
Suara qiroah dari masjid kompleks terdengar bersautan dengan suara motor Asa yang baru memasuki halaman rumah, hari masih gelap, tetapi lampu kamar milik Cindy dan Arka sudah menyala menandakan sang pemilik kamar sudah terjaga.
Cindy yang sudah bangun tetapi masih bermain ponsel, gegas keluar kamar menuju pintu utama rumah besar itu. Mendengar deru motor Asa perasaannya menghangat. Cindy tak ubahnya seperti seorang istri yang bahagia suaminya pulang ditandai dengan suara kendaraan datang. Entah mengapa hal itu bisa dirasakan Cindy. Pun bila Cindy jatuh cinta pada Asa, rasanya akan sulit tergapai. Bukankah mereka saudara?
Cindy membuka pintu dengan senyuman lebar. Wajah khas bangun tidurnya tetap tampak ayu meski tanpa polesan make up. Jelas, sebelum tidur gadis itu memoles pipi mulusnya dengan skin care mahal. Asa yang baru memarkirkan motor pun masuk, melewati Cindy begitu saja. Padahal Cindy berharap Asa menyapanya, atau setidaknya meliriknya barang sejenak. Padahal semalaman Cindy menunggu kepulangan Asa.
"Lo baru pulang, Sa?" tanya Cindy berbasa-basi, Asa tak ada niatan untuk menjawab. Ia tetap meneruskan langkahnya. Bukan bermaksud sombong, tetapi Asa malas berdebat sepagi ini dengan Cindy.
"Asa!" panggil Cindy, mau tak mau Asa berhenti sejenak. Ia memberi Cindy waktu untuk berbicara.
"Emm ... gu-gue mau minta maaf, selama ini udah banyak salah sama lo. Gu-gue juga mau bilang makasih lo udah mau nyelametin gue kemarin." Cindy berkata tulus dari lubuk hatinya, ia ingin memiliki hubungan baik dengan Asa.
Asa menarik napas terlihat oleh Cindy dari gerakan bahunya, "Yang nolongin lo itu Si Chandra, bukan gue. Gak ada gunanya lo minta maaf sama gue." Setelah mengucapkan itu Asa melanjutkan langkahnya menaiki tangga lalu masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Cindy yang mendapat perlakuan seperti itu dari Asa, hanya menunduk tak terasa air matanya menetes. Baru kali ini Cindy meminta maaf kepada orang lain, dan baru kali ini juga Cindy menangis lagi. Terakhir kali ia menangis saat bundanya meninggal dan sekarang hanya karena seorang Asa ia meneteskan air mata. Cindy kembali menutup pintu utama, dan melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Arka keluar dari tempat persembunyiannya saat terdengar bunyi pintu di kunci yang berasal dari kamar Cindy. Arka terus menyunggingkan senyuman ketika keluar dari balik pintu kamar, ia harus berbicara kepada sang abang setelah pulang dari masjid nanti. Arka tidak ada maksud untuk menguping, tetapi saat hendak menuruni tangga untuk pergi ke masjid Arka tidak sengaja melihat adegan itu. Tidak ingin mengganggu, akhirnya Arka urungkan niatnya dan kembali masuk ke kamarnya.
🏍️🏍️🏍️
Tok tok tok ...
"Bangun, Bang Asa. Udah siang ini, Bang," teriak Arka sambil mengetuk pintu kamar abangnya.
"Ada apa, Dek?" Asa membuka pintu kamar sambil sibuk mengucek matanya.
"Bangun udah siang, Bang."
Asa menengok kearah jam yang tergantung di dinding kamarnya, "masih jam delapan ini, Dek. Masih ngantuk nanti lah dua jam lagi."
__ADS_1
"Gak bisa! Ayo turun, rumah juga udah kosong." Arka membalikkan badannya, melangkah menuju tangga dan mulai menuruninya.
"Pada kemana?" tanya Asa, sambil mengikuti langkah adiknya.
"Ayah pergi sama Cindy ke makam bundanya Cindy, sedangkan mama. Katanya ke pasar tadi sama Bi Ani." Jelas Arka. Asa hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Cuci muka dulu sana, Bang, abis itu temenin aku masak. Kita bagi tugas." Perintah Arka tidak menerima penolakan.
