SEBUAH PERJODOHAN

SEBUAH PERJODOHAN
32. Dava si Sahabat Menyebalkan


__ADS_3

Hari libur nasional paling suntuk untuk Arka yang kini tengah duduk di balkon belakang rumahnya. Duduk sambil membaca koran dan majalah bisnis. Hari ini ia tidak ingin untuk kemana-mana dulu, sementara kekasihnya si Mawar. Dia sedang ada jadwal pemotretan endors untuk kecantikan di luar kota.


Selama satu hari penuh begini Arka tidak biasa melakukan santai-santai. Berenang di Mutiara daerah lokasi Pancing saja ia malas. Lebih enak ia bersantai sambil menikmati suasana yang sejuk.


Plak!


Pukulan bahu tiba-tiba membuat dirinya terkejut saat menikmati secangkir teh hangatnya. Ia pun dengan kesal merengut menatap tidak suka santainya di ganggu. Sosok muncul di depan membuatnya mendengus sebal.


"Kenapa mukamu? Kusut begitu?" cibir Dava. Menarik kursi dan meletakkan posisi sebelahan dengan Arka.


"Ngapain elo dekat-dekat gua? Huss... Pergi sana! Ganggu orang santai-santai saja," usir Arka menggeser duduknya lebih menjauh dari temannya itu.


Dava Efendy Putra, 34 tahun, sahabat baik dan juga keluarga dekat dari keluarga Kalandra. Dava memang jarak untuk berkunjung ke rumah Arka. Dia juga memiliki kesibukan sendiri, selain sahabat, dia juga seperti di dalam keluarga Kalandra.


Walau jarang berkomunikasi Arka dan Dava seperti saudara abang dan adik. Dava di usia jauh lebih tua dari Arka, tetap baginya dia itu paling muda.


"Sok jual mahal lo, btw, gua dengar elo sudah ketemu sama calon perjodohanmu? Cantik nggak? Mantap nggak? Orangnya gimana?" tanya Dava merasa kepo dan pengin banget tau tentang Velda.


"Nggak usah kepo jadi cowok! Mending elo urus dulu pacar lo itu. Btw, elo ngapain ke sini? Jangan bilang elo ke sini cuma mau coba rebut calon gua lagi?! Jangan harap?!" ketus Arka melipatkan kembali majalah bisnis dan meletakkan di samping meja itu.


Dava mengurai rambutnya dan melipatkan kedua tangan depan dadanya. Lalu satu tangan mengusap-usap dagu layak memikirkan sesuatu.


"Kalau iya, kenapa? Tapi gua benar-benar kepo banget. Kira-kira calon elo itu seperti apa? Sampai-sampai elo kayak orang bodoh. Diam-diam menguntit wanita itu, kalau nggak pekerjakan dia jadi supir pribadi elo? Spesial apa sih dia ketimbang Mawar?" celoteh Dava panjang lebar masih heran-heran sama sahabatnya.


Arka memilih tidak menjawab, ia sedang mendengar lagu di earphone nya. Dan dengan sengaja pula membuka musik itu sekeras-kerasnya. Ia lagi malas berargumentasi dengan sahabat di samping nya itu.


Dava merasa diacuhkan oleh Arka, ia pun menarik earphones itu dari telinganya kemudian di dekati bibirnya. Membuat Arka merasa geli hebat dan melepaskan earphones lalu menatap Dava dengan dua mata menyeramkan.


Dava malah cengegesan melihat sikap Arka tadi. Arka tidak habis pikir kenapa ia bisa berteman dengan lelaki yang otaknya sedikit kurang normal nih. Bagaimana nasib pacarnya kalau tahu sikap dan tingkah laku sahabatnya gesrek banget.


Karena Dava jugalah, Arka mengenal dunia malam dan juga Mawar. Semua bermula dari Dava, kalau tidak mengajaknya ke diskotek hanya untuk minum-minum. Untung Dava itu sahabat baik dari saudara sepupunya. Kalau bukan, Arka nggak akan bisa kayak gini tergila-gila sama suasana dunia malam. Pulang malam, dan hepi dengan kekasihnya yaitu Mawar.


"Elo kenapa? Kok kaget begitu, bukannya elo sudah biasa kayak begini? Ah ... Gua tau, apa elo mulai coba bertobat karena wanita bernama Velda Amorita Wijaya? Dia cantik, manis, tomboi, dan mandiri. Tapi gua nggak yakin dia bakal tertarik sama elo nggak?" ucap Dava merasa tau semua tentang Velda.


Arka sendiri juga kaget dapat darimana tentang Velda. Arka pasti sadar diri, Dava memang lelaki yang mudah penasaran seperti dirinya. Tapi Arka tidak terburu-buru melakukan tindakan mencari seluk-beluk pribadi Velda.


