
Sesuai arahan Bian, malam ini Asa bersama Chandra pergi ke sebuah jalan yang sedikit lengang dari kendaraan namun ramai di penuhi oleh orang. Asa baru pertama kali datang ke tempat seperti ini.
Siang tadi Bian memberi tahu bahwa malam ini akan ada balapan liar yang hadiahnya lumayan besar, Bian berobsesi ingin menang karena lawannya malam nanti adalah Gavin si ketua geng motor dari SMA Cakrawala. Jika Asa mau menerima tawarannya menjadi joki, sebuah sepeda motor dan ponsel keluaran terbaru Bian gadang-gadangkan sebagai hadiah untuk Asa.
Awalnya Asa ingin menolak karena ia tidak pernah mengendarai sepeda motor, tetapi Bian siap mengajarinya jika memang Asa berminat. Akhirnya Asa memutuskan menerima tawaran Bian, dengan perjanjian hanya sekali ini saja. Asa memang butuh uang, namun tidak dengan mengajak bercanda malaikat maut.
Bian hanya butuh waktu dua hari untuk mengajar Asa mengendarai motor, dalam waktu seminggu laki-laki itu sudah pandai meliuk-liuk di jalanan, seperti sedang membawa sikumbang saja.
Dan malam ini Asa sudah duduk di atas sebuah motor hitam yang akan menjadi miliknya, tentunya jika Asa memenangkan pertandingan ini. Itu yg membuat Bian yakin menyuruh orang papinya membeli motor baru tadi siang, Agar Asa semakin semangat.
Sebuah helm full face dan hoddie berwarna hitam melekat di tubuh Asa, hanya mata elangnya yang terlihat dari seorang Asanendra Indrayan. Andai adiknya tahu pasti ia akan di ceramahi oleh Arka hingga lima jam, Asa berjanji dalam hati ini hanya sekali. Setelah ini, Asa akan mengajak Chandra untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.
Di garis start Asa tertinggal oleh Gavin yang langsung melesat, Asa menarik napas dan berdoa semoga nyawanya masih utuh hingga finish nanti. Sepanjang jalan Asa berusaha untuk tetap fokus, tetapi ucapan mendiang Mbah Sumi selalu terngiang di telinga Asa.
"Jika Asa nanti sudah dewasa, carilah pekerjaan yang baik, hidup dengan baik. Meski sedikit Asal halal, Nak. Karena sejatinya manusia mahluk yang tidak pernah puas, maka perbanyaklah bersyukur. Jangan tinggalkan ibadah dan salat Asa."
'Maafkan Asa Mbah, Asa janji hanya kali ini Asa melakukan pekerjaan ini. Semoga Mbah mau mengerti Mbah.' hati Asa tidak enak. Ia merasa telah mengecewakan Mbah Sumi dengan tingkahnya seperti ini. Asa tau balapan liar seperti ini bukan bagian dari pekerjaan yang baik, tetapi Asa juga harus membuktikan kepada sang ibu dan juga Cindy bahwa Asa bisa bertahan hidup tanpa uang mereka.
Malam minggu di gunakan remaja lain untuk bertemu dengan pujaan hati, ngdate, nonton atau ada yang duduk santai di dalam kamar bermain game online. Asa malah menggunakan waktunya untuk kebut-kebutan di jalan mencari rupiah, demi kelangsungan hidupnya. Sekaligus bisa juga mengakhiri hudupnya, jika sedikit saja perhitungannya meleset.
Tanda garis finish sudah makin terlihat di depan sana, Asa mulai menaikan kecepatannya. Bisa tidak bisa ia harus menang malam ini, ia tidak mau mengecewakan Bian.
Ketika Asa mulai menarik gas di tangannya, motor melaju semakin kencang. Angin malam pun makin terasa menusuk di tubuh Asa, meski Hoodie yang ia kenakan cukup tebal. Suara teriakan makin terdengar, dalam hati Asa hanya bisa melantunkan basmallah sebanyak-banyaknya. Menyesal dulu kenapa ia tidak rajin mengaji seperti adiknya, dan sekarang ia merasa menjadi orang paling bodoh.
Motor Asa melesat kencang melewati Gavin dan melaju ke garis finish, semua sahabatnya langsung berlari memeluk Asa, mengucapkan selamat padanya. Tampak rasa puas menghiasi wajah Bian, dan itu membuat Asa senang.
