
Asa menghampiri teman-temannya, sambil membawa minuman soda berwarna merah. Ia duduk di samping Darren, membuka tutup kaleng lalu meneguk minumannya.
"Sa, noh si Dara ngeliatin Elu bae." Darren memberitahu, sebab sejak Asa duduk di sampingnya Dara selalu menatap ke arahnya.
"Biarin aja, dia punya mata."
"Het ... emang susah ngomong sama angin, bisanya cuma ribut doang." Sindir Darren.
"Haha ... Gak sekalian muter-muter kek beliung Dar." Timpal Fajar.
"Apa si Lu Jar? gaje banget." Chandra bertanya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Elu ngapa dah tetiba sewot begitu? Lagi PMS Lu?" Edo melirik Chandra yang terlihat kusut.
"Pusing gue di rumah, Bokap gue ngungkit-ngungkit Nyokap lagi. Kalo bukan karena ada si Fika di rumah, gue udah cabut dari ntu rumah. Gue bagenin bae Bokap gue mau ngomong apa, mau manggil gue anak durhake atau pembunuh Enyak juga gue terima. Karena gue masih mikirin adek gue noh si Fika."
Asa langsung menatap Chandra, ternyata dibalik sikap ceria Chandra yang selalu menghibur dirinya selama ini. Chandra juga memiliki luka sendiri, dan lebih memilih menyimpan semua lukanya dalam sebuah tawa.
"Chan, abis sekolah jadi kan kita ke cafe itu?" Asa mencoba mengalihkan pembicaraan, bukan karena tidak ingin mendengarkan cerita Chandra, melainkan tak tega melihat Chandra yang selalu ceria berubah menjadi murung.
"Jadi Sa, gue nebeng yak. Si geboy masih di bengkel belum gue ambil."
"Nanti pulangnya kita ke bengkel, ambil si geboy kasian kedinginan dia kelamaan di bengkel. Rindu belaian Elu." Ujar Asa.
"Si-alan nih bocah udah mulai berani becanda." Chandra tersenyum dan senyum itu menular kepada Asa.
"Gimana kaki sama tangan Elu, Sa?" tanya Bian, jujur saja Bian merasa bersalah. Karena dialah yang mengajak Asa untuk ikut balapan malam itu.
"Udah aman." Jawab Asa.
__ADS_1
"Nyokap Lu pasti khawatir banget ya, gue minta maaf ya Sa." Bian bersungguh-sungguh meminta maaf.
Mendengar ucapan Bian, Asa langsung teringat Mama Ranti saat tahu dirinya terluka. Baru kali ini Asa merasakan perasaan hangat dalam hati saat sang mama mengobati lukanya, meniupinya dengan perlahan seperti yang di lakukan Mbah Sumi dulu.
Asa hanya bisa diam, tidak menolak dan juga tidak berterimakasih saat Mama Ranti menyuapinya makan. Mungkin akibat suhu tubuhnya yang naik Asa sudah tidak perduli apapun lagi termasuk dengan rasa sakit hatinya, Arka sampai menemaninya tidur selama dua malam karena panas di tubuh Asa tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun.
Selama seminggu Asa tidak masuk sekolah, dan selama itu pula Dara seperti anak ayam yang kehilangan bapaknya. Selalu menanyakan kabar Asa kepada Fajar dan yang lainnya. Ketika hari ini Asa masuk tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Dara, hingga tidak memperdulikan lagi sekitar yang terpenting dia bisa melihat Asa.
"Udah gak perlu minta maaf, Bi. Nyokap gue juga gak marah." Asa menepuk bahu Bian.
Tiba-tiba, entah datang dari mana sudah ada seorang gadis yang berada di meja mereka.
"Hai Sa, kamu udah sehat? kata Chandra kamu kemarin sakit, ini buat kamu." Kamila menyodorkan kotak makan kepada Asa.
