Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 39


__ADS_3

Klik...


Klik...


Nayla sedang sibuk melakukan pemotretan iklan tas branded milik Yuki di studionya. Ruangan persegi itu tampak penuh oleh kru yang berperan penting dalam pemotretan tersebut, seperti fashion stylish, hair stylish dan make up artis dan juga beberapa orang model.


"Tasnya di miringin ke kanan sedikit dong, agar nama brandnya terlihat lebih tershoot lagi...."


Nayla berkomunikasi sambil terus memotret sang model, setelah sang model tersebut melakukan apa yang diarahkannya, gadis itu pun mengangkat jempol tanda menyukai pose sang model.


"Tatapannya bisa lebih ditajamin lagi ke kamera. Ok."


Klik...


Klik...


Nayla masih fokus membidik, namun tiba-tiba saja tubuhnya tertarik ke belakang dan


Plakkk...


Tubuh Nayla hilang keseimbangan lalu terjatuh di lantai akibat tamparan keras dari seorang wanita yang tiba-tiba menariknya itu.


"Yura...." Nayla mendongak menatap wanita yang menamparnya.


Semua orang yang ada diruangan itu terkejut dan bergeming mencoba menelaah situasi yang tengah terjadi.


"Dasar kurang ajar! Wanita sialan...."


Yura berkata kasar lalu mendekati Nayla dan kembali ingin melayangkan tamparannya, namun dengan sigap Jojo mendorong tubuh Yura dengan keras hingga terhuyung ke belakang, hampir terjatuh.


"Kamu nggak pa-pa?" Jojo membantu Nayla bangkit dari lantai dan gadis itu hanya mengangguk.


"Sialan!!!" Yura kembali melangkah untuk menyerang Jojo yang mendorongnya namun lagi-lagi tubuhnya ditahan oleh Yuki.


"Lepaskan saya!!" Yura menatap tajam Yuki.


"Apa yang sedang anda lakukan? Silahkan keluar sekarang!" Yuki berteriak geram.


"Saya tidak punya urusan dengan, Anda!" ucapnya penuh penekanan. "Lepaskan!" Yura mendorong tubuh Yuki yang menahannya lalu kembali melangkah mendekati Nayla dengan marah, tangannya berayun lagi di udara bersiap untuk mendarat di wajah Nayla. Namun...


Plaakkkk....


Plaakkkk...


Nayla lebih dulu menampar wajah Yura kiri dan kanan. Sorot mata Yura seketika berkilat marah.


"Kurang ajar!!" Yura dengan geram langsung menarik rambut Nayla dan menjambaknya.


Nayla yang terkejut berusaha melepaskan cengkraman tangan Yura namun gagal karena terlalu kuat, akhirnya Nayla pun ikut meraih rambut Yura yang terurai dan menariknya lebih keras.


"Dasar wanita murahan, gara-gara lo Riki mutusin gue...."


"Jaga ucapan kamu. Kamu yang murahan, kamu berselingkuh di apartemen Riki. Dasar pelacur!" Nayla tak kalah geram.


"Ohh, jadi elo yang memberitahu Riki tentang perselingkuhan gue di kamarnya... Pantesan aja dia tau. Dasar jalang... Terima ini." Yura menarik lebih keras kunciran kuda Nayla.


"Akhhh!!" pekik Nayla, "Aku nggak pernah mengadukannya pada Riki, tapi aku mengadukannya pada Aldi. Dasar Jalang!"


"Sama aja bego!" Yura kembali menarik anak rambut Nayla.


"Akhhh...." Nayla juga membalasnya, menarik rambut Yura sedikit hingga putus.


"Akhhh." Yura memekik lebih keras dan melihat helaian rambutnya yang rontok dalam genggaman Nayla, "rambut gue." keluhnya lalu kembali menarik dengan keras rambut Nayla.

__ADS_1


"Akhhhh..."


"Akhhhh..."


