Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 24


__ADS_3

Siang hari Nayla kembali ke kamar Rina setelah membuat makan siang untuk adiknya itu, saat masuk ke dalam, Rina terlihat langsung melompat ke atas ranjangnya dan berpura-pura tidur.


Mungkin gadis itu mengira, jika Nayla tidak melihat apa yang baru saja dilakukannya, gadis itu kembali menggunakan kakinya untuk dance.


“Bangun… aku tau kamu tidak tidur.” Ketus Nayla.


Rina terdengar menghela nafas jengah, lalu dengan malas gadis itu pun bangkit dan duduk.


“Aku kan udah bilang, kaki kamu itu masih belum pulih, jadi jangan kamu gunakan untuk lompat-lompat dulu. Nanti bisa semakin parah, dan tidak bisa digunakan lagi… kamu mau?”


“Lalu aku harus bagaimana?” kesal Rina,


“Seminggu lagi, aku ada lomba. Kalau kondisi aku seperti ini, aku nggak bisa ikut. Aku nggak mau itu...” Raut wajah Rina berubah sendu, “aku udah kerja keras selama hampir tiga bulan, tapi kenapa semuanya harus sia-sia.” Rina pun mulai menangis.


Nayla yang melihat Rina yang menangis pun kembali mendekat dan memeluk gadis itu lalu mencoba menenangkannya, Nayla sangat paham dengan apa yang dirasakan adiknya ini.


Rina sangat menyukai dance dan dia bercita-cita ingin menjadi pelatih dance. Terdengar sangat simple, tapi itulah Rina.


Jika kedua saudaranya, yang satu pebisnis hebat dan yang satu calon dokter. Tapi Rina berbeda, gadis ini tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, dia ingin mengembangkan hobinya tersebut dan sukses dengan caranya sendiri, meskipun sang ayah sangat menentangnya.


“Jangan menangis… aku akan bantu kamu untuk segera sembuh,” cetus Nayla menenangkan Rina.


Rina menatap Nayla dengan tatapan ragu, “bagaimana caranya… dokter bilang, kaki aku tidak boleh digunakan dalam dua minggu.”


Nayla tersenyum licik, “itu karena kamu lebih percaya sama dokter dibandingkan dengan aku.”


“Kenapa aku harus percaya sama kamu?” ketus Rina tidak percaya.


Nayla menghela nafas kesal, “mau sembuh, apa nggak?”


“Mau…”


“Ya sudah, kamu harus ikutin cara aku.” Ucap Nayla yakin.


“Cara apa?” tanya Rina yang mulai ragu.


“Yang pastinya, aku tidak akan menyuruh kamu lompat-lompat seperti tadi... ya sudah, ayo kita ke bawah, aku sudah siapin makan siang untuk kamu. Kamu belum makan sejak pagi kan?”


Rina mengangguk.


“Nah makanya, proses penyembuhan yang pertama itu adalah banyak makan.”


Nayla pun mulai membantu Rina untuk berdiri lalu berjalan turun ke lantai bawah.


“Kamu mau kemana?” Rina penasaran setelah melihat Nayla yang terlihat rapi.


“Aku mau bekerja.” Nayla fokus menuruni tangga dengan hati-hati.


Bibir Rina mengerucut, “itu artinya, aku akan sendirian di rumah.”

__ADS_1


“Nggak kok, bunda sedang dalam perjalanan pulang… aku sudah cerita tentang kondisi kamu semalam, paling sepuluh menit juga bunda sudah sampai… dan Rika juga sebentar lagi pasti pulang… jadi kamu tidak akan sendiri.” Jelas Nayla.


Tapi raut wajah Rina terlihat tidak puas, mendengar kabar itu. “Mereka mana perduli sama aku, mereka semua sibuk dengan diri dan pekerjaan mereka.”


Nayla langsung mencubit bibir Rina, setelah mendengar ucapan gadis itu.


“jangan su’udzon. Mereka itu selalu perduli sama kamu, kamunya saja yang tidak peka.” Ketus Nayla.


“Ya sudah kamu duduk dan makan.” Nayla lalu mendudukkan tubuh Rina di meja makan.


“Setelah makan, kamu minum vitamin ini.” Nayla mendekatkan botol vitamin pada Rina, “dan selama kamu sendiri, jangan melompat-lompat lagi, kamu hanya boleh menggunakan kaki kamu pelan-pelan untuk berjalan, kalau kamu mau sembuh, ok?”


“Iya….” Ketus Rina.


“Good.” Nayla mengelus pucuk kepala Rina lalu berbalik.


Namun belum sempat gadis itu melangkah, dia kembali berbalik. “Ah, jangan coba-coba kamu naik tangga sendiri.”


“IYA!!!” Rina mulai kesal dengan kecerewetan Nayla.


