
Nayla melangkah masuk ke dalam rumah dan mendapati Rina yang duduk termenung di ruang keluarga.
Raut wajah gadis itu terlihat sedih lagi, Nayla berfikir apa yang terjadi dengan adiknya itu. Nayla merasa jika gadis itu sudah tidak memiliki masalah apapun lagi, mengingat kakinya sudah sembuh dan sekarang dia sudah bisa kembali latihan dan bisa ikut lomba.
“Kamu belum berangkat ke tempat latihan?”
Nayla berjalan mendekati adiknya itu, yang memang terlihat sudah siap dengan pakaian sportnya setiap sore.
“Ini aku juga mau pergi.” Gadis itu beranjak.
Tapi dengan sigap, Nayla langsung menarik tangan gadis itu hingga kembali terduduk di sofa.
“Ada apa? Kenapa muka kamu murung lagi?”
“Besok hari terakhir aku lomba dan sudah penentuan siapa pemenangnya.” Bibir gadis itu terlihat bergetar.
“Terus, kamu ingin kalah sebelum final?” Seloroh Nayla yang langsung mendapat tatapan sinis dari Rina.
“Bercanda.” Ucap Nayla.
“Aku berharap anggota keluarga yang lain bisa mendukung kemampuan aku di atas panggung.” Nada bicara Rina mulai terdengar lirih. “aku tidak berharap mereka untuk hadir, hanya saja aku ingin pengakuan dan dukungan dari mereka,”
“tapi, semuanya sibuk. Ayah sudah jelas sangat menentang hal ini, karena menurutnya yang aku lakukan tidaklah penting dan tidak menghasilkan apa-apa. Bunda sibuk mengurus dan memperhatikan anak orang lain sementara kak Rika, boro-boro ngucapin selamat, ngobrol aja jarang. Dia selalu sibuk dengan tugas dan acara di kampusnya. Terlebih lagi kak Riki. Mana pernah dia perhatian sama aku….” Rina pun meneteskan air matanya.
Sekarang Nayla paham, kenapa gadis ini sangat bandel dan susah di atur, itu semua karena dia tidak sepenuhnya mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang terdekatnya terutama orang tua dan saudaranya.
Nayla mengakui, jika ayah dan bundanya memang sangatlah sibuk, begitu juga dengan kedua kakaknya.
Meskipun sesekali mereka memperhatikan Rina, tapi itu tidak cukup bagi gadis kecil ini. Dia butuh dukungan dari orang terdekatnya terutama orang tuanya. Terlebih sang ayah yang sangat keras kepada Rina.
“Kamu tenang saja.” Nayla mengelus pundak Rina dengan lembut, “aku akan datang melihat lomba kamu dan mendukung kamu.”
“Serius?” mata Rina tampak berbinar.
Nayla mengangguk, “dan kamu harus tunjukin sama aku, kalau kamu akan jadi juara satu.”
“Itu pasti.” Rina mengacungkan jempolnya.
Rina tersenyum sangat lebar, membuat hati Nayla terenyuh, karena merasa gemas dia pun mengacak pelan rambut adiknya itu.
Gadis itu sangat paham sekali dengan apa yang dirasakan oleh Rina. Karena dirinya juga mengalami hal yang sama. Mengharapkan perhatian dari orang yang salah, memanglah sangat menyakitkan.
__ADS_1
“Ya sudah, aku berangkat sekarang.” cetus Rina lalu bangkit dari duduknya.
Nayla mengangguk, “semangat latihannya dan hati-hati.”
Rina pun mengangguk, lalu dengan riang gadis itu pun berlari keluar rumah.
:)
Setelah pemotretannya selesai dan memastikan kliennya sudah pergi meninggalkan studionya.
Dengan terburu-buru gadis itu pun langsung menuju pada motornya yang terparkir di depan studio.
Sebelum menaiki motornya, terlebih dahulu Nayla melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan waktu disana menunjukkan pukul 13.20. Itu artinya lomba sudah dimulai, karena Rina tampil di urutan kedua, jadi dia ada kesempatan untuk tiba dilokasi tepat waktu.
“Kamu mau kemana, Nay?” tanya asistennya yang turut mengikuti Nayla sampai ke parkiran.
“Aku mau keluar sebentar.” Nayla menaiki motornya.
