Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 23


__ADS_3

Nayla menatap jam dinding yang ada di ruang keluarga dan waktu disana sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Gadis itu jadi ragu untuk membawakan sepiring nasi goreng yang baru saja dibuatnya dan segelas air ke kamar Rina. Karena Nayla yakin jika gadis itu pasti sudah tidur.


Tapi Nayla tetap melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga menuju kamar Rina di lantai dua.


Dengan pelan Nayla masuk ke dalam kamar Rina yang masih terlihat terang, namun yang gadis itu dapati, adiknya itu sudah tertidur dengan meringkuk tanpa menggunakan selimut.


Nayla menghela nafas pelan dan meletakkan piring dan gelas di atas lemari nakas, lalu kemudian gadis itu melangkah mendekati Rina, untuk menutupi tibuh kecil itu dengan selimut.


Namun tiba-tiba saja, raut wajahnya berubah cemas, tatkala mendengar deru nafas Rina yang tidak beraturan dan tidurnya pun terlihat gelisah, wajahnya terlihat merah serta dipenuhi bulir-bulir keringat.


Nayla pun mulai panik, dia tidak tau harus apa dan bagaimana merawat orang yang sedang sakit.


“Dinginn…,” Rina mulai meracau dan semakin meringkukkan tubuhnya.


Mendengar racauan Rina, dengan sigap Nayla menutupi seluruh tubuh gadis itu dengan selimut. Setelah itu, dengan sigap gadis itu langsung berlari keluar dari kamar Rina menuju dapur untuk mengambil air kompresan.


Gadis itu pernah mendengar, jika seseorang mengalami demam, maka kita harus mengompresnya dengan air hangat. Nayla pun menuang air hangat ke dalam sebuah wadah.


“Air hangat, apa air dingin, yah?” gumam Nayla bingung sendiri, karena gadis itu lupa.


Nayla pun berlari keluar dari dapur untuk mengambil ponselnya yang ada di ruang keluarga, gadis itu ingin mencari tahu di google, dan hasil pencariannya adalah menggunakan air hangat.


Nayla pun kembali lagi ke dapur untuk mengambil waslap dan mangkuk yang berisi air hangat tadi lalu membawanya lagi ke kamar Rina.


Setelah tiba di kamar Rina, gadis itupun mengambil duduk disisi kepala adiknya dan mulai mengompresnya.


Nayla terjaga hingga subuh untuk terus menjaga dan mengompresi Rina. Setelah pukul lima pagi gadis itu pun ketiduran di sisi Rina dalam keadaan duduk.

__ADS_1


^Δ^


Pagi hari, Rina terbangun karena merasakan kepalanya sangat berat, seperti ada benda yang menindihnya, dan ketika gadis itu mengulurkan tangannya untuk mencari tahu benda apa itu, ternyata itu adalah tangan Nayla.


Rina mendongak dan terkejut ketika melihat Nayla tertidur di sisinya dengan posisi duduk sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


“Kenapa dia tidur disini?” Rina bingung lalu bangkit dari tidurnya dan tiba-tiba saja kain waslap terjatuh dari dahinya membuatnya terkejut.


Gadis itu pun mencoba memikirkan apa yang terjadi sehingga Nayla tertidur di kamarnya, dan di detik berikutnya gadis itu mulai paham ketika melihat mangkuk di atas lemari nakas dan waslap yang menempel di dahinya, dia kembali teringat jika semalam ternyata dia sedang demam.


Rina kembali menatap Nayla yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya, tiba-tiba saja dia merasa iba. Karena dia sangat yakin jika gadis itu begadang untuk merawatnya. Rina bisa melihat dari lingkaran hitam di bawah mata Nayla.


Rina menarik nafas pelan, sebelum akhirnya gadis itu turun dari ranjang lalu mendekati tubuh Nayla.


Dengan susah payah gadis itu membenarkan posisi tidurnya, dengan membaringkan tubuhnya di kasur lalu menutupinya dengan selimut.


BRUK


“AKHH…”


Suara jatuh dan pekikan itu berhasil mengejutkan dan membangunkan Nayla dari tidurnya.


Dalam kondisi setengah sadar gadis itu langsung berlari keluar kamar untuk melihat suara apa itu, dan apa yang sedang terjadi.


“Rina!!!” Nayla panik, ketika melihat kondisi Rina yang terduduk di lantai balkon dengan meiringis kesakitan.


Nayla pun langsung menghampiri Rina, “apa yang kamu lakukan? Kaki kamu masih sakit, kenapa kamu malah menari.” Kesal Nayla, ketika mendengar suara musik dari speaker yang ada di sudut balkon.


Rina hanya bergeming menatap sendu kakinya yang sakit dan masih di perban, detik berikutnya gadis itu pun menangis.

__ADS_1


Nayla terkejut ketika melihat Rina menangis, refleks gadis itu langsung menarik tubuh Rina ke dalam pelukannya.


“Maaf, aku tidak bermaksud memarahi kamu.” Nayla mengusap punggung Rina karena merasa bersalah, sekaligus menenangkan gadis kecil itu.


Setelah Rina mulai tenang, Nayla kemudian menuntun adiknya itu untuk duduk di kursi yang ada di balkon, “kamu diam disini, jangan bergerak. Ok?”


Rina hanya mengangguk pelan, setelah itu Nayla pun berlari kembali ke dalam kamar Rina untuk mengambil mangkuk dan waslap bekas kompres Rina, dan kembali ke dapur untuk mengambil air kompres yang baru.


Nayla sangat kelelahan naik turun tangga untuk mengambil air es, dan sekarang gadis itu sudah duduk di depan adiknya itu dan mengompres kakinya.


Sesekali Nayla melirik Rina yang hanya diam, dengan tatapan sendunya. Wajah Rina terlihat sedih, gadis itu seperti sedang menyimpan beban yang berat.


“Kalau ada masalah, cerita aja. Nggak baik kalau di pendam sendiri, nanti semakin sakit.” Nayla masih mengompres dengan pelan.


“Siapa tau aja aku bisa bantu,” sambungnya lagi lalu menatap Rina yang tengah menatapnya juga.


Wajah Rina tampak ragu, apakah dia akan mengatakannya pada Nayla, atau tidak. Dan gadis itu memilih diam.


Sementara Nayla tidak kehilangan akal untuk mengorek semuanya.


“Apa, ada hubungannya dengan dance?” tebak Nayla dengan ragu.


Dan lagi-lagi Rina diam. Tapi Nayla sempat melihat bola mata Rina berkedut, itu artinya tebakan Nayla benar, ini ada hubungannya dengan hobinya itu.


Nayla pun kembali melanjutkan tugasnya dalam diam, dia tidak ingin bertanya lebih dalam lagi yang penting dia sudah mengetahui pokok permasalahannya.


Menurut Nayla, siapapun akan sedih, jika mengalami hal semacam ini.


-tbc-

__ADS_1


__ADS_2