
Esok paginya sebuah mobil telah parkir didepan rumah sederhana tanpa bertingkat itu. Beberapa menit kemudian seseorang keluar dari rumah itu dengan topi hitam dan jaket baseball warna biru putih.
"Nona Velda, sebentar ini ketinggalan!" Suara dari dalam rumah berteriak memanggil wanita itu yang akan siap untuk masuk ke mobil ada di depan rumah tersebut.
Dia adalah Velda Amorita Wijaya, wanita cantik dan manis serta tomboi menoleh menatap seseorang berlari kecil sambil menenteng sesuatu di tangannya. Dia adalah Bibi Zaina, pembantu rumah tangga di rumah putri majikan dari keluarga Wijaya.
"Apa ini?" Wanita itu bertanya kepada pembantunya.
"Kurang tau, non, semalam si nyonya pulang cuma minta tolong sama Bibi kasih ke nona Velda," jawab pembantu itu menyerahkan sebungkus tas kepada wanita itu. Wanita itu masih memperhatikan tas ada di depan matanya sangat lama.
"Haisshh ... Mama kebiasaan, ya sudah aku berangkat dulu." Wanita itu mau tak mau menerima bungkusan tas itu dari pembantunya.
Pembantu itu mengantar putri majikan ke depan pagar saat dia masuk ke dalam mobil yang dari tadi menunggu beberapa jam yang lalu. Ketika mobil itu meninggalkan tempat kompleks tersebut. Kembali pembantu itu menutup pagar pintu dan melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan di dalam mobil tersebut, wanita itu merasa penasaran dengan isi bungkusan tas tersebut. Dia pun mencoba memeriksanya karena hari ini dia benar-benar akan mengakhiri semua perencanaan konyol dari kedua orang tuanya itu.
Sementara si pengemudi itu fokus didepan namun dia juga merasa penasaran dengan bungkusan tas itu ada dipangkuan wanita sampingnya.
Wanita itu pun mengeluarkan sesuatu yang mungkin buat dia akan kembali kesal dan menjengkelkan di pagi harinya.
"Ya Tuhan! Mama gua sudah tidak waras lagi! Dia kira gua ini anak remaja apaan, terus apa lagi?" Wanita itu mengangkat tinggi-tinggi dan melebarkan sebuah kain yang panjang sehingga menutupi jalan di depannya.
Sebuah baju kemeja yang sangat kasual banget untuk pria. Ibu Velda memang sengaja membeli kemeja untuk calon menantunya dan bukan itu saja, masih banyak pembelian dari beliau sebagai kedekatan antara putrinya dan juga calon menantu yang sudah disetujui perjodohan mereka masing-masing.
Deringan suara nyanyian HP milik wanita itu bergetar, "ini pasti mama yang telepon!" Di rogoh mencari keberadaan HP nya itu dan nama terpampang jelas Mama Simpati menelepon... "Tuh, kan, nggak heran lagi!" lanjutnya mengomel.
"Ya, ma!" sambutnya di telepon seberangnya.
"Kamu sudah menerima dari pemberian Bibi Zaina?"
"Sudah, ma."
"Baguslah, itu nanti kamu kasih ke Damian ya! Kalau bisa secepatnya mengakrabkan dirimu dengannya. Mama tidak sabar melihat kamu menikah dengannya!"
Di seberang si penelepon sangat bahagia sedangkan di mobil wanita itu hanya bisa memutarkan kedua bola matanya permintaan aneh dari ibunya itu tidak pernah berhenti mengganggu dan selalu mengatur hidup suka-suka..
"Ma, please deh! Nggak usah berlebihan dia itu bukan anak kecil untuk beli beginian terus tiket film? Aku itu masih banyak pekerjaan, lagi pula---"
"Mama tidak mau tahu, lakukan apa yang Mama bilang! Demi kebaikanmu dan juga masa depanmu! Pekerjaan seperti yang kamu kerjakan itu tidak akan selamanya bisa beri kebahagiaan...! greb!"
Potongan pembicaraan dari ibunya membuat wanita di mobil bisa menghembuskan napas pendek. Dia tidak tau sampai semua akan berakhir, panggilan telepon terputus. Dan tangan kasar itu mengelus bahu kanan wanita itu tengah menunduk lesu.
