Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 29


__ADS_3

“Kenapa dia, ada disini?”


Langkah Riki terlihat terburu-buru meninggalkan lokas proyek.


“Itu karena, dia juga pemilik dari proyek ini.” Aldi pun terlihat mengimbangi langkah cepat Riki.


Riki langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Aldi barusan dan menatap asistennya itu dengan heran.


“Apa maksud kamu?” tanya Riki.


“Kamu lupa?” kata Aldi, “perusahaannya dengan perusahaan kita itu, bekerja sama dalam proyek ini.”


Alis Riki terlihat bertautan mencoba mengingat, detik berikutnya pria itu pun menghela nafas pasrah setelah mengingat kerja sama yang terjalin diantara mereka.


“Kenapa?” tanya Aldi, “bukannya kemarin kamu sempat bilang, kalau kamu itu professional… lalu kenapa raut wajah kamu terlihat tidak bisa menerima.”


“Bukan begitu, tap—“


“Riki….”


Ucapan Riki terpotong oleh Yuki yang tiba-tiba datang dan memegang tangannya.


Pria itu sempat terkejut dengan tangan yang tiba-tiba menyentuhnya, setelah menoleh dan mendapati Yuki yang menyuntuhnya, dengan sigap Riki langsung melepaskan tangan wanita itu dengan kasar dan kembali melangkah.


“Maafkan aku, Ki.”


Langkah Riki kembali terhenti karena Yuki lagi-lagi menahannya dengan memeluknya dari belakang. Seketika raut wajah Riki berubah kesal.


Sementara Aldi yang juga berada disitu, tiba-tiba merasa canggung dan menatap sekeliling, untung saja sepi.


“Aku tunggu kamu di parkiran, Ki… Aku permisi.” Aldi pun meninggalkan mereka.


“Lepaskan aku!!!” nada bicara Riki terdengar datar.


“Maafkan aku, Ki.” Yuki semakin mempererat pelukannya.


“Aku sudah memaafkan kamu, sebelum kamu memintanya… karena aku pria yang baik.” Tatapan Riki nyalang ke depan.


Yuki tersenyum tipis, “Kalau begitu, beri aku kesempatan. Sekali lagi, Ki.”


Riki melepaskan kedua tangan Yuki yang melingkar di perutnya, lalu berbalik menatap wanita itu.


Riki menyeringai, “Tidak untuk itu!”


“Aku benar-benar menyesalinya, Ki… aku sangat mencintai kamu.” Raut wajahnya terlihat memelas.


Riki terkekeh pelan, mendengar pengakuan wanita itu, “penyesalan memang selalu datang belakangan… kalau dari awal, itu namanya pendaftaran.”


Riki menatap Yuki dengan tajam sebelum akhirnya dia meninggalkan wanita itu, yang masih berdiri dengan raut wajah sedihnya. Entah dia berpura-pura atau kenyataan, Riki tidak perduli, pria itu tetap melangkahkan kakinya tanpa keraguan.


:)


Nayla memarkirkan motornya di carport samping rumah, lalu berjalan masuk ke dalam rumah, dengan raut wajah yang terlihat frustasi akibat terkena serangan mental oleh klien yang menunggunya di studio tadi.


Sungguh situasi yang sangat menegangkan. Baru kali ini dia dimarahi oleh kliennya sendiri sampai dia terlihat sefrustasi ini dan itu terjadi karena ulahnya yang sudah membuat kliennya yang merupakan seorang ibu-ibu yang ingin melakukan foto dengan keluarganya, Nayla membuat mereka menunggu hampir satu jam dan dia memang pantas mendapatkannya.


Jika dia bisa sekesal ini setelah mendapat amukan oleh kliennya selama beberapa menit, lalu bagaimana lagi dengan asistennya yang mencoba membujuk dan merayu selama hampir satu jam. Nayla bergidik ngeri membayangkannya, semoga saja sahabatnya itu tidak melakukan perawatan di psikiater setelah kejadian tadi.


PIP…

__ADS_1


Tubuh Nayla tersentak, ketika mendengar suara klakson mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya.


Tidak lama, dua orang pria pun turun dari mobil itu dan menghampiri Nayla yang sudah di depan pintu.


“Hai, Ki. Hai, Di.” Nayla menyapa kedua pria itu yang ternyata adalah Riki dan Aldi.


“Nay, aku laper.”


Dahi Nayla berkerut heran setelah mendengar pengakuan tiba-tiba Riki yang baru saja berdiri di depannya.


“Aku baru sampai, Ki… aku capek.” cetus Nayla dengan raut wajah memelas.


“Aku juga baru sampai, dan aku juga capek.” Bantah Riki.


“Tapi, aku harus masak lagi.”


“Aku juga, masih harus menunggu lagi.”


Nayla menghela nafas jengah, pria itu terlalu pandai bermain kata, sampai Nayla tidak punya pilihan lain selain menurutinya.


“Ya udah, aku akan masak makan malam…,” kata Nayla, “tapi sebelum makanannya siap, kamu ketemu dulu sama Rina.”


“Buat apa?” Riki berkerut heran.


“Beri dia ucapan selamat.”


“Dia menang?”


