Sebuah Asa

Sebuah Asa
20


__ADS_3

Hari libur sering digunakan para remaja untuk bermalas-malasan di kamar, bergulung dalam selimut yang nyaman seharian. Bersantai, bercengkrama atau pergi piknik dengan keluarga, tetapi tidak dengan Asa.


Tepat pukul sepuluh pagi, Asa menuruni tangga, suara langkahnya terdengar oleh sang mama yang tengah berada di dapur. Mama Ranti langsung berjalan menghampiri anak bujangnya, terlihat Asa sudah rapih dengan hoodie abu-abu berpadu dengan celana jeans hitam dan sepatu putih. Tak lupa ransel yang melekat di punggungnya, dan sebuah helm full face di tangan kanannya. Sungguh Asa tampak sangat tampan, Mama Ranti jadi teringat dengan mantan suaminya.


Wajah Asa jelas mirip sekali dengan papanya, dari mulai hidup, mata, bibir itu semua milik sang mantan suami. Semua orang akan langsung mengenali bahwa Asa adalah anak dari Indrayan Diwangga, tetapi kenapa sifatnya sangat bertolak belakang? Asa sungguh sangat keras, hingga Mama Ranti ingin menyerah untuk mendapatkan maaf dari anaknya.


“Mau ke mana, Nak? Bujang mama wangi gini. Udah sarapan? Mama siapin ya,” Mama Ranti mencoba bertanya, saat Asa sudah sampai di anak tangga paling bawah.


“Pergi. Gak usah, udah sarapan tadi sama Arka,” jawab Asa dengan terus melangkah tanpa melihat mamanya.


“Asa, kalo ada yang ngajak ngomong itu, tatap orangnya. Jangan seperti anak yang nggak diajarin sopan santun.” ucap mamanya dengan nada yang sedikit meninggi.


"Kamu bilang, kamu dididik untuk menghargai orang lain. Apa ini hasil didikan Si Mbah? Apa ini yang namanya menghargai orang lain? Mama lagi ngomong sama kamu." Lanjut Mama Ranti, emosinya terpancing karena sikap Asa. Ia merasa sudah tidak di hargai sebagai seorang ibu.


Braaakk ...


Asa yang mendengar ucapan mamanya reflek membanting helm. Mata tajamnya menatap lurus ke arah sang mama. "Apa maksud mama? Jangan pernah bawa-bawa Si Mbah. Si mbah gak salah apa-apa."


Ranti kaget dengan tindakan Asa, apalagi ketika sorot mata sang anak yang penuh dengan amarah, bukan ini yang dia inginkan. Dia hanya ingin Asa menghargainya sedikit saja.


"Aku memang tak pernah diajarkan sopan santun oleh ibuku, karena dia lebih memilih membuangku dan hidup bahagia dengan keluarga barunya. Tanpa pernah memikirkan apakah aku hidup dengan baik? Apakah aku diterima di lingkunganku atau tidak? Apakah aku bisa bersekolah seperti yang lain?" Asa mulai meluapkan kesakitan yang selama ini ia pendam, semua sesak yang selama ini ia simpan sendirian dalam dada bagaikan bom waktu yang sudah menunggu untuk meledak akhirnya terlampiaskan kepada mamanya.


"Gara-gara mama Arka selalu di bilang anak haram, gara-gara mama aku selalu dihina dan dikucilkan, gara-gara mama masa kecilku penuh caci maki, gara-gara mama juga Si Mbah meninggal. Apa pernah mama berpikir aku, Arka dan Si Mbah makan apa hari ini? Tidak kan! Mama malah sibuk mencari kebahagiaan sendiri, bahkan rela jadi seorang penggoda hanya demi uang dan hidup enak.”


Plaakkk

__ADS_1


Sebuah tamparan keras refleks mendarat di pipinya. Mata elangnya menatap nyalang sang mama.


“Ma-maafkan Mama, Asa. Mama gak sengaja. Maafkan mama ....” Mamanya maju hendak meraih pipi Asa, tetapi langsung ditepis dengan kasar.


"Dan sekarang mama pikir aku senang bisa tinggal bareng sama mama, gak sama sekali! Andai Arka mau ku ajak pergi. Aku sudah pergi dari sini. Aku benci mama." Asa meraih helmnya, berlalu pergi meninggalkan sang mama yang terisak, terus mengucapkan kata maaf dan memanggil-manggil namanya.