“Kemana?”
“Ke mall grand.” Nayla mengenakan helmnya.
Raut wajah Jojo tampak bingung, “kamu ngapain kesana?”
“Jangan ngaco deh, kita masih ada pemotretan satu jam lagi… kalau kamu pergi sekarang, untuk menonton lomba itu, klien kita bisa menunggu…,”
“Aku nggak bakalan lama kok, aku cuma sebentar…” bantah Nayla.
“Kalau kamu terlambat, gimana? Dia bisa marah, nanti.” Raut wajah Jojo mulai cemas.
“Kamu tenangin dan yakinin dia, oke… aku pergi.” Nayla pun melajukan motornya meninggalkan area studionya.
Sebenarnya Nayla berencana mengajak Riki untuk melihat Rina lomba, tapi sayang sekali pria itu sedang ke Tangerang untuk meninjau lokasi proyeknya. Akhirnya diapun berangkat seorang diri.
Sementara raut wajah Jojo semakin frustasi, bagaimana dia bisa menenangkan klien yang sedang murka. Nayla benar-benar membuat gadis berkacamata itu berada dalam kesulitan.
:)
Nayla melajukan motornya di atas rata-rata, padahal kecepatannya hanya 60 km/jam.
Gadis itu hampir tiba di persimpangan jalan namun ketika dia melihat lampu lalu lintas hendak berubah warna dia pun semakin menambah kecepatannya, agar tidak terjebak di lampu merah.
__ADS_1
Namun belum sempat gadis itu melewati persimpangan jalan, tiba-tiba saja.
BRUK…
“Ahhhh....”
Nayla terjatuh bersama dengan motornya akibat mobil yang berbelok ke kanan dari simpang jalan sebelah kirinya.
Mobil hitam itu tampak menepi lalu berhenti, ketika melihat Nayla terjatuh. Seorang pria tampan berkacamata hitam dan berjas hitam pun turun dari mobil lalu mendekati Nayla.
“are you ok?” pria itu mengulurkan tangannya pada Nayla.
Nayla menatap kesal pria itu, “are you ok… are you ok…” ketus Nayla, “Apanya yang ok, ketika orang terjatuh seperti ini.”
Nayla mengoceh dengan kesal sambil berusaha berdiri sendiri dan mengabaikan uluran tangan pria itu.
Pria tampan berparas bule itu tersenyum tipis mendengar Nayla mengomel lalu menarik uluran tangannya kembali.
Pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya lalu menatap Nayla yang terlihat susah payah membangkitkan skuter kuningnya yang terjatuh. Pria itu kembali tersenyum tipis saat menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik, menurutnya gadis ini sangat unik dan imut.
“Need help?”
“Nggak perlu,” ketus Nayla lagi.
Setelah skuternya sudah berhasil berdiri, Nayla melirik pria itu dengan tajam dan pria itu nampak acuh ketika ditatap oleh Nayla dengan tatapan seperti itu.
“Urusan kita belum selesai….” Nayla pun naik ke atas jok motornya lagi lalu melajukannya lagi.
Sementara pria yang ditinggalkannya itu langsung melepas kacamata hitamnya dengan kasar.
Terlihat raut wajahnya sangat bingung, setelah melihat gadis itu pergi begitu saja.
Apa yang terjadi dengan gadis itu. dia bahkan tidak meminta pertanggung jawaban padanya, padahal dia sudah sangat siap untuk di caci maki dan bertanggung jawab.
Kejadian ini, terjadi karena kesalahan pria itu, dia menerobos lampu merah dan tidak sengaja menyenggol motor gadis itu hingga membuatnya terjatuh.
Tapi dengan polosnya, gadis itu hanya mengancam dan langsung pergi begitu saja.
Jika dia tahu urusannya akan semudah ini, dia lebih baik tidak turun dari mobilnya dan menghampiri gadis itu. Gadis itu hanya membuang-buang waktunya saja.
Tapi tidak buruk bertemu dengan gadis cantik dan polos itu, karena tiba-tiba saja pria itu merasa penasaran dan ingin bertemu dengannya lagi.
__ADS_1
Pria tampan itu kembali tersenyum tipis dan memakai kacamata hitamnya sebelum akhirnya dia kembali ke dalam mobilnya lalu melajukannya.
-tbc-