
Kejadian yang menimpa Cindy sudah tiga bulan berlalu, sejak malam itu Cindy berubah. Ia lebih banyak diam jika bertemu Asa, tidak ada kata-kata ala gado-gado berkaret dua atau sekedar lirikan tajam bagaikan pisau bedah. Hanya ada Cindy si diam, yang kadang menawari Asa minuman atau makanan bahkan Cindy pernah memperhatikan Asa yang sedang mencuci motor dari balkon kamarnya.
Mama Ranti makin sering memasuki kamar Asa, ketika Asa bangun atau pun tidur. Mencoba meminta maaf hingga menangis, tetapi entah kenapa hati Asa semakin mengeras. Asa sama sekali tidak terenyuh oleh air mata sang ibu. Apakah ia sudah berubah menjadi anak durhaka?
Inti Orion pun sudah tau kebenarannya, Asa sudah mau terbuka tentang kehidupan dirinya. Karena setelah malam itu Asa semakin jarang pulang, ia lebih memilih tidur di basecamp. Rumah baginya hanya tempat untuk melihat keadaan sang adik dan berganti baju, selebihnya Asa habiskan waktunya bersama teman-temannya. Bian dan Chandra merasakan apa yang Asa rasakan bagaimana rasanya merindukan kehangatan belaian ibu, sungguh jika hal itu di perjual belikan Bian siap membeli meski harga yang di tawarkan tinggi karena ia sangat membutuhkan belaian sang mami yang selalu sibuk dengan dunianya.
Pekerjaan Asa selama ini bisa di bilang lancar, tidak ada hambatan ataupun ujian. Asa akan mulai bekerja dari pukul tiga sore sampai pukul sepuluh malam di cafe sebagai seorang pelayan tentunya. Dan saat libur bekerja Asa akan mengambil pekerjaan sampingannya yaitu tetap menjadi seorang joki balapan liar, Chandra selalu mengomel setiap Asa menerima job.
"Muke gile, kapok apaan begitu? ngemeng aja kapok tapi pas si Bian ngasih duit gedean dikit langsung di sikat. Tobat sambel lu malih. Belum aja muke lu yang mulus di cium Aspal." Ucap Chandra dengan berapi-api tempo hari, ketika Asa menerima tawaran dari Bian yang menawarkan uang 5 juta di luar hasil balapan hanya karena seorang Gavin.
Sedangkan Dara, dia sudah berani mendekati Asa terang-terangan di sekolah, karena Asa sudah mengundurkan diri dari kelas karate menjadikan Dara hanya mampu bertemu Asa di sekolah saja. Dara pernah menunggu Asa di ujung blok tempo hari, tetapi hasilnya nihil Dara tidak pernah bertemu dengan Asa.
Seperti siang ini saat istirahat kedua Dara dengan tidak tahu malunya duduk di samping Asa yang tengah berkumpul dengan inti Orion, sahabat-sahabat Asa tidak ada yang terganggu dengan keberadaan Dara disana. Mereka justru mendukung aksi Dara, apalagi Fajar tentu dia akan mendukung Dara agar dia bisa dekat dengan Sarah.
"Sa, lo sibuk gak besok?" tanya Dara.
"Kenapa?"
"Nonton kuy, ada film bagus."
"Gue sibuk."
"Yaelah, Sa, sehari doang."
"Gue kerja."
"Setengah hari deh."
"Gak."
"Satu jam aja."
__ADS_1
"Gak."
"Kalo gitu setengah jam deh, mau ya." Dara memasang wajah puppynya, namun tidak berhasil karena Asa tetap menolak ajakannya, Dara menghela napas frustasi.
Bian dan Darren hanya bisa tersenyum melihat interaksi keduanya. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Asa dan Dara sampai menikah. Dengan Dara yang super aktif dan Asa yang super tidak peka.
"Abis ini pelajaran siapa?" Asa menatap jam tangannya.
"Bu Nisa, sama Bu Nanda di pelajaran terakhir." Edo menjawab di tengah kegiatannya menyantap siomay.
"Cabut lah!" Ujar Asa.
"Jangan eh, nanti Bu Nisa nangis lagi, elu kek gak tau Bu Nisa bae." Cicit Fajar.
"Die nangis gegara elu kerjain malih, siapa yang gak nangis liat murid akhir zaman kek elu yang di tanya rukun iman, malah jawabnya menyayangi mahluk ciptaan Allah. Udah salah ngotot pula. Begimane ceritanya coba bisa begitu?" celetuk Chandra.
"Haha ... Hablum minannas kali maksud si Fajar." Dara tertawa hingga lubang pipinya sangat jelas terlihat.
"Itu beda lagi onta, bukan termasuk rukun iman. Otak lu emang gak bisa jalan kalo bukan soal betina. apalagi Bu Nisa katanya masih ting-ting belum ada yang ngiket lagi." Dara mulai menggibah.
"Eh yang bener?" Fajar mulai penasaran.
"Gue bilangin si Sarah lu udah mau ngelirik Bu Nisa, biar di tolak lagi." Ancam Dara.
