Sebuah Asa

Sebuah Asa
17


__ADS_3

Chandra:


Sa, besok ke cafe pake baju apaan yak? putih hitam?


Asa:


Jangan banyak gaya, pake baju biasa aja. yang penting sopan.


Chandra:


Celana gue pada bolong dengkulnya, Sa.


Asa:


Tunggu depan rumah, kita beli sekarang.


Asa langsung menutup ponselnya setelah melihat balasan dari Chandra hanya sebuah kata ok, ia bergegas memakai sepatu, mengambil jaket yang ada di dalam lemari, tak lupa ia sambar helm dan kunci motor yang ada di atas meja belajarnya. Asa langsung melesat pergi ke rumah sahabatnya.


Selepas pulang sekolah Asa dan Chandra memang benar-benar datang ke cafe yang bernama KuKini, bahkan mereka sudah resmi menjadi karyawan part time di cafe itu. Asa berharap semoga pekerjaan ini bisa mencukupi kebutuhannya, meski hanya sebagai seorang pelayan.


Sekitar pukul delapan malam Asa sampai di depan rumah Chandra, ia berniat mengajak sahabatnya membeli beberapa potong celana di sebuah mall yang terletak di bilangan Jakarta Selatan.


"Sa, kagak kebanyakan. Ini Elu beliin gue celana sampe tiga biji begini? atu aja cukup Sa," Chandra tidak enak hati, tadi siang Asa juga yang menebus si geboy dari bengkel. Apalagi ia tahu Asa mendapatkan uang itu tidak mudah, bahkan harus jungkir balik di aspal.


"Iya, terus Lu gak akan ganti-ganti celana gitu? udah terima aja. Lagian kita temen, Elu juga sering bantuin gue, sekarang gantian gue yang bantuin Lu." Asa menempuk bahu Chandra.


"Thanks ya, Sa."

__ADS_1


Ketika mereka sampai di basement mall, jam menunjukan pukul setengah sepuluh malam, mall sudah tampak sepi karena hampir mendekati jam tutup. Chandra melihat seorang gadis dan seorang pemuda yang sedang bertengkar. "Sa, bukannya itu Radit sama Cindy?"


Asa hanya melirik sekilas, ia enggan ikut campur urusan Radit dan Cindy. "Udah biarin aja."


"Anj-roottt Sa, si Cindy di gampar itu sama si Radit. Wadoohhh dia mau ngapain si Cindy itu? Gila aja berani bener itu bocah *****-***** anak orang di tempat ramai begini." Chandra langsung melotot saat Cindy di tampar dan di paksa untuk masuk ke dalam mobil Radit.


"Ini gak bisa di biarin Sa, gimana kalo yang disono ntuh adek gue. Gue harus bantuin Sa." Chandra berlari dan langsung menarik kerah belakang kemeja yang Radit kenakan.


Bugggg ...


"Bang-sat Lu, beraninya cuma sama cewek." Satu pukulan sebagai salam pembuka dari Chandra, mendarat di ujung bibir Radit.


"Cihh ... Lo jangan ikut campur urusan gue. Gue gak punya urusan sama Lo semua, urusan gue cuma sama ****** sialan itu." Radit bangkit, ia sapu ujung bibirnya yang berdarah.


Asa mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa gambar. "Sikat Chan, abisin. Kita udah punya bukti."


"Brengsek kalian semua." Radit maju mencoba untuk mengambil ponsel yang ada pada Asa, tetapi Chandra langsung menghadang. Perkelahian antara Chandra dan Radit pun tidak bisa di hindari. Sedangkan gadis yang ada di dalam mobil terlihat syok dan masih menangis sesenggukan, kondisinya sungguh memprihatinkan. Lengan baju robek, rambut acak-acakan, pipinya merah dengan sudut bibir mengeluarkan darah. Apa yang akan di lakukan Pak Randika jika melihat kondisi anaknya seperti ini?


Asa membelah malam kali ini hanya menggunakan kaos hitam berlengan pendek, dinginnya malam jelas terasa hingga menusuk tulangnya. Bisa Asa rasakan, Cindy yang kini berbalut jaket milik Asa terlihat masih ketakutan. Terbukti dari tubuhnya yang gemetar saat memeluk Asa yang memboncengnya.


Entah pelet apa yang di gunakan Asa, hingga membuat Cindy merasakan kedamaian saat memeluk tubuh kurus milik Asa. Cindy tidak menyangka jika tubuh Asa akan sewangi ini, hingga membuat dia berani menyandarkan kepalanya kepada punggung belakang Asa.


