Sebuah Asa

Sebuah Asa
06


__ADS_3

Hari-hari yang Asa lalui terasa berat, setiap hari Asa bangun sebelum azan Subuh. Ia akan bergegas ke masjid untuk membantu Pak Syafei membersihkan masjid. Kemudian, setelah matahari mulai terbit Asa akan ikut Pak Syafei ke kebun sayur milik Pak Syafei. Terkadang Asa juga ikut bekerja di tempat pencucian motor milik Ayah Adam, yang berada di sisi jalan raya. Awalnya Bu Tuti tidak mengizinkan, tetapi Ayah Adam selalu memberikan pengertian kepada sang istri agar tidak berburuk sangka terhadap Asa.


Bulan pertama mungkin bisa dibilang yang paling berat untuk Asa, ia harus beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai tulang punggung sekaligus sebagai satu-satunya orang yang Arka punya. Ia harus bisa menjadi kakak merangkap orang tua untuk Arka. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu, Arka menghampirinya di kebun Pak Syafei setelah pulang sekolah dengan membawa celana sekolahnya. “Abang, celanaku sobek, Abang bisa jaitin gak?”


“Nanti kalo udah di rumah Abang coba ya ....” Asa mencoba memaklumi, ia tidak tega untuk bilang tidak bisa. Padahal selama ini yang bertugas melakukan pekerjaan wanita di rumah ya Arka, tetapi kenapa dia malah bertanya pada Asa yang hanya bisa menimba air dan berjualan kue. Mana mengerti Asa dengan alat jahit beserta kawan-kawannya.


Atau ketika Arka sedang sakit ingin dimasakan nasi goreng favoritnya, dan Asa gagal melakukannya ia akan mengomel. “Abang kenapa sih cuma bikin nasi goreng aja gak bisa? Padahal cuma iris bawang merah sama cabe rawit terus di goreng, awas! jangan sampe gosong, Bang. Abis itu masukin nasi kasih garam terus tinggal aduk-aduk udah jadi, Bang.”


Asa hanya bisa diam dan menahan senyum. Omelan Arka sangat mirip sekali dengan Mbahnya, itu bisa menjadi salah satu pelipur rindu tersendiri untuk Asa terhadap Mbah Sumi.


Atau ketika Asa pulang dan langsung tiduran di kasur, Arka akan langsung memarahi dengan alasan kotor atau basah. Hanya satu yang Asa khawatirkan apa di sekolahnya masih banyak teman-teman yang menjahili atau menghinanya?


Tanpa terasa sudah empat bulan Mbah Sumi meninggalkan mereka, dan selama itu pula hidup mereka sedikit demi sedikit mulai bangkit. Arka sudah naik ke kelas VIII, sedangkan Asa sudah tidak memikirkan sekolah. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah mencari uang, uang dan uang. Asa sudah memperbolehkan Arka membawa si kumbang ke sekolah, rasa kasihannya pada sang adik yang harus berangkat sendiri lebih besar daripada rasa sayangnya kepada si kumbang. Dengan catatan Arka harus bisa menjaga si kumbang.


🏍️🏍️🏍️

__ADS_1


Siang ini, Asa tengah mencuci si kumbang ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan pekarangan rumah Mbah Sumi. Tampak seorang wanita yang usianya sekitar empat puluh tahun dan seorang anak perempuan seusianya keluar dari pintu belakang sebelah kiri, disusul seorang pria yang tak lagi muda keluar dari pintu kemudi. Jika dilihat dari penampilannya, jelas mereka bukan orang biasa. Perhiasan-perhiasan yang wanita itu pakai sudah menunjukkan bahwa mereka orang kaya.


Asa menghentikan kegiatannya, saat kedua orang yang tak dikenal itu berjalan masuk ke halaman rumah.


“Cari siapa?” Asa merasa selama ini tidak pernah ada saudara mbahnya yang datang berkunjung, apalagi ini terlihat seperti orang kaya.


“Asa ....” sang wanita berlari mendekat langsung memeluk Asa.


“Maaf tante siapa? Mau cari siapa?” Asa makin bingung.


“Le-lepas!” Asa berontak, berusaha melepaskan pelukan Mamanya. Asa kaget mendengar kata mama dari bibir wanita itu, kenapa mamanya sekarang berbeda? Arka yang mendengar keributan di halaman rumah pun keluar.


