Sebuah Asa

Sebuah Asa
07


__ADS_3

Empat jam perjalanan yang ditempuh untuk sampai di Jakarta, selama itu Asa hanya memandang keluar jendela. Suasana Jakarta sangat berbeda dengan kampungnya, di sini semua sudah terlihat modern jalan yang hitam mengkilap, tak ada tanah yang akan menempel pada sendal atau sepatu, tak ada genangan air yang menghiasi sepanjang jalan, tak ada kerikil yang akan mengganggu pengendara. Kendaraan yang berlalu lalang setiap saat, seperti tak ada habisnya. Asa duduk di kursi belakang bersama mama dan sang adik, sempat Asa melirik ke arah spion tampak sorot mata permusuhan dari anak perempuan yang duduk di samping ayahnya. Asa tak ambil pusing, yang terpenting adiknya merasa bahagia bisa dekat dengan sang mama. Sepertinya Om Randika juga mau menerima Arka, terbukti sepanjang jalan mereka mengobrol di selingi tawa terlihat Arka pun seperti nyaman dengan Om Randika. Entah karena Arka sejak dulu belum pernah merasakan kasih sayang Ayahnya, menjadikan ia dekat dengan laki-laki yang telah menjadi ayah tirinya itu. Jika berpikir ke sana Asa pun sama, tetapi kenapa Asa tak bisa seperti Arka.


Lampu berwarna merah, membuat mobil yang mereka naiki berhenti sesaat.


Mentari sore mengintip dari sela gedung-gedung yang menjulang tinggi, sinarnya tetap bisa menembus dan membuat Asa memicingkan mata karena silau. Asa menatap gedung-gedung mewah itu dengan tatapan kagum, dalam hati ia berdoa semoga suatu hari nanti ia bisa menjadi salah satu pemilik gedung tinggi itu.


Lain Asa lain pula Arka, ia bertanya dengan antusias segala sesuatu yang ada di sekitar. Mama Ranti memberitahu semua tempat di sepanjang jalan yang mereka lalui, hari sudah mulai gelap.


Om Randika memutuskan membelokkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan, berniat untuk membeli semua keperluan Asa dan Arka. Saat hendak menaiki eskalator Asa dan Arka bingung, karena ini pertama kalinya untuk mereka. Arka menunjukkan rasa takutnya dan ditertawakan oleh Cindy.


“Haha ... katro,” celetuk Cindy.


“Cindy!” tegur ayahnya.


“Ayah nyebelin!” Cindy mengentakkan kakinya berlalu menaiki eskalator.


“Mas, jangan begitu, Cindy ’kan masih kecil.” Mama Ranti menepuk bahu suaminya mencoba mengingatkan.


“Cindy, hati-hati, Nak jalannya,” ucap Mama Ranti penuh kasih sayang terhadap Cindy, Asa melihat perhatian yang diberikan sang mama kepada Cindy langsung mengepalkan tangannya.


🏍️🏍️🏍️


Setelah puas berbelanja, akhirnya mereka sampai di rumah megah bak istana berlantai dua milik Om Randika. Asa terperangah, ternyata selama ini di sini ibunya tinggal dengan bahagia bersama keluarga barunya. Rumah yang nyaman, lingkungan yang baik, kehidupan mewah yang begitu terjamin. Sedangkan di kampung ia, Arka dan Mbah Sumi untuk makan pun susah. Hati Asa semakin sakit ketika melihat kenyataan ini.

__ADS_1


Om Randika merangkul bahu Asa, mengajaknya masuk. Cindy membuka pintu utama lalu berniat pergi menaiki tangga, tetapi sebuah tangan mengusap lembut rambutnya penuh sayang.


“Mandi ya sayang, nanti turun buat makan malam.” Mama Ranti memang sesayang itu terhadap Cindy.


“Iya, Ma. Masak makanan kesukaan aku ya,” jawab Cindy manja.


“Iya sayang ....” Mama Ranti mengecup pucuk kepala Cindy, gadis manis itu berlalu pergi menaiki tangga. Tanpa Mama Ranti sadari, ada sepasang mata elang yang menatap tajam interaksi keduanya. Dialah Asa, yang hatinya bertambah sakit melihat interaksi dua wanita beda usia itu. Pasalnya, Asa tak pernah mendapat perlakuan itu sejak kecil. Ia kehilangan sosok mama sedari dini, dan kini malah disuguhi pemandangan menusuk sanubari.


