Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 38


__ADS_3

Nayla bermimpi buruk lagi, Riki yang baru terlelap di sofa ruang tamu penginapan beberapa menit yang lalu langsung terkesiap bangun ketika mendengar teriakan yang berganti isak tangis pilu dari dalam kamar.


Dengan kondisi setengah sadar, pria itu langsung terlonjak masuk ke dalam kamar, sejenak Riki hanya bergeming menatap kondisi Nayla, tangannya terkepal kaku sementara wajahnya merengut sedih, seolah alam bawah sadarnya mengingatkan sesuatu tapi Nayla tak mampu menerimanya.


"Nayla!" panggil Riki lalu duduk di sisi ranjang untuk mengguncang bahu perempuan itu.


"Nayla! Bangun!" Riki memanggil lebih keras.


Tangisan itu terdengar semakin menyakitkan dan Nayla mulai berbicara dalam bahasa jepang yang Riki pahami artinya adalah gadis itu merindukan papahnya.


"Nay?" suara Riki melembut saat sepasang mata gadis itu manatapnya, lelehan air mata masih terus mengalir.


"Aku minta maaf, Pah." ucap Nayla, jelas menganggap Riki orang lain, jelas saja ketika Nayla langsung memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku...," isaknya.


Riki semakin iba mendengar isakan Nayla yang semakin lirih karena gadis itu sepertinya masih belum sadar, dia masih menganggap Riki adalah sosok yang ada di mimpinya. Karena itu, Riki memaksa Nayla untuk melepaskan pelukannya.


"Nayla! Lihat aku! pintanya keras, lalu sebelah tangannya mengguncang


bahu gadis itu.


Nayla seperti terkesiap kaget saat tersadar. memandang bingung keadaannya.


"Riki? Apa?" Nayla berkerut heran sebelum dirinya kembali terdiam begitu menyadari wajahnya basah karena air mata. Nayla sudah tahu, jika dirinya mengalami mimpi buruk lagi.


"Tunggu disini, aku ambil air minum dulu." Rikipun beranjak keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air minum.


Namun, ketika Riki kembali lagi ke kamar itu, sosok Nayla sudah tidak ada di sana, pria itu meletakkan gelas yang dibawanya ke atas meja kecil yang terletak di sudut kamar itu. Dia lalu melangkah keluar dari penginapan untuk mencari Nayla dan benar saja, ketika langkahnya semakin mendekati bibir pantai, Riki melihat sosok gadis itu tengah duduk di atas jembatan panjang yang menjulur ke laut.


Nayla terlihat memeluk lututnya dan meletakkan dagunya di atas sana. Riki berjalan melewati beberapa anak tangga untuk naik ke atas jembatan itu. Langkah Riki mendekati Nayla, lalu duduk di sampingnya dengan hati-hati.


Riki melirik sekilas wajah sendu gadis itu. Jelas saja saat ini di kepala pria itu sudah di penuhi berbagai pertanyaan, namun Riki memilih diam. Dia tidak akan mengangkat suara lebih dulu sebelum gadis itu, karena dia tahu jika saat ini gadis itu tidak sedang baik-baik saja. Tugasnya hanya menemani.


"Rik...," Nayla berucap lirih, sorot matanya terlihat kosong ke depan.


"Hmm." Riki menoleh menatap gadis itu.


"Kamu tau, kenapa aku suka banget sama laut?" Nayla menoleh pada Riki dan pria itu menggeleng pelan.


Nayla kembali menatap lurus ke depan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "karena papa berjanji akan mengajakku setelah dia kembali... namun setelah dia mengucapkan janjinya itu, dia tak pernah kembali untuk menepati janjinya." Air mata Nayla pun menetes.


"Itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku mendengar Papah berbicara sangat lembut sama aku...." bibir Nayla terlihat bergetar.


Riki yang semakin iba pun menarik Nayla ke dalam dekapannya mencoba untuk menenangkannya.


flashback on


Bayangan Nayla berbicara melalui telefon dengan papahnya kembali terlintas dalam pikirannya.


Malam itu, Nayla yang dipenuhi luka memar di sekujur tubuhnya, berjalan pincang menuju pada telefon yang berdering keras.


"Halo...."


"Maafkan papah... Nayla."


Seketika tubuh Nayla melemas, sebelah kakinya yang sehat pun ikut melemas hingga tak mampu menahan bobot tubuhnya lagi dan langsung terduduk di lantai. Nayla bungkam seribu bahasa, begitu mendengar suara bergetar papahnya yang meminta maaf. Rasanya seperti mimpi, Nayla mendengar papahnya berucap seperti itu, setelah sekian lama dia mengharapkannya.


"Pahhh...," Nayla terisak.


