
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, Bu Rina yang sedang mengajar fisika mau tak mau harus mengakhiri acara mengajarnya.
Chandra dan Fajar bersorak gembira, penyiksaan mereka selama tiga jam pelajaran berakhir sudah.
“Aku tuh gak bisa di giniin bestie.” Ujar Chandra. Ia sandarkan kepala dan tubuhnya pada meja.
“Otak Abang lemah Dek,” Fajar memulai dramanya.
“Otak Lo emang lemah dalam segala hal, soal betina baru Lo gesit.” Bian menimpali.
“Udeh yok cabut.” Darren menarik kerah belakang milik Chandra.
Mereka semua akhirnya keluar dari kelas, puluhan pasang mata yang ada koridor terpesona oleh tujuh remaja yang memiliki wajah di atas rata-rata, bisa di bilang wajah mereka tidak ada yang low. Bak badboi di cerita novel-novel, mereka masuk dalam kategori tiga T yaitu tampan, tajir, terkenal hanya saja popularitas mereka bukan dalam hal kepintaran melainkan kerusuhan. Seorang Haedar Chandra pun, yang hanya anak pemilik beberapa petak kontrakan wajahnya bisa di bilang mirip oppa-oppa korea yang nan jauh dimata.
Hampir seluruh siswi dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas memanggilnya Haechan, Haechan KW super yang di lindungi seluruh siswi SMA 28. Fansnya dimana-mana, tetapi tak ada satupun yang Chandra lirik. Baginya perempuan itu adalah mahluk yang terlalu banyak drama, ketika kita tanya kenapa dia akan menjawab tidak apa-apa. Namun, dibalik tidak apa-apanya seorang perempuan pasti ada apa-apanya. Ia tak ingin merasakan hal itu sungguh, Chandra sudah terlalu sibuk mengurusi drama adiknya setiap pagi.
Lain Chandra lain pula Fajar, Fajar Bimantara seorang anak yang di gadang-gadang akan menjadi penerus Bimantara Group ini memiliki wajah yang memikat, alis tebal, hidung mancung, bibir sedikit tebal, dengan rambut yang selalu rapih. Bisa di bilang dialah fakboi sesungguhnya dalam Orion, insting memangsanya langsung bekerja jika ada siswi yang bening sedikit saja.
Pernah Chandra iseng bertanya kenapa wajah Fajar bisa selalu terlihat menarik, dan Fajar dengan percaya dirinya menjawab.
“Gue lahir pas azan subuh, makanya wajah gue enak dipandang.” Apa hubungannya azan subuh dengan wajah yang enak di pandang? Sungguh tidak masuk akal.
Ketika mereka bertujuh termasuk Asa akan berbelok ke parkiran, Fajar melihat tiga siswi tengah berjalan ke arah gerbang. Insting pemangsanya langsung mode on. Ia menyugar rambutnya ke atas, lalu merapihkan seragamnya.
“Sar ... Saraaaa.” Dengan penuh percaya diri Fajar memanggil salah satu dari mereka, siswi yang bernama Sarah pun menoleh.
“Ya?” Sarah mengernyitkan alisnya, bukan hanya Sarah dan kedua temannya. Inti Orion pun di buat heran oleh tingkah Fajar, Entah apa lagi yang akan Fajar lakukan.
__ADS_1
“Saraaaaaheooo ....” Teriak Fajar dengan mengacungkan tangan membentuk simbol love dari ibu jari dan telunjuknya. Ia langsung mendapat toyoran dari semua sahabatnya. Sarah yang mendengar gombalan Fajar bukannya terpesona malah terlihat kesal.
“Orang gila.” Celetuk Sarah
“Bocah prik, gombalan lu kagak ada yang lain apa? Basi banget.” Chandra dengan emosi menoyor kepala Fajar.
“Be-rak sekebon lu bangsul.” Bian tak mau kalah ikut menoyor.
“Heuh bahlul, otak lu langsung on kalo soal betina” Ucap darren.
“Si sontoloyo gue kira mau ngapain dia manggil si Sarah.” Gio menimpali.
“Beuuh ... fix lu termasuk kaum sadboi bukan badboi apa lagi fakboi, gaya doang udah kek fakboi sejati.” Edo mengelus kepala Fajar namun langsung ia jitak.
“Belegug siah, sugan teh rek naon ngageroan si Sarah, dasar jelema burung.” (Bodoh, kirain mau apa manggil si Sarah, dasar orang gila.) Ucap Alby teman Sarah.
Asa yang melihat tingkah Fajar dan mendengarkan umpatan teman-temannya hanya bisa tersenyum tipis. Tanpa Asa sadari, seorang gadis tengah menikmati senyumannya yang sangat langka. Asa memang jarang tersenyum, bahkan bisa di bilang tidak pernah. Ia selalu menunjukkan wajah datar kepada siapa pun.