Mama Ranti mulai mengajak Asa dan Arka menuju kamar mereka, yang berada di lantai atas. Awalnya Asa meminta satu kamar saja untuknya dan sang adik, tetapi Mama Ranti menolak. Ia dan Arka memiliki kamar masing-masing yang bersebelahan. Arka sangat antusias saat membuka ruangan yang akan menjadi kamarnya, ia langsung berterima kasih kepada sang mama, saat Mama Ranti melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Cindy, Arka langsung memeluk dan mencium pipi Mama Ranti.


Asa membuka ruangan yang sekarang sudah menjadi kamarnya, ia tatap kamar bercat abu dengan sebuah ranjang berukuran king size, sebuah nakas, dan sebuah meja belajar berada di dalam kamar. Ia lirik ke sebelah kirinya terdapat pintu dan saat di buka ternyata ruangan itu adalah sebuah kamar mandi.


“Asa janji, nanti kalo Asa udah gede pasti bakalan buatin rumah yang bagus buat Mbah,” ucap Asa ketika dulu ia, Arka dan Mbah Sumi tengah duduk santai di depan rumah.


“Yang kamar mandinya di dalem kamar ya, Bang,” celetuk Arka.


“Aamiin ... aamiin, Mbah doakan semoga keinginan kalian terwujud, ingat ya Asa, Arka kalian harus tetap mengutamakan ibadah. Kalian boleh berusaha, tetapi tetap libatkan Allah dalam setiap langkah kalian.” Mbah Sumi memeluk kedua cucunya.


Asa menarik napas panjang, sesak rasanya jika mengingat semua itu, Asa berbalik dan menatap sebuah jendela. Ia ayunkan kakinya selangkah demi selangkah mendekat, Asa sibakan gorden abu tua itu tangannya mulai terulur memegang handle pintu kaca dan membukanya. Ia berjalan keluar merasakan angin yang berembus terasa melegakan paru-parunya, dari sana ia bisa melihat langit yang berangsur menggelap. Sangat indah sekali. Mulai sejak saat itu balkon adalah tempat ternyaman dan tempat favorit untuknya.


“Asa ...”


Asa menengok merasa namanya dipanggil, terlihat Mama Ranti berada di ambang pintu dengan senyuman manis nan meneduhkan bagi siapa saja yang melihatnya, tetapi tidak untuk Asa ia tetap memasang wajah datarnya. Mama Ranti berjalan mendekat, suara hells miliknya terdengar nyaring di ruangan yang hening itu.

__ADS_1


“Bagaimana? Suka kamarnya?”


“Ya.” Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Asa.


Mama Ranti tersenyum senang, meski jawaban singkat yang ia dapat itu sudah menjadi awal yang baik untuknya.


“Beresin bajunya minta bantuan Bi Ani aja,”


“Gak usah.”


“Asa ... Besok kamu udah bisa masuk sekolah, ayah daftarin kamu di sekolah yang sama dengan Cindy.”


“Arka gimana?” Ranti tersenyum ternyata anak sulungnya ini sangat menyayangi adiknya, meski mereka berbeda ayah.


“Arka juga udah didaftarin, besok kamu berangkat sama ayah dan Cindy ya, biar Arka nanti sama Mama berangkatnya, gak apa-apa kan?”


“Gak apa-apa.”


“Sekarang kamu mandi ya, Nak. Terus istirahat, nanti dipanggil pas makan malam.” Tangan Mama Ranti mulai terulur berniat mengusap sayang kepala Asa. Namun, Asa langsung menghindar pergi memasuki kamar mandi.


Hati Ranti hancur, ia tatap tangannya dengan mata yang dipenuhi butiran-butiran air. Sungguh hatinya sakit, bukan ini yang dia inginkan. Ia kira Asa akan seperti Arka, karena mereka berdua sama-sama terlahir dari rahimnya.


Ternyata tidak, lain anak lain pula sifatnya karena sejatinya sifat tidak bisa ditentukan dari rahim atau keturunan. Di balik sikap diam dan tenangnya, Asa memiliki sifat keras, emosional, segala sesuatunya ia simpan sendiri dalam hati dan otaknya. Bagaikan bom waktu yang menunggu untuk meledak, jika dikasari Asa justru akan memberontak, jika dibentak Asa akan balik membentak.

__ADS_1


“Maafkan mama, Asa ... maafkan mama.”


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2