Sebuah Asa

Sebuah Asa
08


__ADS_3

Suara gemercik air yang berasal dari kamar bernuansa pink menandakan sang empunya tengah melaksanakan ritual pagi hari di kamar mandi. Seragam sekolah putih abu lengkap dengan dasi telah tertata rapi di atas ranjang. Semua sudah siap digunakan.


Selang beberapa menit seorang gadis yang tak lain adalah Cindy, keluar dari kamar mandi. Gadis itu menggunakan bathrobe dan handuk menutupi rambutnya yang basah. Cindy raih seragam sekolah dan berlalu ke arah walk in closet untuk memakainya.


Setelah berseragam, Cindy menarik handuk yang menutupi kepalanya. Seketika rambut yang masih basah tergerai indah. Ia lalu berjalan menuju meja rias, tangan mulus yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus terjulur mengambil hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya.


Bulu mata lentik miliknya ia olesi maskara, bibir mungilnya ia poles dengan sedikit lipbalm agar tak kering dan masih terlihat pink alami. Nama Cindy Herera Abyaksa tertulis jelas dalam name tag yang tersemat di dada kanan si gadis.


Putri semata wayang Randika Abyaksa ini terlahir dengan kehidupan yang bisa dibilang sempurna, orang tua yang kaya raya, ayah dan bunda yang sangat menyayanginya, semua keinginannya bisa ia raih dengan mudah.


Cindy Herera Abyaksa, sang primadona SMA 28. Sejak ia mengikuti masa orientasi siswa, ia sudah menjadi sorotan karena parasnya yang cantik dan kulitnya seputih salju.


Siapa sangka di balik popularitas dan kehidupan sempurnanya, ia pernah menyimpan luka batin. Dunianya hancur ketika sang ibunda harus meninggal dunia di saat ia berusia enam tahun, Hari-harinya berubah suram. Ditambah sang ayah yang sibuk dengan pekerjaannya menambah kesunyian di relung hati Cindy. Ia kehilangan semangat hidupnya, hingga sang ayah memutuskan mencarikan pengasuh untuk menemaninya sepanjang hari.


Selama seminggu penuh sang ayah mencari, banyak yang datang untuk melamar. Namun, tidak ada yang cocok dengan Cindy. Hingga pada suatu hari Mama Ranti datang berniat melamar pekerjaan. Awalnya Cindy bersikeras menolak, tetapi seiring berjalannya waktu Cindy mulai menerima bahkan tidak mau ditinggalkan barang sekejap pun. Ia mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari Ranti, dan akhirnya Randika memutuskan untuk mempersunting Ranti demi melihat Cindy bahagia.


Tok ... tok ... tok ...


“Non, dipanggil Ayah buat sarapan,” terdengar suara Bi Ani setelah tiga kali ketukan di pintu.


“Iya, Bi. Bentar lagi aku turun.” Cindy mulai merapikan rambutnya, menyelipkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu di dekat telinga sebelah kiri.


Setelah semuanya siap, Cindy turun dan bergabung di meja makan yang terlihat berbeda dari biasanya. Ada Asa yang tengah tawari roti oleh sang mama, dan ada Arka yang tengah mengobrol dengan sang ayah. Hati Cindy mulai panas, ia tak suka perhatian kedua orang tuanya teralihkan, ia ingin perhatian dan kasih sayang orang tuanya hanya untuk dia seorang.


‘Liat aja gue gak akan biarin anak kampung itu ngerebut ayah sama mama, kasih sayang mereka Cuma milik gue seorang,' gumam Cindy dalam hati.

__ADS_1


Asa dan Arka sejujurnya tak terbiasa sarapan pagi dengan roti dan susu seperti ini, tetapi mereka sungkan untuk berbicara karena mereka sadar hanya menumpang di sini dan tidak bisa se enaknya.


🏍️🏍️🏍️


Kakak beradik yang memakai seragam berbeda warna itu keluar dari pintu utama setelah menyelesaikan sarapannya, tampak dua buah mobil sudah disiapkan. Arka tercengang baru kali ini ia diantarkan sekolah memakai mobil. “Bang, ini gak mimpi kan, Bang?” Arka menepuk-nepuk pipinya.


“Gak,” jawab Asa.


Arka melirik sang abang yang memberikan jawaban hanya dengan kata andalannya yaitu ya, atau gak. Arka awalnya kesal, namun ia jadi ingin menggoda sang abang ketika melihat abangnya memakai seragam putih abu.


“Cie udah jadi anak esema sekarang nih, pasti banyak cewek yang terasa-asa nanti di sekolah baru, nanti cerita-cerita ya, Bang.” Arka mencolek dagu sang abang, menggoda Asa adalah kebiasaan baru Arka sepertinya.


“Cerita apa?”


