Sebuah Asa

Sebuah Asa
14


__ADS_3

Motor milik Asa melesat di atas si hitam yang mulus dan mengkilat, purnama yang sempurna menghiasi malam ini. Seorang Asa tengah mempertaruhkan nyawanya kembali, pekerjaan ini sungguh membuatnya ketagihan. Awalnya hanya sekedar coba-coba, tetapi ketika melihat uang yang di dapat bisa mencapai lima juta dalam sekali balapan Asa malah menginginkannya lagi dan lagi.


Motor melaju dengan kencang seperti tanpa beban, tak tanggung-tanggung Asa menggunakan kecepatan hingga 170 kilometer/jam. Laki-laki itu memimpin jauh di depan hingga melewati garis finish, Asa menang telak tidak ada perlawanan yang sengit dalam balapan kali ini.


Sahabatnya langsung berlari ingin memeluk Asa dan mengucapkan selamat, namun suara sirine dari mobil polisi mengurungkan niatnya.


"Polisi woy polisi ... bubar!" teriakan seseorang langsung membuat Asa kalang kabut.


Bian dan yang lain langsung tancap gas meninggalkan jalanan yang di pakai untuk balapan tanpa menyadari ketiadaan Asa, Asa sendiri belum mengenal daerah itu, dia tidak tahu mana jalan tikus yang bisa ia gunakan untuk menghindari kejaran polisi.


Sektar lima belas menit Bian dan inti Orion sampai di sebuah kawasan perumahan yang di tempati Fajar, di sanalah mereka baru menyadari bahwa Asa tidak bersama mereka.


"Asa mana?" tanya Darren.


"Mam-pus itu bocah mana ya?" Fajar celingak-celinguk.


"Ya Ampun si Asa begimane nasibnya, gue kok bisa lupa ama dia. Dia belum hafal daerah sini." Chandra mulai was-was.


"Kita cari Asa, jangan sampe dia ketangkep polisi." Gio mulai menaiki motornya kembali.


Di lain tempat Asa masih mencari jalan untuk dirinya lari dari kejaran polisi, kepalanya celingukan kesana kemari takut-takut jika polisi sudah berada di belakangnya. Asa terlalu fokus pada ketakutannya terhadap polisi, hingga lupa jika berkendara yang terpenting adalah memperhatikan jalan.


Ketika di tikungan Asa kaget bukan main karena di depannya ada gerobak pedagang nasi goreng yang tengah melintas, ia membanting setir sekaligus mengerem seketika.


Braaakk ...


Bunyi motor Asa menghantam aspal terdengar kencang, badan Asa terpental jauh berguling-guling di aspal yang dingin. Untung saja wajah tampannya tak sampai mencicipi ciuman maut dari si hitam legam karena masih terlindung helm.


Pedagang nasi goreng ingin membantu, tetapi Asa menolak. pemuda itu berucap jika temannya akan datang dan menyuruh si pedagang untuk melanjutkan berjualan kembali. Sekitar lima menit Asa hanya tergeletak seorang diri di tengah jalan, napasnya masih belum teratur ia rasakan seluruh badannya nyeri, sakit ngilu campur aduk menjadi satu. Apakah ini sudah saatnya ia bertemu dengan Mbah Sumi dan Mbah Wowo? Apa dia akan meninggal dengan cara seperti ini? sungguh teragis sekali. Hanya itu yang ada di pikiran Asa.


Saat kesadarannya mulai terkumpul, Asa langsung mengambil ponsel dalam saku celananya, ia menelpon Bian karena namanya berada di urutan nomor dua paling atas dalam kontak ponselnya.


"Halo Bi, tttssssss  ...." Asa mulai berbicara dengan menahan sakit ketika Bian mengangkat telponnya.

__ADS_1


"Halo Sa, Elu dimana Sa?, Elu gak papa kan?" Bian terdengar panik.


"Gue gak papa, tolongin Gue,"


"Elu kenapa? sekarang dimana? biar kita samperin."


"Gue di ...." Asa mulai celingukan mencari petunjuk jalan, karena jujur saja ia tidak tahu ini di mana.


"Lama lu, udah elu share lock aja gue tungguin." Bian langsung menutup telponnya.


Asa mulai mengirim lokasinya kepada Bian, sekitar dua puluh menit kemudian akhirnya sahabat-sahabatnya datang. Mereka meringis melihat keadaan Asa, terdapat luka menganga di bagian lengan kiri Asa, darah terus merembes keluar dari hoddie yang robek. Celana jeansnya pun mengalami hal serupa, robek di bagian lutut kiri.


