Sebuah Asa

Sebuah Asa
02


__ADS_3

“Bang, bangun! Cepet bantuin Si Mbah kasian,” teriak Arka.


“Hmm ....” Hanya itu yang keluar dari mulut Asa.


Ia bergegas turun dari ranjang, berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti, tidak lupa ia mengambil handuk yang tergantung di pintu lalu pergi ke kamar mandi yang berada di luar rumah. Bahkan untuk mandi pun Asa harus menimba air dulu, begitulah keadaan di kampung Mbah Sumi. Masih sangat tradisional, hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati mesin pompa air dan PAM.


Mbah Sumi sendiri adalah pedagang kue basah tradisional. Kadang ia menerima pesanan di rumah, Jika tidak ada pesanan Mbah Sumi akan berjualan keliling kampung menjajakan aneka kue jualannya. Mbah Sumi sering menitipkan dagangannya di pasar atau di kantin sekolah, Asa akan pergi setelah azan Subuh untuk mengantarkan dagangan kepada pedagang di pasar dan juga ibu kantin sekolah. Tugas itu sudah Asa ambil alih setelah ia masuk sekolah menengah pertama, jika dihitung sudah tiga tahun Asa melakukan pekerjaan itu setiap hari. Sungguh waktu sangat cepat sekali berlalu, kemarin Asa masih bayi merah yang tidak bisa apa-apa. Namun, sekarang sudah menjadi remaja enam belas tahun yang sangat tampan.


Arka sendiri akan mengambil alih tugas di rumah untuk mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel serta membereskan rumah.


Ketika Asa keluar dari kamar mandi terdengar azan Subuh berkumandang dari speaker masjid, ia bergegas masuk ke rumah dan menemui Mbah Sumi.


“Loh ... kok, malah ke sini? Salat Subuh dulu, waktunya sebentar loh kalo salat Subuh, Nak. Jadi kita jangan buang waktu,” Mbah Sumi berucap dengan tangan terus merapikan kue-kue yang akan Asa bawa ke pasar dan ibu kantin nanti.


Asa tidak menanggapi, ia berdiri mengambil sebuah onde-onde lalu pergi begitu saja, selang lima belas menit kemudian Asa kembali datang dengan menggunakan jaket dan celana panjang.


“Sudah salatnya?” Mbah Sumi bertanya.


“Sudah,” jawab Asa pendek. Padahal yang ia lakukan hanya tiduran di kamar menunggu selama lima belas menit, agar Mbah Sumi berpikir kalau Asa benar-benar salat. Setelah menjawab Asa langsung mengambil empat buah sealware yang berisi kue buatan Mbahnya, ia cium tangan Mbah Sumi dan pergi menuju pintu depan lalu berjalan ke samping rumah untuk mengambil sepeda tua milik almarhum Mbah Wowo suami Mbah Sumi.


“Hati-hati bawa si kumbangnya, Bang,” pesan Arka yang baru pulang dari masjid. Si kumbang adalah nama yang di berikan Arka pada sepeda milik Mbah Wowo.


“Ya,” hanya itu yang Asa ucapkan, irit sekali memang.


Asa mulai mengayuh sepeda milik almarhum kakeknya itu dengan penuh semangat, karena ia sadar dari kue inilah ia dan Arka bisa tetap sekolah, dari kue inilah ia dan keluarganya bisa tetap makan. Kadang Asa sering berpikir ke mana ibu dan ayahnya, apa ibunya baik-baik saja, kenapa ayahnya tidak pernah mengiriminya uang, apa ia sudah dilupakan oleh kedua orang tuanya.


Asa mengayuh sepeda selama dua puluh menit, ia titipkan sepeda kumbang model jaman jepang itu kepada penjaga parkir lalu ia mulai melangkah menuju ke tempat si pedagang kue yang selalu ia datangi setiap hari. Sesampainya di lapak Asa menyimpan dua buah sealware yang di dalamnya berisi kue apem, dadar gulung, onde-onde, lupis, nagasari, lemper, risoles dan kue bugis.


“Ini uang kemarin ya, Dek,” ucap si pedagang


“Terimakasih.” Asa bergumam, ia ambil uang itu lalu beranjak pergi. Begitupun saat Asa mengantarkan kue ke ibu kantin di sekolah dasar.

__ADS_1


🏍️🏍️🏍️


Jam menunjukan pukul enam pagi saat Asa sampai di rumah, ia melihat sang mbah tengah bersiap-siap untuk berjualan keliling. Ia tatap punggung renta milik Mbah Sumi, Asa tidak tega melihat Mbah Sumi harus berjalan kaki berkeliling kampung menjajakan dagangan kadang sampai ke kampung tetangga agar kue dagangannya habis. Asa ingin ikut membantu, tetapi Mbah Sumi melarang. Mbah Sumi selalu bilang, “Asa ... sekolah itu penting buat masa depan biar kamu jadi orang, biar dihargai sama orang, tapi jika nanti kamu sudah jadi orang, jangan pernah takabur dan memandang rendah orang lain ya, Nak.”


