
Asa dan sang mama keluar dari ruang Bimbingan Konseling bertepatan dengan jam pulang sekolah. Mama Ranti meraih bahu Asa ketika sang anak hendak berlalu ke parkiran, membuat Asa membalikkan tubuhnya dan akhirnya mereka saling berhadapan. Ia tatap manik mata elang milik anaknya. “Asa, kamu ada masalah apa? Kenapa sampai memukul orang? Itu gak baik, Nak.”
“Gak ada apa-apa.” Asa menyingkirkan tangan sang mama.
“Asa! Jangan bikin Mama malu. Om Randika sudah sangat baik, dia mau menerima bahkan sudah mau menanggung semua biaya sekolah kamu dan Arka. Kenapa kamu urakan seperti ini?” Bentak Mama Ranti. Kesabarannya sudah habis, ia sudah mencoba bertanya dengan cara yang baik. Namun, Asa tetap keras.
Mama Ranti tidak ingin nama baik sang suami tercoreng karena ulah anaknya, bukan tanpa alasan Mama Ranti memiliki ketakutan seperti itu, suaminya salah satu orang yang di segani di sekolah ini. Ia sudah cukup berterima kasih Randika mau menerima anak-anaknya dengan baik, bahkan Randika menganggap Asa dan Arka seperti anaknya sendiri.
Asa tersenyum kecut. “Maaf jika aku membuat Mama malu, mulai sekarang aku akan mencari kerja untuk mencukupi kehidupanku sendiri agar tak menyusahkan Mama dan Pak Randika. Mama tidak perlu mengurusiku lagi, lebih baik Mama urus saja putri tercinta Mama, ajari dia sopan santun.”
Asa pergi dengan membawa luka yang semakin menganga, hatinya kembali sakit. Bagaimana bisa sang mama membentaknya di depan umum, Luka yang dulu saja masih basah, masih belum kering, masih belum menemukan obat dan sekarang Mama Ranti menambahnya dengan luka baru. Apa perlu sampai harus membentak bahkan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, Asa seperti ini juga karena ulah dirinya. Mbah Sumi saja yang mengurusnya sejak bayi tidak pernah berucap demikian, lalu dengan gampangnya Mama Ranti mengeluarkan kata-kata seperti itu padahal baru dua bulan ia hidup bersama Asa.
Dari kejauhan anggota inti Orion melihat interaksi antara seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang tak lain adalah sahabatnya, mereka tentu langsung bisa mengenali wanita paruh baya yang tengah mengobrol dengan Asa. Karena sang wanita sudah sering ke sekolah mereka untuk mendampingi Cindy. Jika seperti ini mereka bisa menyimpulkan Asa dan Mama Cindy ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Mereka tak bisa berbuat apa-apa jika Asa sendiri belum mau berbagi cerita.
Asa mengayuh si kumbang melewati gang-gang kecil dan sempit, ia ingin bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Namun, Asa tidak tahu harus menghubungi mereka dengan apa. Asa sendiri belum memiliki ponsel, pernah suatu malam Randika mengajak Asa dan Arka mengobrol sehabis makan malam.
“Ayah punya hadiah untuk kalian berdua.” Randika menyodorkan sebuah paperbag berlogo sebuah ponsel pintar kepada Asa dan Arka.
“Apa ini, Yah?” tanya Arka dengan polosnya. Arka sudah memanggil Randika dengan sebutan ayah, berbeda dengan Asa yang masih memanggilnya Pak.
“Buka aja.” Randika mengelus rambut Arka.
__ADS_1
“Waah ... ponsel baru. Ini buat aku, Yah?” Arka sangat antusias.
“Iya, buat kamu sama Abang, biar gampang kalo ada apa-apa.”
“Makasi, Yah. Bang, liat ini, Bang.” Arka berterima kasih, ia memberikan salah satu ponsel kepada sang abang.
“Terima kasih, Pak, tapi aku gak bisa nerima,” ucap Asa.
“Lah kenapa, Bang? Kan biar gampang kalo ada cewek yang minta nomor Abang.”
“Otak kamu isinya cewek mulu, nyalain air dari shower aja masih minta bantuan Bi Ani. Belajar dulu nyalain shower, Dek,” sindir Asa, ia berdiri melangkah pergi menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya.