Chandra langsung membonceng Asa menggunakan motor Asa, karena ia malam ini tak membawa motor pujaan hatinya.


"Thanks ya Chan, si geboy mana ko gak elu bawa?"


"Iye, si geboy masuk bengkel Sa, malum lah motor tua, tapi ada untungnya juga sih gue gak bawa dia malam ini. Yang ada bisa ketangkep gue ama pakpol kalo sampe make si geboy."


"Iya juga."


"Nggak, kapok gue Chan, gue mau nyari kerja yang bener."


"Cakep, Kemarin ada lowongan noh di cafe yang deket perempat onoh."


"Perempatan mana?"


"Perempatan yang arah mau ke Bintaro, tapi elu yakin mau ngambil itu kerjaan?"


"Emang ngapa?"


"Jadi pelayan, Sa."


"Gak papa, lagian pelajar kek kita ini mau jadi apaan? manager? Ngimpi lu." Asa menggeplak kepala Chandra.

__ADS_1


"Adoohh sakit ... Het ini bocah tenaganya masih gede bae, badan udeh pada berdarah-darah juga."


"Elu yakin lebih milih jadi pelayan dari pada jadi joki, Sa? apa kata orang nanti."


"Asal Lu tau, hidup itu penuh pilihan. Asalkan Lu bisa bertanggung jawab dengan pilihan Lu, apa yang orang lain katakan itu gak penting. Pikirin aja masa depan lu yang cerah dan sukses nanti."


"Ya udah gue ikut ngelamar kerja bareng Lu dah, Sa, Gue juga udah ogah makan duit babeh gue."


"Ya."


Asa menolak ketika sahabatnya mengajak ke rumah sakit, ia pun tidak ingin pulang ke rumah Pak Randika. Mau tidak mau Asa di bawa ke rumah Fajar, karena rumahnya lah yang paling dekat dari sana.


Fajar hendak menelpon dokter keluarga karena tak tega melihat kondisi Asa, lagi-lagi Asa menolak. Ia lebih memilih mengobati lukanya sendiri, lalu beristirahat.


🏍️🏍️🏍️


Pagi harinya rumah orang tua Fajar di gegerkan oleh tingkah laku inti Orion, Asa yang sedang sakit malah tidak mau di obati karena rasa perih yang tidak bisa ia tahan. Itu semua membuat Chandra dan Bian kesal setengah mati, mereka semua akhirnya membagi tugas. Gio dan Edo bertugas memegang kaki kanan dan kiri Asa, Fajar bertugas memegang tangan kiri Asa yang terluka cukup parah, Chandra bertugas memegang badan dan tangan kanan Asa, sedangkan Darren bertugas memegang kamera mengabadikan momen langka apalagi saat Bian mengolesi luka Asa dengan alkohol. Pemuda itu langsung berteriak kencang yang membuat sahabatnya tertawa puas.


Mommy Fajar yang tengah berada di dapur sangat penasaran sebenarnya apa yang di lakukan anak laki-laki beserta temannya di atas sana, mengapa bisa seribut itu. Ia putuskan memanggil mereka semua untuk sarapan bersama.


"Ada apa sih rame banget?" tanya mommy Fajar ketika mereka semua sudah duduk dengan tampan di meja makan.


"Ini Tan, biasa sedikit drama rumah tangga di pagi hari." Jawab Chandra dengan mulut penuh nasi goreng.


"Makan yang banyak ya El, kamu juga Jar, makan yang banyak." Mommy Fajar memberi perhatian kepada kedua anaknya.


"Iya Mom." Jawab Elita adik Fajar.


"Iya Mom. Terimakasih ya Mom udah ngizinin temen-temen aku nginep." Fajar memeluk dan mencium Mommynya.


Fajar di rumah berbeda dengan Fajar di luar sana, jika di rumah ia sangat manja kepada mommynya, karena ia awalnya adalah seorang anak tunggal yang selalu di manja, namun sebutan anak tunggal yang Fajar sandang selama hampir dua belas tahun harus kandas karena kehadiran Elita di dalam rahim sang mommy.


"Iya, udah jangan cium-cium, mulut kamu penuh minyak ish." Fajar tetap melanjutkan aksinya menciumi sang mommy.

__ADS_1


Ada tiga pasang mata yang menatap iri kedekatan Fajar dan mommynya, mereka berandai-andai jika mereka bisa seperti itu dengan ibu mereka. Pasti sangat membahagiakan sekali.


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2