"Nih surat-surat motor dan ponsel buat Lu, thanks Sa, berkat Lu ... akhirnya gue bisa puas ngalahin si Gavin." Bian menyodorkan sebuah paperbag.
__ADS_1
"Gue bilang juga apa, Lu pasti menang Sa." Ucap Gio.
"Wiihh motor baru dong ya, jangan lupain sikumbang nanti dia cemburu." Edo menimpali.
"Udeh udeh ngucapin selamatnya nanti aja, kita mending pegi aja nyok dari sini. Takut keburu ada pakpol datang." Chandra mengingatkan.
"Gimana kalo kita ke tempat nasi goreng Mang Udin aja, gue traktir dah." Ujar Fajar.
Semua orang menyutujui saran Fajar, mereka melesat menuju sebuah gerobak pedagang nasi goreng yang mangkal di dekat lampu merah. Asa berterimakasih kepada semua temannya, sungguh ia tidak menyangka bisa memiliki sahabat seperti mereka.
🏍️🏍️🏍️
Jam menunjukan pukul empat pagi ketika Asa sampai di rumah, Asa sudah hendak menarik handle pintu utama ketika pintu terbuka dari dalam. Tampak seorang remaja keluar mengenakan koko dan sarung. Wajahnya masih basah entah karena cuci muka atau air wudhu.
"Abang baru pulang? abis dari mana, Bang?" Arka bertanya.
"Kerja apaan Bang sampe pulang jam segini?" Arka menatap curiga, melihat sebuah helm yang berada di lengan abangnya.
"Itu helm siapa bang?" Arka kembali bertanya karena abangnya tak menjawab.
"Punya Abang, Dek. Abang kerja di temen Abang."
"Abang punya motor sekarang? terus si kumbang kemana?" Arka kaget.
"Iya, sikumbang masih di bengkel, seminggu yang lalu ada yang rusakin, besok baru mau ambil." Raut wajah Asa berubah sendu ketika mengingat sikumbang.
Sudah dari tiga hari yang lalu pemilik bengkel mengabari Chandra bahwa sikumbang sudah bisa di ambil, tetapi Asa belum memiliki uang jadi terpaksa ia titipkan dulu sikumbang di bengkel.
__ADS_1
"Apa! siapa yang berani rusakin sikumbang Bang?"
"Abang juga belum tau."
"Terus Abang berangkat sama pulang sekolah pake apa?"
"Pake si geboy."
"Si geboy siapa lagi itu Bang?"
"Motor punya Bang Chandra, Dek. Abang nebeng sama dia."
"Terus itu motor abang beli apa nyolong?"
"Astagfirullah Dek, Abang gak nyolong. Itu dapet dari temen, abang nyicil bayarnya. Abang udah bilang kan kalo sekarang abang kerja."
Arka masih ingin mengintrogasi abangnya ketika azan subuh berkumandang, ia bergegas pergi ke masjid. "Urusan kita belum selesai, Bang. Aku pamit ke masjid dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Asa merebahkan badannya di kasur berseprai abu-abu, entah siapa yang mengganti, Asa tidak terlalu memikirkannya. Rasa kantuk mulai datang menyerang, matanya mulai terpejam, badannya sungguh lelah, ia ingin beristirahat sejenak dan melupakan semua beban yang ia pikul di dunia nyata. Menjemput dunia yang selalu ia idam-idamkan di dunia mimpi.
Arka buru-buru pulang dari masjid, rasa penasarannya masih menggebu. Ia tidak mau sampai abangnya salah jalan, ia harus mengingatkan sang Abang agar tidak salah arah. Arka buka pintu kamar abangnya yang tampak tertidur sangat pulas, helaan nafas teratur membuktikan bahwa Asa tidak sedang berbohong.
Arka tatap wajah tampan milik abangnya, mata yang tertutup itu memiliki bulu mata yang lentik, hidup yang mancung, bibir yang jarang di gunakan untuk tersenyum itu terlihat tipis. Arka mulai menangis, ia bukannya tidak tahu apa yang abangnya alami di sekolah. Ia tahu semua dari mulai Asa yang masuk ruang BK tempo hari atau ketika Cindy menghina Asa, tetapi rasa takut akan di buang kembali oleh sang ibu membuat Arka diam. Ia hanya bisa berdoa semoga abangnya di berikan mental yang kuat.
"Arka sayang Abang, Abang pasti bisa, Bang. Arka masih tetep adik Abang."
__ADS_1
🏍️🏍️🏍️