
"Riki!!!"
Yuki langsung berlari masuk ke dalam kamar Riki dan duduk di sisi pria itu.
"Apa yang sakit, Ki?" Yuki memijit lengan Riki penuh perhatian.
"Aku baik-baik saja." Riki berucap lemah.
"Kamu nggak bisa bohongin aku, aku udah kenal sama kamu... yang mana yang sakit? kepala kamu? perut atau dada kamu? yang mana?"
Yuki masih menunjukkan kekhawatirannya pada Riki.
Sementara Nayla yang masih berdiri di ambang pintu kamar Riki pun enggan melangkah masuk.
"Aku akan ke dapur, untuk memasak makanan buat kamu," ucap Nayla.
"Eh Nay—" Riki mencoba bangkit untuk menahan Nayla, namun sayang gadis itu sudah menghilang.
"Jangan bergerak dulu Ki! kamu masih belum sehat." Yuki kembali membenarkan posisi tidur Riki.
"Kenapa kamu bisa datang bersama Nayla?"
"Tadi aku lagi ada pemotretan di studio Nayla, dan saat kamu menelfonnya, aku ada di dekat dia. Makanya aku bersikeras untuk ikut, karena aku khawatir banget." Jelas Yuki.
"Kamu nggak perlu repot untuk—Ukkk....
Riki langsung bangkit dari pembaringannya, dan dengan langkah gontai pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan kembali muntah.
OWEKKK!!!
OWEKKK!!!
Yuki juga ikut masuk ke dalam kamar mandi dan menepuk punggung Riki dengan lembut, setelah pria itu berhenti muntah, Yuki kembali keluar.
Riki terduduk lemas di samping kloset. Perut dan tenggorokannya sudah sangat sakit, karena sudah hampir tiga jam dia terus menerus muntah.
"Di minum dulu, Ki." Yuki menyodorkan gelas yang berisi air hangat untuk Riki lalu meminumnya.
Yuki membantu Riki berdiri, memapahnya keluar dari kamar mandi lalu kembali membaringkannya di kasur.
Yuki kembali duduk di sisi kepala Riki lalu memijit pelan kepala pria itu.
"Aku dengar dari Nayla, kalau ternyata waktu itu kalian menginap di pantai... kamu itu memang cari penyakit yah, Ki. kamu udah tahu kalau kamu itu mabuk laut, masih aja pergi." celoteh Yuki.
Riki menghela nafas lemah, lalu memejamkan matanya, "aku kira, mabuk laut aku udah hilang."
"Mana ada mabuk laut bisa hilang. Kamu itu sengaja uji nyali yah?"
"Bukan urusan kamu." Riki berucap dengan mata yang terpejam.
"Kamu jahat banget sih, Ki. Aku tuh khawatir banget tau sama kamu, tapi respon kamu malah kayak gini ke aku."
Wajah Yuki mulai sendu. "Aku terluka Ki. aku nggak bisa liat kamu kayak gini terus sama aku, tapi sepertinya kamu memang sengaja untuk nyakitin aku... ok, aku sadar diri kok, aku memang pantas mendapatkan perlakuan buruk dari kamu, karena kamu masih dendam kan sama aku."
Sejak tadi Riki hanya mampu menghela nafas, mendengar setiap perkataan dari wanita itu.
"Maaf kalau kedatangan aku hanya mengganggu, aku pergi sekarang—"
Riki menahan tangan Yuki saat gadis itu hendak beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Jangan pergi!" Mata Riki terbuka pelan menatap wajah Yuki tepat di atasnya.
"Aku minta maaf, jika sikap aku menyakiti kamu." Mereka masih beradu tatap. Manik hitam milik Riki menembus manik hitam Yuki selama beberapa detik.
"Aku kangen sama kamu, Ki," lirih Yuki.
Tatapan Riki berubah gelap menatap wajah cantik Yuki dari bawah, perlahan-lahan tangan Riki terulur dan menarik tengkuk gadis itu ke bawah hingga bibir mereka menyatu.
Nayla membulatkan matanya, tercengang ketika hendak masuk ke dalam kamar Riki untuk membawakannya semangkuk bubur.
Gadis itu segera berbalik, tidak ingin melihat aksi keduanya. Karena tidak ingin ketahuan, dia kembali beranjak menuju dapur.
Nayla meletakkan baki kecil ke atas meja makan. Gadis itu terduduk lemas di kursi. Kenapa hatinya sangat sedih melihat Riki ciuman dengan Yuki? Setelah dia berhasil membantu Yuki untuk dekat dengan Riki, kenapa tiba-tiba hatinya tidak rela jika pria itu bersama dengan Yuki. Apa Nayla cemburu melihat kedekatan pria itu dengan wanita lain.
Nayla mengusap air matanya yang menetes. Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah menjadi wanita yang posesive seperti ini? Riki adalah saudaranya sementara Yuki adalah mantan kekasih Riki, dan seperti yang Nayla lihat tadi, sepertinya Riki masih memiliki rasa kepada Yuki. Lalu kenapa dia sedih? Kenapa dia menangis? Dasar bodoh!"
