Sebuah Asa

Sebuah Asa
01


__ADS_3

Matahari mulai menyingsing ke arah barat, menampakan warna jingga yang sangat memesona bagi semua yang memandangnya. Suara shalawat nabi pun terdengar dari speaker masjid, tetapi anak-anak tidak ada satu pun yang beranjak pulang. Mereka masih asyik bermain bola, riuh suara saling bersahutan diakhiri dengan sebuah teriakan gol sesaat setelah bola memasuki gawang lawan.


“Adaaam ... pulang!” teriak seorang ibu membawa sapu lidi.


“Sebentar, Ma ... nanggung, bentar lagi menang telak timku,” sahut anak yang bernama Adam.


“Pulang kamu!” sang ibu berjalan ke tengah lapangan, memukulkan sapu lidi ke anak laki-lakinya yang baru berusia sepuluh tahun. Perlakuan Bu Tuti itu tentu membuat anak-anak lainnya membubarkan diri.


“Aduh! Ampun, Ma ... Ampun!” Adam berusaha menghindar.


Bu Tuti benar-benar gemas, ia tarik telinga anaknya lalu berucap, “Mama udah bilang jangan maen sama anak itu, tapi kamu masih aja main sama dia.”


“Tapi Asa striker yang bagus, Ma, di kampung kita gak ada lagi yang sebagus dia. Liat aja tuh, dia nyetak dua gol,” terang Adam membela teman sepermainannya.


“Ibu bapaknya gak bener, anaknya juga pasti ikutan gak bener jangan deket-deket pokoknya.”


Asa yang mendengarnya langsung menunduk. Bukan hanya Bu Tuti, tetapi hampir semua orang tua teman-temannya melarang anak mereka bermain dengan Asa. Apa salah Asa sampai dikucilkan seperti ini. Kadang pertanyaan itu selalu Asa tanyakan kepada sang mbah, tetapi bukannya menjawab Mbah Sumi justru memberikan nasehat agar Asa selalu sabar dan tidak memasukkan semua ucapan ke dalam hati.


Asa tinggal di sebuah kampung di pinggiran kota, dengan jumlah penduduk bisa dihitung jari tidak sampai seratus kepala keluarga. Rumah di sana jauh dari kata mewah bahkan hanya ada dua rumah yang bisa dibilang mewah.

__ADS_1


Rumah Mbah Sumi termasuk yang tidak mewah. Hanya terbuat dari kayu dengan dinding anyaman bambu, berpagar hidup bunga sepatu yang tumbuh subur. Tidak ada dinding kokoh dari batu bata, pun lantai yang mengkilap dari marmer atau granit. Sungguh sangat sederhana.


Asa tinggal dengan neneknya yang ia panggil Mbah Sumi, sejak orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Asa yang saat itu baru berusia satu tahun dititipkan kepada sang mbah oleh ibunya.


Asa kecil tumbuh hanya dengan kasih sayang Mbah Sumi, tidak ada kasih sayang ayah ataupun ibu. Kadang Asa iri pada teman-temannya ketika TK dan SD, jika hari pengambilan raport tiba ia hanya di dampingi Mbah Sumi dan sang adik.


Ibunya tidak sering pulang untuk menengok Asa, satu tahun hanya sekali sang ibu datang. Yaitu, pada saat hari raya Idul Fitri saja. Ibunya selalu beralasan bahwa ia bekerja, dan tidak punya banyak waktu libur. Mungkin dulu Asa belum mengerti, tetapi sekarang usianya sudah sepuluh tahun tentu ia paham dan mempertanyakan pekerjaan apa yang ibunya kerjakan sampai tidak memiliki banyak waktu libur.


Ketika Asa berumur dua tahun pernah sang ibu datang dengan seorang anak laki-laki, yang sekarang di panggil Arka. Dari situlah awal mula selentingan-selentingan tercipta. Hingga saat Asa masuk TK tetangga-tetangga mulai melarang anak mereka berteman dengan Asa. Banyak yang bilang kalau ibu Asa menjual jasa dan Arka adalah anak hasil jasa tersebut.


