Sebuah Asa

Sebuah Asa
05


__ADS_3

Bendera kuning terselip di pagar hidup yang terbuat dari bunga sepatu, langit pun seperti ikut berduka dengan menurunkan tetes demi tetes air. Para pelayat mulai berdatangan satu persatu, suasana duka semakin terasa. Terlihat dua anak laki-laki yang tengah duduk di samping jenazah neneknya, membuat suasana semakin menyayat hati bagi para pelayat.


Arka melantunkan ayat suci Al-Quran bersama Pak Syafei sambil terus meneteskan air matanya. Ia tahu ini sudah takdir yang tertulis bahwa semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, tetapi tetap saja hatinya sangat sakit. Ia belum siap ditinggalkan, ia masih butuh sang Mbah, masih butuh kasih sayangnya, petuah-petuahnya, belaiannya serta ia masih butuh Mbah Sumi untuk merasakan kesuksesannya kelak. Sang kakak tampak lebih tegar, Asa hanya terus menunduk. Ia masih tidak percaya jika Mbah Sumi pergi secepat ini, ada rasa sesal dalam diri Asa. Ia merasa gagal selama ini menjadi seorang cucu, andai ia bisa menjadi orang yang berguna Mbah Sumi pasti tidak akan meninggal seperti ini. Andai dulu orang tuanya tak meninggalkannya begitu saja bersama sang mbah, tentu Mbah Sumi tidak perlu capek-capek berjualan keliling.


Saat jenazah selesai dimandikan dan dikafani, Pak RT bertanya kepada Pak Syafei apakah jenazah sudah bisa di kebumikan sekarang. Diliriknya jam yang menempel di dinding usang terbuat dari anyaman bambu, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Pak Syafei memutuskan untuk melaksanakan pemakaman hari itu juga mengingat waktu yang sudah sore dan tidak ada kerabat yang ditunggu kedatangannya. Meski dalam hati Pak Syafei ingin menghubungi ibu Asa dan Arka karena dia adalah anak satu-satunya Mbah Sumi, tetapi Pak Syafei bingung harus menghubungi lewat apa. Tidak ada orang yang memiliki nomor ponsel ibu Asa, Mbah Sumi sendiri sudah menjual ponsel miliknya beberapa tahun yang lalu untuk modal berjualan kue.


Pak Syafei dibantu warga sekitar mulai menggotong keranda milik Mbah Sumi, Asa dan Arka mengikuti dari belakang. Semilir angin sore, suara salawat nabi dari masjid, dan lembayung senja berwarna hitam keunguan mengiringi proses pemakaman Mbah Sumi. Setelah Pak Syafei menyampaikan permohonan maaf dari pihak keluarga, dan jika ada hutang piutang Pak Syafei siap menjadi penanggung jawab, ia pun memberi tahu bahwa acara tahlilan akan diselenggarakan di masjid saja. Jika ada yang berkenan mengikuti silakan datang ke masjid setelah salat Isya, para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman setelah Pak Syafei menutup doa.


Tinggal hanya ada Asa, Arka dan Pak Syafei di sana, Asa memandang gundukan tanah merah dengan papan nisan tertulis nama Mbah Sumi. Ia ingin sekali menangis meraung-raung, berteriak sekencang-kencangnya kenapa ini semua harus terjadi padanya. Berat, ini sungguh berat untuknya. Dunianya sudah hancur, kenapa tuhan sangat kejam padanya. Semesta sungguh tidak main-main saat memberinya sebuah lelucon, ia tak tahu lagi harus mengadu kepada siapa, ia benar-benar sebatang kara sekarang. Apa benar dirinya ini pembawa sial? Sampai semua orang yang ia sayangi satu persatu pergi meninggalkannya. Asa berjongkok, ia genggam tanah merah yang menjadi rumah sang mbah sekarang.


“Asa janji Mbah, Asa akan buat Mbah bangga, Asa tidak akan lupa dengan semua nasehat Mbah. Maafkan Asa belum bisa menjadi cucu yang baik buat Mbah, Asa sayang sama Mbah. Asa akan menjaga dan melindungi Arka sesuai keinginan Mbah.” Asa sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia meraung memeluk pusara sang Mbah. Sungguh jika boleh meminta Asa ingin ikut dengan Mbah Sumi, Asa sudah lelah dengan semua ini. Apa yang akan mereka lakukan sekarang tanpa ada Mbah Sumi.


🏍️🏍️🏍️


Tepat setelah azan Magrib Asa dan Arka tiba di rumah, suasana rumah masih gelap. Tidak ada orang satu pun di sana. Arka mulai menangis lagi, mungkin ia teringat Mbah Sumi atau ia menangisi nasib dirinya dan sang kakak untuk kedepannya.