Asa malas menanggapi adiknya, ia lebih memilih diam dan memandangi kedua mobil di hadapannya. Tak lama Ayah Randika, Mama Ranti dan Cindy keluar, “Asa kamu ikut mobil Ayah dan Cindy ya, Nak, ” ucap Mama Ranti.


“Aku bisa pergi sendiri, pake angkutan umum. Aku minta alamat sekolahnya aja, Pak,” ujar Asa sambil menatap Randika.


“As-“ baru saja Ranti akan bicara bahunya sudah diusap dengan lembut oleh sang suami. Randika memberikan kode untuk Ranti tidak keras terhadap Asa.


“Boleh kok, tapi besok-besok aja ya ... sekarang Asa pakai mobil Cindy dulu bareng sama Ayah dan Cindy biar gak nyasar,” ucap Randika.


“Udah ayo kalian masuk ke mobil duluan takut telat.” Sambungnya. Asa, Arka dan Cindy menurut, mereka berjalan terlebih dahulu.


“Sabar, udah ayo berangkat. Kita sentuh hati Asa sedikit demi sedikit, Ma.” Randika mencoba menenangkan sang istri.

__ADS_1


Arka masuk ke mobil yang biasa Randika gunakan ke kantor, sedangkan Asa dan Cindy masuk ke mobil kesayangan Cindy.


“Elo jangan so, kek udah punya duit aja nolak dianterin bokap gue. Uang jajan lo aja duit bokap gue,” celetuk Cindy dari kursi belakang.


Asa yang berada di kursi depan bersama supir hanya diam, ia malas berhadapan dengan Cindy. Tentunya karena Cindy seorang gadis, jika Cindy laki-laki sudah Asa ajak gulat sedari kemarin. Dia wanita cantik terlihat lemah lembut, namun mulutnya bagaikan bon cabe level sepuluh.


Asa menarik napas panjang, dia diam bukan berarti menerima begitu saja hinaan Cindy. Ia akan selalu ingat dengan semua ucapan-ucapan Cindy padanya. Kapan si kumbang akan sampai? Itulah yang ada dalam pikiran Asa saat ini. Bukannya sang mama sudah berjanji akan mengirim si kumbang ke Jakarta melalui jasa ekspedisi, karena itu salah satu syarat Asa mau diajak ke Jakarta kemarin. Asa tidak mungkin meninggalkan si kumbang sendirian di kampung, Asa selalu ingat kata-kata Mbah Sumi.


“Jaga si kumbang baik-baik, seperti Mbah menjaga Asa dulu.” Itulah yang diucapkan Mbah Sumi dulu. Ketika Asa tidak mau mencuci si kumbang.


Andai si kumbang sudah ada, ia lebih memilih memakai si kumbang dari pada harus menaiki mobil ini. Asa tidak ingin memiliki hutang budi apa pun terhadap Om Randika, ia sebisa mungkin harus bisa hidup mandiri di Jakarta ini.


Tak terasa mobil sudah memasuki area sekolah SMA 28, seluruh siswa yang berada di area parkir tentu sudah tahu bahwa itu mobil Cindy si primadona sekolah. Dan ketika Cindy keluar bersama seorang laki-laki yang belum pernah mereka liat, membuat semuanya kaget. Meski penampilan Asa biasa saja, tetapi wajah tampannya tak bisa tertutupi.


Randika merangkul bahu Asa, mengajaknya ke ruangan kepala sekolah. Sedangkan Cindy berlalu ke kelasnya bersama kedua temannya. Sepanjang jalan Lili dan Cempaka bertanya siapa gerangan laki-laki yang satu mobil dengan Cindy tadi, dan dengan tegas Cindy menjawab itu anak pembantunya.


Di lain tempat, Asa yang telah diperbolehkan masuk ke kelas karena seluruh persyaratan telah diselesaikan oleh Randika. Tengah berdiri di depan kelas bersama guru yang menjadi wali kelasnya, Asa di persilahkan untuk memperkenalkan diri. Setelah itu ia disuruh mencari bangku yang kosong untuk tempatnya duduk, karena guru mata pelajaran akan segera datang itu artinya pelajaran pun akan dimulai.


Asa berjalan ke deretan meja paling belakang, karena hanya di situlah ada bangku yang kosong. Ia langsung duduk, mengabaikan tatapan siswa yang menjadi teman sebangkunya.


“Hai nama gue Bian, dan itu Chandra, Darren, Fajar, Edo, terus itu Gio.” Seorang siswa yang duduk di sebelahnya mulai berbasa-basi. Memperkenalkan diri dan menunjuk temannya satu persatu, dan hanya dibalas anggukan oleh Asa.


“Nama lo Asa kan? Jangan takut begitu kita orang baik kok,” sambung anak yang memperkenalkan dirinya Bian itu. Orang baik-baik bagaimana, bajunya saja sudah urakan begitu. Pikir Asa.


🏍️🏍️🏍️

__ADS_1


__ADS_2