"Gua sudah bilang nggak usah kepo. Lebih baik elo urus dulu pacar lo, dari tadi miscall gua mulu, capek gua lihat hubungan elo sama dia!" cecar Arka kembali duduk di tempatnya dan memasang kembali earphones itu di telinganya.


"Soal dia nanti saja, gua benar-benar penasaran sama Velda deh. Apa gua move on saja ya?" seru Dava santai tapi dua matanya melirih samping bahwa Arka tengah menatapnya tajam.

__ADS_1


Arka tau bahwa Dava hanya memancing dirinya untuk mengorek informasi selama bertemu dengan Velda. Hingga sekarang saja ia masih bingung cara untuk bisa mengajak Velda berkencan.


****


Hari merah memang paling membosankan bagi Velda. Ia masih berada di rumah Nando, selama satu hari penuh di rumahnya tak kunjung juga untuk pulang ke rumah sendiri. Orang tuanya saja nggak menghubungi keadaannya. Memang dari waktu dia untuk keluar dan minta izin tidak untuk pulang sama mamanya (Raiya) Velda tidak terlalu memusingkan situasi hubungan keluarga.


Mamanya (Raiya) juga tidak bisa apa-apa kehendak Velda begitu selalu tidak pernah akur hubungan dengan Ibu dan anak. Beda dengan Papanya (Jonathan) selalu mendukung apa pun yang di inginkan anaknya. Tidak ambil pusing, karena percuma melarang putrinya yang sudah beranjak dewasa itu. Apa yang di inginkan Velda serah apa adanya.


Walau pun mamanya selalu melarang Velda untuk tidak bekerja dengan gaji murah. Selalu melarangnya bekerja yang layak dan benar-benar halal yang nyata. Keinginan Velda tidak bisa dilarang  tujuan memang terlalu keras. Seberapa pun mamanya melarang dirinya, ia tetap akan melakukan lebih dari sebelumnya hingga mamanya mengerti tujuannya.


"Melamun apa lo? Nanti kesurupan di siang bolong ini, gua mau cari dukun mana di jam begini?" tegur Nando ikut bergabung duduk di halaman depan rumahnya dan membawa es kelapa muda untuk sahabat cantiknya.


"Enak saja, do'ain nggak benar lo, Thanks," ucap Velda menerima pemberian di tangan Nando.


Velda menyeruput minuman es kelapa muda segar banget apalagi di cuaca yang panas ini. Kalau Nando masih tetap hal kegiatannya stalker media sosial kalau nggak main game. Sementara di dalam rumah, Mama Nando sedang menyiapkan masakan untuk keluarga.


"Bosan banget di hari merah nih," seru Velda menyudahi minuman es kelapa muda.


Nando menghentikan kegiatan gadgetnya, lalu ia melirik sahabat cantik itu anak rambutnya menari-nari ria karena angin ringan. Ia menyingkirkan anak rambut menutupi wajahnya. Dan Velda merasa hal itu biasa saja kebiasaan Nando memang selalu membuat perasaan wanita meronta-ronta.


"Rambut lo ini mengganggu pemandangan gua, tau nggak!" cibir Nando menyelipkan anak rambut ke daun telinga Velda.


Velda memang selalu manja banget sama Nando padahal hubungan pun tidak ada. Velda merasa aneh saja dengan perasaan sendiri kadang kala ia bingung memilih.


"Mall? Ngapain? Ah, bentar kayaknya ada film bagus, gua cek dulu." Nando dengan sigap membuka ponselnya dan mencari cinema 21.


Velda kembali meminum es kelapa mudanya sambil mengorek daging kelapa muda yang segar itu. Tak berapa lama kemudian Nando pun menyodorkan ponsel di depan sahabat cantiknya.


"JUMANJI?" tanya Velda lirik Nando, Nando mengangguk.


"Mau nggak? Elo tenang saja, pakai kartu kredit gua dapat diskon kok, habis nonton kita main Timezone. Mau? Gua yang bayar deh, daripada elo bosan di rumah gua sekalian gua juga mau cuci mata lihat barang bagus. Uda bosan gua lihat muka elo," ejek Nando cengiran, Velda nggak mengekspresikan apa pun walau sahabat playboy cap gayung super sengaja mencibir dirinya.


"Benar ya, awas kalau ingkar janji. Ya sudah langsung saja," ucap Velda bangun dari duduknya dan membawa buah kelapa muda untuk buang ke tempat sampah.


Nando sebaliknya juga menyusul tapi buah kelapa mudanya ia masuk kembali ke dalam rumah dan letakkan ke kulkas nanti malam bisa di minum kembali.


