Sebuah Asa

Sebuah Asa
03


__ADS_3

Kabut turun pagi ini, membuat udara di bulan Mei yang harusnya hangat berubah menjadi sejuk. Terlihat dua anak yang menggunakan seragam dengan almamater sebuah sekolah menengah pertama sedang berjalan beriringan.


Asa dan Arka pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, mereka tapaki jalan yang masih tanah dengan sedikit kerikil yang tersebar di sepanjang jalan. Tidak ada aspal yang hitam mengkilap, tidak ada jalan yang di beton. Hanya ada jalan berlubang di sana sini, jika hujan turun akan menimbulkan genangan air juga tanah yang ikut terbawa oleh alas kaki yang kita pakai.


Banyak teman-teman Asa dan Arka yang menggunakan sepeda motor, mereka sebenarnya kasihan melihat kakak beradik itu setiap hari harus berjalan kaki menuju sekolah. Dalam hati rasanya ingin menawarkan bantuan, tetapi mereka takut jika orang tuanya mengetahui dan memarahi hanya karena memberi tumpangan kepada Asa dan Arka.


“Kenapa gak pake si kumbang aja sih, Bang? Jalan kaki mulu kita dari TK sampe sekarang SMP, mana makin jauh lagi sekolahnya.” Arka mulai merengek.


“Nanti rusak, sayang itu peninggalan Mbah Wowo satu-satunya.”


“Andai kita punya motor kaya yang lain, Bang.”


“Doain aja, semoga nanti Abang udah kerja kita bisa punya motor.”


“Yang gede ya, Bang. Kaya di tivi-tivi tuh, tapi Abang mau kerja apa? Di kampung cuma ada sawah, sama bebek punya Pak Lurah. Abang mau nernak bebek?”


Asa yang mendengar ucapan adiknya merasa sedikit kesal, bukan mendoakan yang baik-baik Arka malah berucap seperti itu. Bukankah ucapan itu adalah doa, Asa tidak mau dirinya hanya menjadi peternak bebek. Ia harus bisa mengangkat derajat Mbah Sumi, ia harus bisa membanggakan Mbah Sumi apapun yang terjadi.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di sekolah menengah pertama Bojong Kulo, sekolah SMP satu-satunya yang ada di kampung bahkan di kecamatan Bojong Kulo.


Arka langsung berjalan menaiki tangga ke arah kelas VII, sedangkan Asa berbelok ke arah koridor yang berlawanan arah. Sebenarnya Asa sudah tidak ada tujuan ke sekolah karena ia baru saja mengikuti ujian nasional, tetapi ia tidak tega melihat Arka yang harus pergi ke sekolah sendirian. Jadi Asa putuskan untuk tetap pergi ke sekolah hingga mereka libur semester nanti.


Dari ujung koridor Asa berjalan lurus ke arah belakang sekolah, di sana terdapat pohon angsana yang tinggi menjulang dengan bunga berwarna kuning. Asa duduk di bawah pohon itu mengeluarkan sebuah buku serta pensil. Ia mulai membuat coretan demi coretan di dalam buku catatan miliknya.

__ADS_1


Asa sangat menyukai desain dan gambar, ia tuangkan semua perasaannya ke dalam sebuah coretan. Kesendirian, kerinduan, kesunyian, kesepian semuanya ada di dalam gambar Asa.


Asa menarik nafas panjang, ia tutup wajahnya dengan buku dan tertidur di bawah pohon angsana.


🏍️🏍️🏍️


Entah sudah berapa lama Asa tertidur, hingga sebuah guncangan dan teriakan mengusik tidurnya.


“Sa, bangun, Sa! Si Arka dikerjain lagi tuh sama temen angkatannya.” Adam membangunkan Asa dengan nafas terengah-engah.


“Siapa?” Asa kaget bukan main.


“Biasa geng desa, si Dandi anak Pak Lurah.”


“Di toilet, udah cepetan sana bantuin kasian,” Asa dan Adam berlari ke toilet yang ada di ujung barat sekolah, sedangkan posisi pohon angsana yang menjadi tempat ternyaman Asa ada di ujung timur sekolah.


“Woy berenti!” teriak Asa saat melihat Arka yang akan ditarik masuk ke dalam toilet. Semuanya berhenti dan menengok kearah Asa, Dandi yang melihat Asa langsung menyeringai. “Woho Abangnya datang nih ... mau jadi pahlawan kesiangan ya, Bang?”


