Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 35


__ADS_3

Pagi hari mobil Riki masuk melewati pintu gerbang orange dan menghentikannya di depan rumah orang tuanya. Pria berpenampilan casual itu pun turun dari mobilnya lalu berjalan mendekati sang bunda yang tengah menyiram tanaman bunga di taman depan rumah.


"Selamat pagi, Bun." sapa Riki dan tersenyum ketika bundanya tengah menatapnya dengan heran.


"Riki, tumben weekendnya kesini? mau ketemu ayah?" tanya bunda.


Riki menggeleng, "bukan bun, aku ada urusan sama Nayla... hari ini aku dan Nayla mau ke pantai." jelasnya.


Wanita paruh baya itu semakin berkerut.


"Nayla dimana?" tanya Riki lagi.


"Dia ada di dapur, lagi nyipin sarapan." jawab bunda.


"Yah udah, aku masuk dulu yah bun."


Riki pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah meninggalkan bundanya yang masih bingung.


Bukan tanpa alasan Citra merasa bingung dan dia merasa ada yang salah dengan putra semata wayangnya itu. Pasalnya hubungan kedua anaknya itu, tidak pernah akur sekalipun, Riki sangat membenci Nayla dan sudah beberapa hari ini dia melihat kedekatan mereka sangatlah tidak biasa. Belakangan ini mereka sangat dekat, Riki lebih sering datang ke rumah untuk mencari Nayla dan Nayla. Kedekatan mereka sekarang sangat didominasi oleh Riki. Pria itu secara terang-terangan menunjukkan sikap hangat dan perhatiannya pada Nayla di depan bundanya.


Bukannya Citra tidak suka kedua anaknya itu berbaikan, hanya saja dia penasaran bagaimana mereka bisa berbaikan.


Karena penasaran ingin melihat interaksi kedua anaknya secara langsung, diapun meletakkan selang air yang dipegangnya di tanah, lalu berjalan masuk rumah dan langsung menuju dapur.


:)


Setelah menyuguhkan sarapan di atas meja makan, kini Nayla terlihat sibuk menyusun makanan ke dalam kotak bekal biru pastel lalu menyusun kotak bekal ke dalam tas bekal berwarna senada.


"Selamat pagi, Nay."


Nayla tersentak ketika mendengar suara bariton Riki masuk ke ruang makan.


Gadis itu tersenyum, "Hay, Ki... pagi-pagi banget datangnya." Nayla menarik res tas bekalnya.


"Ya kan, perjalanan kita jauh...," cetus Riki lalu mendekati Nayla dan duduk di sampingnya.


"Ohh, iya... lupa. hehe."


"Pikun banget sih," cerca Riki, "aku boleh makan sekarang, nggak?" Riki memelas pada Nayla.


"Jangan dulu dong, Ki. Tunggu yang lain dulu." sergah Nayla.


"Aku udah lapar banget, nih... semalam aku nggak makan malam." keluhnya.


"Nggak usah curhat, kalau mau curhat ke mamah dedeh sana." seloroh Nayla.


Riki terkekeh lucu mendengar candaan garing Nayla, "Nggak lucu." cercannya.


"Emang nggak lucu... aku kan bukan pelawak." sengitnya, lalu beranjak.

__ADS_1


"Awas jangan makan dulu...." Nayla memperingatkan "aku mau panggil yang lain dulu." Gadis itupun menghilang dari ruang makan.


Setelah kepergian Nayla, Riki pun mulai menyendok makanan ke piringnya. Pria itu tidak mengindahkan perkataan Nayla karena memang saat ini, cacing di perutnya sudah berdemo dan dia tidak bisa menahan laparnya ketika masakan Nayla sudah terhidang di depannya. Masakan Nayla bagaikan candu bagi Riki, selalu ingin dan ingin lagi.


"Nayla mana, Ki?"


Riki pun menoleh menatap bundanya yang berjalan mendekatinya.


"Lagi menggilin yang lain." jawab Riki lalu menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Selamat pagi, kak Riki." Rina dengan riang bergabung ke ruang makan dan duduk di samping kakaknya.


"Pagi," jawab Riki tanpa menoleh membuat Rina mengerucutkan bibirnya.


"Kak Riki dateng?" tanya Rika yang juga baru bergabung dan melihat kakaknya di ruangan itu.


"Tumben?" Rika heran lalu mengambil duduk di depan Riki samping bundanya.


"Gimana skripsinya?"


Riki mengabaikan pertanyaan sang adik dan malah bertanya balik.


"Lancar kok." Rika menyendok makanan ke piringnya.


"Kamu mau kemana, Nay?"


Tanya pria paruh baya, yang baru masuk ke ruang makan dan melihat Nayla yang melewatnya terlihat menenteng tas dan kameranya.


"Aku memang libur, Yah." Nayla meletakkan tas dan kameranya di kursi yang masih kosong lalu duduk di sebelah kursi kosong samping Rika.


"Terus?" Tanya Riko menyelidik.


"Aku dan Riki mau ke pantai." jawab Nayla dan sang ayah hanya mengangguk paham.


"Kalian mau ke pantai?" Rina menatap Nayla dan Riki bergantian.