🏍️🏍️🏍️


Saat sampai di rumah, terlihat Mama Ranti dan Ayah Randika tengah bersantai di ruang keluarga. Mereka kaget melihat keadaan Cindy yang sangat berantakan, Mama Ranti langsung memeluk Cindy dan meminta penjelasan dari anak bujangnya. Ini yang paling Asa hindari, apapun yang menyangkut Cindy pasti akan merepotkan dan berakhir panjang.


"Apa yang terjadi Asa?"

__ADS_1


"Tanya aja sama orangnya langsung." Jawaban Asa membuat Mama Ranti kesal, emosinya terpancing. Dalam keadaan seperti ini pun Asa masih saja keras.


"Asa! mau kemana kamu? Mama belum selesai. Kamu apakan Cindy?" Ucap Mama Ranti dengan nada tinggi.


Asa yang tengah berjalan menuju tangga seketika berhenti, apa maksud mamanya bertanya seperti itu? apa mamanya tengah berpikir Asa yang melakukan hal keji seperti itu kepada Cindy? Asa tidak menyangka mama kandung yang katanya telah melahirkannya memiliki pemikiran sekeji itu padanya.


"Apa maksud Mama berkata seperti itu? Apa karena aku hanya seorang berandal Mama bisa seenaknya menuduhkan semua hal buruk padaku?" Asa sama sekali tidak membalikan badan ketika bertanya seperti itu.


"Bu-bukan A-Asa, Ma," Cindy yang berada dalam pelukan Mama Ranti ikut membela Asa.


"Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu, karena aku dididik untuk menghargai orang lain, harusnya mama berpikir, didikan apa yang mama berikan kepada Cindy hingga dia mengalami hal seperti ini." Asa langsung pergi, hatinya sungguh amat sangat sakit. Ia merasa makin sendiri, sang mama semakin berat sebelah ini sudah tidak sehat. Kasih sayang yang Asa harapkan mungkin sekarang sudah tidak Asa butuhkan lagi dan mungkin mulai sekarang ia akan semakin jauh dari sang mama.


"Apa-apaan Mama ini? Kenapa bisa memiliki pemikiran seperti itu?" Terdengar di telinga Asa dari kejauhan Randika yang menegur sang istri.


Ia sudah tidak peduli, yang ia inginkan sekarang hanya beristirahat. Jika saja Arka mau di ajak pergi dari rumah ini, Asa akan lebih memilih tinggal di rumah petakan yang ia kontrak sendiri untuk tempat tinggal mereka berdua.


Di kamar Cindy masih terdengar isak tangis yang mengisi seluruh ruangan, padahak waktu sudah menunjukkan dini hari. Mama Ranti dengan setia menemani Cindy yang sudah berganti pakaian dan sudah di obati. Randika tentu saja tidak terima anaknya di perlukan seperti ini, ia akan memproses semua ke pihak yang berwajib besok pagi.


Sedangkan Mama Ranti tengah menyesali perbuatannya kepada Asa tadi, apalagi setelah Cindy mengakui kesalahannya selama ini.


"A-Asa gak sa-salah Ma, di-dia gak ngapa-ngapain a-aku, dia dan temennya malah yang nolongin aku." Tutur Cindy.


"Radit gak mungkin melakukan hal di luar batas seperti ini, jika kamu tidak menjanjikan sesuatu sayang." Randika mulai mencoba mencari informasi.


"Aku yang salah, sejak dulu aku gak suka Asa sama Arka tinggal disini, apalagi ke Asa. Karena aku merasa terlalu takut Mama tidak akan menyayangiku lagi." Cindy mulai jujur.


"Di sekolah Asa di kenal sebagai anak pembantu karena aku yang menyebarkan isu itu, supaya dia gak betah. Bahkan aku memanfaatkan Radit, aku mau jadi pacar Radit asalkan dengan syarat dia mau mengganggu dan mencari gara-gara dengan Asa. Radit juga yang merusak sepeda milik Asa, membayar orang untuk mengejek Asa dan memukulnya." Lanjut Cindy. Ia tidak menyangka karena kelakuannya sendiri ia sampai mendapatkan pelecehan seperti ini dari Radit.

__ADS_1


"Astagfirullah! Nak," Mama Ranti kaget bukan main. Randika tidak percaya anaknya yang selama ini dia didik dengan penuh kasih sayang berani berbuat sejauh itu.


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2