****


Keributan di rumah Kalandra, Arka  dengan seru main game PS di layar televisi. Sementara orang tua Arka sedang keluar kota. Menghadirkan acara pernikahan dari saudara jauh. Arka tidak menyukai acara pernikahan  seperti itu karena ia bosan setiap menghadirkan acara dengan kedua orang tuanya. Selalu di pertanyaan "BAGAIMANA SUDAH MENIKAH?" Itu mulu di pertanyakan.

__ADS_1


Ia memilih untuk dirumah alias jaga rumah dan bersantai-santai. Bukan bersantai malahan ia di ganggu oleh sahabat menyebalkan tiba-tiba datang tak diundang ini. Dava dengan seenak jidat mengobrak-abrik rumah Kalandra.


Dava lagi sibuk membongkar mainan milik Arka yang sudah lama tidak ia sentuh. Kadang Arka paling sebal, setelah di bongkar Dava tidak pernah menyusun kembali. Itu buat Arka kesal dengannya.


"Wah ... Sudah siang, nih. Elo kagak ada makanan atau cemilan yang bisa di isi perut? Gua lapar nih, elo kagak kasihan sama sahabat lo kelaparan?" sewot Dava merengek di manjain.


"Kalau elo lapar, pesan saja gojek food atau gofood, nggak usah sok manja sama gua! Gua itu bukan mamamu!" ketus Arka masih sibuk dengan permainan game.


Dava bukan tersinggung ia malah mengambil ponsel milik Arka dan mengobrak-abrik privasinya. Kemudian iklan muncul di media sosialnya.


"Bro, bro, nonton saja yuk!" Di tepuk-tepuk pundak Arka yang seru-serunya dengan game berantem itu.


"Apaan sih! Nonton sendiri saja sana, kalau nggak bawa pacar lo nonton jangan bawa gua. Gua nggak mau di bilang homo," ucap Arka datar kedua tangannya pun masih sibuk dengan tombol stick game.


Dava bukannya menyinggung ia malah asyik meng-stalker privasi ponsel Arka dan entah ide darimana datang buat Arka geram dengan tingkah sahabat kekanak-kanakan ini.


"Homo atau bukan, elo pikir nonton bioskop itu harus mesti sama pacar? Gua mau sama elo, sekalian buang penat. Elo juga pasti penat mikirin masalah calon jodoh lo," cicit Dava mematikan permainan game Arka.


Arka menatap tajam ingin banget membunuh sahabat nya itu. Tapi bagi Dava ia tidak pernah takut dengan tatapan Arka. Ia tetap akan menarik Arka untuk keluar dengannya.


Beberapa menit kemudian akhirnya Dava dan Arka sampai di mall. Ramai pastinya kalau nggak ramai, kuburan namanya. Saat masuk ke mall lirikan dua pasang mata memperhatikan dua lelaki yang cakep itu.


Dava malah tebar senyuman ke arah seluruh mall. Dava sudah hal biasa selalu cari perhatian kalau sudah di mall. Kalau Arka muka dingin melangkah mencari tempat bersantai.


Sisi lain, Velda dan Nando juga sampai di mall tersebut, dan Nando sudah memesan tiket untuk nonton. Sekarang mereka sedang mencari tempat untuk bersantai dulu sebelum filmnya di mulai.


"Kita ke gramedia dulu yuk!" ajak Velda mengusulkan.


"Ngapain? Memang elo suka baca novel?" Nando bertanya soalnya yang ia tau Velda itu bukan tipe suka baca begituan.


"Baca-baca doang, bukannya tadi sebelum kesini sudah makan? Jangan bilang elo lapar lagi. Perut gua sama perut elo itu tidak sebanding," jawab Velda protes dan mulai menggomel.


Nando mengangguk dan tidak mungkin membantah permintaan sahabat baiknya. Ia sih ikut saja. "Nggak kok, ya sudah, let's go!" seru Nando.


Dua pria yang melangkah kaki tak tau arah akhirnya mereka tiba di salah tempat bikin Arka kesal. Ia sudah tau isi otak sahabatnya. Katanya bilang mau nonton ternyata ke mall hanya mampir di toko buku.


"Ada sesuatu yang mau gua beli," ucap Dava beranjak meninggalkan Arka seorang diri di luar.


"Bisa nggak sih elo kalau mau ke mana-mana, nggak harus ke sini juga ..." protes Arka saat melangkah untuk menyusul Dava.

__ADS_1


Arka tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang ikut masuk ke toko buku itu. Sebaliknya dua pasang mata itu turut menatap sosok yang sama.


__ADS_2