"Habisin dulu makanan di dalam mulut kamu, Rin... ini muncrat semua." protes Riki.


"Ehh, maaf." Rina langsung menutup mulutnya dan mengunyahnya dengan cepat lalu menelannya, "kalian serius mau ke pantai?" tanyanya lagi.


"Iya, Rin... mau ikut?" Nayla menawarkan.


"Nggak, kok. Aku cuma nanya."


"Pasti kamu heran kan? sama, aku juga." cetus Rika menatap Rina.


"Heran kenapa?" Rina bingung.


"Mereka udah akur." cetus Rika dan membuat Rina tercengang.

__ADS_1


"Eh iya... aku baru sadar."


"Kamu juga sama... udah nggak cuek lagi sama Nayla." cetus Rika lagi.


"Ekhem." Rina berdehem dan diam begitu mendengar ucapan kakaknya itu, tiba-tiba saja dia merasa canggung.


"Semua Anak-anak bunda, memang harus seperti ini, selalu akur." bunda menengahi.


"Tapi, ayah dan kak Riki nggak akur." celetuk Rina lagi, seketika suasana di ruangan itu berubah canggung, mereka terlihat saling lirik melirik. Bunda dengan wajah sendunya melirik suami dan anaknya bergantian, Rika dan Nayla pun sama, Rina biasa saja. Sementara Riko hanya bersikap tenang, seolah-olah tuli dengan ucapan Rina.


"Nggak usah banyak omong...," Riki langsung menyumpal mulut Rina dengan tempe goreng, "habisin makanan kamu!" sambungnya lagi.


Rina yang pasrah pun menurut, gadis itu mengunyah tempe yang disuapi oleh kakaknya itu dengan kasar.


Sementara Riki semakin canggung dan sedikit melirik ayahnya dari ujung matanya, tidak ada perubahan dari wajah itu, selalu tenang seperti biasa dan hari ini Riki kembali sarapan bersama sang ayah. Ayah rasa orang asing, Riki tidak mengenali pria berstatus ayahnya itu. Bagi Riki pria itu hanyalah rekan bisnisnya atau lebih tepatnya bos. Yah, Riko adalah bos Riki, karena dia bekerja di perusahaannya sebagai bawahan.


Nayla yang menatap kecanggungan antara ayah dan anak itu pun semakin penasaran bercampur sedih. Gadis itu memang mengetahui hubungan Riki dan Ayahnya itu tidak sedekat dulu ketika mereka kecil dan hal itulah yang membuatnya penasaran, kenapa hubungan mereka terlihat berjarak.


:)


"Ki...," Nayla menoleh pada Riki yang tengah fokus menyetir.


"Hmm...." Rikipun menoleh membuat pandangan mereka bertemu.


Nayla menatap tajam manik hitam Riki yang terlihat sarat akan kesedihan, tiba-tiba saja dia ragu untuk bertanya tentang permasalahan Riki dan ayahnya.


Riki berkerut heran melihat wajah bingung Nayla. Gadis itu terlihat menahan sesuatu.


"Ada apa, Nay?"


"Hah?" Nayla bingung, "Mmm, itu... tujuan kita kemana?"


Alis Riki terangkat sebelah, mendengar pertanyaan asal Nayla.


"Kita mau ke pantai lah, Nay. Mau kemana lagi!"


"Em, maksud aku, lokasi pantainya dimana?" kali ini Nayla bertanya serius, pasalnya Riki belum memberitahunya tentang dimana pastinya lokasi pantai itu. Riki hanya mengatakan, jika tempatnya jauh dan Riki memastikan setelah tiba di sana, Nayla tidak akan kecewa. Sementara Nayla yang memang sangat menyukai pantai, dengan antusias mengiyakan ajakan Riki.


"Nanti juga kamu akan tahu." Riki menoleh pada Nayla dan tersenyum tipis, lalu dia kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.


Nayla menghela nafas jengah, "kalau begitu, bangunkan aku setelah kita sudah sampai."


Nayla kemudian menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi lalu dengan perlahan dia menutup matanya. Jujur saja Nayla masih sangat mengantuk karena kemalam dia susah untuk tidur dan akhirnya dia terjaga hingga pukul tiga pagi dan ketika tidurnya baru dua jam, dia kembali terbangun karena suara alarm yang sudah dia atur untuk membangunkannya menyiapkan sarapan dan bekal mereka menuju pantai.


Sekarang, Nayla sudah tertidur pulas setelah lima menit.


Riki tersenyum menatap wajah Nayla yang tertidur. Wajahnya yang teduh sangat menentramkan hati Riki. Gadis yang setiap harinya selalu manampilkan raut wajah ceria kini terlihat lemah saat dia terlelap.


Raut wajah Riki berubah sendu, dia kembali bersimpatik dengan gadis ini. Perlahan dia mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi mulus Nayla dengan usapan yang lembut.

__ADS_1


"Aku akan melindungi kamu, Nay... Mulai saat ini, aku akan melakukan tugasku sebagai seorang saudara... kamu sudah pernah melakukan tugas kamu saat kita kecil, kamu selalu melindungi aku dan sekarang giliran aku." lirih Riki masih mengusap pipi Nayla.


...Happy Reading ❤...


__ADS_2