Tanpa Dara sadari, ia ikut tersenyum hanya dengan melihat senyum Asa. Dua gigi gingsul dan dua lesung pipi menghiasi senyum gadis itu, saat Asa tidak sengaja menatapnya Dara langsung menunduk.
'senyuman yang mampu mengajak orang lain tersenyum, semoga suatu hari nanti aku punya keberanian untuk mengajaknya tersenyum bersama.' Dara bergumam dalam hati.
🏍️🏍️🏍️
Inti Orion sampai di parkiran dengan tawa yang masih mewarnai wajah mereka, tetapi semua tawanya lenyap ketika melihat kondisi sepeda milik Asa yang sudah tidak berbentuk lagi. Ban depan dan ban belakang sudah terlepas, badan sepeda patah menjadi dua bagian. Entah siapa yang tega melakukannya, sikumbang sudah tidak bisa di pakai kembali. Asa langsung lemas, bagaimana ini bisa terjadi? Asa merasa sudah gagal menjaga sikumbang. Ingin marah pun sudah tiada guna, ia bingung harus marah kepada siapa.
“Si-alan, siapa yang berani maen-maen sama Orion?” Bian mulai emosi.
__ADS_1
“Sabar, Yan. Mungkin dia belum tau kalau Asa sudah menjadi bagian dari Orion.” Edo mencoba menenangkan.
“Kagak bisa sabar kalo udah begini, kita harus cari tau siapa biang keladinya. Gak bisa di diemin, malah ngelunjak entar.” Bian semakin berapi-api.
“Bian bener, gue harus cari tau siapa yang nyari masalah sama gue. Udah cukup gue diem aja.” Asa sudah tidak bisa diam saja, semakin diam ia semakin di injak.
“Sabar Sa. Gue bantuin bawa sikumbang ke bengkel okeh ... Lu tenang aja.” Ucap Chandra.
Asa menolak ketika Chandra hendak mengantarkan pulang ke rumah, akhirnya Asa di bawa ke basecamp milik Orion. Dan di sini lah sekarang mereka di sebuah apartemen yang berada di kawasan Bintaro, apartemen milik Bian tentunya.
Sedikit bercerita tentang seorang Albian Cokroatmojo, ia seorang anak tunggal dari seorang petinggi negara. Ia di tuntut harus selalu perfect dalam segala hal, karena image sang papi yang harus dijaga. Segalanya bisa ia dapatkan hanya dengan sekali ucap, tetapi tidak dengan kasih sayang. Maminya selalu ikut kemana pun papi Bian pergi, alasannya karena sang mami ingin semua orang melihat bahwa keluarga mereka harmonis. Entah benar atau karena sang mami takut suaminya menyeleweng dengan cabe di luar sana, ia selalu meninggalkan Bian hanya dengan supir dan sang asisten rumah tangga.
Sedari datang tadi, kegiatan Asa hanya diam di satu sofa dan tidak berbuat apa-apa. Makan siang yang di pesan dari aplikasi pun sudah dingin, tidak Asa sentuh sama sekali.
“Gue harus cari kerja, gue gak bisa begini terus. Udah cukup gue diem terus, gue harus buktiin ke semuanya, Chan bantuin gue cari kerja.” Asa tiba-tiba berucap, dan menarik lengan Chandra yang tengah bermain game.
“Woy woy santuy, mending lu makan dulu dah Sa, lu kira gue anak sultan yang bisa langsung dapetin kerjaan buat lu. Salah orang lu, noh minta kerjaan sama anak-anak sultan kita.” Ucap Chandra sedikit kaget karena tiba-tiba Asa menariknya.
“Chandra bener, Sa, lebih baik lu makan dulu, soal kerjaan biar gue yang urus.” Ucap Bian memberi angin segar.
“Kerjaannya apaan dulu?” Asa mulai penasaran.
“Ada deh, lebih baik lu makan dulu. Abis ini gue jelasin kerjaannya.”
“Gak aneh-aneh kan, Bi?” Asa mulai curiga.
“Et dah lu kagak percaya amat ama gue, Mentang-mentang gue bukan anak ustaz. Ya kali gue mau ngejrumusin elu, gue kagak bakal ngejual lu, ya meski muka lu cocok buat jadi simpanan tante-tante.” Bian menyeringai membuat Asa bergidik ngeri.
__ADS_1
“Madikipe lu, geli gue dengernya, kesian si Asa masih polos, muke nye langsung berubah kek ayam babeh gue yang kena flu burung liat noh. Haha ....” Chandra menggeplak kepala Bian, lalu tertawa melihat muka pucat Asa.
🏍️🏍️🏍️