"Uhuk uhuk ... Eh neng ngapa nama gue di bawa-bawa." Chandra langsung terbatuk ketika gadis berwajar oriental dengan rambut panjang tergerai itu menyebut namanya, dan saat dirinya melirik ke arah Asa, ia sudah di suguhi tatapan elang milik Asa yang sedang mengintimidasi dirinya.
"Gue nyium bau-bau ada yang gosong ini, seperti ada sebuah hati yang sedang terpanggang dalam bara yang menyala. Makanya neng garcep napa, jangan memuja dalam diam terus. Pas ada saingan malah panas." Sindir Fajar.
Dara tahu Fajar tengah menyindir dirinya, ia langsung berdiri dan pergi dari sana. Hatinya sungguh panas melihat Kamila memberikan perhatian kepada Asa, apa ia juga harus terang-terangan mendekati Asa? Apa Asa tidak akan ilfeel padanya?
"Rese lo Jar." Ucap Sarah, mengejar sahabatnya.
"Eh Dar, tenang aja gue ada di pihak Elu kok." Fajar berteriak, tetapi Dara telah menghilang dari area kantin.
🏍️🏍️🏍️
Sore itu Asa pulang sekitar pukul setengah lima, ia berpapasan dengan Arka yang memakai kaos putih polos dan celana jeans selutut.
"Mau kemana, Dek?" Asa bertanya.
__ADS_1
"Ke masjid Bang, ikut yuk bantuin aku." Arka menarik lengan Abangnya.
"Lah gue belum ganti baju Dek, lagian ngapain nanti Abang di sana?"
"Ya ikut bersihin masjid lah Bang, emang mau ngapain lagi? Masa mau numpang mabar mobile legend di sana. Mentang-mentang ada WiFi di masjid." Arka bersungut-sungut, saat sang abang tidak memberikan jawaban Arka langsung menariknya mendekat ke arah motor milik abangnya.
"Boncengin aku pake motor Abang, kita ke masjid pake motor abang, aku kan belum pernah naik sikumbang generasi milenial."
Mendengar nama sikumbang Asa jadi teringat sepeda milik kakeknya yang sekarang sudah di simpan di halaman belakang oleh Pak Randika, Asa tentu saja masih sering mencuci dan memakainya hanya untuk berkeliling komplek bersama Arka atau ketika ia pergi ke rumah Chandra.
"Biasanya juga jalan kaki, Dek."
"Sekali-kali napa Bang."
Asa menuruti ucapan adiknya, mereka mulai berangkat ke masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah Pak Randika. Saat Asa dan Arka sampai disana sudah Ada seorang kakek yang tengah mencabut rumput di halaman masjid.
"Dek, masjid segede ini yang bersihin cuma kakek itu?"
"Iya Bang, makanya aku sering bantuin, Kasian." Asa hanya manggut-manggut mendengar jawaban sang adik.
Mereka mulai menyalami kakek yang mungkin sudah berusia enam puluh tahun, setelahnya Arka mengajak abangnya langsung menuju belakang masjid untuk mengambil peralatan seperti sapu, ember dan alat pel.
Asa membuka hoodie yang ia kenakan, berlari ke arah motor untuk menaruh bersama tas miliknya. Ia kembali ke dalam masjid mulai mengambil alih sapu dan langsung mengikuti sang adik yang sudah lebih dulu menyapu.
Sunyi, hanya itu yang Asa rasakan. Dengan sedikit keisengannya Asa mengambil ponsel miliknya dan mulai membuka aplikasi musik, ia mencari musik yang tepat untuk di dengarkan di dalam masjid lalu berjalan ke arah mimbar imam dan menyalakan mikrofon masjid. Seketika suara shalawat nabi menggema seantero kompleks, Asa dengan muka tanpa dosanya berjalan gontai mulai melanjutkan aksi mengepelnya.
Jika sahabat-sahabatnya tahu apa yang tengah Asa lakukan sekarang, tentu ia akan menjadi bahan lelucon mereka selama satu minggu full tanpa jeda. Namun, Asa tetaplah Asanendra Indrayan seorang kakak yang tidak bisa menolak permintaan adiknya.
🏍️🏍️🏍️
__ADS_1