggu hidupnya lagi."


"Tunggu tunggu... aku bukan tipe yang pandai dalam memahami teori. Jadi, tolong jelaskan secara pelan-pelan, biar aku bisa paham tentang masalah kamu."


Yuki menghela nafasnya pelan, sebelum menjelaskan tentang hubungannya dengan Riki.


Yuki adalah gadis pindahan di SMA Riki. Gadis itu tertarik dengan Riki dan mulai mendekatinya hingga akhirnya Riki yang saat itu berkepribadian dingin akhirnya luluh pada Yuki.

__ADS_1


Mereka menjalin hubungan, ketika mereka menginjak kelas tiga SMA hingga mereka berkuliah.


Tapi, baru saja Yuki menyelesaikan semester awal perkuliahan, gadis itu pergi meninggalkan Riki tanpa pria itu ketahui dan Yuki kembali datang setelah beberapa tahun untuk kembali lagi pada Riki.


Nayla menghela nafas kesal, setelah mendengar cerita Yuki. menurutnya gadis ini sangatlah tidak tahu diri. bisa-bisanya dia berharap Riki kembali kepadanya setelah meninggalkannya begitu saja, padahal dia masih sangat mencintai Riki.


Jadi inilah alasannya, kenapa malam itu Riki menatap Yuki penuh kebencian. Ternyata mereka adalah sepasang kekasih.


"Ini memang salah aku. Tapi aku tidak punya pilihan lain saat itu selain pergi." ucapnya lagi dengan lirih.


"Harusnya kamu menjelaskan alasan kamu pada Riki, bukan sama aku." cetus Nayla.


"Aku sudah mencoba, Nay. tapi tidak berhasil. Dia selalu menghindari aku."


"Jadi... maksud kamu?"


Nayla merasa sudah mengetahui kemana arah pembicaraan gadis ini.


"Iya Nay, aku minta tolong sama kamu agar aku bisa bicara dengan Riki, dan menjelaskan semuanya." wajah Yuki terlihat memelas.


"Aku tidak yakin, bisa melakukannya." tandas Nayla.


"Aku mohon, Nay." Yuki menggenggam tangan Nayla, "aku merasa sangat bersalah."


Nayla melepaskan tangannya dari genggaman Yuki, "kenapa kamu meminta hal ini, sama aku?" Nayla bingung.


"Karena kamu saudara dan dekat dengan Riki."


"Aku memang dekat sama dia, tapi-


Yuki kembali meraih tangan Nayla dengan raut wajah yang sangat memohon.


"Aku tau Riki masih sangat mencintai aku, hanya saja dia pria yang lebih mengutamakan logika dibandingkan perasaannya... jadi aku mohon, Nay tolong bantu aku... aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi."


Nayla menghela nafas. Wajahnya tampak ragu apakah dia harus membantu Yuki atau tidak. tapi dia juga tidak tega melihatnya terus menerus memohon seperti ini.


"Akan ku coba." cetus Nayla.


Raut wajah Yuki langsung berbinar, setelah mendengar ucapan Nayla.


"Makasih banyak, Nay... kamu memang sangat baik."


"Jangan terlalu berharap sama aku. Aku tidak yakin bisa meyakinkan Riki." cetus Nayla.


"Nggak pa-pa, Nay. Apapun hasilnya aku akan menghargai setiap usaha kamu. tapi aku yakin, jika Riki pasti akan menuruti kamu. Kalian kan saudara."


Nayla kembali diselimuti rasa penasaran, kenapa gadis ini bisa tahu, jika dia dan Riki bersaudara. Jika Riki yang memberitahunya, rasanya tidak mungkin, mengingat Riki tidak pernah menganggapnya saudara waktu itu.


"Berteman?"


Yuki kembali mengulurkan tangannya pada Nayla dan tersenyum ramah. Beberapa detik Nayla tampak berfikir, setelah itu, diapun membalas salamannya.


"Berteman." ucap Nayla juga tersenyum.

__ADS_1


Meskipun Yuki adalah orang asing yang baru dikenalnya, tapi Nayla yakin jika gadis ini adalah gadis yang baik.


...Happy Reading ❤...


__ADS_2