🏍️🏍️🏍️


Motor hitam keluaran merk ternama itu melesat bagaikan kilat, Asa mengendarainya bagaikan orang kesetanan. Semua ucapan sang mama masih terngiang di telinga Asa, ia sudah putuskan tidak akan tinggal di rumah itu lagi.


"Maafkan abang, Arka. Abang udah gak bisa bertahan lagi, semoga kamu bahagia," gumamnya.


Motor masih melaju menuju arah Bintaro, kemana lagi tujuan Asa jika bukan ke apartemen sekaligus basecamp untuk Orion.


Pikirannya melayang di suatu sore bersama Mbah Sumi, ketika Arka masih khusyu mengaji dengan Pak Syafi'i. Asa justru tengah tidur ayam di pangkuan Mbah Sumi di serambi masjid.


Tiiiiiittt


Suara klakson mobil membuyarkan lamunannya. Di depan sana sudah ada sebuah pickup yang sudah siap Asa hantam, karena kaget ia langsung mengerem seketika.  "Woy, Tong! lu sengaja mau mati ape? Mati sendiri aje jan ngajak-ngajak gue. Bini gue ada tiga masih butuh nafkah dari gue." Teriak bapak-bapak pembawa pickup.


"Ma-maaf pak, maaf." Hanya itu yang bisa Asa ucapkan. Jantungnya masih tidak karuan, jika telat sedikit saja mungkin Asa sekarang sudah terbujur kaku dalam ruangan IGD.


Ketika sampai di apartemen milik Bian, Asa langsung menjatuhkan tubuhnya pada sebuah sofa. Asa memejamkan matanya sejenak, ia coba menenangkan degup jantung yang masih tidak beraturan.


"Kenapa, Sa? Kusut amat mukanya," tanya Darren.

__ADS_1


"Iya, lu kenapa dah, Sa? Lemes amat. Kek abis ketemu malaikat maut." Sambung Edo.


"Emang," saut Asa.


"Hah? Yang bener lu?" Darren dan Edo kompak bertanya.


"Tumben sepi?" Asa mencari keberadaan Sahabatnya yang lain. Di ruangan ini hanya ada Darren dan Edo yang tengah bermain game, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang lain.


"Ini serius gue tanya elu kenapa?" Darren mencoba bertanya kembali.


"Tadi hampir nabrak mobil di jalan, gue meleng gak liat lampu udah merah." Jelas Asa.


"Gila lu."


"Astagfirullah, Sa, elu niat amat pengen ketemu malaikat maut." Edo mengusap dadanya, tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.


Asa tak menanggapi, ia lebih memilih mengistirahatkan pikirannya. Sungguh mentalnya sedang sakit saat ini, ia tidak bisa berpikir jernih, emosi sudah terlalu menguasai dirinya.


Ketika Asa membuka mata jam sudah menunjukan angka dua sore, ia gegas mandi dan pergi bekerja. Bekerja? Bukannya ini hari minggu, kenapa Asa masih bekerja? Karena hari libur Asa tidak dipatenkan hari minggu.


Selama bekerja Asa bisa bernafas lega, tumben sekali hari ini kucing itu tidak datang untuk mengganggunya. Biasanya setiap hari ia akan datang ke cafe dan langsung menempel pada Asa, tetapi rasanya hari ini seperti ada yang hilang.


Biasanya Dara akan terus memandangi Asa dari meja di ujung sana, tak lupa sebuah senyuman yang sangat manis menghiasi wajah ayunya. Laki-laki mana yang bisa menolak? apa Dara pikir Asa tidak bisa salah tingkah jika terus di pandangi seperti itu setiap hari? Asa juga laki-laki normal.


Dara juga kadang hanya datang untuk mengantarkan satu cup kopi pada Asa. "Nih kopi buat lo, biar gak ngantuk. Dapet salam dari pussy, dia kangen sama lo."

__ADS_1


lelucon macam apa itu? Bilang saja jika Dara yang merindukan Asa. Namun, kali ini tidak ada tanda-tanda dari gadis ajaib yang membuat Asa merasakan perasaan yang sungguh aneh. Hidupnya menjadi penuh rasa ketika Dara ada di sekitarnya, rasa kesal, rasa pusing, rasa senang beradu menjadi satu. Walaupun rasa pusing dan kesal yang selalu mendominasi.


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2