"Abang bikin teh, aku yang bikin nasi gorengnya. Nanti kita makan bareng ya, Bang, sekalian ada yang pengen aku ceritain sama abang," tutur Arka. Sembari mengambil perlengkapan memasaknya dan juga bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.
Asa dengan muka bantalnya hanya pasrah menuruti keinginan sang adik, Asa berjalan ke arah wastafel mulai mengisi teko listrik dengan air secukupnya, ia mulai mencolokkan kabelnya. Asa lalu mengambil gelas dan sendok, ia membuka lemari yang berada di atas kepalanya untuk mengambil gula dan teh.
"Widih gercep bener, ternyata abangku ini udah ada kemajuan. Udah cocok jadi calon suami idaman. Pasti bahagia nanti yang jadi istri abang." Arka mulai menggoda Asa.
"Ngaco." Asa tersenyum mendengar godaan sang adik.
"Abang pasti udah punya pacar kan, Bang? Ngaku, Bang," todong Arka.
"Ya kan dulu abang gak bisa bikin teh, sekarang nyolokin teko aja abang bisa. Di ajarin siapa coba?"
"Diajarin temen Abang, kamu lupa Abang kerja di cafe? Ini udah biasa jadi kerjaan Abang." Asa mencoba menjelaskan, tetapi entah mengapa saat Arka mengucapkan kata pacar Asa langsung terbayang si gadis ajaib.
"Iya juga." Arka cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.
"Awas itu nasi goreng gosong, Dek." Asa memperingati.
Sekitar lima belas menit mereka berkolaborasi di dapur, Asa dan Arka sekarang berada di balkon kamar mereka yang terhubung. Menikmati suapan demi suapan nasi goreng buatan Arka.
"Jadi inget kampung ya, Bang?" tanya Arka.
__ADS_1
"Hm."
"Kapan kita bisa ke kampung lagi ya, Bang? Aku kangen Pak Syafi'i, pengen ke makam Mbah juga," tutur Arka.
"Nanti kalo udah libur sekolah kita ke kampung, Dek."
"Bener ya, Bang." Arka sangat senang, hingga matanya berbinar.
"Ya."
"Mmm, Bang. Menurut abang Cindy itu gimana?"
Asa berhenti memakan nasi gorengnya, ia menaikan sebelah alisnya. Merasa aneh dengan pertanyaan adiknya. "Emang kenapa?"
"Aku rasa, dia ada hati sama abang." Arka berkata sangat pelan, ia takut sang abang marah.
"Gak mungkin, Dek."
"Kenapa gak mungkin? Kan bisa aja, Bang. Nothing impossible when Allah said kun fayakun."
"Haha, gaya banget adek gue ini. Bahasanya udah pake inggris sekarang, mentang-mentang udah mau jadi anak esema." Asa mentertawakan ucapan Arka.
"Abang! Ini tuh serius, gak ada yang gak mungkin kalo Allah udah gerakin hatinya ke Abang. Aku curiga ini kayanya banyak cewek yang suka ke abang, tapi abangnya yang gak peka."
Asa berhenti tertawa, wajahnya kembali serius. "Biarin aja, Dek. Kita gak bisa memaksa atau mengontrol perasaan seseorang untuk membeci atau menyukai kita. Mau suka ataupun nggak itu hak mereka."
"Iya juga sih, Bang, tapi abang suka gak gak sama Cindy?"
Asa menyesap teh terakhir yang ada dalam gelas miliknya seraya memberikan jawaban dengan sebuah menggeleng, ia lekas bangun. "Abang udah beres, mau mandi dulu. Nanti bekas abang tolong sekalian bawa ke bawah dan cuciin ya, Dek." Setelah mengucapkan itu Asa menghilang di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Saat Asa keluar dari kamar mandi ia sudah tak menemukan sang adik di balkon kamarnya. Lalu Asa duduk bersandar pada kepala ranjang sambil melihat ponsel dan masuk ke akun Twitternya, seketika langsung muncul gambar gambar hasil karyanya yang ia unggah di sana. Bahkan Asa beberapa kali membuat video creator dan mengunggahnya, ribuan komentar dan like yang membanjiri gambar dan Video yang Asa unggah. Selama beberapa bulan terakhir hanya itu yang ia kerjakan, untuk mengisi kesunyian hatinya.
🏍️🏍️🏍️