"Maafkan Papah, nak... Papah salah, Papah banyak dosa sama kamu... maafkan Papah..."


Nayla semakin terisak, tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak, seolah oksigen tak lagi bekerja dengan baik.


"Aku kangen sama Papah." Nayla memukul dadanya yang semakin sakit.


"Jangan menangis sayang, papah akan kembali besok pagi... mulai sekarang Papah akan menebus dosa Papah dengan memperlakukan kamu dengan baik. maafkan Papah... Papah akan membawa kamu kemanapun kamu pergi. setelah Papah kembali kamu ingin kemana sayang?"


"Terserah papah... aku akan ikut dengan Papah kemanapun Papah pergi...."


"Sampai jumpa besok sayang... sekali lagi papah minta maaf..."

__ADS_1


Nayla semakin sedih mendengar suara papahnya yang juga terdengar sangat sedih bahkan gadis itu mendengar isakan papahnya.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya tak terasa lagi ketika papahnya mulai menanyakan keadaannya dan kembali minta maaf.


Sepanjang malam gadis itu terus berbicara dengan papahnya hingga dia ketiduran di sandaran lemari nakas samping sofa di ruang tamu dan setelah dia terbangun dia mendapatkan kabar jika pesawat yang ditumpangi oleh papahnya hilang kontak dan seminggu setelahnya dinyatakan tenggelam dan seluruh penumpang termasuk papahnya tak ada yang selamat.


Flashback off...


Nayla kembali menangis tersedu dalam pelukan Riki ketika kembali teringat dengan sosok ayahnya yang hingga saat ini belum juga ditemukan.


"Dia membuatmu menderita selama ini, tapi kenapa kamu menangisinya seperti ini...," Riki berucap lirih.


"Karena hanya dia orang tuaku, dan hanya dia yang bisa ku tangisi Rik... aku tidak punya ibu yang tak bisa ku tangisi kepergiannya... hiks."


Leher Riki tercekat mendengar penuturan gadis itu, pria itu pun semakin mengeratkan rangkulannya pada Nayla.


"Maafkan aku Nay... aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu...."


"Kamu tak perlu minta maaf Rik, karena kamu pun menderita."


Riki melepaskan rangkulannya lalu memutar posisi duduknya hingga menghadap pada Nayla, pria itu menatap intens bola mata gadis itu penuh selidik.


"Darimana kamu tahu, kalau aku tidak baik-baik saja?"


"Aldi pernah cerita, kalau kamu menderita penyakit Anosmia... sejak kapan dan kenapa itu bisa terjadi?"


"Itu karena kecelakaan Nay." Riki menundukkan wajahnya.


"Apa ada hubungannya dengan ayah?" tanya Nayla lagi membuat pria itu kembali mengangkat wajahnya menatap Nayla.


"Aku tak pernah sekalipun melihat interaksi yang hangat antara kamu dan ayah... apa ayah juga berubah?" Nayla berucap lirih lalu kembali meneteskan air matanya.


Riki mengangguk lemah lalu kembali menindik dan meneteskan air matanya.


Nayla menarik Riki ke dalam pelukannya, "kenapa mereka bisa berubah? padahal mereka sangat menyayangi kita dulu." lirih Nayla.


Air mata Riki semakin deras mendengar ucapan Nayla. Kenapa mereka bisa mengalami nasib yang sama, yang sangat menyedihkan seperti ini.


"Aku baru sadar, ternyata kamu sangat jelek saat menangis." Riki memulai dengan meledek.


"Kamu pikir kamu tidak jelek! kamu tau, ingus kamu sampai merembes ke baju aku." Nayla menunjuk pakaiannya yang basah akibat air mata dan ingus Riki.


"Ekhem..." Riki berdehem dan memalingkan wajahnya karena merasa malu, tiba-tiba saja suasana canggung menyelimuti mereka berdua.


"Kenapa ayah bisa berubah Ki?" Nayla kembali bertanya.


"Entahlah, Nay... dia berubah menjadi orang asing dalam sekejap... ayah sangat keras dan ambisius, dia selalu menekan anak-anaknya untuk selalu mematuhi segala perintahnya. Ketika aku menginjak usia dua belas tahun, tempat bermain aku berubah menjadi kantor ayah..."


Nayla tercengang mendengar ucapan Riki, gadis itu menatap pria itu seolah tak percaya.


"Kamu serius, Ki?"


Riki mengangguk.


"Aku harus mempelajari dokumen pemasaran, dokumen keuangan, strategi pasar, investor, saham dan lain-lain... aku tertekan saat itu, Nay... hingga membuat aku syok dan demam tinggi hampir sebulan dan setelah aku sembuh aku tak lagi merasakan apapun." Riki kembali menunduk.