"Yang sabar, mungkin mamamu lakukan itu demi kebaikanmu juga. Sudah hal biasa, gua saja sering diomeli sama mamaku, karena selalu asik main anak orang." Suara yang terdiam itu memberi hiburan bukan maksud dia membela ibu wanita itu.
"Entahlah, gua lelah sama Mamaku. Kalau bisa pun gua mau bilang ke mereka, kalau perjodohan ini percuma apalagi calon yang mereka pilih itu sudah memiliki kekasih diluar perencanaan mereka. Jika pun mereka tidak percaya gua juga bisa lakukan seperti pria menyebalkan itu!" ucap wanita itu semangat.
"Lakukan apa?" Pria itu bertanya, "tentu pacaran sama lo! Elo nggak mau pacaran sama gua? Bukannya elo yang bilang hati lo kapan saja terbuka untuk gua selagi gua lagi galau dan butuh lampiasan?" jawab wanita itu melirik samping kanannya.
Pria itu membalas lirikan dari wanita yang diakui benar manis dan cantik. Dia tertawa dan kembali membuat wanita itu menciut kesal kepadanya tapi tak berapa lama dia pun ikut tertawa.
Kehidupan mereka baru akan dimulai untuk memastikan siapa yang akan berpaling lebih dulu. Pria yang telah mencintai wanita janda beranak satu atau wanita yang seorang kurir pengantar koran telah berubah menjadi wanita sesungguhnya?
***
Sampai di kantor penerbitan media surat kabar, mobil itu berhenti ditempat yang telah sedia tersebut. Dua orang manusia itu keluar dari mobil dan para orang-orang ada di sana memperhatikan sosok yang tidak biasanya.
__ADS_1
"Hai!" sapa wanita itu dengan senyumnya yang merekah itu.
Para kru satu tim dikantor itu menghampiri wanita jaket baseball biru putih itu. Yang paling kepo pastinya si Andra. Seorang Marketing paling akrab dengan wanita ini.
"Ada gerangan apa elo bisa nebeng sama si playboy cap gayung super?" Andra mulai curiga dengan Velda dan juga Nando.
"Ada deh!" Senyum Velda sambil melirik Nando, Nando malahan mengedik bahu dan dia masuk ke dalam gedung itu untuk absensi terlebih dahulu.
Andra melirik satu krunya itu bersikap sok acuh tak acuh. Dan dia kembali menyusul teman cantik itu menuju pos satpam.
"Itu anak kenapa? Kok cuek banget, benar elo sama dia ada hubungan kedekatan?" Andra masih kepo dengan pembahasan ini.
Velda sibuk dengan sepeda yang memang semalam tidak dia bawa pulang karena acara pertemuan di hari perjodohan kemarin. Di gantungkan bungkusan tas di gagang sepedanya.
"Tidak ada apa-apa, kok, Pak Andra! Memang kelihatan banget gua pacaran sama Nando?" Velda kembali bertanya pada Andra.
"Iya bisa saja kan? Soalnya elo sama dia kenapa bisa datang berbarengan apalagi elo diantar sama Nando pakai mobil?"
Velda menarik napas dalam-dalam kemudian dibuang secara perlahan-lahan. "Begini, Pak ..."
Velda pun mulai menceritakan sebenarnya soal dia diantar oleh Nando di depan rumahnya. Andra mendengar sangat baik dari cerita wanita cantik dan manis itu. Bukan Andra saja tapi ada yang lain juga mendengar cerita dari mulut manis itu.
"Ohh ... Begitu gua kira elo benar-benar pacaran sama playboy cap gayung super, apa kata gedung ini tiba-tiba elo menerima perasaan darinya," cicit Johan bersuara lebih dulu.
"Rencananya memang gua mau pacaran sama dia, kok," ucap Velda menatap serius pada Johan.
Johan mendelik kaget, "eh? Yang benar, elo serius?"
"Iya, nggak ada salahnya, kan? Dia baik sama gua, dia care sama gua, dia selalu ada untuk gua.. Saat gua lagi sedih, galau, bete, bahagia de-el-el. Pokoknya dia terbaik untuk gua. Tapi gua bahagia bukan karena sesuatu yang terpaksa. Gua hanya mencoba, jika gua sama Nando memang di takdirkan untuk berjodoh pastinya gua akan menjaga dan menemani semasa hidup selamanya, kalian tidak setuju gua pacaran sama dia?" terang Velda sesungguhnya.
