Sebuah Asa

Sebuah Asa
15


__ADS_3

Hari Jum'at identik dengan salat Jumat dan waktu yang terasa sangat singkat, namun bagi seorang Gayatri Chandara waktu selalu singkat setiap harinya. Kadang ia berpikir apa ia terlalu betah di dunia ini hingga perputaran waktu pun tak berasa lama baginya.


Pagi ini Dara menunggu sosok Asa, tetapi tak ia jumpai. Dara sampai bertanya kepada Sarah dan Alby, namun jawabannya tetap sama tak ada tanda-tanda Asa berada di sekolah. Inti Orion yang lain pun tak terlihat batang hidungnya, apa mereka semua bolos? Dara seharian termenung, hidupnya hampa, semangatnya menguap begitu saja, ia tidak bisa jika tidak melihat Asa sehari saja. Moodnya langsung berantakan, sungguh dahsyat sekali efek Asa pada diri Dara.


Gadis itu uring-uringan hingga pulang sekolah, ia biasanya akan mampir ke cafe milik sang papa, tetapi tidak dengan hari ini. Moodnya masih tidak baik-baik saja, Dara putuskan untuk pulang dan bermain dengan kucing kesayangan.


Gayatri Chandara, seorang gadis cantik nan manis. Memiliki tinggi badan yang cukup ideal untuk ukuran orang Indonesia, ia tidak pendek, meski banyak laki-laki yang bilang wanita pendek itu cantik, tetapi Dara bisa membuktikan bahwa wanita tinggi juga cantik.


Sifat aslinya sungguh sangat bar-bar tidak ada kata diam dalam kamus Dara, tetapi jika di depan Asa ia berubah 180 derajat Celcius. Entah kenapa bisa begitu Dara sendiri bingung, apa mungkin Asa adalah pawang yang tuhan utus untuk dirinya? semoga saja, karena jika iya Dara akan sangat bahagia.


Sore itu Dara baru selesai memandikan si pussy, ia gendong kucing berbulu seputih salju itu dan menaruhnya di halaman depan agar tersorot matahari sore. Pussy paling suka berjemur di atas rumput, Dara berlari ke dalam rumah untuk mengambil kandang milik kucingnya.


Ketika kembali Dara tidak menemukan pussy, ia langsung berlari keluar pagar rumahnya mencari pussy di sekitar sana. Berlari hingga ke ujung blok B, ia menemukan pussy yang tengah menyebrangi jalan entah mau kemana, tetapi dari arah samping ada sebuah motor yang tengah melaju. Dara yakin si pengendara tidak melihat ada kucing yang melewat. Ternyata perkiraan Dara salah, si pengendara berhenti tepat di depan kucing miliknya. Jika sedikit saja dia terlambat mengerem sudah bisa di pastikan pussy hanya akan tinggal nama.


Dara berlari mengambil pussy lalu menggendongnya, tanpa ba bi bu Dara langsung memarahi si pengendara motor meski ia tidak tahu siapa sebenarnya orang di balik helm tersebut.


"Bisa pake motor gak sih? Udah tau ini jalan komplek masih aja ngebut, kalo kucing Gue kenapa-kenapa Lo mau tanggung jawab hah?"


Melihat si pengendara hanya diam tanpa merespon ucapnya, membuat Dara semakin kesal "Kalo ada orang ngomong tuh di jawab, budek apa Lo ya. Minta maaf kek apa kek, aneh banget udah salah gak minta maaf."

__ADS_1


Terlihat si pengendara menghela napas lalu membuka helmnya " Sorry gue gak sengaja."


Dara kaget bukan main mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, bulu kuduknya langsung berdiri hatinya mulai berdebar. Daebak apa telinganya tidak salah dengar? itu suara Asa, kenapa Asa bisa ada di kompleks perumahannya? apa dia juga tinggal di kompleks ini? Dara tengah asik termenung dengan pemikiran-pemikirannya hingga mengabaikan permintaan maaf Asa.


"Gay ... Gay!" Asa memanggil Dara, tetapi Dara masih saja termenung.


