Sebuah Asa

Sebuah Asa
04


__ADS_3

Sesuai dugaan Arka, kesehatan Mbah Sumi terganggu setelah kejadian hari itu. Sudah tiga hari Mbah Sumi tidak berjualan, saat Asa mengajaknya untuk berobat ke puskesmas Mbah Sumi menolak dengan alasan hanya pusing biasa, mungkin masuk angin, istirahat beberapa hari juga pasti sembuh. Asa dan Arka tidak bersekolah karena diliburkan oleh pihak sekolah, lebih tepatnya di skorsing karena tindakan Asa tempo hari. Awalnya pihak sekolah tidak ada niatan menghukum mereka berdua dengan hukuman berat, hanya dengan membersihkan lingkungan sekitar sekolah saja sudah cukup, namun karena desakan Pak Lurah yang terus menerus tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu akhirnya mau tidak mau pihak sekolah memberikan hukuman itu.


Selama itu juga Asa yang menggantikan pekerjaan Mbah Sumi berjualan keliling, dari kampungnya hingga kampung tetangga. Asa baru pertama kali merasakan bagaimana berkeliling kampung ternyata sangat melelahkan, Asa saja yang memakai si kumbang sudah kelelahan bagaimana Si Mbah yang berjalan kaki setiap hari. Dengan kondisi usia tak lagi muda, mestinya Si Mbah dapat istirahat dengan nyaman di rumah saja. Hanya menikmati waktu dengan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta, sedangkan kini wanita lanjut usia itu masih direpotkan oleh Asa dan Arka. Sudut hati Asa terasa sakit, Si Mbah banting tulang sedangkan dirinya masih saja sering mangkir dari petuah Sang Nenek untuk urusan salat.


“Mbah nggak minta Asa kasih uang yang banyak, Mbah cuma mau Asa rajin ibadah terutama salat,” ucapan Mbah Sumi beberapa waktu lalu saat Asa bilang suatu saat ingin banyak uang untuk diberikan pada Si Mbah.


Asa berhenti sejenak di pinggir jalan yang terdapat irigasi dan sawah yang padinya mulai menguning, ia menengadah menatap matahari yang sudah sangat tinggi dan menyilaukan pandangannya. Mungkin sebentar lagi akan terdengar suara azan zuhur, ia tatap bakul jualannya masih banyak kue yang tersisa. Asa bingung harus berjualan ke mana lagi? Ia tidak tahu tempat-tempat yang biasa Mbah Sumi datangi untuk berjualan.


Asa yang kebingungan memutuskan untuk pulang, mungkin kue-kue ini memang rezeki mereka untuk makan siang dan malam hari ini. Pembeli biasanya tak minat membeli bila hari sudah terlampau siang. Katanya rasanya sudah berubah. Padahal Asa rasa, sama saja, kok.


“Assalamualaikum,” salam Asa ketika sampai, ia masukkan si kumbang ke samping rumah.


“Waalaikumsalam ... Gimana, Bang abis?” todong Arka. Asa hanya menggeleng, ia masuk dan menyimpan bakul di dapur. Dengan gerakan lemah, Asa duduk.


“Gak apa-apa, Bang. Bisa aku makan, nanti juga abis,” celetuk Arka sambil tersenyum, mampu menghibur hati sang kakak.


“Mbah mana, Dek?” Asa berjalan menuju kamar Si Mbah, tetapi sang nenek tak ada di sana.

__ADS_1


“Lagi ke belakang, mau aku anter tapi Mbah nolak. Katanya bisa sendiri,” teriak Arka agar Asa dapat mendengarnya. Ia mulai mengambil kue lemper dan memakannya. Si pulen putih dengan isian abon itu terasa nikmat.


Asa berjalan ke belakang rumah ingin memastikan Mbahnya. Namun, ia melihat tubuh Mbahnya sudah terbujur kaku di dekat sumur timba. Asa merasa saat itu juga dunianya runtuh, hancur menimpa tubuhnya yang menjadi sakit.


“Astagfirullah! Mbaah .... Dek Mbah, Dek,” Asa berteriak memanggil Arka, Arka yang mendengar teriakan sang abang langsung berlari “Ya Allah Mbah kenapa?”