"Setuju sih, kalau itu terbaik. Tapi apa elo yakin itu akan bisa melupakan semua dari perjodohan orang tuamu? Tapi, kalau dipikir-pikir ada baiknya sih coba, ya, siapa tau calon jodohmu itu menyesal," kata Andra akhir menyetujui rencana teman kerjanya.
Tak lama kemudian Nando muncul dan menghampiri tiga manusia berkumpul duduk di pos satpam itu.
"Kayaknya serius banget apa sih yang dibicarakan?" tegur nya si Nando pengin tau juga.
"Kagak ada apa-apa sudah lewat, ya sudah semoga langgeng saja, ya! Dan elo, Nando, ikut gua ada yang mau ku tanyain." Andra menepuk pundak Nando setelah percakapan mereka dibubarkan.
Nando semakin bingung dengan ketuanya dan dia menatap wanita itu bersiap untuk mengantar paket dari pabrik pakan ternak ayam tersebut.
"Nanti siang, elo mau makan apa?" Nando bertanya pada Velda.
"Seperti biasa saja," jawab Velda senyum menarik sepedanya untuk berangkat.
"Ya sudah, nanti sudah selesai bilang saja, Hati-hati, ya!" Nando melambaikan tangan pada Velda yang telah beranjak pergi dari tempat kerjanya.
Dua puluh menit kemudian Velda pun sampai di pakan ternak ayam seperti biasa mengantar paket dan tentu menunggu pria menyebalkan itu datang ke kantornya sendiri.
Menunggu yang begitu lama adalah kebosanan bagi Velda. Beberapa jam akhirnya mobil fortuner itu pun masuk ke pabriknya sendiri. Velda asyik main gadgetnya sambil mengunyah permen.
Terdengar langkah kaki masuk ke gedung utama. Velda menghentikan permainan gamenya, namun suasana berubah ketika Arka menanyakan paket.
"Paketku sudah datang?" Arka bertanya pada karyawannya.
"Sudah, Pak." Sahut karyawannya menyerahkan pada atasannya.
__ADS_1
Velda pun bangun dari duduknya dan menghampiri pria menyebalkan itu. Arka tentu bahagia bisa kembali bertemu dengan calon jodohnya tapi suasana berubah seseorang tiba-tiba datang ke pabrik ini.
"Sayang!" Suara manja memanggil pria itu. Pria itu menoleh arah suara.
Seorang wanita berpenampilan arrogant dan langsung menempelkan lengannya pria itu dengan manja. Arka terdiam melirik wanita depannya.
"Maaf, aku keluar dulu, ah, ini ada pemberian dari seseorang terus ada dua tiket film mungkin dari anda. Jadi kalian bisa menonton secara gratis." Velda menyerahkan bungkusan tas kepada Arka.
Arka masih mencerna kata-kata dari wanita itu beranjak meninggalkan tempat pabriknya. Dia memperhatikan bungkusan tas tersebut dan wanita cantik itu pun meraih dari tangan Arka.
"Apa ini? Kamu benar ajak aku nonton film romantis ini? Kenapa tidak bilang sih, sayang. Ya sudah nanti kita nonton, ya!" ucap wanita itu tak lain adalah Mawar.
"Iya, sayang. Ya sudah kita masuk. Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Arka senyum pada kekasihnya.
Sedangkan Velda malah menatap langit yang sangat cerah dia tengah berada di salah satu kantin tempat pakan ternak ayam tersebut. Getaran HP nya berdering di rogoh kemudian melihat siapa mengirim pesan kepadanya.
+62 8577724xxx
Kamu ada dimana?
Velda
Siapa?
+62 8577724xxx
Nando
Velda
Ganti nomor lagi?
+62 8577724xxx
Gk, yg satu hbis paket.
Ada dimana?
Velda
Biasa, kantin tempt kerja pakan ternak.
Kenapa?
+62 8577724xxx
Gak, kngen saja! :)
Velda
Dasar!
Menunggu balasan dari sahabatnya itu, dia pun kembali melihat atas langit yang sangat cerah sekali. Dia merasa sesuatu yang tidak pernah dia rasakan ketika melihat sosok wanita kekasih dari calon jodohnya itu.
Sampai kapan dia akan menyembunyikan kepada orang tua tentang kebenaran dari calon jodoh mereka pilih itu. Pastinya itu akan seru kalau sampai mereka tau kebenarannya.
__ADS_1