“Biasanya Si Mbah langsung marahin Abang, kalau Abang pulang ke rumah jam segini ya, Bang,” cicit Arka, Asa hanya menatap sang adik. Asa sungguh tidak tega melihat kondisi Arka, mata yang bengkak sedari siang menangis, badan gemetaran, tatapannya kosong.

__ADS_1


Asa berjalan masuk, mulai menyalakan lampu ruangan dan lampu depan. Ia pandangi ruangan yang menjadi kamar Mbah Sumi, sunyi tak ada suara batuk Mbahnya, tak akan ada lagi suara yang mengaji di tengah malam, tak akan ada lagi suara lemah lembut yang menyuruhnya salat, menyuruhnya mandi atau menyuruhnya makan.


“Aku kangen Mbah, Bang.” Arka menyandarkan kepalanya pada bahu sang abang, ia ikut bergabung dengan Asa menatap pintu kamar Mbah Sumi. Arka masih berharap Mbah Sumi akan keluar dari ruangan itu dan tersenyum padanya, tetapi sepertinya itu hanya akan ada dalam khayalan Arka saja.


Asa mengusap kepala sang adik, ia harus kuat demi sang adik. Asa mencoba tersenyum, “Lebih baik kita mandi, lalu pergi ke masjid buat doain Mbah, Dek. Sana mandi duluan.”


Arka menurut, ia gerakan kakinya yang lemas untuk masuk ke kamar mengambil handuk dan berlalu pergi ke belakang rumah. Asa duduk di kursi yang terbuat dari rotan ia pijat pelipisnya, kepalanya sungguh berasa ingin pecah mentalnya tidak sanggup menerima semua kenyataan ini.


Di belakang rumah Arka masih diam mematung menatap sumur timba, pikirannya berputar ke siang tadi saat Mbahnya pamit ingin ke kamar mandi. Andai saat itu Arka memaksa ikut menemani, Mbah Sumi tidak akan jatuh dan tidak akan meninggal seperti ini. Matanya mulai memanas lagi, air mata mulai menggenang siap terjun bebas jika saja Arka mengedipkan matanya.


Asa dan Arka sengaja datang lebih awal ke masjid, mereka sedang duduk termenung di teras masjid ketika ada sebuah tangan mengusap bahu Asa sekaligus mengusap kepala Arka. Asa menengok, ia bisa melihat Pak Syafei beserta istrinya yang tersenyum dan menyodorkan sebuah rantang ke arah Asa dan Arka.


“Jangan ditolak, ini rezeki kalian,” ucap Pak Syafei meyakinkan Asa. Arka menatap sang abang berharap diizinkan menerima makanan dari tangan Bu Humairah.


“Terima kasih Pak, Bu.” Asa menerima lalu menikmatinya dengan sang adik. Tanpa terasa air mata Asa menetes, dalam hatinya ia bersyukur masih ada yang mau peduli pada dia dan adiknya.


‘Mbah Asa harus gimana sekarang? Asa tidak memiliki uang sama sekali, untuk makan kami besok saja Asa belum tau. Apa Asa harus mengharapkan belas kasihan orang terus menerus seperti ini? Tidak Asa harus bisa bangkit. Mbah juga di sana pasti tidak ingin melihat kami seperti ini,’ Asa bergumam dalam hati.

__ADS_1


“Pak Syafei, apa ada yang bisa Asa kerjakan? Asa janji mau bekerja apa saja asal bisa makan dan bisa menyimpan uang untuk sekolah Arka.” Arka yang mendengar ucapan sang kakak langsung menghentikan makannya sejenak.


“Arka mau berhenti sekolah aja, Arka mau bantu Abang cari uang.”


“Jangan! Biar Abang aja yang cari uang, kamu harus lulus dengan nilai terbaik. Kamu harus bisa bikin Mbah bangga, Arka.”


“Tapi, Bang ....”


“Nggak ada tapi-tapian, Abang kan udah UN kemarin tinggal nunggu kelulusan sama pembagian raport dan ijazah doang.”


Pak Syafei tersenyum melihat interaksi mereka berdua, mereka anak-anak baik yang di dewasakan oleh keadaan. Lebih tepatnya dipaksa harus dewasa, hati Pak Syafei sangat terenyuh.


“Arka, Abang kamu benar, kamu harus melanjutkan sekolah. Karena kamu baru masuk sekolah menengah pertama.” Pak Syafei membelai rambut Arka.


“Ta-tapi, Pak, biayanya dari mana?” Arka bergumam


“InsyaAllah pasti ada, kamu jangan pikirkan soal biaya, Arka. Yang harus kamu lakukan cukup belajar, belajar serta belajar. Dan untuk kamu Asa, jika memang kamu ingin membantu. Kamu bisa datang setiap pagi ke kebun saya atau ke masjid ini.”

__ADS_1


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2