
Waktu terus berjalan tanpa mau menunggu, bahkan mengulang kembali yang sudah terjadi. Setahun telah berlalu, tapi serasa baru kemarin Asa menapakkan kakinya di Jakarta.
Sekarang Asa bukan lagi seorang junior di SMA 28, tidak ada yang ia takuti meskipun dia masih kelas sebelas. Kelas dua belas yang harusnya di segani malah berbalik segan pada Asa, bukan tanpa alasan mereka begitu. Selama setahun kebelakang, Asa si murid baru memecahkan rekor untuk kategori siswa terbanyak yang memasuki ruangan Pak Bambang. Mama Ranti sampai di buat kewalahan karena ulah Asa, Mama Ranti sudah mencoba berbagai cara untuk menasehati Asa. Hingga menyetop uang jajan Asa selama satu bulan tetapi bukannya jera Asa malah semakin berani menentang mamanya.
Ketika Mama Ranti mengeluh kepada suaminya, Randika malah membela Asa. "Biarkan aja Ma, selagi Asa masih tau batasan. Namanya juga anak laki-laki."
Mama Ranti geram, batasan seperti apa yang di maksud suaminya, ia sudah puluhan kali mengobati anak orang hanya karena ulah Asa. Apa sampai ada nyawa yang melayang baru Asa akan berhenti membuat ulah.
Randika malah dengan sengaja memasukan Asa dan Arka ke dojo karate, hanya karena di suatu sore Asa pulang dengan keadaan pipi memar, bibir bawah robek, pipi atas berdarah.
"Anak laki-laki harus punya dasar bela diri yang bagus, nggak maen bak bik buk, harus pake teknik. Biar bisa melindungi Mama." Ucap Randika saat Arka menolak ikut.
Randika dan Arka memang sudah sangat dekat, bisa di bilang sudah seperti ayah dan anak sungguhan. Entah kenapa Asa tidak bisa seperti Arka, mungkin karena di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih ingin melihat mama dan papanya rujuk kembali. Asa memang tidak tahu papanya sekarang masih hidup atau tidak, tetapi mendengar dari cerita mbahnya bahwa sang papa adalah orang yang baik ia akan selalu mengalah kepada istrinya.
Sore pertama di dojo karate Asa bisa melihat murid-murid yang seusianya tengah duduk memperhatikan seorang senpai dan seorang gadis berkerudung yang tengah meperagakan gerakan yang telah terangkai secara epik.
Asa melihat Randika menghampiri sang senpai, dan mereka tampak cukup akrab. Tertawa sambil menepuk-nepuk bahu mengobrol sekilas dengan menunjuk ke arahnya, lalu dengan gerakan seperti slow motion Randika menggerakkan tangannya mengisyaratkan dirinya dan sang adik untuk mendekat.
Sampai disana Asa melihat seorang gadis yang menatapnya kaget, Asa mengerutkan dahi. Kenapa harus kaget apa mereka saling mengenal? tapi dimana?
"Asa kenalkan ini senpai Zidan," ucap Randika, Asa mengangguk sebagai jawaban.
"Gue titip anak-anak gue ya Dan, turunin semua ilmu Lu ke mereka."
Setelah itu Randika pamit karena ada urusan mendadak, Asa dan Arka langsung diajak berganti baju dan mulai berlatih karate. Arka yang belum mempunyai dasar apapaun tentang karate atau bela diri di dampingi oleh Senpai Zidan, sedangkan Asa yang tinggal mengasah kemampuannya di dampingi gadis bernama Dara.
Dari situ Dara mulai bisa dekat dengan Asa, bisa melihat Asa yang tengah bercucuran keringat setiap minggu sore. Dan Dara sudah terbiasa berinteraksi dengan Asa, meski hanya di balas dengan kata hm, ya dan gak oleh Asa.
Asa sebenarnya mengagumi sosok Dara, dia wanita cantik dan terlihat feminim, tetapi siapa sangka di balik sisi feminimnya dia sudah memegang sabuk hitam. Sedangkan Asa baru pemegang sabuk biru, itu pun karena Senpai Zidan yang menaikan bukan karena mengikuti ujian sabuk.
Meski demikian, ketika melakukan kumite dengan Asa. Dara terbanting ke bawah dan dari posisi mereka itu Dara bisa mencium parfum milik Asa, karena Asa berada tepat di atasnya.
Dara bagaikan di hipnotis oleh wangi parfum dan tatapan tajam Asa, dunia seakan berhenti sejenak. Ia bisa puas memandangi wajah yang dia kagumi selama ini dengan begitu dekat.
"Ehm ...." sebuah deheman dari Asa langsung mengembalikan kesadaran Dara.
