Sebuah Asa

Sebuah Asa
09


__ADS_3

Terhitung sudah dua bulan Asa bersekolah di SMA 28, dan selama itu Asa memakai si kumbang untuk pergi ke sekolah. Seminggu setelah Asa masuk sekolah si kumbang datang diantarkan oleh kurir sebuah jasa ekspedisi, Asa tentu senang. Itu tandanya ia tidak harus merepotkan teman barunya yang selalu mengantar jemputnya, jujur saja Asa tidak enak meski mereka searah karena Chandra tinggal di kampung belakang kompleks perumahan yang ditinggali Asa saat ini.


“Santai aja, Sa, sekarang lu sahabat gue. Jadi sesama sahabat harus saling tolong, bukan begitu bestie? Lagian kita tetanggaan, cuma bedanya lu tinggal di asrama elit gue di kampungnye ... kelurahan kita masih sama,” ucap Chandra nyeleneh, saat Asa mengucapkan rasa terima kasihnya.


Asa tidak menyangka dirinya akan memiliki sahabat di sini, ia kira orang-orang kota tidak akan ada yang mau berteman dengan anak kampung macam dirinya. Namun, pemikiran Asa terbantahkan oleh ke enam sahabatnya.


Mama Ranti awalnya melarang Asa memakai si kumbang, karena Cindy mengatakan jika banyak siswa yang menertawakan Asa dan itu juga berimbas padanya. Tentu itu hanya siasat Cindy agar hubungan ibu dan anak itu semakin renggang.


Mama Ranti juga sempat menawarkan Asa untuk membeli motor jika memang dia tidak ingin satu mobil dengan Cindy, tetapi Asa menolak. Ia tetap pergi memakai si kumbang.


Berbekal petunjuk jalan dari Chandra, Asa bisa datang ke sekolah selalu tepat waktu meski ia harus berangkat sedikit lebih pagi karena menggunakan si kumbang. Kenapa bisa begitu? Karena Asa melewati jalan tikus dari kampung belakang kompleks yang ternyata lebih dekat jaraknya ke sekolah, dibandingkan memakai mobil mewah milik Cindy yang harus mengambil jalan memutar.


Ucapan Cindy memang ada benarnya, semua siswa menertawakan Asa yang datang ke sekolah memakai sepeda. Namun, itu semua juga ada campur tangan Cindy. Ia yang menyebarkan berita bahwa Asa hanya seorang anak asisten rumah tangganya, hingga semua siswa memandang rendah Asa. Cindy juga yang mengatakan bahwa Asa anak yang tidak jelas ayahnya.


Berita-berita itu sampai di telinga Bian. Ia sangat kesal, ingin sekali ia melabrak Cindy dan merobek mulutnya. Bian pernah meminta penjelasan Asa, tetapi Asa hanya menyuruhnya membiarkan. Asa tak pernah menjawab semua pertanyaan yang Bian lontarkan, ia merasa tidak penting menceritakan aib keluarganya ke orang baru.


Awalnya niat Bian mendekati Asa hanya karena obsesinya terhadap Cindy, ia menyukai gadis itu. Dan berniat memanfaatkan Asa agar bisa dekat dengan Cindy, tetapi lambat laun Bian mulai sadar dengan tingkah menyebalkan Cindy. Apalagi gadis itu ternyata tengah dekat dengan Radit, Bian mulai berputar haluan dan lebih memilih untuk benar-benar menganggap Asa sebagai sahabatnya.


“Ya udah, kalo lu gak mau jawab gak papa, kita juga gak peduli sama asal-usul lu. Yang penting sekarang lu bagian dari kita, kalo ada apa-apa cerita kita pasti bantu.” Bian menepuk pundak Asa.


“Iya lu sekarang punya kita, Sa. Gak usah canggung begitu,” sambung Gio.

__ADS_1


“Kita itu semua untuk satu dan satu untuk semua,” cicit Fajar.


“Udah kek semboyan channel TV aje lu, Jar,” celetuk Chandra.


Asa hanya bisa tersenyum, ia merasa terhibur. Hatinya menghangat, baru kali ini ada orang yang care kepadanya selain Mbah Sumi dan Arka. Lama kelamaan Asa merasa nyaman berteman dengan mereka, meski mereka si biang onar di sekolah, tetapi rasa solidaritasnya patut diacungi jempol.


