Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 26


__ADS_3

Sudah seminggu, hubungan Nayla dengan Riki membaik. Bukan hanya hubungannya dengan Riki saja yang membaik tetapi juga hubungannya dengan Rina.


Nayla sangat bahagia dengan hal itu. Sekarang dia bisa merasakan manisnya keutuhan keluarga.


Setelah hari itu Riki sudah tidak lagi acuh kepada Nayla. Pria itu sudah seperti Riki yang dulu lagi, yang lembut dan perhatian kepada Nayla.


Perubahan-perubahan kecil mulai nampak dalam hangatnya persaudaraan mereka, seperti ketika waktu makan siang tiba, bukan lagi Nayla yang mengunjungi Riki untuk membawa makan siang melainkan Riki yang datang langsung ke studio Nayla. Gadis itu akan memasak untuk Riki lalu mereka akan makan bersama.


Begitupun dengan hari ini, setelah memarkirkan mobilnya di depan studio Nayla. Riki melangkahkan kakinya ke dalam studio.


“Halo, Jojo?”


Riki dengan ramah menyapa gadis berkacamata yang tengah sibuk mengatur set studio pemotretan seorang diri. Gadis itu nampak tidak suka melihat Riki, terlihat dari tatapan judesnya.


Riki tidak perduli dengan tatapan tidak suka gadis itu. Karena menurutnya itu adalah hal yang tidak penting untuk dia urusi.


Dia hanya mencoba bersikap ramah, pada sahabat Nayla, itu saja. Tapi seperti biasa, gadis itu selalu menatapnya seperti itu.


“Berhenti memanggil aku seperti itu,” protesnya dengan nada ketus, “nama aku Joviana Angelia. Bukan Jojo.” Ucapnya penuh penekanan.


Riki mendelik mendengar ucapan gadis itu, “aku hanya memanggil kamu, seperti Nayla memanggil kamu.” Acuhnya.


“Kamu dan Nayla berbeda, dia sahabat aku, sedangkan kamu…


“Musuh kamu!!!” potong Riki dan gadis itu hanya diam dengan tatapan tidak sukanya.


“Tenang saja…,” kata Riki, “aku tidak akan menyebut nama kamu dengan sering… karena kita kan tidak akrab.” Riki pun meninggalkan gadis itu begitu saja.


“Dasar sombong!!!” cibir Jojo.


“Hai, Ya…,”


Nayla yang tengah memasak pun menoleh ketika mendengar suara berat menginterupsi pendengarannya.


Gadis itu tersenyum tipis ketika melihat Riki melangkah masuk dan mengambil duduk di meja makan.

__ADS_1


“Tumben, kamu datangnya cepat?” Nayla kembali fokus memasak.


“Iya, soalnya hari ini pekerjaan aku tidak begitu penting.” cetus Riki, lalu menatap makanan yang terhidang di depannya.


Seketika Bola mata pria itu berbinar dan meneguk salivahnya dengan susah payah ketika menatap sebagian makanan yang terhidang di atas meja yang sudah di masak oleh Nayla.


“Memangnya ada, pekerjaan yang tidak begitu penting.”


“He’em.” Riki berdehem karena sekarang pria itu sudah mencomot ayam goreng di depannya.


“Terus siapa yang menyelesaikan pekerjaan, yang tidak begitu penting itu. Apakah Aldi?”


“Hemm.” Riki berdehem lagi sambil mengangguk.


Nayla hanya geleng-geleng tidak percaya, dengan segala beban yang diberikan Riki kepada Aldi.


Selama hubungan Nayla dengan Riki membaik, segala pekerjaan yang ringan menurut Riki, semuanya di serahkan kepada Aldi.


Membuat Aldi kewalahan mengurusnya. Nayla mengetahui penderitaan Aldi, karena pria itu selalu curhat kepada Nayla.


Namun tiba-tiba saja matanya terbelalak ketika gadis itu tidak sengaja melihat Riki yang sudah makan dengan lahap dan hampir membuat piring di depannya kosong.


Tapi detik berikutnya gadis itu tersenyum tipis, melihat Riki yang makan dengan lahap, dia merasa bersyukur karena masakannya bisa membuat pria itu menikmati makanan.


Selama beberapa detik, gadis itu terus menatap pria yang tengah makan itu, dengan tatapan intens. Inilah yang selalu dirindukan gadis itu sejak dulu, makan bersama sahabat kecilnya dan sekarang sudah menjadi kenyataan.


Setelah tersadar dari pikirannya, gadis itu lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, dan meletakkan hidangan terakhir di atas meja.


“Jangan di habisin makanannya, Ki…,” kata Nayla, “karyawan aku belum makan siang juga loh.”


“Loh, bukannya makanan mereka dibuat oleh bibi di studio kamu, yah?” Riki berhenti makan dan menatap Nayla bingung.


“Iya, tapi hari ini dia nggak masuk… soalnya beliau lagi sakit.” Nayla pun beranjak meninggalkan Riki untuk memanggil semua rekan timnya.


Riki terlihat tidak puas setelah mendengar penuturan Nayla. Dia mengira, jika semua makanan yang terhidang di depannya ini adalah untuknya semua, ternyata harus di bagi.

__ADS_1


Setelah beberapa menit meninggalkan ruang makan, kini Nayla dan juga bersama karyawannya pun tiba di dapur.


“Kita mau makan apa? Semuanya sudah habis.” Jojo berkerut heran, ketika melihat satu persatu piring sudah hampir kosong.


Begitupun dengan yang lainnya terutama Nayla. Sementara Riki tersenyum tipis, tanpa merasa bersalah.


“Aku udah pesan makanan untuk kalian semua. Tunggu aja, sebentar lagi pasti datang.” Cetus Riki yang masih sibuk mengunyah.


"PESANAN!!!"


Tidak lama setelah Riki memberi tahu kabar itu, seseorang dari arah luar berteriak. Dan itu adalah kurir yang mengantar makanan yang Riki pesan.


"Iya." jawab salah seorang dari karyawan Nayla, lalu berlari keluar untuk menerima pesanan.


“Rakus banget sih.” Kesal Jojo lalu meninggalkan ruangan itu, begitupun dengan yang lainnya kecuali Nayla.


“Makanannya kenapa kamu habisin?” Nayla mengambil duduk di samping Riki.


“Aku fikir, semua ini buat aku.” Cetus Riki beralasan.


“Tadi kan udah aku minta kamu buat, jangan dihabisin.”


“Aku lupa, hehe.” Riki cengengesan.


“Ya udah, habisin semuanya.” Nayla mendekatkan semua piring ke Riki.


Riki berkerut heran, “kamu nggak makan?”


“Makan dong.”


“Ya udah. Aaaa…” Riki menyodorkan suapan kepada Nayla.


Gadis itu tersenyum tipis sebelum akhirnya membuka mulutnya.


-tbc-

__ADS_1


__ADS_2