Mbah Sumi tak tinggal diam, ia tentunya pernah bertanya karena sudah tidak tahan mendengar omongan-omongan orang hanya saja anaknya yang tidak pernah mau menjawab. Ibu Asa hanya membenarkan bahwa Arka adalah anaknya, ia bilang ia pernah menikah dan sekarang sudah bercerai kembali.


🏍️🏍️🏍️


Saat memasuki pagar Arka datang dari arah dalam yang sudah rapih dengan sarung dan baju kokonya tidak lupa peci yang sedikit miring.


“Abang baru pulang? Mainnya dimana? Mbah nyariin dari tadi,” Arka bertanya.


“Biasa di lapangan dekat masjid, Dek,” Asa menjawab sambil membenarkan peci adiknya.

__ADS_1


“Udah sana mandi, terus susul aku ke masjid, Bang.”


“ Iya, Dek ....”


Asa mulai berjalan ke dalam rumah sedangkan Arka sudah berlari ke masjid, Arka selalu datang paling awal. Ia akan membantu Pak Syafi’i selaku petugas bersih-bersih untuk menyapu dan mengepel lantai, menyapu halaman masjid serta menyiram tanaman.


Terkadang Asa tidak tega melihat Arka yang selalu disebut anak haram oleh orang-orang sekitar, pernah sekali Asa memukul teman sepermainan adiknya karena menghina Arka dan seluruh keluarga termasuk Mbah Sumi.


Asa tidak pernah membenci Arka meski asal usul Arka selalu dipertanyakan, ia hanya percaya kalau Arka adalah adiknya dari ayah yang berbeda. Asa sangat menyayangi Arka, karena Arka sendiri anak yang baik. Ia selalu bilang ingin berguna untuk semua orang meski ia dibenci karena asal usulnya.


Pernah suatu malam Asa mendengar isakan tangis dari ranjang Arka, Asa yang penasaran langsung melihat ke bawah dan memang benar Arka tengah menangis. Asa yang tidak tega mau tidak mau langsung turun menenangkan adiknya, Arka mengeluarkan semua kesedihannya. Ia bertanya sebenarnya ia anak siapa? Kenapa ia selalu dibilang anak haram? Kenapa semua orang mengucilkannya? Bahkan Arka pernah bertanya dimana sang ibu? Ia sangat merindukan ibu. Asa bingung harus menjawab apa, karena pertanyaan itu pula yang selalu ada dalam benak Asa.


Asa juga sama rindunya kepada sang ibu. Entah kapan ibunya akan kembali. Sudah tiga tahun ibunya tidak pulang, tidak ada kabar, tidak ada telpon atau pesan singkat yang ibunya kirimkan. Bahkan saat Mbah Sumi menuruti keinginan Arka tempo hari untuk menelpon ibunya, nomor ponsel sang ibu sudah tidak aktif.


Mereka memang tidur satu kamar hanya berbeda ranjang. Asa tidur di ranjang atas sedangkan Arka tidur di ranjang bawah. Bukan tanpa alasan Asa memilih ranjang atas, ia tidak mau Arka kenapa-kenapa. Dengan gaya tidur Arka yang tidak bisa diam, dia sering terjatuh. Jika Arka tidur di atas bisa dibayangkan saat ia tidur dan terjatuh Arka akan langsung patah tulang atau memar.


Arka selalu rajin salat, rajin mengaji, di kelas pun ia juara satu. Ia selalu bilang ingin membanggakan ibu dan Mbah Sumi Berbeda dengan Asa yang masuk sepuluh besar pun sudah Alhamdulillah.


Saat Asa sedang memakai sarung terdengar muazin cilik mengumandangkan azan Magrib, ia tersenyum karena siapa lagi kalau bukan adiknya Arkanendra Indrayan. Ia gegas mengambil peci dan mencium tangan Mbah Sumi lalu berlari menuju masjid.

__ADS_1


Asa dan Arka berjanji pada Mbah Sumi akan selalu saling menyayangi, saling melindungi, saling menjaga, saling membantu, saling mengingatkan, saling melengkapi dan tidak akan saling meninggalkan. Karena di dunia ini mereka hanya berdua siapa lagi kalau bukan Asa yang akan membantu Arka, begitupun sebaliknya.


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2