"Nay...!"
Buru-buru Nayla menghapus air matanya saat mendengar suara Yuki yang berjalan mendekatinya.
"Ada apa?"
Yuki mengambil duduk di depan Nayla, "makannya udah masak?"
Nayla mengangguk, menatap bubur di depannya.
"Kamu masak bubur?"
"Iya."
"Ya ampun, Nay. Makanan yang cocok untuk orang yang mabuk laut itu, adalah sup hangat. biar mualnya hilang."
"Nggak usah Nay...."
Nayla menoleh pada Yuki, menatap gadis itu heran.
Yuki juga bangkit dari duduknya, "biar aku aja yang masak sup untuk Riki...." gadis itu berdiri tepat di depan Nayla.
"Kamu bisa pergi sekarang... bukannya kamu masih ada kerjaan yang penting, untuk kamu kerjakan di studio?"
Yuki berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa jenis sayuran sebagai bahan untuk membuat sup.
Nayla masih bergeming menatap Yuki. "ya udah, aku akan balik ke studio. Aku mau temui Riki dulu." gadis itu pun berbalik hendak pergi.
"Jangan Nay!" cegat Yuki.
Nayla menoleh lagi, memicingkan mata pada gadis itu.
"Dia baru aja istirahat, Nay. Takutnya, kalau kamu ganggu, mualnya kambuh lagi." Yuki terlihat ragu menatap Nayla.
"Memangnya tubuh aku bau yah, yang membuat Riki mual ketika aku mengganggunya." Nayla mulai kesal.
"Bukan begitu, Nay—"
"Iya aku tau!" Nayla menyela, kesal. "Aku pergi sekarang!" Gadis itu melangkahkan kakinya dengan kesal meninggalkan apartemen Riki.
Nayla menghela napas berat sesaat setelah dia berada di depan gedung apartemen itu.
"Nggak tau diri banget sih!" Nayla mulai menggerutu, kesal.
__ADS_1
"Iya, aku nggak akan gangguin kalian! nggak akan!" Nayla mulai berteriak ke arah gedung itu, bermaksud meneriaki Riki dan Yuki. Tapi apa mereka dengar, tentu saja tidak.
"Kamu berteriak pada siapa?"
Nayla terkejut dan langsung menoleh pada sumber suara yang ternyata adalah Denis.
Lagi-lagi gadis itu mendengus kesal, saat mendapati pria itu lagi.
"Kamu ngapain disini?" ketus Nayla.
"Kamu yang ngapain disini?" pria itu bertanya balik.
"Ini tempat umum, semua orang berhak ada di tempat ini." jawab Nayla, ketus.
"Begitu juga dengan aku."
Nayla memutar bola mata jengah, lalu beranjak meninggalkan pria menyebalkan itu, tapi tangan pria itu menarik tangannya, bermaksud untuk mencegatnya.
"Mau apa?"
"Mau makan."
Dahi Nayla berkerut heran, "aku bukan ibu kamu. Jadi jangan minta makan sama aku."
Denis terkekeh pelan, "kamu itu masih muda, nggak cocok jadi mamah aku."
"terus?" Nayla heran.
"Cocoknya jadi ibu dari anak-anak aku." cetus Denis lagi.
"Maaf aku bukan pengasuh, yang akan merawat anak-anak kamu."
Tawa Denis meledak mendengar ucapan polos Nayla. Gadis ini benar-benar unik menurut Denis dan itu yang membuatnya tertarik.
"Siapa bilang kamu akan jadi pengasuh anak-anak aku. Maksud aku itu, kamu cocoknya jadi istri aku, dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti."
Nayla bergidik ngeri mendengar pengakuan tiba-tiba pria itu. "Kamu gila! aku mau pergi—"
Sebelum Nayla beranjak meninggalkan Denis, pria itu lebih dulu menarik Nayla pergi menuju mobilnya.
Denis membuka pintu mobilnya, "Masuk!" pintanya.
"Kamu mau bawa aku kemana?" Nayla semakin heran.
"Ke KUA."
"Nggak mau!" Nayla menarik tangannya dengan keras.
Denis tersenyum lebar lagi, dia benar-benar suka menggoda gadis ini.
"Nggak! aku bercanda. KUA udah tutup jam segini, jadi kita ke restoran dulu untuk makan."
Nayla manggut-manggut paham.
Dengan gerakan cepat Denis kembali menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam mobilnya, lalu menutupnya. Pria berparas bule itu kembali tersenyum sebelum akhirnya dia mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.
Nayla bukannya murahan, yang mau-mau saja diajak oleh pria asing, tapi karena saat ini dia sedang kelaparan dan perasaannya juga dalam kondisi tidak baik, jadi yah. Lumayan.
...*Happy Reading*❤...
__ADS_1