Siang ini Asa berjalan gontai di koridor kelas X. Ia berencana untuk menyusul sahabat-sahabatnya yang sudah lebih dulu pergi ke kantin, tanpa Asa sadari ada sepasang mata lentik yang tengah mengawasinya dari kejauhan. Menunggu kehadirannya setiap hari, mata indah itu bergerak tanpa berkedip seakan tengah merekam Asa dalam memori ingatannya. Hatinya diliputi rasa bahagia, ketika laki-laki yang dia tunggu-tunggu akhirnya melintasi kelasnya. Bibir tipis yang menandakan sang empunya sedikit ceriwis itu tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan yang sangat indah, ditambah dengan dua buah gigi gingsul menyempurnakan makhluk ciptaan tuhan yang satu ini.


🏍️🏍️🏍️


“Heh anak pembantu ....” Sebuah hinaan mendarat dengan tampan di telinga Asa. Ia menoleh dan mendapati Radit tengah menyeringai, mengejek dirinya di ujung koridor. Asa diam, ia ingin tahu apa yang diinginkan Radit. Asa tidak pernah menyinggung ataupun mencari masalah dengannya, tetapi sepertinya Radit yang sedang kurang kerjaan mencari masalah dengan Asa.


“Atau lebih tepatnya pembantu yang naik tingkat jadi majikan,” sindir Radit dengan senyum mengejek.


“Hah, kenapa? Itu faktanya kan? Ibu lo awalnya memang cuma seorang pembantu, tetapi dia berhasil menggoda Om Randika. Sampai-sampai Om Randika mau menikahinya, dasar anak penggoda.”


Asa yang sudah diliputi emosi merangsek maju dengan secepat kilat tangan Asa mendarat di pipi mulus Radit.


Buggg!


Radit yang belum siap langsung terjengkang, Asa mulai menaiki tubuh Radit memukulinya dengan membabi-buta.

__ADS_1


“Jangan pernah ngehina nyokap gue!” Asa memberi peringatan di sela-sela pukulannya.


“Kenapa? Nyokap lo emang pantes mendapat julukan itu.” Radit bukannya jera, ia malah semakin memancing amarah Asa.


Asa semakin kesetanan, ia sudah mulai dikuasai oleh amarahnya. Untung saja saat itu Edo dan Chandra melintas dan melihat sang sahabat tengah mengamuk mengajar habis-habisan lawannya, mereka langsung berlari mencoba melerai.


“Woy, Sa ... udah, Sa.” Edo mulai menarik mundur Asa.


“Astagfirullah! Nyebut, Tong, nyebut ... eling, Sa, aduhh!” Chandra yang mencoba melerai dari depan tanpa sengaja terkena pukulan Asa.


“Sa, udah Sa, jangan sampai Pak Bambang liat. Bisa abis lo digered ke ruang BK,” ucap Edo ketika berhasil menarik Asa. Ia mulai membawa Asa pergi. Edo tak ingin Asa sampai masuk ruangan keramat yang dijaga oleh Pak Bambang. Cukup dirinya dan ke lima temannya saja yang berlangganan keluar masuk ruangan itu.


Chandra membantu Radit untuk berdiri. “Madikpe lo ya, salah nyari lawan kan lo? Meski pendiam dia itu tetap anggota Orion. Jangan lagi-lagi lo nyari masalah sama dia,” ucap Chandra memperingati, ia sendiri kaget melihat Asa yang tenang bisa berubah menjadi beringas seperti itu. Apa yang sebenarnya Radit lakukan sampai Asa kehilangan kendali?


Saat Chandra telah menyusul dua sahabatnya, Radit tersenyum penuh arti kepada seorang wanita yang berada di ujung koridor. Mengacungkan jempolnya, seperti mengisyaratkan bahwa misinya berhasil.


Kesialan sepertinya tengah berada di sekitar Asa, entah Pak Bambang tahu dari mana tentang perkelahian Asa dan Radit. Padahal Bian dan yang lainnya sudah mengancam hampir seluruh siswa agar insiden ini tidak sampai ke telinga Pak Bambang.


Asa digiring masuk ke ruangan BK, di sana sudah ada Radit dan orang tuanya. Asa mematung di depan pintu, kenapa harus ada orang tua Radit? Jangan sampai Om Randika pun ke sini. Ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, ia tak ingin terlalu banyak menyusahkan Om Randika.


Selang beberapa menit, Mama Ranti datang dengan raut wajah cemas. Ia bisa bernapas lega saat melihat kondisi Asa yang baik-baik saja, hanya lengannya yang sedikit memar. Butuh waktu lama Pak Bambang bisa menyelesaikan masalah Radit dan Asa, orang tua Radit tetap tidak terima meski Mama Ranti sudah mengatakan siap bertanggung jawab untuk mengobati Radit hingga sembuh.

__ADS_1


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2