Nayla tersenyum simpul, melihat wajah kesal Rina, kalau begitu aku pergi dulu…,” Nayla pun meninggalkan ruang makan menuju garasi.


“Baik-baik dirumah… semoga cepat sembuh, adik.” Nayla berucap setengah berteriak.


Sementara Rina semakin berkerut heran dengan tingkah Nayla, pasalnya Rina tidak pernah melihat Nayla seperti itu, tapi entah kenapa dia suka diperlakukan seperti itu.


Gadis itu tersenyum sebelum akhirnya menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh Nayla.


>>>>>>


Aldi yang terlihat terburu-buru langsung membuka pintu masuk studio Nayla.


Cklek…


“Ahhh….”


Karena terkejut, refleks Aldi menangkap tangan gadis yang hampir terjatuh ke belakang karena ulahnya yang mendorong pintu secara tiba-tiba, tanpa mengetahui jika ternyata ada orang dari balik pintu yang juga ingin keluar.


“Kamu nggak pa-pa?” Aldi masih menahan tubuh gadis itu dengan menarik tangannya.


Gadis yang ternyata adalah Jojo itu, hanya mengangguk pasrah.


Aldi pun menarik keras tangan gadis itu agar berdiri, namun yang terjadi gadis itu tersentak dan langsung menubruk tubuh pria itu, alhasil mereka pun saling menempel.


“Emm… ma-maaf.” Jojo langsung menjauhkan diri dari Aldi.


Sementara Aldi yang juga salah tingkah hanya mengusap tengkuk lehernya.


“Ada perlu apa anda kesini?” tanya Jojo mencoba mengalihkan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Aldi pun dengan ragu menatap gadis berkacamata itu, namun matanya membulat ketika melihat bibir gadis itu berdarah.


“Bibir kamu berdarah.” Aldi menyentuh bibir bawahnya sendiri.


Gadis itu pun mengikuti Aldi dengan mengusap bibirnya sendiri yang terasa basah lalu gadis itu melihat ibu jarinya dipenuhi cairan merah.


Ternyata bibirnya terluka akibat terbentur dengan pintu, saat pria itu mendorong pintu dari luar dengan keras.


Raut wajah Jojo pun berubah kesal menatap Aldi.


“Ini semua gara-gara kamu.” Jojo pun kembali ke dalam, meninggalkan Aldi, sementara pria itu pun langsung mengikuti gadis itu ke dalam juga.


:)


“Akhhhh…,” Jojo meringis kesakitan, tatkala Aldi menempelkan cotton bud ke bibirnya, “pelan-pelan dong." gerutunya lagi.


“Iya, ini aku udah pelan-pelan.” bantah Aldi.


“Akhh.” Pekik Jojo lagi.


“Udah sini.” Jojo merebut betadine cotton bud dari tangan Aldi, “kamu bikin aku tambah sakit… lagian kenapa sih, kamu tiba-tiba datang dan langsung mendorong pintu dengan keras.”


Jojo mengomel sambil mengoles bibirnya dan meringis perih. Sementara Aldi yang melihat itu hanya mampu tertawa kecil.


Jojo melirik sinis pria itu, “ada yang lucu?"


“Ada."


Jojo semakin berkerut heran.


"Muka kamu lucu banget… aku fikir kamu itu gadis yang pendiam dan kalem, ternyata kamu cerewet dan galak juga yah.” sambungnya mencerca wanita itu.


Jojo menatap sinis dibarengi dengan dengusan kesal, mendengar ejekan Aldi, “kamu ngapain sih, kesini?” kesalnya.


“Aku mau cari Nayla.”


“Nayla nggak ada, dia lagi ada pemotretan di luar.” ketus Jojo, lalu memasukkkan cotton bud ke dalam kotak p3k.


"Terus ngapain dia minta aku datang kesini," gumamnya pelan.


"Mana aku tau." acuh Jojo sambil menutup kotak p3k dan Aldi yang melihat wajah acuh Jojo hanya mencebikkan bibirnya.


“Astaga!!!” Jojo berseru panik, membuat Aldi yang duduk di sampingnya pun terkejut.


“Kenapa?” tanya Aldi bingung.


“Ini semua gara-gara kamu.” Jojo bangkit dari duduknya, “Nayla pasti udah kesal banget nungguin aku…,” Jojo pun berlari meninggalkan Aldi.


Sementara Aldi yang bingung, hanya menatap punggung gadis itu. kenapa gadis itu malah menyalahkannya, padahal dia hanya mencari Nayla, dan gadis itu belum memberitahunya dimana Nayla. Gerutu Aldi bingung.

__ADS_1


“Hey, kamu mau kemana?” Aldi yang heran pun berlari mengikuti gadis itu, karena Jojo belum memberitahu dimana Nayla.


-tbc-


__ADS_2