“Udah jangan banyak tanya, cepet bantuin angkat Mbah ke dalem!”


“Berat, Bang. Gak ke angkat,” keluh Arka ketika mereka mencoba mengangkat tubuh Mbah Sumi.


“Ya udah kamu diem dulu di sini, tungguin Mbah. Abang cari bantuan dulu.” Asa gegas berlari keluar rumah, Tujuannya adalah rumah Pak RT, rumah yang paling dekat dari rumahnya. Sepanjang jalan ia lantunkan doa semoga Mbahnya tidak akan kenapa-kenapa.


“Waalaikumsalam, ada apa, Sa?” tanya Pak RT.


“To-tolong Mbah saya, Pak, Si Mbah pingsan. Ayo, Pak!” Asa tergagap cairan bening sudah memupuk di pelupuk matanya.


“Astagfirullah. Ayo, Nak, kita ke sana.” Pak RT menutup pintu, meraih bahu Asa dan mengajaknya pergi.

__ADS_1


Setengah perjalanan mereka bertemu dengan Pak Syafei yang bertanya kenapa wajah Asa begitu cemas dan berkaca-kaca, Pak RT mencoba menjelaskan dan akhirnya Pak Syafei ikut ke rumah Asa untuk membantu serta melihat keadaan Mbah Sumi.


Pak RT dan Pak Syafei mengangkat tubuh kecil dan ringkih milik Mbah Sumi yang masih tidak sadarkan diri ke dalam rumah, ia lalu menghubungi bidan desa untuk memeriksa kondisi Mbah Sumi.


🏍️🏍️🏍️


Bidan desa langsung memeriksa keadaan Mbah Sumi, dan menyuruh Mbah Sumi untuk dibawa ke rumah sakit sesegera mungkin. Pak RT dan Bidan desa sangat menyayangkan kenapa hal seperti ini bisa terjadi, kenapa tidak dibawa berobat ke puskesmas, apalagi Arka bercerita kalau Mbahnya sudah empat hari sakit.


“Kami tidak punya uang, Bu,” ucap Asa dengan polosnya, Asa menunduk mencoba menyembunyikan rasa sedih dan takutnya. Ia bingung harus berbuat apa, ia ataupun sang adik sama-sama masih kecil belum mengerti apa-apa, dan mereka hanya tinggal bertiga tidak ada orang dewasa lain yang bisa membantu saat keadaan seperti ini.


“Uang bisa dicari, Asa, yang terpenting ada kemauan dan keberanian. Bahkan sekarang sudah ada jaminan kesehatan dari pemerintah jika memang biaya menjadi kendala utama, sebentar saya akan menghubungi ambulans.” Setelah mengucapkan itu bidan desa pergi keluar.


Arka sudah menangis sedari tadi, ia takut terjadi apa-apa dengan Mbahnya. Ia tak punya siapa-siapa lagi selain Mbah Sumi, Asa sendiri sebenarnya memiliki perasaan yang sama takut ditinggalkan. Sudah cukup ia ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, ia tidak mau Mbah Sumi juga ikut meninggalkannya. Akan bagaimana nasibnya dan juga Arka nanti jika Mbah Sumi pergi.


Saat ambulans datang, tubuh Mbah Sumi mengalami pergerakan. Bidan kembali memeriksa detak jantung dan mata Mbah Sumi. Kemudian, Pak Syafei yang seolah mengerti dengan kondisi Mbah Sumi, mulai menyuruh Arka dan Asa melantunkan kalimat syahadat dan menyerukan nama Allah di telinga sang Mbah, Arka menurut dengan sesenggukan ia mengikuti ucapan Pak Syafei untuk menuntun Mbah Sumi yang membuat semua orang di ruangan itu panik.


Masih ada satu tarikan napas yang Asa lihat, sebelum bidan menggelengkan kepala ke arah Pak Syafei. Pak Syafei ikut mendekat dan meraba leher Mbah Sumi, anggukan dari sang bidan menjadi jawaban yang membuat Pak Syafei menarik napas panjang, menepuk pundak Asa mencoba menguatkan anak itu. Mbah Sumi sudah tidak ada, ia pergi dengan tenang. tanpa pamit, tanpa pesan terakhir dan meninggalkan kedua cucu yang sangat ia sayangi.

__ADS_1


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2