Dalam ruangan itu hanya terdengar suara perdebatan dan pekikan keduanya, membuat semua orang semakin bingung dalam memisahkan mereka berdua. Jojo dan Yuki menarik tubuh Nayla, dua dari karyawan wanita Nayla menarik tubuh Yura, selebihnya ada yang menonton dan ada yang merekam video.


Mereka yang sedang berjuang memisahkan sangat kesulitan karena cengkaraman keduanya sangat kuat, setelah mereka berhasil dipisahkan tangan Nayla kembali meraup wajah mulus Yura dan mencakarnya hingga meninggalkan bekas cakaran yang cukup dalam.


"Ahhh...," rintih Yura lalu mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Nayla, namun gagal karena kedua karyawan Nayla sudah membawa Yura keluar dari studio.


"Silahkan Anda pergi dari sini! Kalau tidak, kami akan memanggil pihak yang berwajib untuk mengusir Anda!" tandas karyawan cowok Nayla lalu kembali masuk dan menutup pintu.


Setelah kepergian Yura, pemotretan kembali berlangsung hingga selesai.


"Gimana keadaan kamu?"


Nayla yang sedang memijit kepala di ruangannya pun menoleh kearah pintu. Sosok Yuki berjalan mendekatinya.


"Kepala aku masih sakit... Yura menarik rambut aku sangat keras." Nayla masih memencet pelan kepalanya.


"Pipi kamu gimana? masih sakit?" Yuki melirik pipi Nayla yang terkena tamparan tadi.


"Masih sih, tapi udah agak mendingan dibanding tadi," cetus Nayla lagi.


"Syukurlah."


"Kamu belum pulang?" Nayla bertanya heran, pasalnya semua kru yang datang bersama Yuki sudah meninggalkan studionya, yang tersisa hanyalah karyawannya di set pemotretan sedang berberes.


"Aku khawatir sama keadaan kamu." Yuki jelas berbohong.


"Aku nggak pa-pa kok. Beneran." Nayla meyakinkan.


"Iya tapi tetap saja," ucap Yuki, "by the way, cewek yang datang tadi, siapa sih?" tanya Yuki penasaran.


"Yura?"


"Ngga tau juga sih, dia masih pacarnya Riki atau mantannya Riki." Nayla mengedikkan bahu, "tapi kayanya dia udah jadi mantan deh, soalnya tadi dia datang ngamuk-ngamuk, nuduh aku yang jadi penyebab Riki mutusin dia. Itu artinya mereka udah putus."


"Seleranya Riki kok kayak gitu, sih?"


Nayla menggelengkan kepalanya pelan tanda tidak tahu.


Drrrtttttt...


Drrrtttttt...


Nayla meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya lalu mengangkat panggilan telefon dari Riki.


"Halo Ki...."


"Nay... aku lagi nggak enak badan... kamu ke apartemen aku yah?" Pinta Riki dari balik telefon dengan suara yang terdengar lemah.


Yuki yang sedang diam pun terkesiap ketika mendengar Nayla menyebut nama Riki, tiba-tiba saja dia merasa penasaran dengan apa yang ingin diucapkan pria itu. Yuki lalu mendekatkan dirinya pada Nayla, agar bisa mendengar obrolan mereka dan Yuki mendengar jika Riki sedang sakit membuatnya ikut khawatir.


"Iya Ki... aku kesitu sekarang!" Raut wajah Nayla berubah cemas mendengar jika Riki sedang tidak enak badan.


Setelah panggilan berakhir Nayla pun bangkit dari duduknya dan meraih tas ponsel dan cardingan hitamnya lalu beranjak.


"Tunggu Nay...." Yuki menghentikan Nayla.


Nayla yang baru saja melangkah pun menoleh dan menyadari jika Yuki masih ada di ruangannya, gadis itu sampai lupa pada kliennya sendiri.


"Maaf yah... aku harus segera pergi," cetus Nayla.

__ADS_1


"Ketemu Riki?"


Nayla mengangguk.


"Boleh aku ikut?"


