Saudara Tetapi Berjodoh

Saudara Tetapi Berjodoh
BAB 21


__ADS_3

Author's note π_π:


...Hai-Hai... Udah lanjut yah bab nya, untuk yang baru baca, terima kasih....


...dan untuk yang udah baca dari awal, silakan di ulang lagi bacanya, soalnya isinya udah di rubah....


...Aku nggak maksa kalian untuk ngulang membaca, hanya saja seluruh alur ceritanya sudah di rubah. jadi, biar paham alur selanjutnya, mending di baca ulang. terima kasih....


...happy reading ❤...


...«««««««««»»»»»»»»»»»»»...


“Kenapa kamu datang kesini lagi, ha? Bukannya kemarin kamu akan bersikap seperti orang asing, lalu kenapa kamu datang kesini lagi… tidak tau malu.


Dada Nayla sesak ketika mendengar ucapan Riki barusan, dia tidak menyangka Riki akan berucap seperti itu lagi padanya, padahal tadi pria itu baru saja mengucap maaf dan menyesal, tapi sekarang.


Nayla tersenyum sakit, gadis itu mengasihani dirinya sendiri, bisa-bisanya dia dengan mudahnya mempercayai ucapan orang yang tidak sadarkan diri.


“Kenapa kamu diam? apa kamu sadar, jika kamu itu tidak tau malu…,” ucap Riki nada yang dingin.


Nayla menatap wajah pria itu yang sangat datar, gadis itu menatap tajam netra hitam milik pria itu, “iya, aku memang gadis yang tidak tau malu dan kamu adalah pria yang tidak tau terima kasih.” Geram Nayla dengan mata yang berkaca-kaca.


Gadis itupun pergi meninggalkan Riki yang masih berdiri di tempatnya.


Nayla berlari keluar dari apartemen itu menuju lift. Sambil menunggu lift terbuka, gadis itu terus mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir.


“Ayo cepat terbuka.” Gerutunya sambil terus menerus menekan tombol di lift itu agar segera terbuka.


Nayla sudah sangat frustasi dengan semua ini, dia yang selalu terluka tapi dirinya juga yang selalu disalahkan.

__ADS_1


Nayla buru-buru masuk setelah pintu lift terbuka, melewati pria yang keluar dari lift itu dan langsung menekan tombol menuju lobi.


“Nayla.” Seru pria itu yang ternyata adalah Aldi.


“Aldi...,” Nayla semakin sedih ketika melihat pria itu, tanpa pikir panjang gadis itu langsung memeluk pria itu.


Aldi bergeming di tempatnya berdiri, menerima pelukan Nayla. Pria itu lalu menahan pintu lift agar tidak tertutup karena dirinya berada diambang pintu itu.


Aldi kemudian masuk ke dalam lift lalu menekan lagi tombol menuju lobi.


Aldi tidak tahu kenapa Nayla tiba-tiba menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya, tapi dia bisa menebak, jika gadis ini pasti sudah bertemu dengan Riki dan pria itu pasti berkata kasar lagi pada Nayla.


Nayla tidak mampu lagi untuk menahan kesedihannya di depan Aldi. Hatinya sangat sakit oleh perlakuan Riki kepadanya. Jika biasanya gadis ini mampu untuk menahan tangisnya dengan senyuman, kali ini tidak bisa.


Kesedihan di hatinya itu sudah seperti bom waktu yang selalu berjalan untuk meledak, dan mungkin saat inilah waktunya dia meledak. Selama ini dia selalu mencoba untuk kuat menerima setiap perlakuan Riki.


Namun ternyata dia salah, mendapat perlakuan yang lebih buruk dari orang yang sangat kita harapkan sebagai keluarga jauh lebih menyakitkan dan itulah yang dirasakan oleh Nayla.


Nayla menangis tersedu-sedu dalam pelukan Aldi. Gadis itu bisa merasakan pria itu mengelus pundaknya dengan lembut, untuk menenangkannya.


>>>>


Nayla menundukkan wajahnya mencoba menyembunyikan wajah sembab dan berantakannya pada Aldi yang tengah duduk di depannya.


Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang sudah dengan bodohnya memeluk pria itu dan menangis tersedu-sedu, Nayla lalu melirik pakaian pria itu yang basah akibat bekas air matanya dan itu membuatnya semakin malu.


“Maaf.” Lirihnya masih menunduk.


Aldi mengangkat sebelah alisnya bingung, “untuk apa?”

__ADS_1


Nayla melipat bibirnya, lalu menunjuk jaket Aldi yang basah. Aldi tersenyum melihat tingkah menggemaskan Nayla.


“Nggak pa-pa. santai saja, Nay.” Aldi lalu menatap kondisi Nayla yang terlihat sangat menyedihkan.


“Riki marah sama kamu lagi?” tanya Aldi dan Nayla mengangguk.


“Apa terjadi sesuatu yang lebih parah diantara kalian? Soalnya dua hari ini, Riki bersikap aneh, dia berusaha menipu aku dengan memakan makanan yang selalu aku sediakan dan berpura-pura menikmatinya, padahal sama sekali tidak.”


“Aku juga nggak tau, Di. Pria itu sangat egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan perasaan aku sama sekali, dia hanya menyalahkan aku tanpa menyadari kesalahannya sendiri…,” mata Nayla dipenuhi air mata lagi, “padahal aku juga tersakiti, Di.” Nayla pun menangis.


Aldi tidak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita itu, tapi dia tau itu adalah urusan mereka berdua. Untuk saat ini pria itu hanya bersimpati pada gadis itu, Aldi pun berpindah duduk di samping Nayla. Dia merangkul gadis itu dan menenangkannya lagi.


Meskipun Aldi tidak mengetahui permasalahan yang terjadi diantara mereka, tapi pria itu juga menyalahkan Riki dan membenarkan Nayla. Pria itu memang egois dan keras kepala.


Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk menangis dan bersedih, kini Nayla kembali ke tempat parkiran ditemani oleh Aldi.


Gadis itu akan kembali ke rumah, karena dia ingat jika di rumah Rina juga sedang sakit. Dan lebih parahnya lagi, gadis itu lupa membuatkan makanan untuk Rina, padahal tadi dia sudah berjanji.


Nayla pun mengendarai vespa kuningnya dan hendak melajukannya, tapi Aldi langsung mencegatnya.


“Ada apa, Di?” Nayla bingung.


Aldi tidak menjawab, pria itu melepaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Nayla, “ini udah tengah malam dan tubuh kamu sangat tipis. Kamu bisa masuk angin nanti.” Seloroh Aldi.


Nayla tersenyum, “makasih, Di.”


Aldi mengangguk lalu detik berikutnya motor Nayla pun melaju meninggalkan area gedung tinggi itu.


-tbc-

__ADS_1


__ADS_2