Sang mama yang melihat penolakan dari Asa merasa sakit, tetapi ia sadar selama ini dia yang salah, dia yang membuat Asa anaknya menjadi seperti ini. Ia menatap Arka, rasa ingin memeluk anak keduanya begitu besar ia mencoba merentangkan tangannya tanpa disangka Arka langsung berlari dan memeluknya, Arka tak seperti Asa. Ia balas pelukan sang mama, menangis bahagia karena akhirnya mamanya pulang. Akhirnya ia bisa mencium wangi parfum mamanya, merasakan dekapan sang mama.


Arka mengajak masuk mamanya beserta pria dan anak perempuan yang menunjukkan wajah tak ramah, sang mama mengenalkan bahwa pria di sampingnya adalah Radika ayah tiri mereka dan anak perempuan ia bawa adalah Cindy saudara mereka. Asa sama sekali tak menanggapi, ia hanya diam menahan amarah. Ingin rasanya ia mencecar sang mama dengan segala macam pertanyaan yang ada dalam hati dan pikirannya. Ia benci sangat benci melihat wajah itu, bahkan mamanya terlihat sangat bahagia dan hidup enak. Sedangkan ia dan sang adik untuk makan pun kadang harus menerima belas kasihan dari tetangga.

__ADS_1


Mama Ranti mencari keberadaan sang ibu, karena sejak datang yang ia lihat hanya ada kedua putranya saja. Lalu Arka bercerita bahwa Mbah Sumi sudah meninggal empat bulan yang lalu. Mama Ranti terkejut, jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak. Oksigen di sekitarnya mendadak berkurang, yang membuat napasnya sesak. Pandangannya berputar, Ia langsung duduk lemas di lantai. Radika dengan sigap memegangi bahu istrinya.


“Aku terlambat, Mas ... aku terlambat.” Mama Ranti menangis di pelukan sang suami, Randika mencoba menenangkan istrinya. Setelah Mama Ranti terlihat lebih tenang, akhirnya mereka semua pergi ke pemakaman atas permintaan Mama Ranti dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan Asa mendengar bisikan-bisikan dari para tetangga, mereka tentu saja membicarakan penampilan baru sang mama.


Hampir tiga puluh menit mereka di makam Mbah Sumi, terlihat makam Mbah Sumi sangat terawat. Karena Asa dan Arka rajin membersihkan makam kakek dan juga neneknya, makam Mbah Sumi terletak di sebelah kiri makam sang suami. Mbah Sumi sengaja menandai tanah di samping sang suami dengan sebuah batu sungai yang menyerupai sebuah batu nisan, jika orang yang tidak tahu maka akan mengira bahwa itu memang sebuah makam. Sejak dulu Mbah Sumi sering bercerita jika meninggal ingin di makamkan berdekatan dengan sang suami, akhirnya keinginan Mbah Sumi sudah terkabul.


Setelah berdoa, mereka semua memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah Mama Ranti mengutarakan keinginannya, ia pegang bahu kedua anaknya. “Asa, Arka, ikut Mama ya, Nak. Kita ke Jakarta, Asa sama Arka mau kan tinggal bareng sama Mama?”


“Nggak! Aku udah nyaman tinggal di sini,” Asa langsung menolak, namun Arka menarik tangan Asa mengajak Asa berbicara empat mata.


“Abang, aku ingin ikut ibu, aku ingin merasakan rasanya disayang ibu, aku ingin deket sama ibu, ingin dipeluk ibu terus, Bang. Ikut ya, Bang sama ibu ....” Arka sangat senang ketika sang Mama mengajaknya untuk tinggal bersama, itu yang Arka harapkan sejak dulu dan sekarang ia memiliki kesempatan itu.


Asa menghela napas panjang, ia sangat benci mamanya. Ia lebih nyaman tinggal di sini daripada harus ikut sang mama ke kota, tetapi melihat binar di mata Arka sungguh sekali lagi Asa tidak tega untuk menolaknya. Selama ini Arka telah melewati banyak kesakitan dan kesusahan apakah ini saatnya ia merasakan kebahagiaannya?


Mau tidak mau Asa menerima ajakan itu. Sebelum ia pergi, ia pamit terlebih dahulu kepada Pak Syafei. Asa menitipkan kunci rumah dan kedua makam kepada Pak Syafei. Ia mencium tangan Pak Syafei dan juga Bu Humairah. Asa hanya berharap semoga ia tak salah mengambil keputusan, semoga kebahagiaan untuk sang adik bisa ia dapatkan dengan tinggal bersama ibunya.

__ADS_1


🏍️🏍️🏍️


__ADS_2