Asa tidak menjawab, ia lebih fokus memperhatikan kondisi sang adik yang sudah berantakan. Dasi longgar, seragam basah dan kotor, dua kancing atas lepas, entah apa yang sudah diperbuat Dandi pada adiknya. Seketika emosi Asa naik, ia kepalkan tangannya dan mulai berjalan merangsek maju untuk menghajar Dandi. Namun di tahan oleh Adam.


“Jangan, Sa, inget mereka geng desa, bisa-bisa nanti Mbah Sumi yang kena imbasnya.” Adam mencoba mengingatkan Asa, karena geng desa sendiri adalah kumpulan dari anak-anak yang orang tuanya bekerja menjadi staf desa. Di ketuai oleh Dandi anak Pak Lurah, disusul Rio anak Pak RW, Diaz anak Pak RT dan staf-staf lainnya.


“Aku gak peduli, Dam. Mereka sudah keterlaluan, mereka bisa saja menghinaku karena aku sadar bukanlah anak baik. Namun, tidak dengan adikku. Dia anak baik, tidak sepantasnya dia diperlakukan seperti ini.” Asa mengibaskan tangan Adam yang mencekal lengannya dan mulai berjalan semakin mendekat, dengan sekali ayunan Asa berhasil mendaratkan tangannya tepat di pipi Dandi.

__ADS_1


“Bang udah, Bang, jangan diterusin lagi. Inget Si Mbah, Bang ... Bang Adam! tolong tarik Bang Asa,” Arka berteriak, ia takut abangnya hilang kendali. Asa memang emosional, tidak bisa dipancing sedikit ia akan langsung menghajarnya sampai puas. Arka ingat tahun lalu abangnya juga seperti ini dan berdampak pada kesehatan Mbah Sumi.


Adam langsung menarik Asa mundur, ia takut emosi Asa akan merugikan Asa sendiri. Apalagi ini area sekolah jika ada guru yang tahu Asa pasti akan berakhir di ruang BK.


“Sialan ... Dasar anak gak tau diri! Berani kamu mukul aku hah!” Teriak Dandi tidak terima wajahnya dipukul Asa.


“Sudahlah, Dan. Lebih baik kamu lepaskan Arka, mau kamu sebenarnya itu apa? Selalu mencari masalah dengan Asa dan Arka.” Adam mulai menengahi mencoba bicara dengan Dandi.


“Diem kamu! Mau aku aduin ke mama kamu hah? Kalo kamu masih temenan sama mereka.” Dandi mulai mengeluarkan jurus ancamannya.


“Cih ... bisanya Cuma ngadu,” Asa memberikan senyum mengejek. Dandi yang tidak terima langsung melayangkan pukulan ke wajah Asa, akhirnya perkelahian pun tidak bisa dihindari lagi.


Dan di sinilah mereka sekarang, ruang bimbingan konseling menjadi saksi pak lurah menghina habis-habisan keluarga Mbah Sumi.


“Tolong Mbah, ajari cucumu ini sopan santun, jangan karena mereka tidak merasakan kasih sayang orang tua jadi kurang ajar. Mau jadi tukang pukul apa mau jadi preman?” Pak Lurah berbicara dengan urat leher yang menegang dan tangan yang menunjuk-nunjuk wajah renta Mbah Sumi. Ia tak terima anaknya babak belur oleh Asa.


Asa berdiri, ia tak terima mbahnya ditunjuk-tunjuk seperti itu. “Pak Lurah yang terhormat, tolong introspeksi diri dulu. Liat adik saya, kondisinya seperti itu karena ulah anak Bapak, wajar saya sebagai kakaknya tidak terima.”


“Sudah ... sudah, sini duduk lagi sama Mbah ya, Bang.” Mbah Sumi langsung menarik lengan sang cucu. Air mata mulai menggenang di mata Mbah Sumi, satu tangannya sedari tadi selalu memegangi dadanya seperti menahan sakit.


“Saya minta maaf, jika cucu-cucu saya sudah main hakim sendiri dengan memukul anak Bapak hingga memar seperti itu. Meski mereka tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya, tapi InsyaAllah saya selalu menanamkan rasa kasih sayang kepada mereka. Saya tau betul cucu-cucu saya seperti apa, mereka tidak akan mengusik jika tidak diusik terlebih dahulu. Tidak akan menggigit jika tidak digigit terlebih dahulu. Jika salah satu dari mereka ada yang diusik, maka yang lain akan melindungi. Karena di dunia ini mereka hanya berdua dan harus selalu saling melindungi.”


🏍️🏍️🏍️

__ADS_1


__ADS_2