Asa akan selalu ingat kata-kata Mbah Sumi, Asa juga selalu berdoa semoga Mbah Sumi berumur panjang, agar ia bisa membahagiakan dan membanggakan Mbah Sumi dengan caranya sendiri. Asa mengucap salam dan mencium tangan sang mbah, ia berikan uang hasil penjualan kemarin dari pedagang di pasar dan ibu-ibu kantin. Asa berlalu ke dapur untuk mengambil air, tenggorokan sudah sangat kering karena mengayuh sepeda sebegitu jauhnya.


Asa mendekatkan gelas ke bibirnya, baru saja ia akan meneguk air yang ada di dalam gelas. Sebuah tangan menarik kerah belakang jaketnya, Asa pun menoleh dan mendapati Arka sebagai pelaku.


“Abang tadi gak salat subuh, ‘kan? Ngaku gak?” todong Arka.


“Sa-salat kok.” Asa terbata-bata menjawab karena kebohongannya ketahuan oleh sang adik.


“Jangan bohong, Bang! Sajadah sama sarung Abang masih rapih di dalam lemari.”


“Kok kamu tau?” Asa balik bertanya.


“Ya tau lah ... yang tiap hari beresin rumah kan aku. Jangan gitu, Bang dosa tau, Abang gak sayang ya sama mbah sampe bohong gini? Kalo Abang gak salat nanti dosanya mbah yang tanggung loh, Bang, kalo gak percaya tanya aja sama Pak Syafi’i.” Arka mulai menasehati sang abang.


Asa pergi ke kamarnya untuk berganti baju, saat kembali ke dapur nasi goreng tanpa kecap dan tanpa telur telah tersedia di atas meja.


“Abang kok cepet? Gak mandi lagi ya, jorok banget sih, Bang, keringetan juga abis goes si kumbang.” Arka melirik Asa yang baru datang.


“Gak sempet, emang kamu mandi lagi?” Asa balik bertanya.


“Mandi dong, karena kata Pak Syafi’i kebersihan itu sebagian dari iman.”


“Terus itu kenapa rambut kamu basah? Bukannya sampo abis, Mbah belum beli lagi.”


“Ada dikit lagi, Bang. Aku isiin air aja botol samponya, biar banyak busanya.”


“Astagfirullah ....” Asa bengong mendengar jawaban sang adik.

__ADS_1


“Makannya cepetan ya, Bang. Piringnya mau aku cuci sekalian.” Arka tampak memakan lahap nasi goreng yang hanya tinggal separuh di piringnya.


“Iya.” Asa mulai mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi goreng bertabur sedikit bawang goreng dan irisan cabe rawit itu terasa nikmat di lidah Asa.


“Ini kamu yang bikin?”


“Nggak, dikasih tetangga, Bang.”


“Mana ada tetangga yang mau ngasih makanan ke kita.” Asa tidak percaya dengan ucapan sang adik. Ia tahu pasti, bahwa Arka yang memasak. Asa pernah melihat Mbah Sumi mengajari Arka memasak nasi goreng seperti ini.


“Udah cepet makannya! Aku mau cuci piring nih ... takut kesiangan, jangan ngelamun gitu, Bang. Masih banyak kok orang yang baik sama kita, kaya keluarga Pak Syafi’i.”


“Iya.”


“Awas jangan disisain, Bang! Nanti susah.”


“Kenapa?”


“Susah lah, kita gak punya ayam. Kalo gak abis mau dikasih ke siapa? Kucing aja gak ada yang mau dateng ke rumah kita.” Arka terus berbicara membuat Asa sedikit tersenyum.


Ada saja tingkah adiknya ini, tetapi entah kenapa Asa tidak bisa seperti sang adik yang pintar mencairkan suasana. Ia hanya bisa diam jika tidak diajak bicara, dan saat diajak bicara pun ia hanya akan menjawab seperlunya.


Asa menyelesaikan makannya, ia lantas mengantarkan piring bekasnya kepada sang adik yang tengah mulai mencuci piring.


“Abang yang nimba airnya, kamu lanjutin aja nyuci piringnya.” Asa mulai menurunkan ember ke dasar sumur dan sedikit demi sedikit mulai menarik tambangnya.


“Awas seragamnya basah sama kotor, Bang!” Arka memperingati.


“Iya.”


🏍️🏍️🏍️

__ADS_1


__ADS_2