"Sangat sulit Nay, selain aku tak bisa merasakan rasa dari makanan aku juga tidak bisa mencium aroma apapun." lirih Riki lagi.


"Apa ayah dan bunda tahu?"


Riki menggeleng.


"Mereka tidak akan pernah peduli Nay, mereka itu egois... mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri..."


"Jangan bicara seperti itu Rik. Mereka seperti itu, karena kamu yang tidak bisa terbuka pada mereka." Nayla kembali menasihati.


"Nggak Nay, mereka memang egois." tandas Riki.


Nayla pun terdiam, tak mampu lagi untuk berucap. Karena gadis itu tahu setiap permasalahan yang terjadi, setiap orang memiliki cara dan pandangan yang berbeda dalam menyikapinya.


"Sekarang giliran kamu, Nay." Riki menatap tajam gadis itu.

__ADS_1


"Ha? ada apa dengan aku?" Nayla bingung.


"Apa penderitaan itu yang membuat kamu ingkar janji?"


Nayla mengangguk.


"Kenapa kamu tak pernah menghubungi aku? agar aku bisa segera datang menjemput kamu?"


Nayla menatap Riki, "aku tidak bisa melakukan itu Rik, papah tidak pernah mengizinkan aku untuk melakukan panggilan kemanapun, panggilan ke Indonesia di blokir sama papah."


"Apa maksud kamu Nay? kenapa Papah Romi melakukan hal itu."


"Dia tidak ingin melihat aku berhubungan dengan kalian. Karena ayah tidak ingin melihat aku bahagia, dia selalu menganggap aku sebagai pembunuh ibuku sendiri. Dan dia tidak akan membiarkan pembunuh itu bahagia."


Riki semakin tercengang dan tidak paham.


"Aku pernah bertanya ke dokter tentang kondisi Papah aku, dan dokter mengatakan jika papah itu psikopat... itu terjadi karena masa lalu yang menyedihkan, sering kehilangan orang yang dicintainya dan papah selalu kehilangan. Ketika papah memukuliku, papah terlihat tenang dan puas..."


"Kenapa kamu nggak melawan Nay, melaporkannya ke polisi, misalnya."


Nayla menggeleng lemah, "aku nggak bisa Ki, ketika aku melakukan hal itu, Papah akan menyakiti orang lain." lirih Nayla.


"Pembantu kamu?"


Mata Nayla membulat heran, "kamu tau darimana tentang pembantu?"


"Hah? mmm,, itu. dari mimpi kamu."


Nayla manggut-manggut paham, ternyata dari mimpi, tapi tunggu Nayla mengingat sesuatu.


"Ki?"


"Hmm."


"Waktu kita tidur bareng, apa itu karena aku mengalami mimpi seperti tadi?" tanya Nayla.


Riki mengangguk.


"Tunggu!"


Nayla menatap Riki yang terlihat heran.


"Kenapa Ki?" tanya Nayla.


"Kamu tau dari mana kita tidur bareng? bukankah saat aku bangun, kamu masih terlelap?" Riki memincingkan matanya pada Nayla.


"Hah?" Nayla salah tingkah. "Dingin banget sih disini." Nayla mengalihkan topik pembahasan, "mending sekarang kita kembali ke penginapan." gadis itu mendekap tubuhnya yang kedinginan lalu beranjak meninggalkan Riki.


Riki menyeringai melihat gelagat salah tingkah Nayla.


"Jadi... aku terjatuh dari atas ranjang karena kamu yang mendorong aku." Riki berucap di belakang Nayla yang terlihat berjalan terburu-buru di depannya.


"Nggak? aku nggak nendang kamu." cetus Nayla.


Riki menarik tangan Nayla dengan keras hingga membuat langkah gadis itu terhenti dan menghadap kepadanya.


"Jadi kamu tidak mendorong aku, tapi menendang? tega banget sih." Riki menyelidik.


Nayla semakin membulatkan matanya.


"Awalnya aku mau mendorong, tapi karena kamu memeluk aku sangat kuat, makanya aku tendang kamu." cetus Nayla lagi.


"Peluk? aku meluk kamu?"


Nayla melipat bibirnya, sial dia keceplosan. wajahnya pun memerah karena menahan malu dan langsung berlari menuju penginapan.


Riki semakin tersenyum lebar melihat tingkah Nayla yang canggung seperti itu. Dia merasa gadis itu sangat lucu.


"Nay!" Riki berteriak, "Tunggu aku...." pria itupun ikut berlari mengejar Nayla yang sudah masuk ke dalam penginapan.


...Happy Reading ❤...

__ADS_1


__ADS_2