"Cantik-cantik aneh." Asa putuskan memakai helmnya dan melajukan kembali motornya meninggalkan Dara yang masih termenung dengan suara ngeongan si pussy.


🏍️🏍️🏍️


Entah kesialan apalagi yang akan menimpa diri Asa sudah tadi malam ia hampir tertangkap polisi, lalu jatuh hingga mendapatkan beberapa luka yang masih terasa sakitnya, baru saja ia akan menabrak seekor kucing di tambah omelan dari pemilik kucing dan tidak lain adalah Gayatri teman angkatannya yang ternyata memiliki mulut ceriwis, Asa sudah salah menilainya. Asa sedikit kesal ketika Gayatri mengomel dan mengatakan dia mengebut, mana ada Asa mengebut kecepatan motornya saja hanya 20 kilometer/jam, jika tahu begitu sekalian saja Asa tabrak kucing miliknya.


Asa mau tidak mau akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah Pak Randika, setelah berpamitan kepada Elita gadis mungil bergigi ompong yang baru berusia tujuh tahun. Asa menitipkan Elita kepada asisten rumah tangga yang tengah mengangkat jemuran di belakang rumah.


Sejujurnya Asa iri pada kehidupan seorang Fajar, menurut Asa, Fajar memiliki kehidupan sempurna yang selalu ia idam-idamkan selama ini. Memiliki ibu yang sangat menyayanginya, adik yang manis dan penurut, terlihat bagaikan keluarga Cemara. Tidak seperti kehidupan dirinya yang entah kapan bisa merasakan kebahagiaan dalam keluarga, bahkan saat ia sudah tinggal bersama dengan sang mama, Asa masih tetap merasa kosong dan sendirian.


Asa sampai di rumah setelah magrib, pemuda itu langsung masuk ke kamar. Ia tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini, termasuk Arka. Ia tidak ingin adiknya khawatir melihat keadaannya, Asa rebahkan badannya. Rasa sakit masih sangat kentara, badan Asa terasa remuk semua. Belum lagi rasa perih yang berasal dari lengan kiri dan lututnya, andai Mbah Sumi masih ada pasti sekarang Asa sedang di manja olehnya.


"Kalo goes sikumbang hati-hati jangan sampai jatuh begini, kamu gak bisa jaga diri sendiri. Gimana nanti bisa jaga Mbah." Mbah Sumi mengobati luka Asa dan meniupnya dengan penuh kasih sayang selalu itu yang Mbah Sumi lakukan dulu. Asa merasakan sepertinya baru kemarin kejadian itu terjadi.

__ADS_1


"Asa kangen Mbah, Mbah udah bahagia ya di sana?" Asa menutup matanya, ia membayangkan belaian lembut tangan Mbah Sumi pada kepalanya.


"Asa sakit Mbah, Asa butuh Mbah," ucapnya lirih.


Asa membuka mata ketika ia rasakan getaran ponsel yang berada di saku celananya, saat di lihat ternyata pesan dari Bian dan Chandra. Asa buka satu persatu pesan dari sahabatnya.


Bian:


Sa, Elu dimana? tadi siang Gue udah ngusahain duit balapan kemaren malem, dan udah di transfer ke rekening elu.


Chandra:


Gue tadi udeh dari tu cafe, pas gue tanya soal kerjaan over time. Mereka ngebolehin, kita nanti balik lagi ke sono kalo elu udah sehat.


Asa hanya membaca pesan dari sahabatnya tanpa ada niat untuk membalas, ia keluar dari aplikasi chat hijau lalu menekan tombol off pada sisi kanan ponselnya.


Asa menarik napas sangat panjang, kenapa hidupnya seperti ini? Asa sebenarnya sangat lelah, bolehkan jika dia istirahat sejenak? ingin rasanya ia mengeluh, tetapi kepada siapa ia harus meluapkan semua keluh kesahnya. Ia sendiri bingung.


🏍️🏍️🏍️

__ADS_1


__ADS_2