"Eh so-sorry Sa, Gue gak ada maksud apa-apa."
"Ya." Asa berdiri, membalikan badannya lalu melangkah ke arah adiknya yang tengah kepayahan.
"Terimakasih kasih ya Rabb, terimakasih atas kesempatan ini. Aku bahagia." Gumam Dara.
🏍️🏍️🏍️
Jam istirahat kedua sudah habis dari dua puluh menit yang lalu, tetapi mereka dengan santainya tetap berada di kantin.
Chandra tengah menikmati semangkok mie ayam buatan Bu Fatma pemilik salah satu warung di kantin, laki-laki itu hanya mendengarkan sahabatnya mengobrol tanpa ada minat mengikuti obrolan.
__ADS_1
"Gimana Sa? mau di terima gak?" Bian mulai bertanya.
"Gue pikir-pikit dulu." Jawab Asa.
"Yah kelamaan mikir Lu mah, udah terima aja, gede nih duitnya."
"Berapa emang?"
"5 jutaan kek nya."
"Udah sikat aja Sa, mayan itu buat bayar sekolah." Edo ikut menimpali acara diskusi antara Asa dan Bian.
Asa terlihat tengah menimbang-nimbang tawaran sahabatnya. "Kapan?"
"Besok malem." Jawab Bian.
"Oke."
"Balik kelas nyok!, Bu Herni keknya udah di kelas." Ajak Darren. Setelah diskusi mendapatkan hasil.
"Gue belon beres ini Tong, tunggu sepuluh menitan lagi lah." Sungut Chandra.
"Eh Haechan elu pan murid kesayangan Bu Herni, ngapa malah ikutan bolos?" Gio bertanya.
"Udah deh, diem dulu dimari sejaman mah. Gue lagi patah hati nih." Wajah Fajar terlihat sayu.
"Patah hati ame siape lu?" Tanya Chandra penasaran.
"Betina lagi, gimana bangsa ini mau maju kalo anak mudanya model beginian semua." Chandra berucap dengan mulut penuh dengan mie ayam.
Fajar yang awalnya terlihat lemas tiba-tiba langsung on fire, ketika melihat Dara melintas. "Eh Dar, nitip salam yak buat sahabat Lo."
"Saraheo lagi? basi Jar, Lo mending ikut pelajaran Bu Yathie dah. Soalnya si Sarah demen sama orang yang suka puisi. Lo ngapa gak nyerah aja sih?" Dara mulai memberi saran dan bertanya. Asa tercengang, kenapa Dara bisa banyak bicara seperti ini.
"Dalam semboyan gue yang berbunyi habis gelap terbitlah fajar, gak ada kata mundur ini tuh lagi perang Dar, dan gue harus menang."
Bulan tengah menunjukan sinarnya, Asa sedang menggunakan sepatu ketika ponselnya berbunyi untuk kesekian kalinya. Ia raih ponsel yang berada di atas nakas lalu membukanya, terdapat ratusan chat dari grup inti Orion di sana, kenapa di bilang inti karena anggota sebenarnya Orion itu bisa mencapai lima puluh orang. Hanya saja mereka bertujuh ini yang menjadi punggawanya.
Chandra:
Tes
Fajar:
Ting
Chandra:
__ADS_1
Bun
Fajar:
Ting
Darren:
Berisik lu pade
Fajar:
Hihi ... Sa, Lu udah siap pan kita tungguin di lampu merah yak.
Edo:
Berisik amat ini ya Allah, gue baru beres salat isya ini.
Chandra:
Wahai kaum muslimin, janganlah engkau memamerkan ibadahmu.
Bian:
Berangkat kumpul dulu di basecamp.
Gio:
Siap.
Gio:
Ko gue nongol udah pada sepi, sentimen amat ama gue.
Asa menutup ponselnya, ia melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga dan ketika melewati ruang keluarga tampak sang mama tengah bercengkrama dengan dua anaknya, lebih tepatnya bercengkrama dengan putri tercintanya. Karena Arka hanya berdiam mengerjakan tugas sekolahnya, sungguh terlihat bagai keluarga bahagia yang penuh cinta.
"Mau kemana Asa?"
"Kerja."
"Kerja apa malam-malam begini?" Ranti melirik jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Mama gak perlu tau, urus aja putri tercinta mama."
"Dek, abang pergi dulu ya." Pamit Asa kepada Arka.
Laki-laki yang tadinya menunduk langsung menatap sang abang dengan sebuah senyuman. "Hati-hati Bang, pulangnya bawain aku oleh-oleh ya."
__ADS_1
"Sip."
🏍️🏍️🏍️