Nayla tampak berfikir, dia ragu apakah dia harus membawa Yuki ke apartemen Riki. Tapi...


"Aku khawatir sama dia Nay." Wajah Yuki memelas. "Sebagai teman."


"Kalian udah baikan?"


Yuki mengangguk, "berkat kamu."


Nayla tersenyum, "syukurlah... ya udah kita pergi sekarang."


Mereka berdua lalu berjalan keluar dari ruangan Nayla. Saat mereka tiba di ruang studio, Nayla berpamitan pada karyawannya terutama pada Jojo sang asisten. Gadis itu mengatakan akan kuat sebentar setelah itu dia akan kembali lagi untuk kembali bekerja.


Jojo dan yang lainnya hanya mengiyakan ucapan Nayla. Gadis berkacamata itu tampak heran menatap Nayla dengan Yuki yang terlihat sangat dekat padahal mereka baru saling mengenal. Jojo mengetahui sedikit tentang latar belakang Yuki. Wanita itu termasuk dari garis keturunan sultan. Tapi kenapa dia mau bergaul dan akrab dengan Nayla. Jojo tidak mencurigai Nayla, karena gadis itu memang tipe gadis yang ramah pada siapapun hanya saja dia curiga pada Yuki karena sepertinya gadis itu sedang memanfaatkan sahabatnya.


:)


"Riki sedang sakit yah, Nay?"


Yuki yang tengah menyetir bertanya tanpa menoleh pada Nayla yang duduk di sampingnya.


"Dia nggak enak badan, katanya," jawab Nayla.


"Sudah kuduga." cetus Yuki lagi.


Nayla menoleh menatap Yuki heran. "Maksud kamu apa?"


"Riki nggak enak badan, karena dia mabuk laut." Yuki menatap Nayla sekilas, "apa kalian di pantai sampai malam?" tanya Yuki lagi yang pandangannya fokus ke jalan.


"Iya," jawab Nayla, "kita menginap semalam di Pulau Lima."


"Hah? Menginap?" Yuki menatap heran Nayla.


"Iya."


Yuki menghela nafas berat, "sangat bodoh! kenapa dia begitu nekat, padahal dia tidak bisa menghirup aroma laut... apa dia juga terkena angin laut?" Yuki kembali menoleh.


Nayla mengangguk lemah lagi.


"Ya ampun, apa yang pria itu fikirkan, dia punya penyakit mabuk laut, masih saja nekat." Yuki kembali mengoceh.


Nayla yang mendengar ocehan Yuki pun merasa bersalah, pasalnya Riki ke pantai karena dirinya.


"Tapi kemarin, saat kita di sana dia baik-baik saja," ucap Nayla pelan.


"Iya Nay... pria ceroboh itu memang baik-baik saja ketika berada di pantai. Namun kalau sudah pulang baru efeknya terasa, dia akan mual, pusing dan demam."


Nayla semakin terdiam tak mampu lagi untuk berucap, kini hatinya dipenuhi rasa bersalah dan cemas setelah mengetahui fakta itu.


...Happy Reading ❤...


Author's Note π_π:


Mohon maaf apabila typo masih bersebaran, karena aku hanya menulis dan langsung upload tanpa mengoreksi terlebih dahulu.


Dan ingat, jadilah pembaca yang bijak. jika kalian suka dengan cerita aku, jangan lupa untuk tinggalkan Like, Coment dan Votenya yah... biar aku semakin semangat untuk up setiap harinya dan jangan lupa untuk mampir ke karya aku yang lain yaitu:


- Problem (Novel itu bercerita tentang masalah hidup anak muda yang masih duduk di bangku SMA dan pemainnya itu adalah anak Citra dan anak kembar Mita)

__ADS_1


- ZANNA (Karya baru aku yang baru terbit, kalau di novel ini aku bercerita tentang kisah hidup seorang gadis yang selalu saja diterpa penderitaan)


Sedikit perkenalan yah guys, Terima kasih dan happy Reading.


__ADS_2