“Ish si Abang mah, maen bongkar rahasia aja,” gerutu Arka. Randika hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya, dia mengerti dan tidak mempermasalahkannya jika Asa masih belum mau menerima. Ia suka sifat Asa meskipun keras, ia percaya suatu hari nanti Asa akan menjadi orang yang sukses.
Ia lewati halaman rumah Chandra yang tampak sepi, sepertinya Chandra tidak ada di rumah meski enggan akhirnya Asa tetap pulang ke rumah.
🏍️🏍️🏍️
Keesokan paginya, Asa turun ketika semua orang belum berada di meja makan. Asa mendengar suara sang adik yang tengah mengobrol dengan Bi Ani di dapur. Asa mengintip dan ternyata benar adiknya itu sedang memberikan resep nasi goreng kesukaannya kepada Bi Ani.
“Aku gak suka roti, Bi, gak kenyang. Sampe sekolah juga lapar lagi. Mending Bibi kalo bikin sarapan buat aku sama Bang Asa nasi goreng aja.” Arka mulai melancarkan aksi protesnya.
__ADS_1
Sudah dua bulan tinggal di sini, ternyata tidak bisa merubah kebiasaan Arka yang sarapan harus langsung makanan berat. Dulu Mbah Sumi memang mengajarkan mereka untuk sarapan dengan nasi, bukan teh atau kue-kue buatannya. Katanya agar kenyang sampai waktu istirahat, dan tidak terlalu banyak jajan.
Saat Asa membalikkan badan, ia kaget karena ada Pak Randika yang mengikuti aksinya.
“Kenapa Arka baru bilang sekarang?” Randika mengerutkan dahi.
“Dia tidak mau membuat Mama atau Bapak marah, dan mengantarkannya kembali ke kampung, Pak. Arka mau melakukan apa pun asal bisa hidup bersama Mama,” ungkap Asa.
“Astagfirullah Arka ....”
Randika melangkahkan kakinya mendekati Arka, ia langsung berucap kepada Bi Ani agar menambah porsi nasi goreng untuk semua orang. Arka sedikit kaget, ia menunduk takut.
Randika mengajak Arka duduk di meja makan, mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Arka. Tentu tidak sulit karena Arka memiliki sifat terbuka. Randika berkata Arka maupun Asa bisa menolak atau meminta makanan yang mereka inginkan, tidak perlu sungkan karena sekarang ini rumah mereka juga. Dan Randika bisa pastikan bahwa mereka tidak akan diantarkan pulang ke kampung.
Mereka sarapan dengan sedikit ocehan Cindy yang protes kenapa ada nasi goreng pucat di meja makan, ke mana roti dan selai kacang kesukaannya. Randika mencoba menghardik sikap sang anak, tetapi Ranti langsung membela Cindy dengan alasan Cindy belum pernah memakan nasi goreng seperti itu jadi wajar saja. Ulah Cindy tidak habis sampai disitu, ia mengomel hingga berteriak saat melihat si kumbang yang terparkir dengan gagah di samping mobil miliknya.
“Gimana kalo mobilku lecet, Yah? Harusnya sepeda butut macam ini disimpen di belakang aja, jangan disimpen deketan sama mobilku,” rengeknya.
Ranti segera memanggil Mang Maman, menyuruhnya memindahkan sepeda Asa agar Cindy berhenti merajuk. Randika justru melarang, ia memarahi Cindy karena sikapnya yang sungguh berlebihan.
“Ayah udah gak sayang sama aku.” Cindy mengentakkan kakinya, ia berlari ke dalam rumah. Ranti mengikuti berusaha membujuk sang putri.
__ADS_1
Asa melihat sikap mamanya yang seperti itu hanya bisa diam mematung, apakah dia benar ibu kandungnya? Kenapa tidak sedikit pun Asa merasakan kasih sayang dan rasa peduli sang mama untuk dirinya. Saat ia dihina secara tidak langsung pun sang mama tidak membelanya. Ia justru lebih mengutamakan perasaan Cindy yang bukan anaknya, apakah dia bukan anak yang diinginkan mamanya? tetapi itu semua bukan salah Asa. Asa tidak pernah minta dilahirkan menjadi anaknya, jika boleh Asa meminta, ia ingin dilahirkan sebagai anak yang disayang kedua orang tuanya, diasuh dan dididik oleh orang tuanya. Tak perlu kaya harta asalkan hati orang tuanya penuh dengan kasih sayang Asa sudah merasa bahagia.