Fajar langsung diam setelah di ancam Dara, dari kejauhan Cindy selalu memperhatikan sejak Dara duduk di samping Asa. Ada rasa tidak suka dalam diri Cindy melihat kedekatan mereka, wangi tubuh Asa dan rasa damai malam itu seperti candu untuk Cindy.
Asa berdiri, ia berniat pergi karena sudah pusing mendengarkan ocehan Dara yang tidak ada habisnya, tetapi sebuah tangan mencoba menahannya.
"Mau kemana? jangan bolos lagi, Sa, bentar lagi mau ujian kenaikan kelas. Nanti ketinggalan banyak pelajarannya." Larang Dara, namun Asa tetaplah Asa. Dia tidak akan menuruti kata-kata seorang Gayatri Chandara yang bukan siapa-siapa bagi Asa.
🏍️🏍️🏍️
__ADS_1
Sore ini Dara pergi ke cafe milik papanya, dengan menggunakan kaos hitam lengan panjang dengan celana yang berwarna senada tak lupa hijab mint yang menambah paket komplit dari seorang Gayatri Chandara sudah cantik manis pula. Dara awalnya hanya ingin meminum coklat hangat yang sedang ngetren di sana, tetapi wajahnya langsung sumringah ketika ia sudah duduk di kursi dekat jendela, Dara melihat seseorang yang sedang mengantarkan pesanan pada meja pelanggan nomor lima belas yang hanya terhalang tiga meja di depannya.
Pussy seperti mengenali Asa, ia turun dari gendongan majikannya dan mengikuti kemana pun Asa pergi. Chandra sampai risih melihat kucing betina yang seperti tengah mencari perhatian Asa, Asa juga sudah berusaha menjauhkan pussy dari dirinya. namun, pussy dengan tak tahu dirinya kembali menempel di kaki Asa.
"Gile hoki amat lu, ini definisi semua betina emang gak ada yang bisa nolak pesona elu, Sa. Sampe kucing pun nempel sama elu. Fajar mah lewat keknya ini." Chandra berucap dengan rasa geli melihat kucing putih itu terus hilir mudik di kaki Asa.
Asa tidak menanggapi, matanya fokus mencari keberadaan si pemilik kucing yang pasti ada di sekitar sini. Sorot mata elang itu mengitari seisi cafe, seperti elang yang tengah mencari mangsanya dan sang elang langsung menemukan si target tengah duduk sambil menatapnya di meja paling ujung. Mata elang milik Asa dan mata bulat seperti kelinci milik Dara bertemu untuk beberapa saat, Asa langsung mendekat tanpa memutus tatapannya.
Dara yang ditatap oleh Asa langsung salah tingkah, semburat merah muda bagaikan gula-gula harum manis muncul di pipi gadis itu, hatinya berdebar tidak menentu. Ah begini rasanya jatuh cinta? apa ia tengah meneteskan air liurnya atau tengah mimisan hanya karena sebuah tatapan dari Asa?
"Ini kucing punya lo kan? Tolong pegang baik-baik. Di sini banyak pembeli, gue gak mau nanti jadi masalah sama pemilik cafe." Asa menaruh pussy ke tangan Dara, ia langsung berjalan kembali tanpa menunggu jawaban atau respon dari Dara.
Gadis berhidung mancung nan mungil itu hampir satu jam duduk diam memandangi sang pujaan hati yang tengah bekerja, coklat dan dessert yang ia pesan sudah mendarat dengan aman ke dalam perutnya. Dara baru tahu Asa bekerja disini, terkahir kali ia kesini sekitar tiga bulan yang lalu dan Asa belum ada. Tuhan memang sangat baik padanya, apa mungkin Asa memang jodohnya?
Dara menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berdiri dan pergi keluar menuju parkiran. Seorang pemuda dari kejauhan tersenyum samar melihat tingkah gadis yang menurutnya Aneh namun ajaib itu, tanpa ia sadari kucing milik Dara sudah berada di kakinya kembali.
Ngeooong ...
Suara eongan dari pussy mengagetkan si pemuda yang tidak lain adalah Asa. "Whhaaaaaaa ...."
Asa berteriak kaget, ia buru-buru berlari mengejar Dara. Takut-takut gadis itu sudah pulang dan meninggalkan kucingnya, ia sudah tidak bisa berdekatan dengan Pussy. Jujur saja ia tidak geli ataupun alergi terhadap kucing, namun pussy terlalu agresif membuat Asa risih.
"Gay! Gaaay ...." teriak Asa keluar dari cafe dengan tangan memegang pussy, si kucing angora berwarna putih bersih.
"Berisik nama gue Gayatri bukan Gay, Gay. Lo kira gue salah satu kaum LaGiBeTe apa pake Gay Gay segala. Manggil tuh yang bener, Lagian orang lain manggil gue Dara ngapa elo manggil gue pake nama depan sih hah?" omel Dara, telinganya sakit mendengar Asa yang selalu memanggilnya dengan sebutan Gay.
"Ya maaf ... ini kucing bawa sono,nempel mulu ganggu gue kerja." Asa menyodorkan kucing betina kepada sang pemilik.
"Ya jelas aja dia nempel mulu ... elo nya ganteng jadi dia gak mau jauh. Kek pemiliknya."
"Hah?"
__ADS_1
🏍️🏍️🏍️