Nayla mengangguk.”


“Juara berapa?”


“Tiga.”


Nayla langsung memukul lengan Riki, karena gemas dengan reaksi pria itu, “Memangnya kenapa kalau juara tiga? Posisi tiga juga juara, Ki dan itu patut di beri apresiasi.


“Sekarang kamu pergi ketemu Rina, dan beri dia ucapan selamat!” pinta Nayla lagi.


“Iya.” Singkat Riki.


“Ingat, jangan merendahkan pencapaian dia.” Nayla mengingatkan lagi.


“Iya…,” Riki pun membuka pintu, “Di, kamu boleh pulang sekarang!” tandas Riki lalu masuk ke dalam rumah.


Nayla dan Aldi tercengang setelah mendengar kalimat terakhir Riki. Aldi merasa canggung setelah di usir oleh atasannya secara tiba-tiba.


Sementara Nayla merasa geram dengan sikap Riki, yang semena-mena dengan Aldi.


Aldi kan sahabatnya dia, masa dia menyuruhnya pergi begitu saja. Dasar pria arogan. Pikir Nayla.


“Ya udah, Nay… aku pulang dulu, yah?” Aldi pun beranjak tapi langsung dicegat oleh Nayla.


“Jangan pulang dulu, Di… kamu pasti belum makan malam juga kan?”


Aldi mengangguk.


“Ya udah, kamu pulangnya setelah makan aja.”


“Nggak usah Nay, aku makannya di rumah aja.” Tolak Aldi.

__ADS_1


“Nggak ada penolakan, kamu harus mau.” Tandas Nayla.


Aldi tampak berfikir, “ya udah deh, kalau di paksa.”


Nayla tersenyum, “aku memang maksa... masuk yuk?” Nayla pun menarik pria itu masuk ke dalam rumah.


“Disini saja, Nay.” Aldi menghentikan langkahnya di ruang tamu.


“Kenapa?” tanya Nayla penasaran.


“Tempatnya tamu kan, memang disini.” Aldi mengambil duduk di sofa.


“Ya ampun, Di. Kayak siapa aja…,” Kata Nayla, “yakin mau nunggu disini aja?”


Aldi mengangguk, “iya.”


“Ya udah, kalau itu mau kamu. Duduk yang tenang… aku akan datang untuk manggil kamu setelah makanannya siap.”


Aldi mengangguk lagi sambil tersenyum.


“Ingat! Jangan pulang… kalau kamu pulang, aku akan ngambek sama kamu.”


Aldi terkekeh lucu, “siap tuan putri.” Aldi memberi tanda hormat pada Nayla.


Nayla pun meninggalkan Aldi dengan tersenyum. Dia harus berbuat baik pada pria itu, karena pria itu juga sudah sangat baik padanya. Setidaknya dengan perhatian kecil, bisa sedikit membayar hutang budinya pada Aldi.


:)


Tok… tok…


Riki mengetuk pintu kamar adiknya dengan pelan, tidak lama kemudian pintu pun terbuka.


“Kak Riki…,” seru Rina dengan tersenyum begitu melihat kakak berdiri di depannya.


“Hai… boleh masuk?”


Rina mengangguk lalu membuka pintu kamarnya semakin lebar agar Riki bisa masuk.


Atensi Riki langsung tertuju pada piala yang tergeletak di atas meja belajar adiknya, pria itupun langsung melangkahkan kakinya menuju benda itu.


“Wah, ada piala baru nih.” Riki mengambil benda itu dan memperlihatkannya pada Rina.


Rina tampak tersenyum malu, ketika kakaknya melihat hasil kerja kerasnya.


“Juara tiga….” Riki membaca tulisan yang ada pada benda itu, raut wajah Rina pun kembali kecewa.


“Selamat, yah… kakak bangga banget, kamu hebat.” Riki mengangkat jempolnya lalu tersenyum hangat pada adiknya.


“Cuma juara tiga, kak. Apanya yang membanggakan.”


Rina kembali berucap kecewa, pasalnya gadis itu sangat jarang mendapatkan juara tiga. Setiap gadis itu mengikuti lomba, pasti dia berada di posisi pertama. Tapi kenapa saat dia lomba untuk hobinya sendiri dia malah mendapat posisi ketiga.


“Nggak bersyukur banget sih, nggak boleh gitu. Apapun hasilnya, kita harus selalu bersyukur. Karena itulah hasil dari kerja keras kita. Kalau kita selalu merasakan bagaimana berada di posisi pertama, kapan kita akan belajar arti kekalahan dan keikhlasan?”


Riki berjalan menghampiri adiknya lalu mengelus lembut pucuk kepala adiknya itu.


Rina menatap Riki dengan sendu, lalu memeluk kakaknya itu.


“Maafin kakak, karena tidak bisa melihat lomba kamu.” Cetus Riki lagi.

__ADS_1


“Nggak pa-pa ko kak, aku ngerti posisi kakak yang sangat sibuk.” Rina semakin mengeratkan pelukannya, Rina tidak ingin melewatkan momen mengharukan ini, karena momen seperti ini sangat jarang terjadi diantara mereka.


-tbc-


__ADS_2